Healing

Healing
58. Tulang Punggung



" Seseorang yang sangat berarti di dalam hidupmu?, bukannya orang itu Utari?, apa ada orang lain yang sangat berarti di hidupmu?".


Riko sengaja memancing Yoga untuk bicara jujur, aku justru jadi semakin khawatir dan merasa tak nyaman berada bersama mereka bertiga.


" Tentu saja ada, dan tentang hal itu tidak harus aku beritahu pada kalian semua kan?. Yang jelas, aku sangat bersyukur karena sudah bertemu lagi dengannya".


Yoga bicara sambil menatap ke arahku, ekspresi wajahnya memang menyiratkan orang yang benar-benar bersyukur. Apa iya dia sebegitu bersyukurnya karena bertemu denganku lagi?, benarkah selama ini dia selalu dingin dengan gadis manapun seperti yang dikatakan karyawannya tadi di kantor.


Aku tidak tahu kalau Yoga benar-benar masih mengharapkan aku. Tapi kami berdua memang tidak mungkin bersatu. Selain kami sudah sama-sama mempunyai calon masing-masing. Kedua orang tua kami pun sudah sama-sama melarang kami untuk bertemu lagi, selama ini baik orang tuaku, maupun orang tua Yoga tak ada yang tahu jika kami masih sering bertemu.


Bahkan lebih dari sekedar bertemu, karena beberapa kali Yoga berhasil menciumku, memaksakan kehendaknya padaku, meski aku sudah menolak dan berusaha mengelak.


Entah kisah apa yang sedang Sang Maha Pencipta tuliskan dalam hidupku. Semuanya kembali rumit semenjak bertemu dengan Yoga lagi.


" Apa boleh aku tebak siapa orang itu?, sepertinya ada bau-bau cinta lama bersemi kembali. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur dalam kehidupanmu bro..., hanya saja aku mengenal Utari, kita semua mengenal Utari dengan baik, termasuk Raya yang juga sudah mulai akrab dengannya".


" Jangan sakiti gadis itu bro... Utari itu menurutku gadis yang sangat baik, dan yang paling penting dia sangat mencintaimu. Kalau dia melihat tatapan matamu sekarang yang seperti orang yang sedang jatuh cinta seperti itu, mungkin dia akan patah hati, karena tatapan itu tidak pernah kamu tujukan padanya".


Bian memang sangat bijaksana, caranya mengingatkan itu penuh kehati-hatian, dan kata-katanya bijak, tidak dengan emosi atau teriak-teriak. Sosok laki-laki idaman. Aku menatap Bian seolah terpesona.


" Kenapa kamu melihatku seperti itu Ra?, kamu sengaja mancing aku buat cium kamu di tempat umum nih?", goda Bian, saat mengetahui aku tengah menatapnya dengan kekaguman.


" Enggak, bukan begitu, pikiran kamu itu perlu di cuci lagi, biar arahnya nggak kesitu terus", gumam ku sambil motong daging steak yang ada di depanku. Namun Bian mengambil piringku dan memotong-motong steak sapi milikku agar aku lebih mudah memakannya. Yoga menatap dengan sinis, terserahlah aku tidak perduli dengan Yoga, aku hanya ingin bahagia bersama orang baik seperti Bian.


" Memangnya yang nanggung kemarin belum diselesaikan Bi?, aku kira balik dari sini, kalian ngelanjutin kegiatan panas yang sempat tertunda gara-gara keisenganku", Riko sengaja mengatakan hal itu karena ingin melihat seperti apa reaksi Yoga setelah mendengarnya.


Tentu saja wajah Yoga langsung terlihat berubah muram, mungkin Yoga tidak rela aku di sentuh oleh laki-laki lain. Seperti ucapannya waktu itu, yang mengatakan dirinya tidak rela aku bersama laki-laki lain.


Tapi bisa apa dia, bahkan untuk mengakui aku adalah cinta pertamanya saja dia tidak berani, dia tidak seperti Bian yang terang-terangan mengatakan aku cinta pertamanya.


Atau aku dan dia sama saja, tapi aku punya alasan mengapa


" Nikmati saja makananmu Ko, nggak usah bahas tentang kemarin, aku masih marah sama kamu, dan ingat, pasti suatu saat nanti akan aku balas keisengan mu kemarin", ucap Bian.


Aku tahu Bian hanya bercanda mengatakan dirinya masih marah, karena tadi pagi mereka berdua begitu kompak keluar dari restoran untuk meeting dengan klien.


" Aku sudah selesai makan, nggak papa ya kalau aku kebelakang duluan, nggak enak sama teman-teman yang lain, dari tadi duduk santai disini sama kalian, ini masih jam kerja soalnya", aku pamit terlebih dahulu pada ketiga pemuda yang tadi makan bersama ku.


Riko dan Bian hanya mengangguk, karena mereka paham dengan maksud ucapanku, tapi tidak dengan Yoga, aku dengar dia bertanya pada Bian kenapa masih membiarkan aku menjadi pramusaji di restoran miliknya. Sebagai calon istri Bian seharusnya aku sudah berhenti bekerja di restoran milik suaminya sendiri, karena sebentar lagi otomatis akan menjadi istri bos.


Apalagi Yoga membahas tentang aku yang masih tetap mengirimkan makanan ke pelanggan yang meminta delivery order. Yoga mengatakan jika hal itu bisa membuat orang lain berfikiran negatif terhadap Bian.


Aku tidak ingin terus mendengarkan percakapan mereka, Bian pasti bisa menjawab pertanyaan Yoga. Meski entah apa yang akan dijadikan alasan baginya mengapa aku masih bekerja disini.


Yoga keluar dari restoran setelah selesai makan, dia sengaja mengirimkan pesan padaku dan mengatakan akan menghubungiku lagi nanti malam. Aku hanya membaca pesannya saja, tanpa membalas, dan bahkan langsung menghapusnya. Khawatir Bian tiba-tiba melihat dsn membacanya.


" Sudah jam 4 ayo kita balik", ajak Bian.


" Apa sebaiknya mulai besok aku berangkat sendiri saja Bi?, soalnya aku lebih nyaman mengantar makanan memakai motor milikku sendiri dari pada yang ada di restoran", ucapku saat kami dijalan pulang.


" Nggak ada bawa motor sendiri, aku akan tetap jemput kamu setiap hari, kita tetap berangkat dan pulang bersama seperti biasanya".


" Justru aku sedang berpikir, ada benarnya yang Steve katakan tadi, sebagai calon suami kamu, seharusnya aku tidak mempekerjakan kamu sebagai karyawan di restoran ku. Kamu hanya cukup datang dan pulang sebagai seorang istri dari pemilik restoran. Tidak terikat jam kerja, tidak harus setiap hari datang dan tidak ada gaji bulanan, karena nantinya aku yang menafkahi kamu tiap bulannya".


" Kamu bisa datang kesini sebagai istriku, bukan karyawan seperti dulu. Atau mungkin sebaiknya kamu membuat surat pengunduran diri terlebih dahulu agar kamu bisa mempersiapkan pernikahan kita yang tinggal 2 minggu dengan santai?".


Aku tidak percaya Bian mengatakan semua hal itu, padahal sebelumnya aku pernah mengatakan padanya bahwa aku ingin tetap bekerja dan membiayai Shaka. Hanya karena ucapan Yoga membuatnya berubah pikiran. Sebesar itukah pengaruh ucapan Yoga di pikirannya?.


Kami sampai di rumah, dan Bian langsung menyampaikan pada mama dan papaku tentang rencananya tadi, memintaku membuat surat pengunduran diri dari restoran. Dan memintaku fokus mempersiapkan diri sebelum pernikahan kami berlangsung. Waktu selama 2 minggu, tanpa bekerja dan hanya mengharapkan nantinya mendapat uang belanja dari Bian setelah menikah, tentu saja bukan itu yang aku inginkan.


Mama dan papa juga terlihat keberatan, karena akulah yang sedang menjadi tulang punggung keluarga. Tidak mungkin juga aku meminta Bian menafkahi aku sebelum kami menikah.


" Nak Bian, bukan mama tidak setuju, tapi biarlah Raya tetap bekerja sampai kalian benar-benar sudah menikah, karena sejak masuk SMP Shaka begitu banyak pengeluaran yang tidak terduga".


" Sedangkan pendapatan papa akhir-akhir ini sedang tidak menentu, malah seringnya cuma dapat beberapa penumpang saja, tentu itu tidak cukup untuk membiayai Shaka sekolah, harapan kami tinggal pada Raya saja", ucap mama dengan tatapan sendu.


Bian memang tidak pernah aku ajak diskusi soal biaya sekolah Shaka, karena kami belum benar-benar menikah, dan aku merasa tidak enak jika curhat tentang biaya sekolah Shaka, takut Bian justru jadi ikut memikirkan , dan dia yang membiayai Shaka, aku tidak mau itu terjadi, karena semua belum waktunya.


" Aku akan tetap bekerja, dan tidak perlu khawatir dengan acara resepsi pernikahan kita, semuanya pasti berjalan lancar, kamu percaya saja padaku. Aku juga akan mengundurkan diri nanti setelah kita menikah, karena kalau sekarang-sekarang justru aku bingung mau ngapain dirumah, tidak ada yang aku kerjakan".


" Jadi jangan termakan ucapan Steve, lihatlah Utari juga tetap bekerja dan tetap berangkat ke rumah sakit seperti biasanya, kenapa aku justru harus berhenti, padahal tidak ada hal yang harus aku kerjakan di rumah".


Bian nampak kecewa, karena lagi-lagi aku tidak menuruti keinginannya. Bian posisinya sendiri, tak ada dukungan dari mama maupun papaku. Semua keluargaku masih ingin aku bekerja, karena akulah tulang punggung keluarga.


Tak ku sangka sejak tadi Shaka mendengarkan percakapan kami dari teras rumah, meski suara kami tidak keras, tapi dari ruang tamu ke teras sudah pasti bisa terdengar apa yang kami bahas.


Shaka baru masuk setelah Bian pamit pulang, bahkan baru kali ini Shaka meminta maaf padaku karena dia merasa sudah menjadi beban hidup ku yang dia tahu hanya sebagai kakak perempuannya.


" Maaf kalau Shaka jadi ngrepotin kakak, harusnya kakak memang sudah tidak perlu bekerja lagi karena akan menjadi istri bos pemilik restoran. Namun justru Kakak masih tetap bekerja karena harus membantu ibu membiayai aku sekolah, juga membiayai hidup kami".


Shaka memang sudah remaja, dan dia tahu, setiap bulan akulah yang mengeluarkan uang untuk biaya belanja bulanan dan juga aku yang menjadi tulang punggung keluarga ini.


Juna memang sudah bekerja di kota besar, tapi dia masih dalam masa training, karena minggu ini dia baru akan selesai training dan resmi menjadi karyawan kontrak di salah satu PT besar di kota. Meski nantinya mungkin Juna bisa membantu biaya hidup keluarga. Tapi tetap akulah yang akan membiayai semua kebutuhan Shaka. Karena akulah ibunya yang sebenarnya.


" Kamu kok ngomongnya kayak orang dewasa begitu Ka... apa adik kecil kakak sekarang sudah tumbuh jadi orang dewasa?, mentang-mentang sudah SMP, gaya bicara kamu jadi resmi banget begitu".


" Kakak nggak pernah merasa terbebani oleh kamu ataupun orang tua kita. Kakak senang bisa membantu mama dan papa. Apalagi kamu pinter dan selalu bikin bangga kakak dengan prestasi kamu. Sampai kamu selesai kuliah, kakak nggak keberatan buat biayain semuanya".


" Anggap saja seperti investasi, kelak kalau kamu bisa sekolah tinggi dan jadi orang sukses, kamu bisa kumpulin uang buat balikin semua yang sudah kakak berikan sama kamu selama ini. Saat itu pasti dengan senang hati kakak akan menerimanya".


Shaka nampak mengangguk, dia memang putramu Ga... cerdas sepertimu, dan juga sangat sensitif sepertiku.