Healing

Healing
109. Cincin di Jari Manis



Malam semakin larut, sudah hampir setengah jam Yoga berada di dalam kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan sampai selama itu di dalam kamar mandi. Aku sedikit khawatir, soalnya tubuhnya belum benar-benar sehat, dan tangan kirinya masih di perban, mungkin saja dia kesulitan untuk buang air, atau mungkin dia butuh bantuan di dalam.


Tapi jika memang dia butuh bantuan bukankah seharusnya dia memanggilku, dan meminta tolong. Ini justru dia begitu lama di dalam tanpa bersuara, membuatku merasa khawatir, jangan-jangan Yoga pingsan di dalam kamar mandi.


Aku bangun dari tiduranku dan berjalan menuju kamar mandi, di depan pintu bisa ku dengar suara kran air yang menyala, mungkin saja Yoga memang sedang sakit perut, makanya lama di kamar mandi. Aku kembali ke ranjangku.


Sampai sepuluh menit kemudian Yoga tak juga keluar dari kamar mandi, aku yang berusaha untuk tidur akhirnya kembali turun dari ranjang dan berdiri di depan pintu kamar mandi. Karena sudah terlalu lama Yoga di dalam, aku ketuk pintu kamar mandi dengan keras.


" Ga.... kamu masih lama....?", seruku dari depan pintu kamar mandi.


Namun belum aku menyelesaikan kalimatku Yoga keluar dengan wajah penuh keringat.


" Kenapa lama banget di dalam?, apa kamu sakit?, lihatlah kamu sampai berkeringat begini, apa kamu sembelit?", tanyaku menatap Yoga lekat.


Namun justru Yoga mengacuhkan aku dan kembali merebahkan diri di ranjangnya. Dia tidak menjawab pertanyaan ku, bahkan menatapku saja tidak. Apa yang terjadi padanya?, apa aku melakukan kesalahan?.


Ah.... bodo amat, untuk apa memikirkan sikap Yoga barusan, dia tidak menjawab, aku juga tidak rugi. Sakit dia rasakan sendiri, aku sudah berbaik hati bertanya padanya, siapa tahu aku bisa membantu, tapi dia tetap diam saja, ya sudah.


Namun ternyata semalaman Yoga melakukan hal yang sama sampai beberapa kali. Mungkin saja dia diare, soalnya tiap kali pergi ke kamar mandi, dia cukup lama berada di dalam, dan saat keluar dia selalu berkeringat seperti orang habis lari-lari.


Aku kasihan padanya, tapi dia tidak mengatakan apapun, tidak juga minta tolong padaku, jadi aku tidak menawarkan bantuan, aku tidak perlu bersikap sok baik, takut Yoga malah ngelunjak jika ku tawari bantuan.


Alhasil malam ini aku tidak tidur selelap malam kemarin gara-gara Yoga yang bolak-balik ke kamar mandi.


Pagi-pagi saat aku terbangun, ku lihat Yoga baru bisa tidur dengan nyenyak, mungkin dia kecapekan setelah bolak balik ke kamar mandi semalam, aku memilih keluar dari kamar Yoga, untuk mencari sarapan, beruntung Haidar datang lebih awal dengan pakaian rapi seperti hendak pergi ke kantor.


" Selamat pagi Raya... bagaimana malam mu tadi?, apa Steve memberimu servis terbaik?, atau jangan-jangan kau tidak diberi kesempatan untuk tidur semalaman?, lihatlah kau seperti orang yang kurang tidur", Haidar masih saja menggodaku.


" Mana ada hal semacam itu, semalam justru Yoga sibuk bolak balik ke kamar mandi, sepertinya dia sembelit, lama banget di kamar mandi, pas keluar di berkeringat banyak", ucapku memberi tahu apa yang terjadi pada Haidar saat kami berpapasan didepan kamar.


Namun justru Haidar tertawa dengan begitu keras. " Bagaimana bisa dia mengeluarkannya di kamar mandi, wah, tidak ada gunanya dong kemarin aku memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya, jika dia masih tetap membuangnya di kamar mandi".


" Gagal rencanaku, aku kira supaya dia terlihat keren di matamu, karena bisa on terus meski lagi sakit. Kenapa malah dia tidak mengajakmu?, kalian kan sudah menikah, apa kamu menolaknya?, atau kamu lagi kedatangan tamu bulanan?, kasihan sekali Yoga kalau benar begitu".


Haidar tertawa lepas mengetahui apa yang terjadi semalam.


Apa yang dikatakan Haidar?, berarti semalam Yoga begitu lama di kamar mandi karena dia berusaha menuntaskannya sendiri?, ini benar-benar gila.


Tapi itu berarti Yoga semalaman menahan keinginannya untuk menyentuhku, tapi kenapa?, bukankah syarat pertama sudah batal karena aku lebih memilih syarat yang kedua yang ku ajukan?, apa Yoga tidak mau memaksaku melayaninya?, baguslah kalau demikian, aku juga tidak ingin disentuh olehnya. Bagus jika Yoga bisa menahan diri sendiri.


" Kau urus temanmu itu, aku mau cari sarapan dulu sebelum pulang ke rumah mama ku", ucapku pada Haidar.


Haidar hanya mengangkat alis sambil masuk ke kamar Yoga. Aku pergi ke kantin untuk cari sarapan untukku sendiri, karena Yoga tentu akan dapat jatah makan dari rumah sakit. Setelah sarapan aku tidak kembali ke kamar Yoga, tapi aku pulang ke rumah mama.


" Pagi sekali kamu sampai disini?, apa suamimu tidak protes?", tanya Mama saat melihat aku turun dari ojek online.


" Aku tidak pamitan, aku hanya bilang mau ke kantin. Juna mana Ma?", tanyaku sambil mengedarkan pandanganku".


" Juna semalam mengantar Shaka ke rumahnya, Shaka tidur dirumahnya sendirian jadi Juna menemani. Kamu coba kesana saja kalau ada kepentingan mendesak", ujar Mama.


" Apa rumahnya masih yang dulu itu ma?, yang juga ditempati almarhum ibunya Yoga?", tanyaku.


Mama menggeleng, " Bukan itu, Shaka bilang dia tinggal di dekat SMP tempatnya sekolah, bukan SMP yang dulu, tapi SMP Shaka yang baru sama dengan SMP tempat Yoga sekolah dulu, kamu tahu kan tempatnya?, coba telepon Juna suruh di share lock".


" Raya juga akan langsung berangkat ke kota bersama Juna nanti, makanya Raya kesini untuk pamitan".


Ku lihat papa keluar dengan berjalan perlahan pegangan ke tembok, sepertinya luka di kaki papa belum sembuh benar.


" Apa Yoga memberimu ijin pergi ke kota?, meski kamu membencinya, sekarang kamu sudah menjadi istrinya, bagaimana pun kamu harus berbakti pada suamimu", ucap Papa.


Memang benar yang Papa katakan, harusnya aku menghormati Yoga sebagai suamiku, tapi hatiku belum bisa melakukan hal itu sekarang.


" Kami berdua sudah membahas hal ini sebelum pernikahan Pa, Yoga tidak masalah aku kembali ke kota, dan dia setuju dengan hal itu".


Jawabanku membuat mama dan papa saling menatap. Seolah tidak percaya jika Yoga membiarkan aku pergi begitu saja.


Pukul 10 aku dan Juna sudah sampai di stasiun untuk berangkat ke Kota menaiki kereta api, aku tidak berpamitan pada Yoga terlebih dahulu ke rumah sakit. Hanya sebuah pesan singkat aku kirimkan padanya, memberi tahu kepadanya jika aku dalam perjalanan menuju ke kota. Yoga belum membacanya, pasti Yoga sedang istirahat dan tidak memegang ponselnya. Kasihan juga semalaman tidak bisa tidur akibat ulah Haidar.


Saat sampai di stasiun, ku tatap keadaan stasiun yang masih sama dengan satu tahun yang lalu, belum banyak yang berubah disini, ternyata pembangunan di daerah tidak secepat pembangunan dikota besar.


Aku tersenyum sendiri mengingat drama yang terjadi setahun yang lalu.


" Kenapa kak?, apa ada yang lucu?", tanya Juna penasaran.


" Tidak papa, aku hanya teringat saat pertama kita berangkat ke Kota, ada drama yang terjadi disini, sungguh jika di ingat membuatku ingin tertawa, dia yang menangisi kepergian ku dan dia yang berjanji akan datang ke kontrakan kita, tapi dia juga yang mengingkari semua janjinya".


" Sekarang aku jadi lebih mengerti, tidak ada laki-laki yang benar-benar baik di dunia ini, semua nya hanya pandai berjanji tanpa berusaha menepatinya".


" Kakak harap sebagai laki-laki kamu jangan terlalu mudah mengucapkan janji pada wanita, ataupun siapa saja jika kamu merasa tidak mampu untuk mewujudkannya Jun", ucapku pada Juna.


Juna menatapku, " Tidak begitu kak Raya, bukan seperti itu yang sebenarnya. Kak Bian pernah datang ke kontrakan kita, aku yang menemuinya saat pulang kerja. Kak Bian sedang mencari alamat kita, aku yang melarangnya menemui mu. Karena ku pikir kakak sudah hidup bahagia dengan kesibukan kakak menjadi pemilik warung makan".


" Kak Bian datang sekitar lima bulan setelah kakak tinggal dikontrakkan, dia menepati janjinya datang Kak, dan dia juga melihat tawa kakak bersama orang-orang yang menjadi langganan kakak di warung".


" Aku yang meminta pada kak Bian untuk melanjutkan hidupnya dan tidak lagi mengganggu hidup kakak. Maaf kalau aku baru mengatakannya sekarang".


Aku sedikit terkejut dengan penuturan Juna, selama ini kenapa baru saat ini dia mengatakan yang sebenarnya, setelah aku menganggap jika Bian adalah pembohong. Ternyata Bian menepati janjinya. Aku sempat salah menilai Bian, tapi bagaimana pun sekarang aku dan dia sudah mempunyai pasangan masing-masing, mungkin lebih baik kami memang saling melupakan seperti sebelumnya.


Perjalanan di dalam kereta terasa lebih cepat dari biasanya, aku dan Juna terus ngobrol berdua, setelah satu jam, karena merasa ngantuk, kami tidur di bangku kami masing-masing.


Kehidupan kembali berjalan seperti biasanya, aku bersyukur karena bisa kembali ke kontrakan bersama Juna. Meski kini statusku sudah berbeda dari sebelumnya, tapi tidak ada tetangga dan orang lain yang tahu kecuali Juna.


Bahkan Mala yang setiap hari datang ke kontrakan juga tidak tahu jika aku sudah menikah, perhiasan dan mas kawin lainnya dari Yoga aku simpan di rumah mama. Tidak ada yang aku bawa ke Kota kecuali cincin pernikahan ku. Sebagai pengingat saja jika aku sudah menikah.


" Apa kamu balik ke kampung karena habis menikah?, kok balik dari kampung sudah ada itu?", tanya Rasid sambil menunjuk ke jari manis ku yang kini sudah melingkar cincin emas yang cukup menarik perhatian.


Rasid memang orang yang pertama melihatku sesampainya dari kampung, karena dia tetangga paling dekat dengan kontrakan ku.


" Apa punya cincin itu berarti sudah menikah?, banyak kok yang sengaja beli cincin sendiri hanya sebagai perhiasan semata, untuk mempercantik penampilan", ucapku.


Aku tidak mengiyakan tapi juga tidak mengelak jika aku sudah menikah, sebenarnya aku hanya tidak ingin Rasid semakin banyak bertanya jika ku jawab benar aku habis menikah. Karena semuanya terlalu mendadak, dan akan terasa aneh pernikahan yang terjadi secara tiba-tiba.


" Benar katamu, hanya saja cincin yang kamu pakai itu, seperti cincin pernikahan, apalagi kamu pakai di jari manis, memang benar yang kamu katakan, kamu semakin cantik memakai cincin itu", Rasid memujiku, tapi tak ku tanggapi.