Healing

Healing
117. Rumah Baru



Pagi hari setelah Juna berangkat kerja, sekitar pukul 7 aku dan Yoga memulai perjalanan pulang ke rumah. Tidak terlalu banyak barang bawaan ku, karena hanya baju-bajuku saja yang aku bawa.


" Kenapa perhiasan emas yang aku berikan sebagai mas kawin untukmu tidak kamu pakai Ra?".


Sudah hampir 5 bulan kami menikah, dan baru hari ini Yoga menanyakan dimana perhiasan darinya.


" Hanya untuk jaga-jaga dari kemungkinan terjadinya hal buruk, aku menyimpannya di rumah mama".


" Kamu tahu sendiri kan Ga, aku pergi ke pasar setiap jam 3 pagi sendirian, jika aku memakai semua perhiasan pemberian darimu, mungkin aku akan menjadi sasaran jambret atau pelaku kejahatan lainnya.


Yoga mengangguk paham.


" Tapi kamu suka kan dengan model perhiasan itu semua?, malam itu aku sendiri yang memilihnya untukmu."


Ternyata Yoga memesan semua perhiasan emas itu malam hari sebelum pernikahan kami di laksanakan.


" Suka, aku suka semuanya, apalagi aku memang tidak pernah memakai perhiasan apa-apa selama ini, jadi kamu beri perhiasan mahal tentu saja aku sangat senang", jawabku sengaja ku lebih-lebihkan.


" Kalau kamu nggak suka dengan yang ku pilihkan kemarin, kamu bisa memilih sendiri di tokonya, nanti karyawan ku akan melayanimu", ujar Yoga.


Ternyata dia tidak membeli semua perhiasan itu, melainkan tinggal memilih dari salah satu toko emas miliknya. Apa sekaya itu kah Yoga?, bahkan dia punya toko emas sendiri.


Aku yang dulu tidak pernah memakai perhiasan emas, sekarang menjadi istri dari pemilik toko emas yang cabangnya tersebar di beberapa tempat. Apa aku sudah berubah nasib dari gadis kecil yang hidup menderita berubah menjadi wanita beruntung yang menjadi istri lelaki kaya?.


Baru 3 jam perjalanan Yoga memasuki kawasan rest area, mengisi bahan bakar dan mengajakku membeli minuman, cemilan dan makanan ringan untuk ngemil kami di jalan.


" Kata dokter saat di rumah sakit tadi, kamu tidak boleh kecapekan, jadi kita istirahat dulu disini, kamu juga harus banyak minum air putih agar asupan mineral di tubuhmu tercukupi. Kamu tidak boleh sampai kosong perutnya, ada nyawa lain dalam perutmu yang butuh makanan juga".


Aku pun menuruti perintah Yoga, minum air putih lumayan banyak dan juga menikmati cemilan yang dia belikan.


Baru 5 jam dari waktu aku ketahuan hamil, Yoga sudah menunjukkan perhatiannya yang menurutku berlebihan. Tapi entah mengapa aku menyukai hal itu. Aku suka perhatian yang Yoga tunjukkan. Hal itulah yang membuatku mau tinggal bersamanya. Aku ingin diperhatikan dan dimanja oleh suamiku, layaknya seorang istri yang sedang hamil.


Sama seperti teman-temanku saat dulu mereka hamil. Dituruti semua keinginannya oleh sang suami, diperhatikan dan dimanja. Ingin sekali aku mendapatkan perlakuan seperti itu. Dan saat ini semua itu terkabul.


Setengah jam kami beristirahat di rest area, aku sempat ke toilet terlebih dahulu sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang.


Aku baru pernah melewati jalanan yang sedang kami lewati ini, karena biasanya jika aku bersama Juna, kami selalu naik kereta api dan pulang pergi ke stasiun terlebih dahulu.


Dan jam 1 siang, mobil memasuki sebuah pintu berpagar keliling, dengan rumah besar di dalamnya yang baru pernah aku lihat.


" Ini bukan rumah yang kamu tunjukkan padaku waktu itu Ga, apa kamu punya rumah baru lainnya?", tanyaku saat kami memasuki rumah itu.


Rumah ini sama besar dengan rumah yang ada di dekat pantai, hanya saja ini di tengah kota, dan tidak sendirian, banyak rumah lainnya, dan rumah tetangga yang lain juga besar-besar seperti rumah ini.


Kami berdua masuk ke dalam rumah di sambut oleh para ART di rumah itu, dan yang berdiri paling ujung sambil tersenyum lebar dan membawa tulisan 'selamat datang' adalah Shaka. Putra kami yang sudah besar dan tumbuh menjadi pemuda yang tampan seperti ayahnya.


Aku masuk ke dalam dan berdiri berhadapan dengan Shaka, ingin sekali aku memeluknya, tapi aku takut Shaka menolak, hingga aku hanya berdiri di depannya, begitu juga dengan Shaka yang terlihat canggung saat melihatku, dan akhirnya kami hanya bersalaman saja.


" Selamat datang di rumah ini Kak...", ucap Shaka kikuk.


Ternyata Shaka masih tetap memanggil ku kakak. Padahal dia sudah tahu jika aku adalah ibunya, dan aku sudah menikah dengan ayahnya, harusnya panggilannya padaku berubah dari kakak menjadi ibu. Apa sesulit itu mengganti panggilan?.


" Biar aku tunjukkan dimana kamar kita, kamu bisa istirahat terlebih dahulu di kamar, pasti kamu capek habis perjalanan jauh, biar aku minta pada bi Tuti untuk siapin makanan dan anter ke kamar".


Lagi-lagi aku di buat merasa sangat diperhatikan oleh Yoga, makanan untukku saja disuruh diantar ke kamar, padahal aku tidak merasa capek sama sekali, lagian tadi juga sudah sempat istirahat di rest area. Sepertinya Yoga berlebihan.


" Aku makan bareng kalian saja, nggak perlu di antar ke kamar, aku istirahat dulu, kalau sudah mau makan, panggil saja di kamar".


Yoga mengajakku ke kamar untuk beristirahat sambil menunggu makanan siap.


" Apa kamu pengen makan sesuatu?, bukankah ibu hamil itu biasanya ngidam pengen makan yang aneh-aneh?, biar aku suruh bi Tuti untuk memasakkan makanan yang kamu pengen".


Yoga duduk di sampingku sambil menanyaiku perihal apa yang sedang aku inginkan. Persis seperti apa yang aku mau, suamiku menanyakan aku ingin apa saat aku hamil.


Karena saat hamil Shaka dulu, boro-boro ditanya apa keinginanku, ketemu dengan Yoga saja tidak. Akhirnya semua yang aku bayangkan dan aku impikan dimasa dulu bisa terkabul sekarang.


" Aku nggak pengen apa-apa Ga, Jadi mau dibuatin masakan apa saja nggak masalah", ujarku.


" Apa kamu masih mual dan lemes?, kalau masih sini aku pijitin biar lebih enakan".


Yoga langsung memijit kakiku tanpa ku minta, dia begitu perhatian padaku. Aku tidak menyangka Yoga akan bersikap se care ini.


Mulai hari ini dan seterusnya aku tinggal bersama suami dan putraku.


Esok harinya saat hari Senin tiba, Yoga mulai berangkat kerja dan Shaka pergi sekolah. Aku hanya sendiri di rumah besar ini, bersama beberapa ART yang selalu siap melayaniku.


Aku lebih suka keluar dari rumah dan menikmati hangatnya mentari pagi setelah kepergian Yoga dan Shaka.


Mual-mual yang aku rasakan sudah tidak separah kemarin, hanya mual sebentar dan setelah muntah, aku kembali merasa baikan, dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


Namun di rumah ini aku dilarang melakukan pekerjaan apapun. Yoga sudah memberi pesan khusus pada semua ART untuk mengawasi ku, dan tidak memperbolehkan aku melakukan pekerjaan rumah tangga.


Aku yang terbiasa melakukan begitu banyak pekerjaan selama seharian, justru merasa ada sesuatu yang hilang karena dilarang melakukan apapun. Termasuk berhubungan badan.


Yoga juga tidak menyentuhku selama dua bulan ini. Katanya itulah yang dipesankan sang dokter saat aku diperbolehkan pulang dan tidak opname di rumah sakit. Aktifitas ranjang bisa membuatku kelelahan, dan bisa berpengaruh pada janin dalam perutku yang masih muda.


Yoga sangat mengharapkan anaknya yang masih berada didalam perutku sehat dan baik-baik saja.