Healing

Healing
133. Kejutan Ulang Tahun



" Akan saya urus semua berkas-berkas kepemilikan tanah, Fila, dan lahan perkebunan dan mengganti semuanya atas nama Tuan muda Shaka secepatnya", ujar Pak Abas.


Aku tidak menyangka jika Yoga sebenarnya sangat menyayangi Shaka, menginginkan kehadirannya, dan menganggap Shaka sebagai darah dagingnya sejak awal. Semua penilaian ku tentang Yoga dulu ternyata salah besar.


" Untuk acara pesta kejutan ulang tahunnya mau dilaksanakan jam berapa Tuan?, ini salah satu pekerja yang menyiapkan tempat mengatakan jika semuanya sudah siap disana". Pak Abas memberi tahukan laporan yang disampaikan salah satu pekerja disini tentang persiapan tempat untuk pesta kejutan yang sudah siap.


" Sepertinya anak-anak masih senang bermain-main di taman bunga. Haruskah kita ajak mereka ke sana sekarang?", tanyaku yang melihat Syifa masih berjalan-jalan sambil terus bertanya pada Puput.


Yoga melihat jam tangannya, " Baru jam 7 pagi, mungkin satu jam lagi baru kami kesana", ucap Yoga pada Pak Abas.


" Baiklah Tuan, sekarang saya mau keliling perkebunan, biasa ngontrol yang lain. Apa Tuan mau ikut keliling, atau mau jalan-jalan sama Nyonya?", tanya Pak Abas.


" Boleh juga ikut muter sama Pak Abas, sudah lama juga tidak menyapa pekerja disini".


" Apa kamu mau ikut bersama kami sayang?, lahan perkebunan masih lumayan luas sampai ke belakang, karena yang kita masuki baru lahan yang ditanami bunga, masih jauh kesana lagi itu perkebunan yang ditanami sayuran. Mungkin juga mama dan papa sudah sampai disana".


Yoga mengajakku ikut bersamanya. Tentu saja dengan senang hati aku ikut bersama Yoga dan Pak Abas.


Yang sungguh membuatku terharu, karena semua pekerja yang melihat kami lewat pasti langsung membungkuk dan memberi hormat. Mereka seolah sangat menghormati kami. Padahal banyak juga pekerja di kebun yang usianya jauh lebih tua dari kami, tapi mereka tetap saja membungkuk seolah menunjukkan rasa hormatnya yang begitu besar pada kami.


Ternyata kebun bunga yang menurutku sudah lumayan luas, tak seberapa luasnya dibandingkan dengan kebun sayur yang membentang sangat luas sejauh mata memandang.


Sekaya itukah Bu Herni?, pantas saja dulu beliau tidak merestui Yoga denganku, siapalah aku ini, mungkin jika aku belum menikah dengan Yoga, aku sama seperti mereka para pekerja yang sedang menyiangi rumput, atau yang sedang memanen sayuran. Bukan siapa-siapa, dan tidak akan dihormati seperti ini.


Aku menatap hamparan perkebunan yang sangat luas, dengan petakan-petakan yang berundak-undak, beberapa petak di tanami wortel, beberapa petak ditanami kol, ada juga yang ditanami lobak dan daun bawang. Benarkah semua ini akan menjadi milik putraku?. Seberuntung itukah kami?, aku hampir tidak percaya dan merasa semua ini hanyalah mimpi.


Entah kebaikan apa yang pernah aku lakukan, sehingga aku memperoleh begitu banyak kebahagiaan saat ini. Semoga saja aku tidak terlena dengan semua keberuntungan dan kebahagiaan ini.


" Raya, sini !", seru mama, memanggilku untuk mendekat ke arahnya.


Ternyata benar tebakan Yoga, jika mama dan papa sedang di kebun sayuran, mereka berdua sedang melihat beberapa pekerja yang sudah selesai memanen wortel, dan tengah memasukkan wortel itu kedalam karung sayuran, yang biasa disebut karung waring.


Wortel sudah selesai di masukkan ke karung tinggal diangkut ke mobil pickup untuk di bawa ke gudang sayuran untuk di bersihkan dan dikemas dengan kemasan yang higienis dan menarik.


Gudang sayuran berada tak jauh dari sini, dan di gudang juga sudah ada pekerja yang bertugas membersihkan dan mengemas sayuran.


" Kenapa ma?", tanyaku saat aku sudah berada di samping mama.


" Juna kirim pesan kalau Syifa nyariin kamu, apa kamu nggak bawa ponsel?, katanya sudah kirim pesan ke kamu, tapi nggak di baca".


Aku hendak mengambil ponselku dari tas yang kubawa, namun belum sempat mengambil ponsel, sudah terdengar suara Syifa memanggil-manggil dari kejauhan.


" Mama sudah kasih tahu Juna kalau kamu disini", ujar mama.


" Ya sudah sekarang sudah jam 8, alangkah baiknya kita ke tempat diadakannya pesta kejutan buat Shaka sekarang ma".


Mama mengangguk dan memberi tahu papa. Aku juga memberi tahu Yoga, dan kami berjalan menghampiri anak-anak.


" Ibu kok disini, kan disini nggak cantik, nggak ada bunga", ujar Syifa sambil tengok ke kanan dan ke kiri melihat hamparan lahan yang ditanami wortel.


" Iya, tadi ibu jalan-jalan eh sampai disini. Apa Syifa suka di tempat yang banyak bunga-bunga yang cantik?", tanyaku.


Syifa langsung mengangguk cepat.


" Iya Syifa suka, tapi tadi ibu nggak ada, jadi Syifa cali-cali ibu".


Aku tersenyum dengan penjelasan yang Syifa ucapkan.


" Ya sudah, sekarang kita ke taman bunga saja, yang ada di sebelah kebun bunga, ada pintu masuk menuju ke sana", terang Yoga sambil memberi kode pada Juna.


" Kakak dan yang lain duluan saja, aku kebelet, mau ke toilet dulu. Nanti aku nyusul", pamit Juna.


" Ka... temani aku ya... toilet ada di depan sana, agak jauh, males jalan sendirian", pinta Juna pada Shaka.


Karena Shaka juga malas mengikuti para orang tua ke taman bunga, tanpa ada Juna, Shaka menurut saja menemani Juna ke toilet umum yang ada di depan sana.


Sedangkan aku dan yang lain langsung menuju ke taman bunga. Puput yang tidak tahu rencana pesta kejutan ulang tahun untuk Shaka merasa bingung dengan keadaan taman bunga yang sudah di dekorasi sedemikian rupa.


Namun seperti sebelumnya, Puput langsung paham dan mengerti situasi, setelah membaca tulisan di atas kue ulang tahun yang bertuliskan 'happy birthday Shaka ke 17'.


" Put, kamu jaga di pintu masuk, dan kabari kalau Juna dan Shaka sudah kelihatan sedang menuju kesini", pintaku pada Puput.


" Baik Nyonya. Apa saya harus membawa kelopak mawar untuk menyambut kedatangannya nanti, dibuat seperti hujan bunga seperti di film-film Nyonya?".


" Lumayan juga ide Puput", pikirku.


" Ya boleh juga, kamu minta kelopak mawar nya sama pekerja di sana. Tapi nebarnya nanti kalau Juna dan Shaka sudah masuk kesini", ucapku.


Puput mengangguk paham, dan bergegas pergi menemui salah satu pekerja, dan si pekerja langsung berlari mengumpulkan kelopak mawar. Puput kembali ke pintu masuk taman menunggu Juna dan Shaka kembali, juga menunggu pekerja kebun membawakan kelopak mawar untuk menyambut kedatangan Shaka nanti.


Setelah satu kantong plastik besar dipenuhi kelopak mawar, pekerja kebun memberikannya pada Puput, Puput langsung memberi tahukan jika Juna dan Shaka tengah berjalan menuju kemari.


" Semuanya siap-siap", ucapku sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala, bertuliskan angka 17 di tanganku.


Puput masuk kedalam dengan membawa satu kantong plastik besar berisi kelopak mawar berwarna-warni, dan Syifa langsung menempel padanya.


" Syifa nanti bantu mba Puput buat nyebar bunga ini ke arah Kak Shaka kalau kak Shaka masuk kesini, oke?".


Bisa kudengar Puput memberi tahu Syifa apa yang harus dilakukannya. Syifa sangat senang karena dia merasa dilibatkan dalam acara kejutan untuk kakaknya.


Jadi seperti itu cara Puput mengambil hati anak kecil, sekarang aku paham.


Terdengar langkah Juna dan Shaka yang semakin dekat, dan saat mereka berdua masuk semua langsung mengucapkan kata yang sama serentak.


" Surprise....!".


" Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita kan doakan, selamat sejahtera sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia....".


" Panjang umurnya... panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia...."


Kami menyanyikan lagu ulang tahun, panjang umur, tiup lilinnya, dan juga potong kue. Selama kami bernyanyi Syifa dan Puput menebar kelopak bunga mawar ke arah Shaka, Syifa terlihat sangat berbahagia, sedangkan Juna bertugas merekam momen ini, Juna sudah merekamnya sejak berjalan dari toilet menuju kemari.


Shaka meniup lilin dan memotong kue, potongan kue pertama di berikan Shaka pada Syifa. Aku memakluminya, mungkin Shaka bingung akan memberikan potongan pertama pada siapa, karena aku sebagai ibunya, juga ada mama yang menjadi ibu sekaligus neneknya.


Keputusan yang bijaksana karena Shaka memberikan potongan kue pertama pada Syifa. Syifa langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan karena mendapatkan kue ulang tahun dari kakaknya.


" Selamat ulang tahun kak Shaka...", ucap Syifa sambil memeluk kakaknya, setelah terlebih dahulu menitipkan piring kertas berisi potongan kue kepada Puput yang berdiri disebelahnya.


" Terimakasih adik kakak yang paling cantik. Kado buat kakak mana?", tanya Shaka bercanda, namun ternyata Syifa mempunyai hadiah untuk kakaknya.


" Ini, Syifa punya cincin Dali bunga, tadi mba Puput yang ajali Syifa bikin cincin ini, lihat Syifa juga pakai sama", Syifa menunjukkan cincin mungil yang ada di jari manisnya, cincin yang dibuat dari tangkai bunga yang di lilit-lilit membentuk sebuah cincin dengan bunga putih di ujungnya sebagai variasi yang sangat cantik.


" Wah... ternyata adik kakak yang cantik sudah menyiapkan hadiah buat kakak, terimakasih banyak", ucap Shaka saat menerima cincin dari Syifa.


" Ternyata kekecilan, kakak pakai di kelingking nggak papa ya?", tanya Shaka, karena ternyata cincin itu tidak muat di jari manisnya.


Syifa mengangguk sambil tersenyum kuda, merasa senang bisa memberikan hadiah ulang tahun untuk kakaknya. Meski kekecilan.