
Perjalanan selama hampir dua jam di dalam pesawat membuatku merasa mengantuk, Bian memberi saran agar aku tidur dan beristirahat saja jika memang mengantuk. Tidur siang sebentar bisa membuat tenaga kembali fit saat bangun nanti, jadi saat sampai di kaki gunung aku tinggal makan siang dan sholat duhur.
Kulihat Riko dan Haidar juga memilih memejamkan mata dan tidur saat di dalam pesawat. Mereka semua pasti sudah merencanakan sebelumnya, saat di pesawat hendak tidur. Aku sengaja mengambil ponselku dan mengambil gambar dari jendela pesawat. Ini pengalaman pertamaku, jadi aku tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja.
Bian sempat tersenyum melihat kelakuanku, tapi kemudian dia mengambil ponselku dan kami ber foto bersama-sama saat di dalam pesawat.
" Sudah banyak kan fotonya, sekarang tidur, katanya tadi kamu ngantuk".
Aku mengangguk mendengar ucapan Bian. Ku sempatkan melirik ke belakang, kulihat Yoga sibuk menatap layar ponselnya, sedangkan Utari sudah memejamkan mata sama seperti Riko dan Haidar.
Ku pejamkan mataku yang memang sudah sangat mengantuk, Bian menawarkan sandaran di pundaknya, namun aku memilih bersandar di sandaran kursi yang lebih nyaman dan tak terlalu jauh.
Aku sudah memejamkan mata hendak tidur, tapi sayup-sayup kudengar percakapan Bian dan Yoga, karena hanya mereka berdua yang belum tidur.
" Nanti kita jadi makan siang di warung makan mbah Gono kan Steve?, sudah tiga tahun kita nggak ketemu sama Mbah Gono, pasti sekarang beliau sudah sangat tua", suara Bian bisa kudengar dengan jelas.
" Aku mendengar Mbah Gono sedang sakit beberapa bulan lalu. Dedi, anak fakultas mesin yang bercerita saat kami tak sengaja bertemu di hotel JKL waktu diminta mengisi seminar", ucap Yoga.
" Jadi Dedi sudah melakukan pendakian beberapa bulan yang lalu?, aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan anak itu, semoga saja Mbah Gono sudah sembuh, kangen juga mencicipi masakannya", tutur Bian.
" Bukankah calon istrimu pandai memasak juga?, waktu aku bermain kerumahmu, kamu habis di masakin seblak kan sama Raya ?", tanya Yoga.
" Hehehe, aku yang memasak untuk nya, tebakan mu salah, aku mencintai Raya bukan karena dia pandai memasak, entah apa alasan aku begitu menyukainya, tapi yang jelas aku sangat membutuhkan dia menjadi pendamping hidupku", ujar Bian.
Gagal sudah keniatan ku untuk tidur, hanya demi mendengarkan Bian dan Yoga mengobrol. Aku harus tetap memejamkan mataku agar seperti orang yang sedang tidur. Namun diam-diam aku mendengarkan obrolan mereka berdua.
" Apa kalian berdua sudah 'melakukannya'?, kamu tahu kan dengan maksud pertanyaanku?, bagaimana mungkin kamu makin menyukainya tanpa alasan, kita sesama laki-laki jadi aku paham, dan menebak seperti itu", Yoga mulai bertanya hal-hal yang pribadi.
Namun justru Bian tertawa lepas, " Apa maksudmu menanyakan hal seperti itu, belum belum... kami belum sejauh itu Steve, Raya masih mau menjaganya sampai kami benar-benar resmi menjadi suami istri", jawab Bian.
" Apa kamu yakin dia masih perawan?, tidak curiga, kenapa dia masih mempertahankan miliknya sampai nanti kalian menikah?, jangan-jangan dia sudah tidak gadis lagi", kini Yoga mendekat dan berkata lirih di dekat telinga Bian. Lebih tepatnya berbisik, tapi aku masih bisa mendengar karena aku berada dekat di samping Bian.
Perkataan Yoga sungguh membuatku geram dan ingin menonjok wajahnya. Hanya saja masih aku tahan. Aku kan sedang pura-pura tidur.
" Kamu bertanya seperti itu apa kamu sudah melakukannya dengan Utari?, kalian berdua sudah melakukan itu ya?, kamu sudah mengecek Utari masih perawan atau tidak?", Bian balik bertanya, bagus memang seharusnya begitu, aku juga penasaran apa mereka berdua sudah berhubungan badan atau belum.
Dari gelagat Yoga yang jual mahal, dan Utari yang tetap cinta meski di cueki, mungkin saja karena Utari sudah menyerahkan seluruhnya pada Yoga, karena itulah dia tidak berani berpaling pada yang lain.
" Sembarangan kamu kalau ngomong, bisa di gampar sama Ayah kalau aku melakukan hal seperti itu dengan Utari sebelum kami menikah", setelah menjawab, Yoga kembali duduk dengan posisi yang benar.
Akhirnya mereka berdua selesai ngobrol juga, sejak tadi aku mau tidur tapi sayang demi mendengarkan obrolan Yoga dan Bian, sekarang mereka berdua saling terdiam, saatnya aku benar-benar tidur setelah lama memejamkan mata.
Aku terbangun saat terasa ada getaran cukup keras saat pesawat landing.
" Sudah bangun?, niatnya nanti aku bangunkan saat pesawat sudah mendarat. Tapi malah sudah bangun duluan", ujar Bian.
" Apa sekarang kita sudah sampai?", kulihat keluar pesawat. Sepertinya memang pesawat sudah mendarat. karena kulihat beberapa menara yang menjulang tak jauh dari pesawat.
" Iya, sebentar lagi kita turun, itu berantakan", ujar Bian menunjuk ke arahku.
" Bukan itu, tapi kancing bajumu terbuka", ujar Bian sambil menunjuk ke arah dadaku.
Benar saja sejak tadi Bian terus menatap kearah sini, ternyata ada rejeki nomplok, bagaimana bisa kancing bajuku terbuka begini, apa aku tidur dengan terus bergerak sampai kancing bajuku terbuka, dan menunjukkan sedikit pemandangan indah dari bukit kembar yang menyembul.
Ku perbaiki kancing bajuku, " Apa sejak tadi seperti ini?, kenapa nggak dibenerin?", tanyaku pada Bian.
" Nggak berani, khawatir nyentuh yang di dalamnya, nanti malah bisa bangun 'milikku', bisa gawat kalau minta di servis di pesawat", bisik Bian. Aku langsung menepuk lengannya dengan cukup keras. Bian hanya terkekeh saat menerima pukulanku.
Pesawat sudah berhenti, aku berjalan keluar dari kabin bersama yang lain. Dua jam di pesawat lumayan melelahkan, namun karena dibawa tidur membuat badan sedikit lebih fresh.
" Mobil yang akan kita tumpangi berada di luar bandara, jadi nanti dari bandara kita berjalan keluar terlebih dahulu", ucap Bian sambil menggendong tas ranselku. Dan aku yang menggendong ransel miliknya yang tidak terlalu berat. Tadi saat keluar dari kabin pesawat, kami memang sepakat untuk bertukar barang bawaan, karena tas Bian yang tidak terlalu berat, dibandingkan tas ranselku yang begitu banyak barang bawaannya. Maklum perlengkapan perempuan itu memang lebih banyak dari laki-laki.
Aku mengangguk mengerti, kami berenam berjalan keluar dari bandara dan menghampiri mobil pickup warna hitam yang akan membawa kita ke kaki gunung Rinjani.
Ternyata perjalanan menaiki mobil pickup juga lumayan lama, sekitar 3 jam lebih, justru lebih lama dibanding saat di pesawat tadi.
Namun perjalanan di mobil pickup justru sungguh menyenangkan. Karena kami bisa melihat pemandangan alam hijau permai berlatar Gunung Rinjani yang indah, membuat perjalanan dari bandara menuju kaki gunung Rinjani menyenangkan, kami melewati jalan aspal berkelok- kelok, hutan, ladang pertanian, dan bahkan pemadangan laut yang nampak indah dari kejauhan.
Ladang-ladang pertanian terhampar apik, ditanami sayur-sayuran betingkat-tingkat. Nuansa pedesaan kental terasa terutama saat melihat petani melakukan aktivitas mereka dengan cara tradisonal.
Setibanya di kaki gunung Rinjani yaitu di Desa Sembalun, pemandangan alam yang lain sudah menunggu untuk dikagumi. Selain hijau oleh pepohonan dan vegetasi pegunungan, desa ini nyaris dikelilingi oleh megahnya tebing-tebing batu yang kemiringannya nyaris mencapai 90 derajat.
Kata Bian, dinding batu itu terbentuk dari hasil pembekuan materi letusan atau lava yang dimuntahkan Gunung Rinjani ratusan tahun lalu. Di beberapa bagian, tampak lumut dan rerumputan melapisi batuan tersebut menambah pesona kecantikannya. Udara segar pegunungan pun memenuhi paru-paru ku, segar dan alami. Sungguh nuansa dan pemandangan alam tropis yang eksotis dan sangat berkesan.
" Selain menyimpan pesona dan keindahan panorama alam, sebagai pintu masuk memulai pendakian Gunung Rinjani, Desa Sembalun Lawang memiliki peran penting sebagai tempat singgah dan mengumpulkan tenaga sebelum menantang diri menaklukkan Gunung Rinjani, jadi nanti kita makan dan sholat terlebih dahulu, sebelum kita naik", ujar Bian.
Sepanjang perjalanan Bian seolah seperti seorang tour guide yang menjelaskan berbagai macam hal kepadaku.
Di desa ini ternyata ada Posko Rinjani Information Center (RIC) Sembalun, yaitu semacam pusat informasi dan juga tempat pendaftaran bagi para pendaki. Penginapan dan homestay juga banyak terdapat di desa ini.
Kami berenam hanya singgah sebentar untuk makan siang dan sholat Dzuhur. Setelah itu kami mulai melakukan perjalanan menuju puncak. Sepanjang jalur awal mendaki, savanna dan kontur jalan setapak naik turun serta berliku. Beberapa kali kami harus menyeberang jalur lahar dingin.
Kami sampai di pos 1, sebuah pondok tanpa lantai yang teletak di tengah daerah padang rumput. Pos ini tidak ada sumber air. Kami pun melanjutkan perjalanan dari pos 1 menuju pos 2, kami melintasi padang rumput yang terbuka, beberapa aliran lahar, dan sungai kering, jalanan sudah mulai menanjak. Aku terus berjalan di kawal oleh Bian yang sengaja berjalan di belakangku, Bian bilang khawatir kalau-kalau aku tertinggal di belakang jika Bian yang berjalan di depanku.
Jarak tempuh dari pos 2 ke pos 3 adalah sekitar 1 jam perjalanan. Di pos ini, terdapat fasilitas seperti sumber mata air dan toilet. Kami berenam sengaja mengisi bekal air minum kami yang sudah habis hingga terisi penuh, tidak lupa kami menyempatkan untuk ke toilet terlebih dahulu agar saat naik lagi nanti kami tidak perlu mencari toilet.
Kami kembali naik ke atas, dari Pos 3 menuju Plawangan Sembalun sekitar 3,5 jam dengan jalur berupa tanjakan mendaki bukit yang bertingkat seolah tak habis-habisnya. Ini benar-benar yang dinamakan naik gunung.
Kami sampai di Plawangan Sembalun, berada di ketinggian 2639 mdpl yang merupakan dataran yang cukup luas. Karena hari sudah gelap, kami pun mendirikan tenda dan bermalam sebelum mencapai puncak Gunung Rinjani. Ternyata dari tempat ini pemandangan ke Danau Segara Anak tampak jelas dan sangat indah.
Sorot matahari berwarna jingga yang mulai terbenam di balik bebukitan, sungguh sangat indah. Terbayar sudah rasa lelah dan capek setelah tadi melewati tanah menanjak, berdebu dan licin dengan memandang matahari terbenam dan danau segara anak yang sangat indah.
" Kita bermalam disini, dan besok bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak", ucap Bian sambil mengambil ransel miliknya dan mengeluarkan tenda kecil, merangkainya bersama yang lain, untuk tempat aku dan Utari tidur malam ini.
Aku dan Utari justru sibuk mengambil foto pemandangan indah di sini, rasanya tidak menyangka bisa sampai di atas, meski belum sampai puncak. Tapi kami berdua sangat bangga dengan pendakian pertama kami.