Healing

Healing
102. Kejadian Tak Terduga



Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar, ku lalui hari-hariku di tempat baru dengan suka cita. Mama dan papa sempat datang ke kontrakan sekitar enam bulan yang lalu, tepatnya saat aku ulang tahun.


Khusus hari itu warung nasi ku tutup, hanya sehari dalam kurun waktu setahun, aku libur jualan. Dan hari esoknya aku buka dengan memberikan makanan gratis untuk para pembeli yang sudah jadi langganan ku.


Jelas ku ingat tangis mama saat baru sampai dan melihatku yang sedang berjualan, karena Juna lah yang menjemput mama dan papa dari stasiun waktu itu. Mama menangis karena bahagia, sekaligus bersedih, karena anak-anaknya justru terlihat bahagia di tempat lain.


Mama dan papa tentu masih sangat ingat saat melarang ku pergi dari rumah, baik setahun yang lalu ataupun 14 tahun yang lalu, bedanya larangan kedua kalinya tidak aku hiraukan, dan nyatanya memang aku lebih merasa bahagia di tempat yang baru.


" Rita datang ke rumah dan memberikan sisa gaji kamu sama mama, bahkan ada bonus dari Riko sebagai uang kompensasi katanya, masih mama simpan karena itu milik kamu, dan mama bawa kesini karena mau mama serahkan sama kamu".


" Lalu Rita juga menanyakan nomor ponselmu, tapi mama memberikan nomor ponselmu yang dulu, mama tidak memberikan nomor yang baru, mama hanya khawatir kalau Rita akan memberi tahu pada Bian juga nomor baru mu. Mama tidak mau kamu berhubungan lagi dengan laki-laki manapun yang sudah menyakiti hati kamu sayang, mama nggak mau pikiran kamu kembali disibukkan dengan urusan di masa lalu", ucap mama saat dulu kami mengobrol di kamar berdua.


Aku harus menggabung kasur milikku dan kasur lipat Juna agar mama bisa tidur bersama denganku waktu itu. Sedangkan papa tidur bersama Juna di kontrakan sebelah. Rasyid memberikan tempat tidurnya dan mengalah tidur di bengkel selama 2 malam, karena mama dan papaku hanya tinggal selama 2 hari 2 malam di kontrakan kami.


" Semua uang itu untuk mama saja, uang Raya disini sudah banyak, usaha warung makan ini lumayan juga untungnya. Jadi uang itu buat mama saja".


Percakapan kami saat itu baru kami sudahi saat jam 2 pagi, tentu saja kami juga membahas tentang Shaka. Aku sangat merindukan nya, begitu juga dengan mama, tapi mungkin ini adalah keputusan terbaik agar Shaka menjadi orang sukses di kemudian hari. Shaka anak yang cerdas dan berprestasi, jika tetap hidup bersama kami, mungkin dia tidak akan bisa berkembang dengan maksimal karena terbatasnya kemampuan kami untuk mendukung hobi dan kemampuannya.


Apalagi Yoga sendiri yang menginginkan untuk merawat Shaka, sebagai bukti jika dia benar-benar menyesal dengan sikapnya di masa lalu, juga sebagai bukti jika sebenarnya Yoga tidak pernah setuju dengan keinginan ibunya dulu agar aku menggugurkan kandunganku.


Sekarang aku mulai percaya dengan kata-katanya, karena dia membuktikan dengan perbuatannya dengan bertanggung jawab atas hidup Shaka seterusnya. Begitu juga dengan mama yang mulai bisa memaafkan kesalahan Yoga di masa lalu. Mama dan papa dulu benar-benar membenci Yoga sampai tidak sudi untuk melihatnya, tapi kini mereka sudah mulai belajar memaafkan kesalahan Yoga, karena ternyata Yoga juga sebenarnya menginginkan kehadiran Shaka.


Aku dan mama tidur hanya tiga jam, dan kami bangun pagi-pagi, mama dan papa aku ajak ke pasar, ku kenalkan pada semua teman-teman ku di pasar, semuanya bersikap sangat ramah pada mama dan papa ku.


Sudah enam bulan sejak hari itu, aku belum bertemu lagi dengan mama dan papa, kami memang sering melakukan video call, seringnya saat sedang jaga warung jam 9 sampai jam 10, karena waktu itu warung tidak terlalu ramai dan bisa motong-motong sayuran sambil ber video call dengan mama dan papa.


Ternyata uang gajih terakhirku mama gunakan untuk membuka usaha sendiri menerima orderan kue atau berbagai macam snack di rumah, dan mama sudah punya beberapa langganan, apalagi teman mama di pabrik dulu, kebanyakan sibuk dan seringnya memesan kue atau Snack pada mama jika hendak ada acara. Mama juga menitipkan kue dan gorengan di warung-warung dekat rumah.


Papa masih tetap menarik ojek, dan sebagai sambilan di rumah papa sengaja membeli banyak ayam untuk dipelihara, dan dibudidayakan, setelah ayam besar papa akan menjualnya. Kadang jika terlalu banyak yang bertelur, papa akan menjual telur ayam kampung ke warung, itu juga sudah menghasilkan.


Mama dan papa jadi punya banyak waktu senggang karena hanya hidup berdua, merasa kesepian sudah pasti mereka rasakan, tapi mungkin memang keluargaku harus hidup terpisah seperti ini agar semuanya berjalan lancar dan bahagia, mama dan papa memang tidak mau tinggal bersamaku dan Juna di kontrakan, mereka tetap ingin tinggal di rumah sendiri, bisa apa aku kalau mereka sudah pada pendirian mereka.


Namun hidup tidak selalu sesuai dengan keinginan. Hari ini aku dapat telepon dari mama yang memintaku untuk pulang ke rumah. Mama menceritakan tentang apa yang terjadi sembari menangis terisak. Sangat jelas terdengar dari suaranya yang gemetar, mama butuh dukungan dari seseorang.


Mama memberi tahu jika Papa mengalami kecelakaan saat sedang narik ojek, karena melewati jalan berlubang yang tergenang air, papa jadi menabrak seorang pejalan kaki yang sedang berdiri di pinggir jalan dan orang itu terluka cukup parah.


Keluarga orang yang papa tabrak meminta keadilan dan hendak melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Namun mama memohon pada mereka agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Dan mama mengatakan akan menanggung semua biaya pengobatan juga perawatan korban.


Orang yang ditabrak papa mengalami retak di jari tangan kirinya, karena jatuh saat papa tabrak dan menggunakan tangan kiri sebagai tumpuan saat dirinya jatuh. Karena itulah jari tangan kirinya retak karena salah tumpu.


" Mal ini kunci kontrakan, kalau nanti Juna balik kerja tolong berikan kunci kontrakan pada Juna ya, kamu jaga warung sampai makanan ini habis saja, kalau sudah habis kamu bisa pulang. Kalau Juna nanya, beri tahu dia untuk menelepon dan tanya padaku langsung, ini darurat. Mungkin mulai besok warung tutup dulu beberapa hari, aku harus balik ke kampung".


Mala hanya mengangguk, dan bisa kulihat dari raut wajahnya dia ingin menanyakan banyak hal, namun tidak berani mengungkapkannya. Aku juga tidak punya waktu untuk menjelaskan. Mama dan papa sedang membutuhkan aku di samping mereka sekarang, tapi karena jarak yang jauh aku tidak bisa langsung mendampingi mereka. Butuh beberapa jam agar aku sampai di sana.


Juna memang tidak pernah memegang HP nya saat sedang bekerja, karena seperti itulah peraturan dari pabriknya, boleh mengecek HP jika sedang istirahat saja. Karena itulah aku tidak mengabari Juna, dia masih sibuk bekerja, mungkin nanti akan aku hubungi saat jam istirahat Juna.


Aku langsung memesan tiket kereta api secara online saat di jalan menuju stasiun, untung saja ada kereta yang sebentar lagi berangkat menuju perkampungan ku. Semoga saja mama tidak terlalu cemas memikirkan keadaan Papa.


Saat kereta mulai melaju aku kembali menghubungi mama, memberi tahu jika aku dalam perjalanan pulang. Dan meminta mama untuk tetap tenang, " Mama yang tenang, biarkan Raya nanti yang bicara dengan keluarga korban, sekarang mama fokus saja merawat papa, jangan menangis terus, keadaan mama yang seperti itu akan membuat papa jadi semakin merasa bersalah", ujarku berusaha membuat mama merasa lebih tenang.


Mama hanya mengangguk sambil menahan tangisnya. Sebentar lagi aku sampai dan menemani mama di rumah sakit, semoga saja sampai saat itu keluarga korban belum melapor ke polisi.


Jam 2 siang aku sampai di rumah sakit tempat papa dan orang yang ditabrak papa di rawat. Mama sudah menungguku di depan pintu kamar papa saat aku mengabari aku sudah sampai rumah sakit.


" Orang yang papa tabrak ada di kamar lain Ra...", itu kalimat pertama yang mama ucapkan saat melihatku, jelas terlihat mama masih ketakutan.


" Iya ma, tunggu sebentar, Raya mau nengok papa sebentar saja, apa papa banyak yang terluka atau tidak", aku masuk kamar papa yang ternyata berisi 4 orang di dalamnya, wajar saja papa dirawat menggunakan jaminan kesehatan, tentu sekamar ada banyak pasien lainnya.


" Papa nggak papa kok Ra, cuma lecet di lutut dan siku, sebaiknya kamu temui keluarga orang yang papa tabrak tadi, sebelum mereka melaporkan papa ke polisi", pinta papa memelas.


Aku pun akhirnya hanya sebentar saja melihat keadaan papa, dan langsung pergi ke kamar lain yang juga berada di lorong lain. Kamar yang pasiennya hanya satu orang dalam satu kamar, jelas bermalam di kamar itu akan menghabiskan banyak biaya. Dan itu semua harus kami yang menanggung.


" Kenapa di kamar ini ma?, apa yang di tabrak tidak punya jaminan kesehatan?", hanya pertanyaan itu yang terlintas di pikiranku sekarang.


" Iya Ra.... pemuda itu sedang mengecek proyek baru katanya, di sekitaran lahan kosong yang ada di samping gedung futsal Garuda. Sepertinya memang orang kaya, makanya tidak punya jaminan kesehatan seperti kita".


" Tapi sepupunya yang jadi asisten pribadinya yang terus saja mengatakan akan menuntut papa, mama kan jadi takut, bagaimana jika papa kamu dipenjara, mama harus bagaimana?". Lagi-lagi Mama suaranya terdengar gemetar seperti tadi saat melakukan panggilan telpon.


" Ya sudah kita masuk sekarang dan bicara baik-baik dengan mereka, semoga saja mereka setuju masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan", ucapku mencoba menenangkan mama.


Aku pun mengetuk pintu kamar sambil mengatakan jika aku putri dari orang yang tidak sengaja menabraknya, dan tak lama kemudian terdengar suara seseorang mempersilahkan aku masuk kedalamnya.


Saat aku buka pintu dan melihat ke dalam kamar yang bisa dikatakan lumayan bagus untuk sebuah kamar rawat inap di rumah sakit. Orang yang berdiri di samping ranjang pasien terlihat terkejut saat menatapku. Dan aku tak kalah terkejutnya dengan orang itu.


" Raya...!", seru suara yang sudah lumayan sering aku dengar sebelumnya.