Healing

Healing
94. Pesan Masuk



" Raya... Ra...., kamu nggak pingsan kan?", bagaimana bisa sedang di make up malah tidur begitu?, baru pernah aku menjumpai calon pengantin yang tidur waktu di rias. Apa semalam kamu nggak sempat tidur?".


Suara Rita membuatku membuka mata, " kenapa aku masih berada di rumah?, dimana Bian?, bukankah tadi dia sudah datang, dan kami sudah selesai menikah?", aku melihat ke sekitar, hanya ada aku, Rita, dan penata rias yang masih memoles wajahku dengan berbagai macam make up yang tidak ku tahu apa namanya.


" Iya, mba Raya sepertinya semalam nggak tidur, makanya kelelahan dan ngantuk berat, lagi saya make up bagian kelopak mata, saya suruh merem, malah meremnya kebablasan sampai tidur, untung saja nggak ngiler", gurau penata rias, namun aku langsung mengusap bibirku, siapa tahu aku ngiler, tapi ternyata tidak.


Ku lihat jam di dinding kamarku, baru jam 7 pagi, apakah tadi aku hanya mimpi?, tapi mengapa semuanya terasa begitu nyata. Aku tadi sedang bersama Bian dan orang tua kami di KUA, tapi kenapa ini malah masih di kamar ku?.


" Woi... malah melamun, kenapa?, kamu nervous ya mau nikah?, santai saja Ra.... kan yang mengucapkan ijab qobul itu Bian, bukan kamu, kamu hanya perlu duduk manis di samping Bian sambil tersenyum cantik", ujar Rita yang justru menggodaku.


" Kamu kok disini ?, maksudku, apa kamu nggak ikut bantu-bantu di hotel, bukankah yang lain sedang sibuk bekerja disana?", tanyaku, karena Rita seharusnya bersama dengan karyawan restoran lainnya sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk pernikahan Yoga.


" Makanya... punya HP jangan dimatikan terus, jadi nggak ketinggalan info. Kamu ku telepon berkali-kali malah nomermu nggak aktif", ujar Rita.


" Mau sibuk bagaimana, wong acaranya dibatalkan mendadak, untung tadi baru belanja bahan, dan belum di masak, jadi masih bisa di simpan di kulkas. Tadi habis belanja sama Mas Riko, eh... dapat telepon dari pihak pengantin, katanya acaranya dibatalkan".


Aku menatap Rita, " Acaranya dibatalkan gimana?, kamu kalau ngomong yang jelas dong Rit!", seruku dengan hati berdebar menanti jawaban dari Rita.


" Mana aku tahu, memangnya siapa mereka, aku juga cuma tahu yang mau menikah itu sahabatnya mas Bos, sudah hanya itu yang aku tahu, alasan mengapa acara pernikahan dibatalkan aku sama sekali nggak tahu".


" Lagian ngapain ngurusin urusan orang lain, urusan sendiri saja nggak kelar-kelar. Oh iya, jam berapa mas Bos datang kesini?, tadi aku kesini diantar sama mas Riko, tapi mas Riko nya langsung jalan lagi, mau ke rumah Bos Bian dulu, baru kesini sama Mas Bos katanya", ujar Rita.


" Bian bilang mau kesini jam 7, tapi kok belum sampai-sampai ya... sudah jam 7".


" Paling juga sudah lagi dijalan, dan sebentar lagi sampai, dibawa rilex saja Ra... jangan tegang begitu. Aku mau kebelakang dulu ya Ra, lihat orang lagi pada sibuk masak, siapa tahu bisa bantu-bantu".


Aku mengangguk mendengar ucapan Rita, Rita keluar dari kamarku dan menuju ke dapur untuk membantu yang lain.


Kenapa acara pernikahan Yoga dan Utari dibatalkan?. Bukankah Yoga semalam membawa mobilnya menuju arah rumah ibunya, lalu kenapa pernikahan itu dibatalkan?, apa Yoga nggak pulang ke rumah orang tuanya?, apa alasannya.


Ponselku..., ya aku sejak tadi me-ngecarge ponselku yang mati, dan tidak mendengar notifikasi apapun. Aku harus segera mengecek ponselku. Siapa tahu ada pesan dari Utari lagi yang menanyakan dimana Yoga. Atau pesan penting lainnya.


" Mba, tolong ambilkan ponselku yang sedang di carge itu", pinta ku pada penata rias.


Setelah ponsel di tanganku dan ku nyalakan, benar saja... begitu banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab.


Ada pesan dari Yoga, dari Juna, dari Bian, dari Utari juga ada. Semuanya mengirimkan pesan, padahal aku me-ngecarge ponsel belum terlalu lama.


Ku baca satu persatu pesan dari yang paling bawah.


Utari


pesan 1


~ Sudah tiga jam, tapi kata Tante Herni, Steve belum juga pulang, apa kamu serius Steve tidak sedang bersama kamu?, aku sangat kecewa sama kamu Ra, kamu bilang kamu sudah tidak mencintai Steve lagi, tapi kenapa kamu masih saja menemui Steve, kamu mengingkari janji mu padaku Ra, kamu keterlaluan, kamu TEGA !~


pesan 2


~ Kenapa tidak membalas pesanku Ra?, apa benar Steve sedang bersama kamu?, kalau sampai pernikahanku batal, maka pernikahanmu pun harus batal, kamu harus merasakan rasa malu dan juga sedih yang aku rasakan saat ini!~


Aku menghembuskan nafas panjang, drama apa lagi yang akan terjadi, Yoga.... kenapa kamu harus selalu berulah, tadi pagi kamu bilang kalau kamu akan menikahi Utari, tapi mengapa justru keadaannya sekarang jadi seperti ini.


Ku balas pesan Utari.


~ Aku tidak bersama Steve, dan aku tidak tahu dimana keberadaannya, semalam dia mengatakan akan pulang, dan maaf, terpaksa aku mengingkari janjiku padamu karena sudah menemui Steve, semalam keadaannya mendesak~


~ Kak aku benar-benar minta maaf, tadi perutku terasa mulas dan ke kamar mandi, saat aku keluar Shaka sudah tidak berada di kamarnya. Aku tanya pada suster dan security, katanya Shaka pergi bersama laki-laki yang semalam mengantarnya. Sepertinya Shaka dibawa pergi oleh Yoga. Aku akan coba cari Shaka di sekitar sini.~


Ku letakkan ponselku di pangkuan, mendadak sekujur tubuhku terasa lemas, bagaimana bisa di hari pernikahanku, aku harus mengalami kekacauan semacam ini. Harusnya aku tidak percaya begitu saja pada Yoga, dia lagi-lagi membohongiku.


Tak ku balas pesan dari Juna, tapi aku justru membaca pesan Bian yang ada di atasnya.


~ Ra, maaf mungkin aku datang terlambat, Ibuku tiba-tiba pingsan setelah berbicara dengan Utari di telepon, ibuku memang salah satu pasien Utari, mereka saling mengenal, entah apa yang mereka bicarakan, tapi tiba-tiba saja ibu pingsan dan aku sedang menuju rumah sakit untuk mengantarkan ibu. Kamu tenang saja kita akan tetap menikah, akan ku usahakan datang ke KUA sebelum jam 9.~


Jadi Utari benar-benar melakukan niatnya untuk membuat pernikahanku gagal seperti pernikahannya. Mengapa dunia ini masih saja mempermainkan aku dengan begitu kejamnya.


Pesan dari Bian pun tak aku balas, justru aku menghentikan penata rias agar tidak melanjutkan pekerjaannya merias wajahku.


" Kan belum selesai mba Raya, tinggal mengoleskan lipstik saja, biar saya selesaikan tugas saya", ucap penata rias menolak perintahku.


Akhirnya aku biarkan penata rias mengoleskan riasan terakhirnya, yaitu memakaikan lipstik merah di bibirku.


" Nah begini kan jadi kelihatan fresh mba Raya nya. Sudah selesai mba, sekarang tinggal ganti baju dengan kebayanya".


Aku menggelengkan kepalaku, " Nanti saja, aku bisa pakai kebaya sendiri. Makasih banyak ya Mba, buat bantuannya", ucapku lemas. Penata rias menatapku heran, karena suasana hatiku yang seketika berubah menjadi buruk.


Setelah penata rias keluar dari kamarku, barulah ku baca pesan teratas, dari Yoga.


~ Kamu nggak usah khawatir, Shaka bersamaku, maaf jika semalam aku berbohong, aku sempat mengobrol panjang dengan Shaka saat kamu berada di ruang dokter. Ternyata Shaka mengenaliku, dia ingat suaraku saat kemarin pagi kita mengobrol di samping rumahmu. Shaka tahu aku ayahnya. Dia memang marah padaku, tapi Shaka juga yang meminta padaku untuk membawanya pergi. Shaka tidak mau terus merepotkan mama Wina ataupun merepotkan kamu~


~ Setelah kamu menikah, kamu akan tinggal bersama Bian, Shaka tidak mau mengganggu kebahagiaanmu bersama dengan suamimu, laki-laki yang mencintai kamu dan menerima kamu apa adanya. Tapi Shaka juga tidak ingin terus menerus merepotkan Mama Wina yang sudah menjadi ibunya sejak dia kecil. Shaka ingin kamu bahagia. Begitupun juga dengan ku, yang hanya ingin kamu bahagia, meski itu artinya aku harus merelakan kamu bersama dengan laki-laki lain. Yang jelas keadaan Shaka sudah membaik, dan dia aman bersamaku. Aku akan melanjutkan perjuanganmu dengan merawat Shaka untuk seterusnya~


~ Selamat atas pernikahan mu, selamat menempuh hidup baru bersama Bian, semoga seterusnya tidak ada lagi kesedihan yang kamu rasakan, semoga kamu bahagia bersamanya~


Aku langsung memijit pelipis ku yang tiba-tiba terasa pusing dan berdenyut hebat. Aku berharap kekacauan ini masih bagian dari mimpi ku tadi. Semoga ini hanya mimpi dan saat aku terbangun, semuanya baik-baik saja. Namun semuanya mendadak menjadi gelap dan semua suara yang terdengar perlahan menghilang dari pendengaran ku.


Ku buka mataku perlahan, rasanya kali ini begitu berat membuka kelopak mata. Dan saat aku berhasil membuka mataku, Juna dan Mama yang aku lihat pertama kali.


" Raya, kamu ini bagaimana, mama sampai bingung harus bicara apa sama kamu. Jadi selama ini kamu bertemu dengan Yoga tanpa sepengetahuan kami. Dan Yoga mengirimkan pesan jika dia membawa Shaka pergi. Mama mau melaporkan nya ke polisi. Yoga tidak berhak membawa Shaka, Shaka putraku, dan aku akan menuntut nya karena membawa kabut putraku!".


Mama langsung marah-marah sambil memegang ponselku saat aku tersadar, bukannya menanyakan keadaanku, tapi justru mama masih lebih menghawatirkan Shaka, cucunya. Aku tak apa dengan keadaan ini, memang Shaka dan mama sudah sangat dekat. Seperti ibu dan anak sesungguhnya. Aku bisa apa, jika semua itu terjadi karena kesalahanku.


" Ma, Kaka Raya baru siuman, mama jangan begitu dong", Juna berusaha menenangkan mama, di sisi lain Rita menatapku bingung. Mungkin karena Rita tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi.


" Apa kakak tahu dimana kemungkinan Yoga membawa Shaka".


Saat Juna menanyakan hal itu, tiba-tiba aku teringat rumah di tepi pantai yang dulu pernah Yoga membawaku kesana.


" Sepertinya aku tahu, tapi aku tidak yakin benar mereka disana atau tidak, ini hanya dugaanku saja", jawabku lemah.


Rita memberikan air putih agar aku minum. Juna membantuku untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Lalu ku minum air putih dari tangan Rita.


" Papa dimana?, nggak kelihatan?", tanyaku yang merasa janggal karena sejak tadi papa tidak kelihatan.


" Keluarga Bian tadi menelepon meminta papa datang ke rumahnya, katanya sangat penting dan mendesak, entah apa, makanya papa langsung saja kesana, semoga semuanya baik-baik saja", ujar Juna menjelaskan.


Tapi aku tahu dari wajah mama dan Juna, jika semuanya tidak baik-baik saja.