Healing

Healing
48. Menghapus Tanda



Kami berlima terus ngobrol santai sampai jam 7 pagi, sewaktu Utari keluar dari kamar dan mencariku ke taman, Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan bersama karena semuanya sudah berkumpul.


Sebelumnya aku khawatir Haidar atau Riko akan membahas atau sekedar menyindir kejadian kemarin malam saat aku bersama Yoga, namun ternyata mereka berdua tak menyinggungnya sama sekali.


Sesuai ucapan mereka, yang tidak ingin persahabatan mereka ber empat yang sudah berasa saudara menjadi kacau hanya karena seorang wanita yang bukan siapa-siapa seperti aku.


Benar, aku bukan siapa-siapa, dan tidak punya apa-apa untuk dijadikan sebagai alasan pertengkaran kedua pria hebat itu.


Usai sarapan, kami semua langsung berkemas untuk melakukan perjalanan pulang. Karena semua barangku sudah masuk kedalam ransel, aku duduk di kursi di dalam kamar. Ku lepas ponselku dari charger, karena sudah penuh. Kunyalakan tombol power dan mengecek semua notifikasi yang masuk.


Aku memang sengaja tidak membuat status apapun di WhatsApp ku, bukan apa-apa, aku hanya tidak mau menunjukkan pada siapapun jika aku sedang bepergian. Lebih suka menyimpan foto-foto di ponselku saja.


Namun karena semalam Utari menge-tag namaku di postingannya, teman-teman yang mengikuti akun sosial mediaku jadi tahu dan melihat foto-foto kami.


Ada satu komentar yang membuat aku merasa tak nyaman, dari salah satu teman SMP ku, dia mengenal aku dan Bian, dia juga mengetahui dulu aku sempat berpacaran dengan Yoga.


Komentarnya sungguh mengejutkan.


~ Hebat banget Raya, bisa healing bareng mantan sekaligus calon suami. Gimana caranya bikin masa lalu dan masa depan bisa akur begitu, bagi tips nya dong Ra....~


Aku langsung menghapus komentar itu, untung saja yang lain belum membacanya. Saat itu juga aku menghapus tanda, agar akunku tak ikut ditandai. Biarlah aku cari alasan nanti jika Utari bertanya kenapa menghapus tanda.


Sejak dulu aku hanya iseng membuat akun sosmed seperti teman-teman yang lain, tapi tidak pernah memposting apapun di sana, karena selama ini tidak ada kebahagiaan yang ingin aku bagikan ke publik.


Aku tipe orang yang tidak suka membagi ke publik tentang apa yang aku alami. Bagiku sangat lucu mereka yang suka memposting keluh kesah kehidupan mereka di sosmed, seolah sosmed akan memberikan solusi, padahal kebanyakan justru membuat orang lain mungkin menertawakan kita yang mengumbar kesusahan kita.


" Sudah selesai Ra ?", tanya Bian sambil melongok ke dalam kamar kami. Aku langsung mematikan ponselku dan berdiri untuk keluar kamar.


Utari juga sudah selesai mengemas barang bawaannya, dan mengikuti kami keluar kamar.


Bian membawakan ranselku dan juga ranselnya ke mobil yang sudah kami carter untuk mengantarkan kami ke bandara. Kali ini bukan mobil pickup, tapi mobil biasa sejenis angkutan kota, yang muat banyak penumpang sekaligus barang-barang bawaan kami.


Kami semua masuk ke dalam mobil yang tempat duduknya memutar di pinggiran persis angkot. Dan barang-barang kami ditaruh di tengah-tengah tempat duduk. Membuat kami saling berhadapan satu sama lain.


Di depan hanya ada supir dan juga kernetnya yang ikut masuk dan duduk di dalam.


" Sudah lama banget nggak naik angkot begini, terakhir naik jaman masih SMP dulu, waktu Pak supir nggak bisa jemput, gara-gara ban belakang meletus. Kalau kamu Ra, kapan terakhir kamu naik angkot?", tanya Utari


Aku juga sudah lupa, kapan terakhir naik angkutan kota seperti ini, jaman SMP bahkan aku lebih sering bersepeda atau jalan kaki, sayang kan kalau uang saku di pakai buat bayar angkot.


" Mungkin waktu masih kecil, aku jarang naik angkot, soalnya lebih suka kemana-mana naik motor. Nggak pakai nunggu lama", jawabku, karena memang aku lupa kapan terakhir aku naik angkot, papaku kan tukang ojek, kemana-mana lebih sering dianter papa.


" Mas-mas dan mbak-mbak bukan asli orang sini ya?, asalnya dari mana mas?, pasti dari kota besar ya?, habis naik gunung?", pak supir angkot ikutan nanya karena mendengar obrolanku dan Utari tadi.


" Kami dari Jawa Pak, benar sekali habis manjat ke Rinjani", jawab Bian singkat.


" Mbak yang dua ini juga ikutan manjat?, wah hebat ya, cantik-cantik pada hobi naik gunung, sudah cantik, kuat juga fisiknya. Beruntung yang bakal jadi suaminya. Punya tenaga ekstra, nggak semua orang bisa naklukin gunung Rinjani", ujar Pak supir.


" Lah ini calon suaminya ada disini semua pak, mereka ikut karena calon suaminya yang ngajak", ucap Bian dengan bangganya memperkenalkan diri sebagai calon suamiku.


Perjalanan yang memakan waktu cukup lama sekitar 3 jam lebih ke bandara di isi dengan obrolan ringan antara kami berenam bersama dengan supir dan kernet angkot.


Sampai di bandara lagi-lagi aku hanya mengikuti Bian kemana saja dia pergi, dan tahu-tahu beres tinggal duduk di kursi penumpang.


Sekarang sudah tidak se nervous saat berangkat, karena pas berangkat adalah pengalaman pertamaku naik pesawat, yang ini berarti pengalaman ke 2.


Setelah turun dari pesawat. Di bandara aku sengaja meminta Bian dan yang lain untuk menungguku sebentar karena sejak di pesawat aku menahan diri untuk ke toilet. Jujur aku sudah kebelet saat di pesawat, tapi karena takut, ku tahan sampai di bandara.


Aku berjalan mencari toilet umum, dan sangat mudah aku temukan karena petunjuk arah yang banyak dan cukup membantu di bandara. Saat aku keluar dari toilet aku melihat Yoga tengah ngobrol serius dengan Riko.


Tunggu, kenapa mereka berdua berbicara dengan menarik otot seperti itu?. Ku dekati mereka berdua karena penasaran.


" Kalian berdua lagi ngapain disini?", tanyaku sambil menatap keduanya bergantian.


" Nggak ngapa-ngapain, cuma ngobrol biasa", jawab Riko. Dan saat itu kulihat Yoga berjalan memasuki toilet pria.


" Steve ngikutin kamu Ra, makanya aku nyusul kesini juga. Aku nggak suka caranya mau deketin kamu di belakang Bian. Tapi dia ngelak, dia bilang kebelet dan mau pergi ke toilet umum", ucap Riko dengan nada kesal dan terlihat emosi.


" Mungkin benar dia memang tidak mengikuti aku, dan hendak ke toilet, kita balik ke mobil yuk Ko, biarin Steve ke toilet. Sudah... percaya saja dengan apa yang dikatakannya". Ucapku datar, sambil menarik tangan Riko agar mengikuti aku.


Mungkin Yoga kaget kenapa Riko mengikutinya seperti itu, Yoga tidak tahu kalau Riko dan Haidar sudah mengetahui kelakuannya kemarin malam.


Ku lihat Yoga sudah masuk ke toilet pria, saat itu juga aku berhenti berjalan dan bicara dengan Riko.


" Ko, sekalian kasih tahu Haidar nanti, jangan kalian mengatakan pada Yoga apa yang kalian lihat. Aku mau Yoga tetap menganggap tidak ada diantara kalian yang tahu tentang hubungan kami di masa lalu. Ini mungkin demi kebaikan kita bersama. Aku mohon, kamu belum bilang sama Yoga jika kamu melihat apa yang kami lakukan kemarin malam kan Ko?".


" Biarkan saja mengalir seperti biasanya, aku juga akan lebih berhati-hati dan tidak akan meladeni keinginannya lagi", ucapku sambil kembali berjalan menuju mobil Bian, di ikuti oleh Riko.


" Aku hanya nggak habis pikir Ra..., apa yang membuat Steve begitu mencintai kamu, dan berusaha untuk terus deketin kamu Ra, padahal sudah jelas kamu calon istri sahabatnya, dan dia juga sudah punya calon istri, harusnya dia tidak bersikap seperti itu", Riko masih tetap tidak terima dengan sikap Yoga.


Aku sangat paham dengan sikap Riko, apalagi selain sahabat, Riko juga masih saudara sepupu Bian, tentu saja Riko lebih condong ke Bian, dari pada Yoga, yang jelas-jelas bersikap salah.


" Ada sesuatu yang nggak harus kita tahu alasannya Ko, sudah lah, jangan di urusi Steve, sebentar lagi juga dia menikah, dan aku pun juga akan menikah dengan Bian, setelah itu semuanya akan baik-baik saja, kamu percaya saja pada ucapanku", aku masih berusaha menenangkan Riko saat kami berdua sudah dekat dengan mobil Bian.


" Lama amat kalian berdua ke toiletnya?, lah Steve mana ?", tanya Bian yang melongok ke sekitar tapi Yoga belum nampak batang hidungnya.


" Tadi masih di toilet ya Ko?", aku berpura-pura bertanya pada Riko.


" Iya, nanggung katanya", jawab Riko singkat, sambil melempar bokong nya ke atas jok mobil.


" Kenapa kamu ko, kayak sewot begitu?, nggak bisa keluar apa?, keras?", canda Utari yang duduk seorang diri, karena Steve belum kembali.


Haidar terkekeh mendengar pertanyaan Utari pada Riko, karena Haidar tahu tadi Riko sengaja keluar untuk mengikuti Steve yang ikut-ikutan ke toilet saat Raya pamit ke toilet sebentar. Riko dan Haidar sudah tahu gelagat Steve yang mencurigakan.


" Bukan keras Ri, tapi mampet", canda Haidar sambil tertawa lepas, dan langsung mendapat bogem mentah dari Riko di lengannya.


Tak lama kemudian Yoga kembali dan masuk ke mobil, kali ini Bian yang nyetir, dan aku duduk di depan bersamanya, Riko dan Steve di bangku belakang, Yoga dan Utari di tengah.


Perjalanan selama dua jam dari bandara sampai di rumah Bian kami isi dengan ngobrol santai. Tentu saja kami sampai di rumah Bian saat hari sudah sore.


Seperti dugaan ku, Bian tak mengijinkan aku untuk langsung pulang, dia memberikan beberapa baju baru dengan tulisan 'I Love Rinjani', ada yang ukuran besar dan juga kecil. kata Bian dia beli di sekitar penginapan bersama dengan Yoga kemarin. Untuk oleh-oleh mama, papa dan Shaka yang ada di rumah. Bagaimana bisa ada laki-laki sebaik Bian, dia selalu saja membuatku semakin mengagumi nya. Aku saja tidak kepikiran membeli oleh-oleh, karena memang tidak ada anggaran untuk itu.


Riko dan Haidar memilih pulang ke rumah mereka, Utari pun berpamitan setelah satu jam ngobrol-ngobrol di rumah Bian bersamaku dan Yoga. Untung saja Utari minta di antar Yoga, sehingga Yoga tidak lama-lama berada di sini.


Tinggallah aku dan Bian berdua saja. " Aku buatkan makanan ya Ra, kita kan belum makan siang", ucap Bian. Tapi aku menolak, sudah sore, dan sebentar lagi maghrib.


Aku mengajak Bian ke rumahku, dan mampir beli nasi goreng di pinggir jalan, untuk makan kami nanti di rumah. Bian setuju dan mengantarku pulang ke rumah setelah mampir membeli 5 bungkus nasi goreng. Bian begitu baik hati, selalu saja teringat orang-orang yang ada dirumah. Dan membelikan semuanya nasi goreng yang sama.


" Aku padamu calon suami ku", batinku saat sampai di rumah.