Healing

Healing
21. Budget



Setelah Shaka masuk ke kamarnya aku pun berpamitan pada mama dan papa untuk masuk kedalam kamar untuk tidur. Besok hari minggu, mungkin pekerjaan di restoran besok akan sangat melelahkan, karena biasanya di hari minggu pengunjung restoran justru lebih banyak dari hari biasanya.


Kebanyakan tamu datang di hari minggu itu satu keluarga yang sengaja makan di luar, atau habis bepergian dan malas masak. Atau pasangan yang habis kencan, mampir untuk makan berdua. Kebiasaan iu sudah sangat aku hafal karena tiap minggu selalu begitu.


Yang membuat aku senang, kalau hari minggu tidak ada perintah untuk delivery order ke perusahaan atau sekolah, karena semuanya libur, jika pun ada delivery order paling ke rumah orang, dan tidak membawa box nasi terlalu banyak seperti jika pesanan dari perusahaan. Paling membawa beberapa menu masakan untuk acara dirumah.


Aku mengecek ponselku, belum ada pesan dari Bian, pasti dia masih dijalan menuju rumah orang tuanya, karena baru beberapa menit Bian keluar dari rumah ini, dia pasti masih di atas motor. Paling baru sekitar satu kilometer jarak yang sudah ditempuhnya. Karena tadi Bian bilang dia merasa kagok karena sudah lama tidak mengendarai motor nya.


Sambil rebahan di atas kasur, aku jadi teringat ucapan Bian tadi, dia ingin sekali bisa berboncengan denganku naik motor, aku jadi membayangkan bagaimana jika aku dan Bian naik motor ninja warna hijau, dengan badan Bian yang tinggi sedang, dan aku membonceng di belakangnya sambil memeluk dari belakang seperti yang Bian bayangkan. Pasti akan sangat romantis.


Aku membayangkan sampai tak terasa aku tertidur di kamar. Tau-tau saat aku membuka mata, hari sudah pagi, dan kokok ayam peliharaan mama sudah ramai saling bersahutan. Biasanya itu pertanda jika mama sedang memberi ayam-ayam nya makan.


Mama memang selalu memberi makan ayam-ayam nya pagi-pagi sekali, biasanya memberi makan sisa nasi kemarin di campur sedikit pakan ayam.


Aku bangkit dari tidurku dan berjalan menuju kamar mandi, mandi pagi dan sholat subuh, baru aku pergi ke belakang lagi membantu mama masak untuk kami semua sarapan.


" Apa Shaka masih tidur ma?, kok sepi?, biasanya pagi-pagi Raya pasti terbangun karena mama teriak-teriak dari dapur bangunin Shaka yang masih tidur di kamar", ujarku sambil mengupas kulit telur puyuh yang sudah direbus, karena hendak mama masak dengan kentang yang sedang mama kupas kulitnya juga.


" Shaka sudah pergi ke masjid buat sholat subuh jama'ah, teman-teman nya pada nyamperin kesini, katanya habis sholat subuh berjamaah, mereka lanjut jalan-jalan pagi ke jalan persawahan buat liat matahari terbit", ucap mama menjelaskan.


Aku hanya mengangguk, aku merasa kini Shaka putraku semakin besar, dan dia sudah bukan Shaka kecil yang biasanya. Aku sering merasa khawatir jika ada salah satu teman Shaka yang diberi tahu oleh orang tuanya bahwa Shaka sebenarnya adalah putraku, semoga hal itu tidak pernah terjadi, dan semoga itu hanya ketakutan ku saja.


Kalau sampai ada yang memberi tahu, Shaka pasti akan sangat bingung, dan mungkin justru dia akan sangat membenciku.


" Kamu sudah nanya sama Bian bagaimana tanggapan kedua orang tuanya?", mama yang sedang memotong-motong kentang, tiba-tiba bertanya tentang Bian padaku.


Aku bahkan belum mengecek ponsel sejak tadi pagi, ponsel masih di carge di atas meja kecil yang ada di kamarku.


" Raya belum nanya Ma, malah belum ngecek HP sejak tadi, nanti saja nanyanya kalau ketemu dengan Bian secara langsung, ini kan pembahasan yang serius, jadi nggak bisa lewat telepon begitu Ma", ucapku.


Meski terlihat tak puas dengan jawabanku, tapi Mama tetap mengangguk seolah mengerti.


Ku lihat Shaka pulang dari jalan-jalan bersama teman-temannya, masih memakai peci di kepalanya dan sarung yang sudah dilepas dan melingkar di pundaknya.


" Mampir nggak Dul?, sarapan di rumahku, pasti mama sudah selesai masak jam segini".


Kudengar Shaka mengajak temannya untuk ikut sarapan di rumah kami, tapi teman yang bernama Abdul itu menolak dan memilih untuk pulang ke rumahnya.


" Nggak dulu Ka, sekarang sudah siang, ibuku mau ngajak aku jalan-jalan ke pantai, takut berangkatnya kesiangan kalau aku mampir ke rumah kamu dulu", itu jawaban dari Abdul teman Shaka.


Aku bisa melihat wajah Shaka yang terlihat murung setelah mendengar jawaban dari Abdul. Memang Shaka belum diajak tamasya kemana-mana sejak liburan, hanya makan diluar bersama keluarga saja Jum'at kemarin. Itupun perayaan karena aku berjanji mentraktirnya jika dia juara kelas lagi. Dan itu benar-benar terjadi, Shaka putraku sangat cerdas dan selalu menjadi juara kelas. Sedangkan besok Shaka sudah mulai sibuk berangkat ke sekolah barunya sebagai siswa SMP. Ya... hari ini memang hari terakhir liburan setelah kelulusannya. Karena itulah jika hari ini tidak pergi, berarti liburan kelulusan Shaka memang tidak pergi tamasya kemana-mana.


Kasihan sekali putraku, kadang aku jadi merasa sedih, karena tidak bisa mengabulkan semua keinginan Shaka yang sebenarnya sangat sepele.


Meski mengetahui keinginan Shaka yang berharap bisa bertamasya saat liburan, Tapi aku tidak bisa mengabulkannya, biaya pendaftaran masuk SMP kemarin sudah lumayan mahal, belum lagi nanti harus membayar seragam yang kesemuanya ada 4 pasang, dari seragam OSIS, seragam batik, baju olahraga dan baju pramuka, semua itu harus di tebus maksimal seminggu setelah anak-anak mulai berangkat sekolah.


Memang aku sudah punya anggaran untuk itu, dari uang tabungan yang ku kumpulkan sedikit demi sedikit selama ini, tapi bukan cuma itu juga kebutuhan Shaka, aku harus membeli sepatu baru juga untuknya, karena sepatu yang lama sudah kekecilan. Rasanya pengeluaran ku sedang banyak-banyak nya. Karena itu meski aku tahu Shaka ingin berlibur, aku tetap diam dan pura-pura tidak tahu. Pasti butuh uang lagi yang banyak jika ingin liburan. Dan liburan tidak masuk dalam budget yang sudah ku buat jauh-jauh hari.


Maafkan ibumu yang tidak becus ini putraku, seharusnya aku lebih giat bekerja, atau mencari pekerjaan tambahan lain agar mendapatkan tambahan pemasukan lagi untuk bisa mengabulkan keinginan mu.


Selesai menjemur pakaian, aku pun berangkat ke restoran, karena sudah jam setengah 8, aku harus sampai di restoran jam 8. Meski perjalanan dari rumahku ke restoran hanya butuh waktu 25 menit, hanya berjaga-jaga agar bisa sampai di restoran tidak terlalu mepet waktunya.


Motor matik milik mama yang dulu di angsurnya tiap bulan selama 3 tahun sekarang selalu aku pakai, motor yang sudah sangat tua ini, tapi masih nyaman dipakai, dan juga tida pernah mogok, karena papa tiap bulan melakukan perawatan sendiri pada motor ini dan juga motor papa. Papa memang bisa memperbaiki motor, karena lumayan paham tentang mesin. Karena itulah meski aku menaiki motor tua yang tahun keluarnya lebih tua dari tahun lahir Shaka, tapi masih enak di kendarai.


Memang selama ini aku bekerja, tapi hasilnya tidak seberapa, itupun untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan juga biaya sekolah Shaka dan Juna, karena itulah sampai usiaku 26 tahun, belum ada satupun barang yang sudah aku beli, tidak seperti teman-temanku yang sudah bisa beli motor, bisa beli perhiasan atau bisa merehab rumah orang tuanya menjadi lebih bagus.


Semua hal itu sampai saat ini terlalu mewah bagiku. Bisa makan tiap hari dan bisa menyekolahkan adik dan anakku sampai lanjutan itu sudah membuatku sangat bersyukur.


Aku tidak muluk-muluk dan tidak pernah punya keinginan untuk bisa membeli ini dan itu seperti teman-teman yang lain, dalam keyakinan ku jika memang aku akan memiliki semua itu, aku pasti akan memilikinya, dan jika tidak di takdir kan untuk memiliki, ya berarti memang belum beruntung. Itu saja semuanya simpel dan tidak perlu di ambil pusing.