
" Tentu saja, apa Syifa mau Om belikan es krim lagi?, kalau mau, kapan-kapan Om akan main ke rumah Syifa, beli es krim stroberi yang banyak, khusus buat Syifa yang cantik".
Bian melirik ke arah Yoga dan Papa yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka.
" Syifa mau banget Om, Syifa tunggu kedatangan Om di lumah, jangan tipu-tipu ya...".
Bian tersenyum dan menganggu, " Om nggak akan bohong, pasti Om akan main ke rumah Syifa, tapi apa boleh sama ayah dan ibu Syifa?, nanti Om sudah datang malah nggak boleh masuk, gimana?".
Wah.... Bian pandai sekali berbicara. Dia sengaja mengatakan hal itu pada Syifa agar Yoga mengijinkannya datang ke rumah.
" Itu Ayah", tunjuk Syifa dan menarik tangan Bian mendekat ke arah Yoga.
" Ayah Om Bian boleh main ke lumah kita kan Yah?, kan Om Bian juga sahabat ayah, sama sepelti Om Haidal".
Yoga menatap Bian dengan senyum smirk, sepertinya dia menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Syifa.
" Tentu saja Om Bian boleh main ke rumah kita... tapi jika ayah sedang ada di rumah, kan teman Om Bian itu ayah. Kalau ayah tidak di rumah dan sedang bekerja, Om Bian tidak boleh main ke rumah, kalau Om Bian main pas ayah nggak ada suruh ke kantor ayah saja. Apa Syifa paham?".
Syifa nampak berpikir, namun kemudian mengangguk, entah benar dia paham atau tidak dengan kalimat ayahnya yang berbelit. Tapi setelah hari itu....
" Maaf saya mau bertemu dengan Syifa, sudah janji mau memberikan es krim ini padanya", ucap Bian pada satpam jaga rumah kami.
Kebetulan saat itu aku dan Syifa sedang bermain-main di depan rumah. Hari ini hari ke 3 setelah kami pulang dari liburan di puncak. Dan Bian benar-benar datang ke rumah ini membawa banyak es krim stroberi seperti janjinya pada Syifa.
Baru hari ini Yoga mau tersenyum dan bersikap baik padaku, karena sejak penjelasanku tentang pertemuan tidak sengaja antara aku dan Bian di depan Fila kemarin, Yoga seperti marah padaku. Dia mungkin kesal karena aku tidak berterus terang kepadanya secara langsung setelah pertemuan itu.
Tentu saja aku meminta maaf berulang kali, sehari mungkin aku meminta maaf sampai berpuluh-puluh kali, dan baru hari ini Yoga bersikap hangat lagi padaku.
" Wah...ada Om Bian Bu, Om Bian bawa Es klim", ujar Syifa dengan girang.
" Tapi ayah lagi nggak di rumah, Syifa ingat kan pesan ayah?".
Syifa seperti mengingat-ingat, kemudian mengangguk dan mendekat ke pintu gerbang.
" Es klimnya makasih Om Bian, kasih sama pak satpam saja, nanti Syifa ambil. Ayah lagi nggak di lumah, jadi Om Bian nggak boleh masuk, kalau Om Bian masuk ayah bisa malah-malah lagi sama ibu, sepelti kemalin".
Aku sampai tersenyum sendiri mendengar ucapan Syifa yang seperti orang dewasa.
" Om Bian pengen lihat Syifa sebentar saja", pinta Bian dari depan gerbang. Akhirnya aku menyuruh satpam untuk membukakan pintu gerbang dan membiarkan Bian memberikan es krim itu secara langsung pada Syifa.
" Maafin Om Bian kalau gara-gara Om, ibu dan ayah Syifa jadi marahan. Ini es krimnya, Om pergi dulu kalau begitu, kapan-kapan Om main kesini lagi".
Bian benar-benar pamit dan tidak masuk ke dalam rumah. Kami sempat bertatapan sejenak, bisa ku lihat dia nampak ingin ngobrol banyak denganku, tapi aku tidak mungkin menerima tamu laki-laki saat suamiku tidak di rumah, apalagi tamu itu adalah mantan kekasihku.
Seandainya aku diam, mungkin banyak mata di rumah ini yang akan melaporkannya pada Yoga.
Namun baru beberapa langkah Bian meninggalkan pintu gerbang, dia balik badan dan bicara lagi.
" Satu lagi aku hampir lupa Ra, ibuku menitip pesan agar di sampaikan sama kamu, dia ingin bicara empat mata denganmu, jika kamu ada waktu luang dan setuju hubungi nomor ini", Bian menyerahkan secarik kertas bertuliskan 12 digit angka, yang ternyata adalah nomor telepon ibunya.
Setelah menerima es krim dari Bian, dan Bian pergi, aku mengajak Syifa masuk kedalam rumah.
Ku nyalakan televisi dan sengaja menonton film kartun anak-anak untuk tontonan Syifa. Sembari menikmati es krim pemberian Bian.
Ternyata ponselku yang ku letakkan di meja terus berdering, ada beberapa panggilan masuk di ponselku, dari Utari. Suami dan istri itu senang sekali mengusik kehidupanku. Entah mengapa aku merasa kehidupan masa laluku bersama Bian mengganggu kehidupanku di masa sekarang, yang sebenarnya sudah mulai normal.
Sebenarnya aku sangat malas untuk ke luar rumah, tapi aku sudah terlanjur berjanji pada Utari akan menemuinya setelah kami sama-sama pulang dari Fila. Dan ini sudah hari ke tiga sejak kami pulang.
Aku memang sempat bertemu dan ngobrol dengan Utari di depan masjid waktu kami berhenti untuk Maghrib saat pulang dari Fila, tapi itu tidak lama, karena Yoga tidak suka aku masih berhubungan dengan Utari.
Dan hari ini Yoga baru mau bersikap baik padaku, jika aku ijin padanya untuk bertemu dengan Utari, mungkinkah Yoga akan mengijinkan?. Tapi jika tidak ijin dan Yoga tahu aku bertemu dengan utari, mungkin Yoga akan kembali marah.
" Ibu... Syifa pengen makan pizza, Ibu tolong pesenin lewat aplikasi ya?", pinta Syifa tiba-tiba merengek minta pizza gara-gara melihat iklan pizza di televisi. Sungguh beruntung anak-anak jaman sekarang, lihat iklan di TV, tertarik, tinggal minta sama orang tua, nggak perlu kemana-mana sudah ada yang anterin ke rumah. Karena sekarang hampir semua tempat bekerjasama dengan jasa pengiriman, mempermudah orang-orang yang malas keluar, untuk membeli dari rumah saja.
Tapi gara-gara permintaan Syifa aku jadi dapat ide bagus. Biar saja menjadikan Syifa sebagai alasan pergi ke kafe karena Syifa minta makan pizza, jadi Yoga pasti akan mengijinkan.
Benar saja, aku menelepon Yoga, beruntung Yoga sedang rapat di kantor, sehingga aku langsung dapat ijin keluar rumah, karena Syifa yang aku jadikan alasan. Biasanya Yoga akan banyak pertanyaan, ' kenapa tidak delivery order saja?', atau ' kenapa tidak nyuruh bi Tati saja?'. Tapi karena Yoga sedang rapat, agar tidak ngobrol terlalu lama di telepon, Yoga jadi langsung menyetujuinya begitu saja tanpa pertanyaan dan tanpa protes.
" Syifa putri ibu yang cantik, kita makan pizza-nya di kafe saja gimana?, ibu pengen ngajak Syifa keluar sekarang, Syifa mau kan?".
Dan tentu saja Syifa langsung mengangguk setuju untuk makan di luar. Sejak pulang dari Fila kami belum pernah pergi kemana-mana, tentu saja ada rasa jenuh dan bosan terus berada di rumah.
Selesai berpakaian kasual ala kadarnya, dan menggantikan pakaian Syifa, aku langsung mengajak Syifa keluar. Taksi online yang aku pesan lewat aplikasi sudah menunggu di depan rumah. Aku sengaja pergi dengan kendaraan umum, dan tidak meminta pak supir mengantar kami agar tidak ada yang tahu kemana aku pergi. Hanya pada bi Ati aku berpesan sebelum keluar.
" Bi, aku mau nurutin kemauan Syifa makan piza, aku mau pergi ke kafe FGH, kalau ada tamu yang nyari atau ada apa-apa, bibi bisa telepon nomerku langsung".
Bi Tati mengangguk, aku pun langsung berangkat, karena Utari sudah menungguku sejak tadi.
Sampai di kafe aku langsung masuk dan mencari keberadaan Utari, sebelumnya aku memberi tahukan pada Utari jika aku mengajak Syifa, karena hari ini mama tidak datang ke rumahku. Ada tetangga rumah mama yang sedang hajatan, dan mama sedang bantu-bantu di sana.
" Maaf apa anda Nona Raya?", seorang pramusaji menghampiriku saat aku masih mencari-cari keberadaan Utari.
" Benar saya Raya", jawabku.
Pramusaji itu tersenyum dan mengajakku menuju tempat dimana Utari berada, ternyata Utari memesan tempat yang tertutup, seperti sebuah bilik seluas 3x3 meter, dan ada satu meja dengan kaki pendek tanpa kursi, hanya ada beberapa bantal untuk duduk lesehan.
" Tolong sajikan pizza yang medium dengan toping beef, jamur, keju dan sosis, terimakasih", ucapku pada si pramusaji sebelum dia keluar dari ruangan.
Pramusaji itu mengangguk, " mohon ditunggu sebentar Nona, segera kami siapkan".
Setelah menyapa Utari, aku duduk di depan Utari bersebrangan meja, Syifa duduk di sampingku, dan di meja itu sudah tersaji cukup banyak makanan. Memang sudah waktunya untuk makan siang, dan rencananya aku hanya akan makan pizza saja bersama Syifa, namun ternyata Utari sudah memesan begitu banyak makanan.
" Kita makan dulu ya Ra, aku sudah pesan banyak makanan untuk kita".
Aku mengangguk.
" Apa kamu yakin kita hanya berdua?, sepertinya kamu pesan makanan terlalu banyak", ujarku.
" Tidak apa, aku tidak tahu makanan apa yang kamu suka, makanya aku pesan beberapa menu, aku berharap setidaknya salah satu dari makanan ini ada yang kamu suka", ucap Utari.
Untung ada sup ayam yang bisa aku berikan untuk Syifa sebelum pizza pesananku jadi. kami pun makan siang bersama. Pizza datang tepat setelah kami selesai makan siang.
Ku biarkan Syifa makan pizza sendiri, sementara aku mulai mendengarkan curhatan Utari tentang kehidupan rumah tangganya. Ternyata masa depan seseorang tidak pernah ada yang tahu.
Yang orang sangka pernikahan dari Utari dan Bian pasti akan penuh dengan kebahagiaan, karena seorang pengusaha dari bisnis kuliner, bertemu dengan seorang dokter muda, tentunya rumah tangga mereka tidak akan pernah kekurangan apapun, namun nyatanya yang mereka rasakan sebaliknya.
Entah dari latarbelakang apapun, ternyata kebahagiaan tidak perlu mencari alasan untuk menghampiri atau meninggalkan seseorang.