
Setelah ku pikir-pikir, jika benar kami mampir ke rumah Yoga, pasti bisa sampai di rumah kemalaman. Aku malas sekali jika harus menjelaskan pada mama dan papa habis kemana. Karena tadi aku tidak pamit mau ke pantai, yang jelas kalau pamit, aku tidak akan mendapat ijin dari mama dan papa.
Maklum saja, mama dan papaku masih percaya mitos-mitos jaman dulu yang melarang calon pengantin bepergian jauh, yang katanya akan begini dan begitu. Tapi untuk aku sendiri tidak percaya dengan mitos seperti itu. Karena itulah aku tidak berpamitan saat tadi di ajak ke pantai.
Tapi sekarang aku harus segera pulang, agar mama dan papa tidak khawatir. Aku harus mencari alasan untuk menolak ajakan Yoga mampir ke rumahnya.
" Buat apa mampir-mampir kalau yang punya rumah saja tidak ada. Bukankah sebaiknya kita segera pulang, agar kita sampai di rumah tidak kemalaman?"
" Steve bilang tidak suka masakan seafood, dia bisa nyetir dan kita bertiga bisa makan di mobil, jadi bisa menyingkat waktu, melakukan perjalanan sambil makan, dua pekerjaan akan selesai dalam satu waktu".
Aku berusaha mencari alasan yang tepat, agar tidak perlu mampir-mampir terlebih dahulu, selain karena buang waktu, aku yakin di rumah itu tidak mungkin cuma mampir sebentar saja.
Namun sayang sekali, Utari sangat ingin mampir ke rumah Yoga, dan Bian tidak mempermasalahkan hal itu bahkan Bian berjanji akan mengantarku pulang sampai rumah dan bertanggung jawab jika sampai mama dan papaku marah.
Aku bisa apa kalau tidak ada yang setuju dengan usulku, yang ku bisa hanya mengikuti semua rencana mereka. Mau pulang sendiri memesan ojek online pasti akan kehujanan pulangnya, jika memesan mobil online pasti biayanya mahal. Terpaksa aku ikut mereka mampir kerumah Yoga. Pulang telat sedikit tidak masalah, biar nanti aku pikirkan lagi harus memberi alasan apa pada mama dan papa.
" Ya sudah kalau begitu, aku harap kita mampir kerumah kerabat Steve tidak terlalu lama, aku tidak mau pulang larut malam, karena pasti keluargaku akan khawatir. Lebih baik sekarang aku kabari adikku terlebih dahulu jika aku akan pulang larut, supaya dia bisa membantuku memberi tahu mama dan papa".
Setelah berunding dan mengambil keputusan, yang sebenarnya dari mereka bertiga memang sangat ingin mampir dan berteduh, dengan pertimbangan bahwa hujan saat ini masih sangat deras, dan mungkin untuk berkendara juga akan beresiko tinggi, entah karena jalan yang menjadi licin, atau mungkin jalan berlubang yang akan tergenang air dan tidak kelihatan. Hal itu bisa mengakibatkan kecelakaan.
Ada benarnya juga mampir dulu, semoga saja hujan segera reda, dan kami bisa melanjutkan perjalanan pulang.
Mobil hanya melaju beberapa menit, hingga sampai di parkiran rumah Yoga. ART di rumah Yoga sudah membuka pintu gerbang, dan sudah menunggu di teras rumah. Saatnya kita melihat pertunjukan sandiwara yang akan Yoga dan ART nya mainkan
" Selamat datang Tuan Steve, sudah lama tidak main ke sini, tadi Tuan muda mengabari bibi jika Tuan Steve dan teman-temannya akan mampir kesini, jadi bibi langsung suruh suami bibi buat buka pintu gerbangnya, karena hujan begitu deras, biar mobilnya bisa langsung masuk ke dalam".
ART Yoga yang bernama Bu Salmi itu ternyata pandai ber sandiwara juga. Harusnya dia menjadi seorang aktris ketimbang menjadi ART di rumah sebesar ini seorang diri, pastinya pekerjaannya sangatlah melelahkan.
Apa yang dikatakannya?, sudah lama tidak main kesini?, baru Sabtu kemarin kami datang, berarti surah tiga hari yang lalu, tapi bahasa Bu Salmi seolah sudah begitu lama tidak main. Oke, kita lanjut melihat sandiwara yang akan mereka lakukan.
" Mari silahkan masuk, di luar sangat dingin, di dalam sudah saya siapkan minuman hangat untuk Tuan dan teman-temannya", Bu Salmi menatap ke arahku dan langsung menunduk.
Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi, saat ini aku hanya ingin menjadi penonton sandiwara yang mereka lakukan, tidak mau marah dan tidak perlu sedih, karena ternyata Yoga masih tetap pengecut. Memang benar dia membawa Bian dan Utari ke rumah ini, tapi semua ceritanya berbeda.
Yoga yang mengatakan jika rumah ini adalah rumahku dan Shaka, bahkan sertifikat tanah, dan lain-lain atas namaku, tapi saat ini apa yang dikatakan Yoga pada Bian dan Utari?, dia mengatakan jika ini rumah kerabatnya. Sejak kapan aku jadi kerabatnya.
" Salam kenal bibi, namaku Utari, aku calon istrinya Steve, Jum'at besok kami akan menikah, begitu juga dengan dua orang yang datang bersama kami, doakan kami supaya acaranya lancar, tidak ada hambatan apapun dan hubungan kami langgeng ya Bi", ucap Utari dengan begitu percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Yoga.
Yoga mengajak kami masuk setelah Bu Salmi masuk kedalam. Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu. Layaknya seorang tamu, Yoga juga duduk dengan sopan.
Setelah melihat dan menimbang, kami memutuskan untuk makan saat ini juga.
" Aku mau ambil makanan dulu di bagasi", ucap Utari sambil berdiri dan menggenggam kunci mobilnya. Utari keluar menuju mobil, dan Bian juga pamit untuk ke kamar mandi. Bu Salmi mengantar Bian ke kamar mandi yang ada di samping ruang santai.
Lagi-lagi aku berdua saja dengan Yoga, situasi ini membuat sedikit canggung, tapi baguslah ini kesempatan untukku bicara padanya empat mata.
" Wah, pandai sekali kalian bersandiwara, kenapa kalian tidak ikut casting film saja, kalian punya bakat jadi aktris dan aktor loh. Kalau boleh tahu... sebanyak apa Bu Salmi tahu cerita tentang kamu?", tanyaku yang penasaran juga.
Yoga menyeringai lebar. " Dia sudah seperti ibuku, bahkan lebih baik dari ibu kandungku, dia tahu semua kisah ku sejak aku masih SMP, apa kamu tidak ingat pembantu di rumah orang tuaku yang mendengar percakapan kedua orang tua kita malam itu?, kamu ingat ada satu pembantu yang menjatuhkan nampan karena kaget mendengar aku menghamili kamu?".
" Dia itu Bu Salmi, malam itu juga beliau di pecat oleh orang tua ku, tapi aku masih sering menemuinya, karena sejak dipecat, Bu Salmi berjualan makanan di pinggir jalan. Orang tuaku mengancamnya agar dia tidak menceritakan tentang kisah kita pada orang lain. Aku merasa sangat bersalah pada Bu Salmi, karena meski dia sudah diperlakukan dengan tidak baik oleh orang tuaku, dia tetap bersikap baik padaku, dan selalu menanyakan keadaanku".
" Dialah yang selalu memberiku semangat untuk tetap hidup, dan memberi semangat agar aku berusaha menjadi orang sukses tanpa campur tangan kedua orang tuaku, dia....".
Kalimat Yoga terhenti karena Utari masuk dengan membawa paperbag besar yang berisi makanan.
" Apa yang sedang kalian bicarakan?, kenapa berhenti saat aku masuk?", Utari menatapku meminta jawaban. Tapi aku tetap diam. Sejak awal aku sudah tidak setuju datang ke rumah ini, karena ujung-ujungnya aku pasti akan ikut berpartisipasi dalam sandiwara yang Yoga lakukan.
" Raya cuma bertanya padaku mau pulang jam berapa, orang tuanya mengirim pesan dan menanyakan kapan dia pulang", Yoga yang menjawab pertanyaan Utari, dan lagi-lagi dengan kebohongan. Mungkin sudah menjadi hal yang mudah bagi Yoga untuk berbohong, apalagi hanya sebuah kebohongan kecil seperti tadi. Karena sudah begitu banyak kebohongan besar yang di lakukannya selama ini.
" Bian lama sekali di kamar mandi, apa dia tidak apa-apa?, sejak tadi tubuhnya menggigil dan bibirnya biru, aku khawatir dia pingsan di kamar mandi", ucapku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Yoga langsung berdiri dan menuju kamar mandi, dari dalam kamar mandi terdengar suara air yang mengalir dari kran, Yoga pun kembali ke ruang tamu.
" Sepertinya Bian masih lama, aku mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi, kalau kalian lapar, makanlah terlebih dahulu, biar Bian nanti suruh gabung".
Kamar mandi dirumah ini memang ada banyak dan lumayan luas, kamar mandi di dalam kamar tempatku tidur disini Sabtu kemarin juga ada bathub nya, mungkin saja di kamar mandi lain juga sama.
" Ya sudah kita makan duluan saja, biar nanti Bian suruh langsung gabung kalau kembali ke sini".
Utari meletakkan paper bag di meja, dan mengeluarkan semua box tempat makanan di simpan satu persatu. Aku membantunya membuka tutup box tempat makanan, karena total ada 6 box dengan ukuran berbeda-beda.
" Ini piring, sendok, dan garpu nya Nona-nona", tiba-tiba saja Bu Salmi keluar dari dalam rumah dengan membawa peralatan makan untuk kami pakai.