Healing

Healing
7. Baby Boy



Teman-teman ku pulang ke rumah masing-masing dengan ekspresi wajah yang tak bisa ku artikan. Aku tahu mereka tidak puas dengan jawabanku tentang alasan kenapa aku tidak lagi berangkat sekolah. Mereka juga sebenarnya mungkin sudah curiga padaku, karena meski tak mereka ungkapkan, aku tahu sejak tadi mereka mencuri-curi pandang ke arah perutku.


Memang meski sudah berusaha kututup- tutupi, perutku tetap saja sudah terlihat besar, apalagi bayi dalam perutku sekarang semakin aktif bergerak. Kadang aku masih belum terbiasa dengan gerakan di dalam perutku yang kadang membuatku merasa geli.


Ku usap perutku yang sedang bergerak-gerak sendiri, " Sayang, kata teman ibu, ayahmu menunggu ibu di depan sekolahan, menurutmu apa yang ingin di sampaikan nya pada ibu?, apa dia ingin meminta maaf?, atau justru dia datang untuk mengancam ibu agar tidak membeberkan kebusukannya?. Entahlah... ibu sudah tidak ingin berurusan ataupun melihat wajah ayahmu lagi".


Lagi-lagi bayi dalam perutku bergerak-gerak seolah menjawab pertanyaan ku. Aku jadi penasaran, bayi dalam perutku berjenis kelamin perempuan atau laki-laki. Sejak dia mulai bergerak, makin lama gerakannya semakin sering.


Tapi aku tidak boleh pergi ke mana-mana oleh papa dan mamaku, aku harus mematuhi mereka, atau semua rencana yang mereka berdua susun dengan rapi akan menjadi berantakan jika aku sampai keluar rumah.


Rencana apa yang kedua orang tuaku susun?, itu yang aku pikirkan sejak awal, ternyata mamaku pura-pura hamil, dan keluar rumah menggunakan bantal kecil di perutnya. Seperti anjuran Bu bidan Ara, kelak anak ini akan menjadi anak mama dan papaku, dan aku akan menjadi kakak untuk anakku sendiri.


Aku sangat berharap semuanya berjalan lancar sampai aku melahirkan. Hanya satu hal yang perlu aku lakukan, yaitu tetap di rumah. Dan hanya itulah cara agar aku tidak mempermalukan kedua orang tuaku.


Seminggu setelah kedatangan teman-teman ku, wali kelasku juga datang ke rumah, karena sebentar lagi jadwal try out untuk siswa kelas 9. Ternyata sekolah belum mengeluarkan aku, meski aku tidak hadir satu bulan lebih tanpa keterangan.


Aku menemui wali kelasku dan mengatakan bahwa aku tidak bisa berangkat ke sekolah lagi karena beberapa alasan yang tidak bisa aku katakan. Awalnya pihak guru terus mendesak dan bertanya apa alasan aku berhenti tiba-tiba.


Akhirnya aku sedikit berbohong, mengatakan jika kedua orang tuaku tidak mampu lagi membayar biaya sekolahku, belum lagi biaya untuk sehari-hari, dan aku hanya mengatakan akan melanjutkan pendidikan melalui jalur paket B.


Setelah mendengar alasan itu, sebenarnya guru menyayangkan sekali sikapku, karena ibaratnya di kelas 9 hanya tinggal menghitung hari saja. Tapi aku justru berhenti saat hendak mencapai finish.


Dan wali kelasku berpamitan dengan wajah kecewa. Aku memang bukan murid teladan yang nilai akademisnya bagus, aku bukan pula siswi berprestasi yang meraih berbagai piala penghargaan, tapi di sekolah aku juga bukan murid yang bermasalah selama ini, karena absensi ku bagus, aku tidak pernah bolos tanpa keterangan, dan nilai ulangan harian ku semuanya lumayan bagus.


Karena itulah wali kelasku menyayangkan alasanku tiba-tiba berhenti sekolah. Beliau sempat menawarkan akan membantu biaya sekolah sampai aku lulus, karena tadi itulah masalah yang aku gunakan sebagai alasan aku berhenti sekolah.


Tapi aku sudah tidak mungkin lagi datang ke sekolah, dan aku terus menolak bantuan beliau sambil terus memohon maaf. Tentu saja wali kelasku sangat kecewa dengan keputusanku.


Beruntung hari ini papa dan mamaku tidak pulang cepat, mereka berdua bekerja sampai sore, sehingga tidak harus bertemu dengan wali kelas dan guru yang datang ke rumah.


Esok harinya mamaku mengajakku ke tempat Bu Ara untuk memeriksakan kesehatan ku dan janin dalam perutku, ini kedua kalinya aku akan melakukan pemeriksaan, oleh Bu Ara. Mama sengaja mengajakku keluar pagi-pagi sekali, saat kebanyakan orang tengah sibuk di dalam rumah masing-masing mempersiapkan diri untuk berangkat beraktivitas.


Jalanan sepi dan tak ada satupun tetangga yang melihatku keluar. Aku memang sengaja memakai jaket tebal, selain untuk menutupi perutku, cuaca pagi ini juga cukup dingin karena embun pagi yang cukup tebal.


Selama aku berada di dalam ruang periksa Bu Ara menutup pintu kamar dan menguncinya agar tidak ada yang tiba-tiba masuk dan melihat kami.


" Wah.... janinnya sudah aktif banget bergeraknya, padahal baru 5 bulan, tapi dia sudah bergerak aktif, dari ukuran fundus ini bayinya cukup besar ya... pasti ibunya doyan makan, jadi perkembangan bayinya cukup pesat".


Bu Ara mengambil gel dan melumasi perutku dengan gel dingin itu, kemudian menempelkan sebuah benda yang berbentuk seperti pistol tumpul dan menempelkan di perutku. Aku bisa mendengar bunyi jedug-jedug dari alat itu.


Ucapan Bu Ara langsung aku Amini, memang aku ingin bayi dalam perutku ini berjenis kelamin laki-laki saja. Agar dia tidak memerlukan wali saat dia hendak menikah kelak.


" Bu Wina, kalau mau ngajak Raya USG, ke tempat teman saya saja, nanti biar saya kabari lagi kapan jadwalnya. Saya akan meminta waktu tersendiri agar Raya merasa nyaman".


Mamaku langsung setuju dan berterimakasih pada Bu Ara. Bu Ara memang bidan desa yang sangat baik. Dia sangat membantu ku selama ini. Dan aku berhutang budi padanya.


Jadwal yang di rancang Bu Ara dengan dokter kandungan kenalannya ternyata tiga minggu setelah pemeriksaan di rumah Bu Ara. Aku keluar bersama mamaku berboncengan motor metiknya menuju tempat praktek dokter itu.


Untung waktu yang ditentukan adalah malam hari, sehingga tak ada tetangga yang melihat aku keluar rumah. Jika ada yang melihat pun mereka tidak akan curiga, yang mereka tahu mamaku lah yang tengah hamil, dan kami melakukan pemeriksaan terhadap mama, bukan terhadapku.


Sang dokter sudah tahu tentang riwayat kehamilanku karena diberi tahu oleh bidan Ara, tapi beliau tetap ramah dan tak memandangku dengan sebelah mata. Dokter laki-laki itu sangat sopan dan menjelaskan keadaan janinku dengan sangat jelas dan pelan agar aku paham.


" Ini adalah kepalanya, dan ini wajahnya, ini tangan dan kakinya sudah terbentuk ya... sepertinya bayinya malu-malu, lagi ngumpet wajahnya di dinding rahim, dan bagian bawah yang menjulang ke atas ini adalah bakal ***** nya, bayi dalam rahim mba Raya ini 100 % saya yakin laki-laki", terang sang dokter.


Aku mengangguk dan berterimakasih pada sang dokter saat aku keluar dari ruang prakteknya.


Mamaku terlihat tenang sekarang, mungkin karena dokter tadi memberi tahu jika anakku laki-laki. Itulah harapan kami selama ini, dan Yang Maha Kuasa ternyata masih mengasihani ku yang sudah sangat banyak dosa ini dengan memberiku anak laki-laki.


Kelak aku akan mendidik putraku dengan sangat baik, agar dia tidak mengikuti sikap dan tingkah ayah kandungnya yang pembohong, sekaligus pengecut. Akan ku bentuk jiwa putraku menjadi anak yang baik, yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.


Aku dan mama sampai di rumah pukul 10 malam, mama langsung menyuruhku untuk istirahat karena ini sudah terlalu larut. Biasanya jam 9 aku sudah tidur, dan hari ini sudah mundur satu jam dari jadwal biasanya.


Baru kali ini mama mau bicara lumayan panjang padaku, semenjak aku ketahuan hamil, mama jadi jarang bicara padaku, seandainya bicara hanya seperlunya saja. Tapi malam ini mama bicara cukup banyak, dan aku bersyukur karena hal itu.


Memang kedengarannya sepele, tapi sangat mempengaruhi psikologi ku, karena aku butuh dukungan dari keluargaku, di saat ayah dari bayi ini tidak memperdulikan nya.


Aku kembali mendengar percakapan mama dan papaku di kamar sebelah, Aku bisa mendengar suara mama yang lebih ceria dari biasanya.


" Aku bersyukur cucu kita itu laki-laki Pa.... setidaknya kita tidak butuh wali untuknya saat dia hendak menikah kelak. Mama sudah malas dan sangat benci dengan Yoga dan keluarganya. Rasanya nyebut namanya saja jantung ini berdetak lebih cepat, jadi emosi dan pengin banget *******-***** wajah mereka yang sok suci tanpa dosa".


Ku dengar mama masih saja emosi tiap kali membahas Yoga dan keluarganya. Tapi papa selalu jadi penyejuk hati mama yang panas.


" Sudah jangan dibahas lagi ma..., kalau mengingat mereka membuat kamu jadi emosi, mending jangan di ingat-ingat lagi. Belum tentu juga mereka memikirkan keluarga kita. Jadi kita juga tidak perlu repot-repot memikirkan mereka".


Entah terbuat dari apa hati papaku itu, beliau sangat sabar menghadapi semua ini. Aku berharap papa selalu sehat dan bisa mendampingi mama sampai mereka berdua sama-sama tua.


Dan aku berharap kelak bisa bertemu dengan laki-laki yang baik seperti papa. Yang mau menerima keadaanku yang penuh kekurangan ini.