Healing

Healing
101. Tempat Baru Pembawa Keberuntungan



Tiga bulan aku tinggal disini, tiga bulan juga aku sudah menjadi seorang pemilik warung makan. Lumayan banyak orang yang ku kenal dan mengenaliku disini, bahkan ada banyak yang tidak mengenal Juna, tapi mengenalku. Sekarang aku lebih terkenal dan populer di kalangan masyarakat. Baik yang ngontrak, atau tinggal di rumah sendiri, yang jelas mereka mengenalku karena sering beli makanan di warung ku. Aku juga terkenal di kalangan penjual di pasar. Karena setiap hari aku pergi kepasar dan menjadi langganan mereka.


Bulan demi bulan aku tinggal di kontrakan Juna, aku sudah bisa menabung lumayan banyak, modal yang ku pinjam dari uang kiriman Yoga untuk Shaka dulu sudah ku kembalikan sepenuhnya. Bahkan tabunganku masih tersisa lumayan banyak.


Ternyata berjualan masakan di sekitar komplek kontrakan dan perumahan adalah bisnis yang menjanjikan. Mulai bulan ini akulah yang membayar kontrakan Juna untuk setahun kedepan. Awalnya Juna membayar sewa kontrakan perbulan, dan sekarang aku yang membayarnya karena aku yang menempati kontrakan Juna sekarang. Juna jarang sekali tidur di kontrakannya sendiri karena kini berubah fungsi menjadi warung nasi milikku.


Juna lebih nyaman tidur di kontrakan sebelah, milik Rasid, bahkan meski Rasid sedang tidur di kontrakannya sendiri, Juna masih tetap tidur di kontrakan Rasid, dan mereka tidur se kasur berdua.


Bulan kedua tinggal disini aku berhasil membeli kulkas karena beberapa pelanggan kadang memesan es teh atau es jeruk di siang hari. Kadang ada juga anak sekolah yang pulangnya mampir sekedar membeli es blender. Kini bermacam-macam dagangan di warung ku, bukan hanya menjual nasi dan lauk pauk, ada juga bermacam-macam es blender dan juga jus buah.


Meski tempatnya sempit, tapi aku masih tetap harus bertahan disini, lokasi ini sangat strategis untuk berjualan. Aku khawatir jika pindah kontrakan ke rumah yang lebih besar justru pelanggan ku berkurang karena lokasinya yang jauh dari tempat tinggal mereka.


Hari ini Juna libur, karena hari Sabtu, di pabrik tempat Juna bekerja memang hanya 5 hari kerja, dari hari Senin sampai Jumat, jika hari Sabtu atau hari minggu berangkat, itu berarti dihitung lembur. Jika libur seperti sekarang Juna suka sekali menemaniku belanja ke pasar, tiap hari aku memang berangkat belanja jam 3 pagi, biasanya para pedagang sudah menyiapkan belanjaan ku, dan aku tinggal membayarnya, karena setiap malam aku mengirimkan pesan daftar sayuran yang akan aku masak esok harinya.


Tidak heran jika kontak ponselku ada banyak menyimpan nomor telepon penjual di pasar. Dari penjual bumbu, penjual sayur, penjual sembako, penjual ayam, ikan, penjual Frozen food, dan masih banyak lagi kenalan ku di pasar. Karena itulah aku sangat dikenal di kalangan penjual di pasar.


Dari pada saat dulu tinggal di rumah bersama mama dan papa, aku lebih banyak dikenal orang saat berada disini. Di sini tidak ada yang mengetahui kisah masa laluku kecuali Juna, karena itulah mereka semua menghormati aku. Bahkan ada beberapa pedagang di pasar yang sangat menyukaiku dan memintaku untuk menjadi menantunya. Salah satunya penjual sembako yang anaknya seumuran denganku. Ada juga penjual sayuran yang dibantu adiknya tiap berjualan di pasar, sering menjodoh- jodohkan aku dengan adiknya.


Semua aku hadapi dengan santai, dan menganggap semua itu hanya gurauan. Aku memang sudah tidak lagi berminat untuk menikah. Tiga bulan lagi usiaku genap 27 tahun, sebenarnya Juna kadang memintaku untuk menanggapi permintaan para penjual di pasar menjodohkan aku dengan keluarga atau saudara mereka. Hanya saja aku masih sangat trauma. Kegagalan pernikahanku belum bisa aku lupakan baru beberapa bulan yang lalu. Dan aku tidak mungkin menjalin hubungan lagi dengan orang baru.


Aku hanya malas jika nantinya keluarga atau kerabat dari pasangan baruku mulai menanyakan tentang keluargaku, dan mulai mencari informasi tentang diriku. Aku dinilai sangat buruk oleh orang-orang yang tinggal di sekitaran rumah mama papaku, karena itulah aku tidak bisa menjalin hubungan dengan siapapun. Biarkan saja aku tetap sendiri, karena sendiri itu lebih baik bagiku.


Pemilik warung nasi ujung jalan tidak pernah lagi datang ke warungku, karena waktu dia datang melabrak ku, Rasid mengatakan akan melaporkan nya ke pihak yang berwenang jika berani datang lagi. Benar kata Juna, untung saja ada Rasid yang membantuku waktu itu, jika tidak aku hanya bingung karena aku orang baru.


" Hari ini menunya apa saja kak buat sarapan pagi?. Semenjak kakak tinggal disini dan buka warung, aku merasa jadi tambah gemuk, bagaimana tidak. Masakan kakak ternyata sangat lezat, dan di warung kakak nasi bebas mengambil sendiri, tentu saja pelanggan kakak semakin lama akan semakin banyak", ucap Juna.


" Awalnya aku tidak setuju dengan cara jualan kakak yang membebaskan pembeli mengambil nasi sendiri, apa bisa untung jika yang beli mengambil nasinya banyak. Tapi ternyata jualan dengan cara itu membuat yang beli di warung kakak terus kembali datang dan menjadi pelanggan tetap. Aku baru tahu kakak jago berstrategi".


Sepanjang perjalanan menuju pasar Juna terus bicara saat di dalam bus. Kami pun turun dari bus karena sudah sampai di pasar.


" Bukan jago berstrategi Jun, kakak cuma berfikir, kalau makan dengan nasi di ambilkan, kakak kan tidak tahu porsi makan mereka berapa banyak, kakak hanya berfikir, kalau yang makannya sedikit dan kakak ambilnya banyak, nanti nggak habis malah mubadzir. Dan jika mereka porsi makannya banyak, kakak ambil sesuai porsi kakak, mereka bisa sudah makan tapi nggak kenyang. Karena itulah dari pada tidak pas, mending mereka sendiri yang mengukur berapa banyak nasi yang akan mereka makan. Kan jadi pas, nggak kurang dan nggak lebih", ujarku, sambil menuju lokasi penjual daging.


" Pagi ini kakak mau masak tumis kangkung, tongkol dan telur balado, tumis buncis, lele, dan nila bakar, ayam kecap, tahu dan tempe bacem, mie goreng, bikin bakwan dan tahu isi", ucapku.


" Kalau menu pagi sudah habis, siangnya rencananya kakak mau masak rendang daging sapi, ayam goreng & bakar, nyambel ijo, rebus daun singkong, masak sayur nangka, ceritanya siang ini kakak mau seperti warung nasi padang".


" Cocok Kak, tapi tiap hari aku makan di warung kakak gratis apa kakak nggak rugi?", tanya Juna sambil mengambil belanjaan dari tanganku yang sudah mulai terasa berat. 5 kg daging ayam dan 3 kg daging sapi untuk masakan hari ini, ini baru mengambil daging, belum ke penjual lain mengambil bumbu, dan sayuran.


Ternyata setiap harinya semakin banyak belanjaan ku, Rasid pernah menawarkan untuk meminjamkan motornya untuk aku pakai bolak balik ke pasar, tapi aku tolak, karena masih lebih nyaman naik angkutan umum dari pada bawa motor hasil pinjam.


Tunggu beberapa bulan lagi sampai aku mampu membeli motor sendiri meski hanya motor bekas.


Jujur penghasilanku jualan nasi jauh lebih banyak dari gajiku bekerja di restoran Bian dulu, hanya saja lebih melelahkan, karena banyaknya pekerjaan yang harus aku lakukan sendiri, dari belanja, meracik bahan masakan, masak berbagai macam menu, melayani pembeli saat warung buka, siangnya masak lagi menu yang berbeda, dan buka sampai jam 9 malam. Kadang belum sampai jam 9 sudah habis, warung ku tutup lebih awal, dan akupun tidur lebih awal. Bisa istirahat lebih awal.


Tidak pernah aku main ke tempat lain, hari-hari ku habis di pasar dan kontrakan yang kini ku rubah menjadi warung, karena itulah aku lebih mudah mengumpulkan uang, 7 hari selama seminggu, tidak ada hari libur. Pagi sampai malam warung buka, capek yang aku rasakan setimpal dengan penghasilan yang aku dapat.


Sehari mungkin aku bisa mengumpulkan uang sampai 300 ribu, itu diluar dari modal yang ku gunakan, jadi sudah bersih untung yang kudapat sehari mencapai 300 ribu, bahkan kadang lebih. Memang baru satu bulan terakhir aku mendapat untung sebanyak itu. Karena bulan-bulan sebelumnya masih berproses, untung jualan sekitar 50 sampai 200 ribu perhari.


Sekarang sebulan aku bisa mengumpulkan untung 9 juta bersih, itupun aku dan Juna makan tiap hari tidak bingung, tinggal makan tanpa bayar. Sepertinya aku bisa jadi orang kaya baru jika terus seperti ini.


Hidup di tempat baru sepertinya membawa keberuntungan untukku, tidak lagi ada orang yang menatapku jijik dan merendahkan aku. Kadang aku membayangkan, seandainya dulu aku tidak berbuat kesalahan yang sangat fatal, dan orang-orang di sekitarku menghormatiku seperti saat aku di tempat baru sekarang ini, mungkin dunia akan terasa begitu damai dan indah.


Meski setiap harinya merasa lelah bekerja, tapi aku menikmatinya. Bahkan sekarang aku merasa menjadi seperti seorang ibu yang mempunyai anak sangat banyak, yang harus memberi makan anak-anak ku setiap harinya.


Karena penghuni disini ibarat pergi satu, akan ada yang datang lagi. Kontrakan di sekitar area industri dan banyak pabrik memang tidak pernah sepi, selalu saja ada pengganti yang menempati.


Hingga satu tahun aku tinggal di sini, sekarang bahkan aku punya seorang pekerja yang membantu-bantuku sejak.dua bulan yang lalu.


Dia membantu pekerjaanku dari pagi ikut ke pasar, lalu bantu memotong-motong bahan-bahan yang akan aku masak, meski untuk memasak semua masih aku yang handle, khawatir rasanya berubah jika tidak masak sendiri, namanya Mala, dia gadis yang tinggal tak jauh dari sini, Mala dulunya kerja di pabrik bersama dengan Juna, tapi karena sesuatu hal Mala mengundurkan diri, awalnya aku hanya iseng menawarkan pekerjaan padanya, tapi Mala menanggapi dengan serius dan setuju untuk membantuku.


Memang upah yang aku tawarkan tidak sebanyak saat dia bekerja di pabrik, namun Mala menikmati bekerja denganku, katanya tidak pernah diomelin dan dibentak-bentak, tidak seperti saat kerja di pabrik yang sering dibentak atasan dan kadang sampai tak tahan menahan tangis.


Mala juga aku perbolehkan pulang jika sudah selesai masak di siang hari, dan kuberi waktu libur di hari minggu. Dia semakin dekat denganku dan juga keluargaku. Mala sudah aku anggap adikku sendiri.