
Berkendara motor di malam hari seorang diri melewati jalanan yang sepi, hanya beberapa rumah saja yang ada di pinggiran jalan dengan jarak yang berjauhan, aku sengaja mempercepat laju motorku. Orang-orang yang tadi mengunjungi acara api unggun masih menikmati pertunjukan disana, sehingga lalu lintas di jalan terasa sangat sepi.
Bunyi binatang malam yang terbang dari satu ranting ke ranting lain membuat suasana jalan semakin terasa seram. Aku terus menatap ke jalan di depanku yang tersorot cahaya lampu motorku, tak berani menatap samping, bahkan untuk melirik ke kanan dan ke kiri saja aku tidak berani.
Lagi-lagi aku terjebak dalam situasi yang tidak aku sukai gara-gara Yoga, kenapa aku begitu lemah jika harus menghadapinya, kenapa selalu saja aku kalah dan menuruti keinginannya. Padahal aku sudah berusaha menolak, sudah berusaha untuk melawan sebisaku. Tapi tetap saja pada akhirnya aku menuruti keinginannya lagi. Aku jadi merasa sangat lemah.
Beruntung pernikahanku hanya tinggal menghitung hari, setelah itu aku akan merdeka, karena ada Bian, suamiku yang akan selalu melindungi ku dan menjagaku dari Yoga tukang maksa dan tukang ngatur itu.
Entah mengapa tiap kali mengingat Yoga rasanya hatiku jadi penuh amarah, tak mau lagi aku berurusan dengannya, bahkan melihatnya saja aku tidak mau. Laki-laki menyebalkan!.
Cket...ckek....ckek....
Motorku tiba-tiba berhenti begitu saja di tengah jalan, untung saja jalan sepi dan tidak ada pengendara lain di belakangku, sehingga tidak membahayakan pengendara lain, jika ada kendaraan lain di belakangku, aku yakin kendaraan itu sudah menubruk motorku yang tiba-tiba berhenti sendiri.
Aduh.... apa lagi ini, kenapa motorku tiba-tiba saja mati, padahal tadi baik-baik saja saat perjalanan berangkat ke perkemahan bersama Yoga, kenapa saat aku sendirian di jalanan yang sepi ini justru motornya mogok?. Hari ini aku sungguh apes, sudah tidak ada kendaraan lewat.
Akhirnya ku tuntun motorku sampai beberapa meter dari tempat mogoknya, sepertinya aku paham daerah ini, dekat sini ada masjid yang beberapa waktu lalu aku mampir bersama Bian untuk sholat.
Untung saja mogok di dekat masjid, aku menuntun motorku memasuki pelataran masjid, saat ini hampir jam 10 malam, karena itu lampu di dalam masjid di padamkan, hanya lampu di serambi masjid saja yang menyala.
Ku parkiran motorku di depan masjid, dan aku duduk di tangga menuju serambi masjid, memang masjid ini memiliki banyak tangga jika hendak memasukinya, karena posisi bangunan masjid yang berada di wilayah tebing.
Jalan raya ada di antara dua tebing yang cukup tinggi, dan masjid ini di bangun di pinggir jalan raya, pelataran masjid ada di bawah, sedangkan masuk masjid harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu.
Aku mengambil ponselku dari saku jaket, untung saja aku memakai jaket tebal sehingga aku tidak kedinginan. Aku awalnya berniat untuk menghubungi mama atau papa, tapi ternyata sejak tadi pesanku saja belum dibaca oleh mereka, ponsel mereka tidak aktif saat aku coba menelepon.
Apa harus menghubungi Bian?, aku berniat tidak memberi tahu Bian jika malam ini aku kembali pergi ke perkemahan, tapi malah motor mogok, kalau bukan pada Bian, mau minta tolong siapa lagi sudah larut malam begini, di tempat yang cukup jauh pula dari pusat kota.
Baterai ponsel ku tinggal 10%, aku harus buru-buru menghubungi Bian sebelum HP ku mati total, akhirnya langsung ku telepon Bian, takutnya jika mengirim pesan Bian tidak dengar karena sudah tidur. Namun sudah 4 kali aku melakukan panggilan telepon, Bian tak juga mengangkat ponselnya, apa mungkin Bian benar-benar sudah tidur?.
Khawatir baterai ponsel ku habis, akhirnya ku kirimkan pesan pada Bian, memberi tahunya jika aku berada di masjid tempat kemarin kami mampir untuk sholat, karena motorku mogok sepulang dari perkemahan Shaka. Entah nanti Bian membacanya jam berapa, yang penting aku sudah memberi tahunya kalau aku butuh bantuan.
Dan benar saja, baterai ponselku habis dan aku sudah tidak bisa menghubungi siapapun lagi.
Malam semakin larut, suasana semakin sepi, aku sengaja turun dan berdiri di pinggir jalan, aku berharap ada kendaraan lewat dan bisa ku mintai tolong, namun dari beberapa kendaraan yang lewat tak ada satupun yang mau berhenti.
Aku ingat rumah bapak-bapak yang kemarin meminta bantuan pada Bian saat putrinya mau melahirkan, tidak terlalu jauh dari sini, dan aku pun ke rumah beliau, mengetuk pintu rumah yang gelap gulita, karena semua lampunya padam. Aneh sekali, kenapa lampu rumah ini tak ada yang menyala satupun, padahal kan seharusnya ada bayi di dalam rumah ini, dan seharusnya ada lampu yang menyala, setidaknya di kamar bayi itu. Tapi ini satu rumah semua lampunya padam. Sungguh aneh.
Atau jangan-jangan mereka semua masih berada di rumah sakit, karena proses melahirkan baru kemarin, ya bisa jadi semua penghuni rumah ini masih berada di rumah sakit.
Aku berusaha mengedarkan pandanganku, letak rumah lainnya berjarak cukup jauh dari sini, dan aku tidak berani untuk berjalan lebih jauh lagi, malam semakin gelap mungkin karena sebentar lagi hujan, karena kilatan langit sesekali terlihat. Suasana sungguh sepi, dan aku tidak berani berkeliaran di tempat asing sendirian.
Ku putuskan untuk kembali ke masjid tadi, motorku masih terparkir di sana, mungkin dengan meminta tolong pada kendaraan yang lewat, siapa tahu ada yang mau berhenti, aku tidak mungkin tetap di tempat ini sampai pagi, aku harus pulang karena besok harus bekerja.
Sekarang mungkin sudah jam 11 malam, karena sejak mogok tadi aku sudah berada cukup lama berdiri di pinggir jalan depan masjid. Semakin jarang kendaraan yang lewat, karena ini jalan di pedesaan yang lumayan jauh dari pusat kota, apalagi sudah malam, mungkin orang-orang sudah tidur dengan nyenyak di rumahnya masing-masing.
Karena lelah berdiri, akhirnya aku minggir dan duduk di tangga menuju masjid yang berada di samping motorku. Mungkin malam ini aku akan tidur di masjid ini, untung saja aku memakai jaket tebal sehingga tubuhku tidak terlalu kedinginan.
Ku sandarkan kepalaku di kedua lutut ku yang ku tekuk keatas. Rasanya capek, lemes, haus, dan juga lapar, semuanya bercampur menjadi satu, membuat rasa kantukku hilang.
Kepalaku rasanya jadi berdenyut, pusing di bagian belakang, dan kakiku terasa pegal. " Apa aku naik ke atas saja dan tidur di dalam masjid?". Ya itulah yang ku pikirkan.
Namun saat aku berdiri hendak naik ke atas untuk masuk ke masjid, sebuah mobil Alphard putih yang tadi aku lihat menuju arah perkemahan masuk ke pelataran masjid dan cahaya lampu depannya menyorot ke arahku. Membuatku menengok ke belakang mencari tahu siapa yang ada di dalamnya.
Yoga....
Dia keluar dari dalam mobil, berjalan menuju ke arahku dengan lampu depan mobil yang menyorot tubuhnya yang tinggi kekar, dari tubuhnya seolah memancarkan cahaya, nampak seperti malaikat yang berjalan menghampiri ku. Yoga berdiri persis di depanku yang masih terdiam melihat aura Yoga yang memancar saat ini.
" Kenapa tidak menghubungiku jika motor kamu rusak?, apa kamu se benci itu padaku, sampai lebih memilih mau menginap disini dari pada pulang bersama denganku?".
Pertanyaan Yoga membuatku tersadar dari lamunanku yang sedang membayangkan Yoga seperti seorang malaikat penolong.
" Aku...., ponselku mati", ucapku sambil mengambil ponsel dari saku celanaku dan menunjukkan pada Yoga jika baterai HP ku habis agar lebih meyakinkan, karena memang baterai ponselku habis.
Meski memang sebenarnya aku tidak berniat meminta tolong pada Yoga. Gengsi dong aku meminta pertolongannya.
" Tadi saat sopirku mau menjemputku, dia melihat kamu sedang di pinggir jalan dan menghentikan kendaraan yang lewat, tapi dia tetap berjalan karena ingin menjemputku terlebih dahulu, melihat keadaanmu sekarang, sepertinya kamu sudah lumayan lama berada disini".
Mendengar ucapan Yoga aku jadi menatap ke tubuhku sendiri, " melihat dari tubuhku..., memang bagaimana kelihatannya tubuhku ini?, apa kelihatan sangat lemah?, atau apa?", batinku.
" Sudah jangan khawatir, ayo ikut pulang bersamaku, tenang saja kita nggak cuma berdua, ada supirku juga di dalam, juga ada ketan susu dan serabi yang ku beli di perkemahan tadi. Sepertinya kamu lapar karena belum makan malam", tebak Yoga.
" Besok aku suruh orang ku memperbaiki motor kamu dan mengantarkan ke rumah kamu Ra, jadi motor kamu di tinggal saja dulu di sini".
Yoga bisa mengetahui keadaanku, benar sekali ucapannya, jika aku belum makan. Dan dia bersedia membantuku memperbaiki motor ku yang mogok.
Aku tidak mungkin menolak, meski egoku melarang aku ikut dengan Yoga, tapi otak warasku masih bisa ku pakai untuk berpikir jernih. Aku harus bisa mengesampingkan egoku, agar bisa segera pulang dan juga makan, keadaanku saat ini dalam situasi yang darurat, dan tidak perlu membesarkan ego.
Aku mengangguk, dan berjalan masuk kedalam mobil Yoga saat Yoga membukakan pintu belakang mobilnya.
Ku kira dia akan menggunakan kesempatan ini untuk duduk di sampingku, namun justru dia masuk dan duduk di kursi depan bersama supirnya. Dan menyerahkan makanan yang tadi di belinya padaku.
" Makanlah selagi hangat, dan ini jahe susu, minumlah biar agak hangatan", ucap Yoga sambil menyerahkan lagi plastik berisi air jahe susu yang masih hangat.
Aku pun menerima semuanya dan langsung memakannya karena sudah sangat lapar dan juga pusing.
Usai makan serabi dan ketan susu, juga meminum jahe susu aku langsung merasa kenyang, dan rasa kantukku kembali kurasakan, dan tidak lagi bisa ku tahan.
Aku hanya diam dan mendengarkan percakapan Yoga dengan supirnya . Dari percakapan mereka sepertinya supir Yoga orang yang cukup tahu banyak tentang Yoga, karena mereka terus ngobrol layaknya seorang teman, bukan seperti bos dan supirnya.
Lambat laun suara mereka tak bisa ku dengar lagi, karena ternyata aku tak bisa lagi menahan rasa kantukku dan tertidur di mobil Yoga.