
" Lalu mau bagaimana baiknya?, atau kita suruh saja penghulu datang kesini dan menikahkan kakak dan kak Bian di sini?, tapi pasti keluarga kak Bian jadi semakin banyak pertanyaan. Kakak bilang cuma kak Bian yang tahu jika Shaka putramu. Akan jadi ruwet urusannya jika sampai ada keluarga kak Bian yang tahu".
Benar sekali yang dikatakan Juna, aku tidak boleh egois menginginkan pernikahanku terjadi sesuai dengan keinginan ku, kalau memang Shaka dan Juna tidak bisa menghadiri pernikahanku nanti, setidaknya usai pernikahan kami berdua bisa datang lagi ke sini, menjaga Shaka bersama-sama.
" Kalau begitu nanti setelah subuh, aku pulang, untuk mempersiapkan diri berangkat ke KUA, karena Bian mengatakan akan datang ke rumah jam 7 pagi", akhirnya aku bisa membuat keputusan juga, meski terkesan aku ibu sekaligus kakak yang tega, karena menikah di saat adiknya sedang dirawat.
Karena itulah aku menyuruh Juna merahasiakan keadaan Shaka pada mama dan papa, akan aku beri tahu nanti setelah pernikahan ku selesai. Aku memang harus tetap menikah hari ini, karena semua persiapan pernikahan sudah 100%, tinggal acaranya saja. Akan sangat mengecewakan jika pernikahan ini harus di undur, apalagi keluarga besar Bian sudah berkumpul sejak kemarin.
Bian yang menceritakan hal itu, karena itulah semalam aku lebih memilih untuk meminta bantuan Yoga untuk mencari Shaka, ketimbang meminta bantuan Bian yang sedang kedatangan banyak tamu dari saudara dan kerabat yang jauh.
" Bukankah kamu harus pulang dan mempersiapkan diri untuk pernikahan mu nanti Ga, sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Sudah ada Juna di sini, dia pasti bisa menjaga Shaka dengan baik. Keluarga mu pasti sangat khawatir karena kamu belum pulang, padahal sebentar lagi pagi".
Dan ternyata benar, keluarga Yoga mengira Yoga kabur dari rumah nya, karena tengah malam Yoga pergi setelah mendapat telepon dari ku.
Aku mengetahui hal itu karena Utari meneleponku saat Yoga baru saja keluar dari rumah sakit. Utari menanyakan padaku apakah aku tahu dimana keberadaan Yoga.
" Kamu tenang saja Ri, Yoga lagi menuju arah pulang, tadi dia dari rumah sakit, mengantarkan Shaka yang tiba-tiba pingsan semalam. Aku tidak tahu kalau keluarganya sedang kebingungan mencarinya. Maaf...".
Utari menutup teleponnya setelah ku jelaskan apa yang terjadi, dari nada bicaranya, dia nampak begitu cemas jika Yoga tiba-tiba kabur dan membatalkan pernikahan mereka.
Aku sengaja bicara pada Shaka saat kami hanya berdua saja, Juna sedang ke masjid untuk sholat subuh.
" Nanti adalah hari pernikahan kakak dan kak Bian, semuanya sudah siap. Tapi sayangnya dokter tidak mengijinkan kamu pulang ke rumah. Jadi nanti kak Juna yang nemenin kamu di sini, selesai acara kakak akan kesini bersama kak Bian".
" Dan perlu kamu tahu, kak Bian bukan ayah kandungmu, dia pria baik yang mau menikahi ku dan menerima semua kekuranganku, meski dia tahu apa hubungan kita sebenarnya, jadi jangan membencinya. Anggap saja ayah kandungmu sudah pergi jauh entah kemana dan kita tidak perlu membahasnya lagi, karena ayahmu adalah Papa Tono dan ayah Bian setelah nanti kami menikah".
Aku teringat ucapan Yoga yang mengatakan jika Shaka depresi karena merasa tidak diakui oleh ku. Tapi aku merasa bingung bagaimana memulai merubah panggilan 'kakak' menjadi 'ibu', semuanya terasa aneh. Aku masih butuh sedikit waktu.
" Maaf karena kak Raya belum bisa mengerti keinginanmu, kakak masih butuh waktu untuk menghadapi semua perubahan ini. Bukan berarti kakak tidak mengakui mu sebagai putraku, kamu adalah kesayangan kakak. Kakak benar-benar menyayangimu, meski selama ini kakak sudah sangat banyak membohongi mu. Semua ini semata-mata untuk kebaikan kamu dan kebaikan kita bersama. Maaf...."
Shaka tetap terdiam dan membelakangi ku setelah aku selesai bicara, bahkan permintaan maaf dariku tak di jawabnya. Aku memaklumi jika dia masih sangat membenciku, tidak apa, kelak saat dia dewasa, dia akan tahu mengapa aku melakukan hal ini.
Juna kembali ke kamar Shaka selesai sholat subuh, aku berpamitan padanya, juga pada Shaka yang masih tidur dengan posisi miring menatap tembok, membelakangi ku.
" Kakak pulang dulu, do'akan acara hari ini lancar, dan kakak akan kesini lagi bersama kak Bian", ujarku.
Juna mengangguk, sedangkan Shaka masih tetap membelakangiku tanpa memberi jawaban. Tidak papa, aku memaklumi jika Shaka masih marah padaku.
Aku keluar dari kamar Shaka dirawat, Juna mengantarku keluar.
" Nanti kakak pesankan sarapan untuk kamu di kantin, biar di antar ke kamar saja, kamu jangan kemana-mana, jangan tinggalkan Shaka sendirian, aku khawatir dia akan pergi lagi. Shaka masih sangat sedih dan marah padaku, tolong jaga Shaka ya Jun, makasih untuk bantuannya".
Aku sengaja mampir ke kantin membeli sarapan untuk Juna dan meminta tolong agar sarapan diantar ke kamar Shaka, baru aku ke parkiran motor dan pulang menggunakan motor matic ku.
Sekitar 15 menit perjalanan, aku sampai di rumah. Keadaan di rumahku sudah ramai, paman dan bibiku sudah sampai, dan beberapa tetangga juga sudah datang membantu untuk masak-masak di dapur. Ternyata masih ada juga tetangga yang baik dan mau membantu mamaku.
Mama langsung menghampiriku saat melihatku sedang memarkir motor.
" Kita bicara di kamar Raya ma", ujarku sambil berjalan membawa kantong plastik berisi baju kotor milikku.
" Juna dan Shaka tidak bisa pulang sekarang, mereka berdua ada urusan yang penting, nanti setelah pernikahan selesai, Raya akan ajak mama, papa dan Bian ke tempat Juna dan Shaka , yang penting sekarang Raya mohon mama jangan banyak bertanya dulu", pintaku memohon.
" Urusan sepenting apa sampai mereka tidak menghadiri pernikahan kakak perempuan mereka?, sebenarnya kamu benar-benar sudah menemukan Shaka atau belum?", desak mama masih terus bertanya meski sudah aku minta agar tidak banyak bertanya dulu.
" Raya sudah menemukan Shaka ma, ini baju yang Shaka pakai kemarin Raya bawa pulang, tapi basah karena tercampur baju raya yang basah. Mama sekarang kita fokus untuk persiapan pernikahan Raya dulu, baru nanti kita ke tempat Shaka".
Mama masih menatapku curiga, namun kemudian mengambil ponselku dan menelpon Juna tanpa meminta ijin padaku.
" Kenapa kak?".
Bisa kudengar suara Juna yang mengangkat teleponnya. Karena mama me load speaker ponselku.
" Dimana kalian berdua sekarang?, jawab mama dengan jujur", mama bicara pada Juna sambil menatapku dengan penuh amarah.
" Tanya kak Raya saja ma, kak Raya tahu kami dimana, nanti juga Kaka Raya mau kesini sama kak Bian usai acara", jawab Juna yang tidak mau mama khawatir.
" Berikan ponselnya pada Shaka, mama mau bicara sama Shaka".
Menunggu beberapa detik, baru terdengar suara Shaka.
" Mama nggak perlu khawatir, kami baik-baik saja", hanya itu yang Shaka ucapkan, dan Suara Shaka terdengar lebih bersemangat ketimbang suaranya semalam yang begitu lemah.
" Baiklah kalau begitu, mama tidak akan tanya-tanya lagi, mama percaya pada kalian semua. Jangan buat mama kecewa", kalimat terakhir yang mama ucapkan sebelum menutup telepon.
" Sekarang kamu mandi dan ganti baju, dari penata rias sebentar lagi sampai". Mama bicara sambil menyerahkan ponselku.
Setidaknya mama sudah tidak banyak bertanya lagi, untung saja Juna dan Shaka bisa diajak kerja sama. Meski Shaka masih marah, tapi dia mendukung pernikahanku tetap dilaksanakan.
Aku mempersiapkan diri, mandi duduk tenang membiarkan penata rias memoles wajahku yang sangat lusuh.
" Aduh calon pengantin kok mukanya kucel banget kaya nggak tidur semalaman".
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan penata rias, karena memang benar aku tidak tidur semalam, meski hanya sekejap.
" Tenang saja, akan saya buat menjadi terlihat fresh dan segar, karena untungnya si mbaknya dasarnya sudah cantik".
Bian datang saat aku selesai di rias, penata rias tinggal merias Bian dengan sedikit riasan wajah.
Setelah kami selesai, kami langsung berangkat ke KUA untuk melaksanakan ijab qobul disana, saat sampai KUA masih digunakan oleh pasangan pengantin yang menikah sebelum kami. Sehingga aku dan Bian harus menunggu beberapa menit hingga pasangan itu selesai ijab qobul.
Mama, Papa, aku, Bian, kedua orang tua Bian dan dua saksi masuk ke dalam ruangan untuk melaksanakan ijab qobul. Dan tidak sampai 10 menit, setelah dua saksi menyatakan 'Sah', itu berarti aku dan Bian sudah resmi menjadi suami istri. Kami semua tersenyum bahagia karena akhirnya setelah penantian yang cukup lama, kami menjadi sepasang suami-istri yang sah.