
Bian pulang dari rumahku jam 9 malam, setelah mendengar keputusan Papa dan Mama yang menyuruhnya menunggu sekitar 2 bulan lagi untuk kami berdua bisa menikah.
" Sebenarnya apa yang terjadi Ra?, kok bisa kamu dan Bian tiba-tiba minta tanggal pernikahan kalian dipercepat?, kamu nggak lagi hamil kan Ra?".
Mama masuk ke kamarku saat aku sedang rebahan di kasur sambil menatap langit-langit kamar, pertanyaan mama memang santai , tapi justru membuatku kecewa, apa iya mama masih tidak percaya padaku, jika aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Aku tahu mama khawatir, tapi pertanyaannya itu sangat merendahkan ku, sama seperti pertanyaan Yoga saat di rumah Bian tadi, atau apa mungkin sebenarnya semua orang berpikiran sama terhadapku?, mungkin mereka semua menilai ku sangat rendah, bahkan mamaku sendiri pun mempunyai pemikiran yang sama.
Serendah itu penilaian orang terhadapku, meski aku sudah berusaha menjadi wanita baik-baik selama ini, tapi karena masa laluku yang buruk, semua ternyata masih memiliki sama.
" Kalau aku hamil apa mama akan menyetujui jika kami mau menikah besok?", Justru aku balik bertanya.
Mama nampak menatapku lekat, " Kamu yang bener kalau ngomong, jadi kamu hamil?", mama mengulang kalimatnya.
" Ma, apa Raya serendah itu di mata mama?, Raya kira mama percaya sama Raya, tadi saat masih ada Bian disini aku sudah bilang, aku tidak hamil. Kenapa mama masih terus saja mengulang bertanya apa aku hamil?, kalau mama sebagai ibu kandungku saja menilai ku dengan sangat rendah, apalagi orang lain ma".
Aku langsung memiringkan tubuhku membelakangi Mama yang masih berdiri di samping ranjang tempat tidurku.
" Bukan maksud mama begitu Ra, mama cuma pengen tahu yang sebenarnya, kenapa kalian minta tanggal pernikahan di majukan, karena menikah itu kan bukan hal yang sembarangan, harus dipikirkan dengan matang".
Aku tetap diam tak bersuara, lagian siapa yang menganggap pernikahan itu sebuah permainan?, aku dan Bian juga sudah memikirkan dengan matang, kami berdua yang akan menjalani pernikahan ini, kami berdua sudah sama-sama dewasa, dan sudah sangat siap untuk menikah, apa lagi yang harus di tunggu.
Entah bagaimana jalan pikiran kedua orang tuaku, dulu nyuruh-nyuruh buat secepatnya mencari calon dan menikah, sekarang sudah menemukan laki-laki yang tepat malah di tunda-tunda.
" Kamu marah sama mama Ra, mama minta maaf kalau ucapan mama menyakiti hatimu".
Aku merubah posisiku menjadi duduk. " Ma, mama tahu kan aku tidak mungkin mengulang kesalahan yang sama, jadi mama nggak perlu tanya-tanya berulangkali apa aku hamil, tentu saja aku tidak hamil. Bian laki-laki yang sopan dan sangat menghormati ku Ma".
" Justru yang aku khawatirkan, Bian itu ternyata teman Yoga Ma, bahkan mereka bersahabat saat SMA dan saat kuliah, tadi di rumah Bian Raya ketemu sama Yoga. Tadi Yoga bilang kalau Raya itu cuma miliknya, sampai kapanpun, dan dia tidak rela aku bersama laki-laki lain, padahal dia sendiri akan melangsungkan pernikahan sebulan lagi. Apa mama tahu kalau Raya sangat takut, Yoga akan mengacaukan semuanya".
" Meski Bian sudah tahu kisah masa lalu ku, tapi Bian tidak tahu siapa laki-laki yang sudah menghancurkan hidupku di masa lalu, aku tidak mau Bian tahu siapa laki-laki itu. Namun justru sekarang Yoga muncul dan bahkan dia bersahabat dengan Bian".
Mama mendengarkan ceritaku dengan wajah terkejut. " Maafkan mama sayang, mama baru tahu itu yang mengganggu pikiranmu selama ini".
" Kok bisa, Yoga itu berteman dengan Bian, bahkan mereka bersahabat, apa dunia ini sesempit itu, sampai kamu harus kembali bertemu dengan orang di masa lalu ".
" Kalau begitu kamu sekarang istirahatlah, biar mama kasih tahu papamu, kamu jangan khawatir, Yoga tidak akan berani macam-macam lagi dengan keluarga kita"
_
_
Esok harinya Bian menjemputku seperti biasa, dan kami pergi ke restoran bersama, siang ini kami kedatangan tamu istimewa, ya... Yoga dan calon istrinya datang untuk makan siang di restoran.
Ternyata Bian dan keempat sahabatnya kumpul siang itu, mereka membahas rencana pendakian yang akan mereka lakukan sabtu depan.
Awalnya mereka makan siang bersama, setelah itu baru mereka membahas tentang rencana pendakian yang akan mereka lakukan.
Aku dan Utari memisahkan diri dari keempat bersahabat itu, aku lebih memilih menemani Utari dan banyak mendengarkan dia bercerita. Utari tipe gadis periang dan banyak bicara, dia mengajakku untuk ikut mendaki agar bisa menemaninya di gunung. Karena Utari baru akan mendapatkan ijin dari orang tuanya untuk ikut pendakian jika ada teman perempuan yang ikut juga.
Kami pun saling bertukar nomor telepon. Utari sangat berharap aku bisa ikut, karena ini kali pertamanya akan pergi bersama dengan Yoga, dari setiap ucapan dan ekspresi wajah nya, sangat jelas terlihat jika Utari sangat sangat mencintai Yoga.
Dasar Yoga bodoh, seharusnya dia tidak perlu masuk kedalam hidupku lagi, sudah beruntung mendapat calon istri yang cantik, baik dan seorang dokter. Kenapa masih mengacaukan hidupku yang sudah susah ini.
" Sini gabung sama kita-kita", seru Bian melambaikan tangannya ke arahku dan Utari.
Tadi memang kami makan siang bersama, namun saat keempat laki-laki itu hendak merokok, Utari mengajakku memisahkan diri, karena dia tidak suka dengan bau asap rokok.
" Ra, nanti biar aku yang minta ijin sama mama dan papa kamu supaya boleh ikutan sama kita naik gunung".
" Rencananya kita mau naik ke gunung Rinjani, di sana pemandangannya keren banget, kamu pasti akan sangat suka saat melihat matahari terbit di puncak gunung".
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Bian, tentu saja aku senang pergi bersama Bian, meski ada yang sedikit mengganjal karena harus bersama-sama dengan Yoga juga.
Entah sampai kapan rasa tidak nyaman ini terus ada di hatiku. Justru aku berharap mama dan papa tidak menyetujui saat Bian meminta ijin untuk mengajakku naik gunung hari sabtu besok. Mungkin aku harus ngomong sama mama dan papa terlebih dahulu sebelum Bian menyampaikan keniatannya itu.
Ke empat pemuda tampan, sukses, dan dengan latar belakang orang tua yang dihormati sedang berkumpul menjadi satu di restoran ini. Mungkin siapapun yang melihat tawa dan canda yang sedang dilakukan keempat pemuda itu, akan merasa iri pada mereka.
Lahir di keluarga kaya, hidup dengan fasilitas terbaik dan memiliki wajah yang tampan, nampaknya tidak ada sedikitpun kekurangan pada mereka. Itulah penilaian dari orang awam, karena sesungguhnya, ada banyak rahasia yang saling mereka sembunyikan. Rahasia dibalik kehidupan mewah yang mereka lakukan setiap hari.
Aku yakin bukan hanya Yoga saja yang mempunyai rahasia dalam hidupnya, tapi setiap dari mereka juga sama, menyimpan rahasia di hidup mereka. Entah apa itu.
Teman-teman karyawan di restoran menatap ke arahku yang sejak tadi ikut bersantai dan bercanda dengan para pemuda tampan dan dokter muda cantik yang terlihat akrab denganku. Saat obrolan selesai dan mereka pulang, aku kembali bergabung dengan yang lain melanjutkan pekerjaan.
" Enak jadi kamu Ra, di taksir bos, dan nggak main-main, sekalinya kamu kasih lampu ijo, itu mas bos tampan datang ke rumah ngajak orang tuanya langsung ngelamar kamu. Sekarang nongkrong pun kamu ngumpulnya sama orang-orang kaya. Bakalan naik kelas kamu Ra, habis di nikahin sama mas bos".
Mba Lina yang menjadi salah satu tenaga kebersihan menghampiriku dan mengajak ku bicara, karena restoran sudah mulai sepi pengunjung.
Hari ini Rita libur, jadi yang menjadi partnerku hari ini adalah Hani dan Romi, karena restoran mulai sepi kami memang biasa duduk-duduk santai sambil ngobrol. Tentu saja sambil menunggu mungkin akan ada pengunjung yang datang.
" Mba Lina itu nggak boleh ngomong begitu, semua orang sudah tahu Mas Bos kan memang sudah naksir sama Mba Raya sejak masih SMP. Bukan kaya di sinetron atau kisah Cinderella yang melihat terus langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu...Mba Lina...., itu cinta sudah dari kecil, ibarat pohon sudah tua, akarnya sudah menjalar kemana-mana, jadi pohonnya sudah kokoh dan nggak mudah roboh". Romi justru menjawab terlebih dahulu.
Selama ini memang semua karyawan restoran tau kisah kami secara garis besar, yang berteman saat SMP dan berpisah karena Bian pindah rumah di kota lain.
" Mba Lina, cuma melihat sekilas saja, sebenarnya aku sangat minder kumpul sama teman-teman Bian, siapakah aku ini, cuman pelayan restoran lulusan SMP, tapi mau tidak mau, aku memang harus bergaul dengan mereka, biar tahu apa yang dibahas dan dibicarakan oleh Bian dan teman-temannya".
" Sebagai calon istri yang baik, saya juga harus mencari tahu siap teman main calon suamiku, apa yang mereka bahas dan apa yang mereka sering lakukan, biar nggak kaget saat nanti sudah menikah"
Mba Lina terlihat manggut-manggut. " Bener juga sih omongan kamu, bagaimanapun kita harus mengenal lebih jauh dengan calon teman hidup kita, jangan asal terima, eh...tau tau habis menikah kaget karena ternyata banyak yang kita tidak tahu tentang pasangan kita".
" Maaf ya Ra... aku tadi cuma berpendapat dari sudut pandang ku saja. Padahal kamun nya yang aku kira lagi seneng banget dapat rejeki nomplok, tetap harus berjuang juga mengimbangi kehidupan calon suami kamu yang ibarat kata berasal dari dunia yang berbeda".
" Siapa yang berasal dari dunia yang berbeda?" Suara Bian tiba-tiba menghentikan obrolan kami.
" Eh... itu film semalam yang kami tonton Mas bos", jawab Mba Lina.
Hani dan Romi langsung berdiri mengelap meja, dan mba Lina langsung ke belakang entah apa yang di lakukan nya. Semuanya membubarkan diri, menyisakan aku yang masih duduk dengan ditemani Bian.