Healing

Healing
30. Dunia Yang Berbeda



Entah mengapa hari ini begitu banyak peristiwa yang membuatku jadi ingin mempercepat tanggal pernikahan. Selain Bian yang mungkin sudah ingin sekali bersatu denganku, ditambah lagi Yoga yang terus mengusik hidupku.


Rasanya mungkin dengan mempercepat tanggal pernikahan, aku jadi bisa hidup dengan tenang. Bian bisa dengan sepuasnya melampiaskan keinginan untuk bersatu denganku, dan Yoga tidak akan lagi berani mengganggu hidupku.


Sepanjang perjalanan pulang dari kantor Yoga, hanya itu jalan keluar yang aku temukan. Mungkin memang menikah adalah cara terbaik menyelesaikan semua kerumitan yang ada di hidupku ini.


Hidupku yang dulu rumit, ku kira semuanya sudah selesai, dan tidak akan kembali rumit lagi. Sayangnya saat seorang laki-laki baik datang dan menerima keadaanku yang penuh kekurangan ini, justru masa lalu yang ku kira sudah berakhir muncul kembali.


Entah mengapa rasa sakit dan kesedihan yang sudah berhasil aku pendam dalam-dalam, justru kini mulai terkuak kembali, karena pelaku-pelaku kejahatan di masa lalu sudah kembali muncul dalam kehidupanku.


Aku harus menjadi pribadi yang baru, agar hidupku tidak terus di tindas oleh mereka, orang-orang jahat yang gemar sekali melukai hatiku.


Tiiiin...tiiiin....tiiiiin....


Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku.


" Mbak, kalau mau ngelamun jangan di tengah jalan, membahayakan pengendara lain, minggir dulu sana, kalau selesai ngelamun baru bawa kendaraan lagi!", Teriak seorang bapak-bapak dari dalam mobilnya.


Hari ini aku benar-benar kacau. Benar juga perkataan bapak-bapak tadi, aku minggir ke taman yang berada tak jauh dari perempatan tadi. Ku parkikan motor yang ku kendarai, dan duduk di bangku cor-coran yang ada di depan taman.


Rasanya otaku sedang tidak bisa fokus, apa aku terlalu berlebihan menyikapi semua ini?, kurasa sikapku masih wajar.


" Kak Raya.... lagi ngapain disini?".


Tak sengaja aku bertemu dengan Shaka di depan taman.


" Kamu sendiri, ngapain disini?", aku balik bertanya, karena Shaka jalan kaki dengan dua teman sekolahnya.


" Ya pulang sekolah lah kak, tapi duit buat angkot tadi buat fotokopi tugas, makanya pulangnya jalan kaki, untung ada yang senasib, jadi ada teman jalan kaki", terang Shaka sambil cengengesan.


Ya Allah kasihan sekali putraku ini, jatah uang sakunya saja tidak cukup untuk sekedar pulang dan naik angkot. Seandainya ayahmu tahu apa yang kamu alami, dia pasti tidak rela dan merebut mu dari ibu. Maafkan ibu yang belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.


Lihatlah ayahmu yang menjadi pemilik perusahaan yang kantornya tak jauh di ujung jalan sana, bekerja di ruangan yang dingin dan ber AC, kemana-mana adem naik mobil mewah, sedangkan kita berdua, harus menjalani hidup seperti ini. Sungguh miris....


Benar-benar seperti hidup di dunia yang berbeda, harusnya ibu tak bertemu lagi dengan ayahmu, jika memang kita hidup di dunia yang berbeda. Kenapa ibu harus bertemu dengan ayahmu lagi.


" Ini kamu pakai buat naik angkot sama teman-teman kamu, mau kakak antar, tapi di boncengan motor kakak ada box nya, jadi nggak bisa buat boncengan".


Ku serahkan uang 20 ribu kembalian Bu Siska yang tidak mau diterimanya tadi. Mungkin memang ini rejeki buat Shaka.


" Nggak usah kak, lagian kita juga sambil jalan-jalan, seru juga pulang sekolah jalan kaki, sambil sekalian cuci mata", tolak Heru, teman Shaka yang rumahnya tak jauh dari rumah kami.


" Iya, itu pasti duit buat setor ke restoran kan?, buktinya kakak ambil di lipatan beal restoran. Tapi kalau boleh tahu, kenapa kakak ada disini?", Shaka kembali bertanya.


Aku memasukkan uang 20 ribu tadi ke saku seragam Shaka, " Buat pegangan kamu, takut terjadi apa-apa dijalan. Kakak habis kirim makanan ke kantor di ujung jalan sana, tapi karena tadi agak pusing, jadi minggir dulu, bahaya bawa motor pas lagi nggak fit", jawabku mencari alasan.


" Mau Shaka belikan obat sakit kepala dulu kak?, mungkin kak Raya semalam kurang tidur, makanya pas di beri tugas kerja anter makanan panas-panas begini jadi pusing kepalanya", gumam Shaka.


Aku hanya mengangguk, " Mungkin benar seperti itu, tapi nggak usah beli obat, kakak sudah mendingan, ini juga sudah mau balik ke restoran. Kalian hati-hati dijalan, jangan mampir-mampir, nanti nggak sampai-sampai rumah ibu bisa khawatir", ucapku seraya memakai helm dan menyalakan motor matik yang ku bawa.


" Kakak duluan ya", aku melaju dengan kecepatan sedang.


" Makasih Kak Raya..!", aku masih bisa mendengar teriakan Shaka yang mengucapkan terimakasih pada ku hanya karena kuberi uang 20 ribu.


10 menit kemudian aku sampai di restoran.


" Tumben lama banget nyampenya, aku sudah sampai sejak satu jam yang lalu loh Ra..., padahal jarak pengiriman kita sama, apa ada masalah?", Rita yang pertama menemui ku saat aku masuk ke dapur.


" Nggak ada masalah, kepalaku agak pusing saja, makanya aku bawa motornya pelan-pelan", jawabku dengan alasan yang sama.


Aku tahu Bian memperhatikan aku sejak aku kembali ke restoran, dia pasti juga sedang mendengarkan percakapanku dengan Rita. Karena itulah aku lebih memilih mencari alasan yang masuk akal. Yaitu sakit kepala.


Aku hanya meringis, " nggak papa kok Rit, istirahatnya nanti saja di rumah, sebentar lagi juga sudah jam pergantian shift, jadi aku duduk disini saja. Siapa tahu tiba-tiba ada


banyak pengunjung datang", jawabku dengan suara lemah.


Bukan aku pura-pura bersuara lemah, agar meyakinkan Rita bahwa aku beneran pusing, tapi memang hati dan pikiranku sedang benar-benar merasa lelah dengan rentetan kejadian yang aku alami seharian ini.


" Ya sudah duduk saja disini, aku buatkan teh manis mau?".


Aku menggeleng saat Rita menawariku teh manis. Aku tidak butuh apapun saat ini, yang aku butuhkan hanya istirahat saja.


Rita benar-benar menghandle semua pekerjaan hingga jam pergantian shift. Memang menjelang sore tamu tidak terlalu banyak. Jadi pekerjaan santai.


" Kita pulang sekarang Ra...", suara Bian terdengar dari belakangku, tangannya memegang pundak ku yang sedang menyandar di kursi.


Aku mengangguk, " Aku ambil tas dan jaketku dulu di loker", jawabku sambil berjalan menuju loker.


" Sebenarnya Raya kenapa Mas Bos?, habis acara pertunangan kok seharian ini mukanya di tekuk terus. Apa ada yang tidak aku ketahui bos?".


Aku sempat mendengar Rita bertanya pada Bian perihal apa yang terjadi pada kami. Tapi aku berjalan semakin jauh menuju loker, dan tak mendengar apa jawaban yang diberikan Bian pada Rita.


Saat keluar dari loker, tinggal Bian yang masih menungguku, sedangkan Rita sudah pulang lebih dulu.


Saat berboncengan di motor, Bian sengaja melajukan motornya dengan cepat, melewati jalan yang menuju ke rumahku. Bian mengajakku pulang ke rumahnya.


" Aku sudah ijin sama mama dan papa kamu mengajak kamu ke rumahku, karena ada yang harus aku bicarakan sama kamu".


Aku menatap Bian yang sedang berbicara sambil mengemudi motor dengan cepat.


Kami turun dan masuk ke rumah Bian, rumahnya lumayan besar untuk ukuran seorang bujangan singgle yang menempatinya seorang diri.


" Maaf kalau aku terkesan maksain keinginanku sama kamu tadi pagi, apa kamu jadi takut dan marah kepadaku?, sampai kamu sengaja menghindariku seharian ini, aku minta maaf Ra, memang tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti tadi pagi".


Bian berjongkok di depanku yang duduk di kursi ruang tamu rumahnya.


" Bi... mungkin benar ucapan kamu, sebaiknya kita mempercepat tanggal pernikahan, tidak perlu pesta mewah, yang penting sah. Karena aku khawatir, kita berdua tidak bisa menjaga kepercayaan kedua orang tua kita".


" Kamu mencintaiku dan begitu juga sebaliknya, jika kita hanya berdua seperti ini, antara perasaanku dan perasaanmu yang sama-sama saling mencintai, nomer tiga adalah nafsu, kita sama-sama manusia normal. Aku tidak sedang sok suci dengan menolak keinginan kamu, karena aku sebenarnya menginginkan hal yang sama sebagai wanita normal".


" Tapi aku sudah pernah melakukan kesalahan seperti itu di masa lalu, aku tidak mau mengulanginya lagi. Cukup sekali aku menjadi sampah di mata orang lain, karena dalam setiap kejadian hamil di luar nikah, pihak wanitalah yang mendapatkan kerugian lebih besar, dan mau tidak mau harus menanggung semua hasil perbuatannya".


" Laki-laki tidak akan meninggalkan belang apapun di tubuhnya setelah melakukan hal itu, beda dengan perempuan yang jelas akan menerima akibat perbuatannya".


" Kita percepat saja tanggal pernikahan, atau kita menikah secara agama terlebih dahulu?, coba kamu bicarakan ini dengan orang tuamu Bi".


Bian mengangguk, nanti malam aku telepon ibu. Aku akan mengakui semua perbuatan ku padamu tadi pagi pada ibu, pasti ibu akan bisa mengerti dan setuju menikahkan kita secepatnya", ucap Bian.


Aku mengangguk setuju, mungkin memang lebih cepat akan jadi lebih baik.


" Kalau begitu, aku juga akan mengatakan pada mama dan papaku tentang hal ini, semoga mereka bisa mengerti".


Bian memelukku dengan erat. Mengecup keningku, pipi kanan, pipi kiri dan terakhir bermuara di bibirku. Rumah Bian memang kosong, hanya dia seorang yang menempati rumah ini, hanya sesekali ibu dan ayahnya berkunjung, karena itulah rumah ini sangat sepi.


" Aku ke dapur dulu ya Ra, aku buatkan kamu makan malam, jadi nanti kamu pulang kerumah setelah makan malam disini. Mau makan apa?, spaghetti, nasi goreng, sup, seblak, capcay, atau apa yang kamu pengin?".


Aku tersenyum melihat sikap Bian yang begitu perhatian kepadaku, menawariku berbagai macam masakan. Dia memang jago masak, semua orang mengakui hal itu.


" Bikin seblak saja Bi, biar aku bantu potong-potong sayurannya", ucapku sambil ikut berjalan masuk menuju ke dapur.