
" Jangan jadikan aku alasan untuk kamu kabur dari pernikahan mu besok. Jujur, dulu aku keberatan dengan pernikahan kamu dan Utari. Bukan karena aku cemburu, tapi karena aku merasa kasihan pada Utari, yang akan menikah berlandaskan sebuah kompromi keluarga".
" Apalagi begitu banyak rahasia dan kebohongan yang kamu dan keluargamu lakukan padanya. Utari gadis yang baik, tapi tidak dengan nasibnya jika sampai dia menikah denganmu".
" Namun pemikiran ku berubah saat semalam Utari datang ke sini dan memberi tahuku jika kamu sudah jujur, dan mengatakan semua rahasia yang selama ini sudah kamu simpan dari semua orang".
" Aku jadi berharap pernikahan kalian besok akan tetap terlaksana. Karena diantara kalian sudah saling terbuka, tidak ada rahasia dan kamu sudah bersikap jujur padanya. Apalagi aku tahu betul jika Utari sangat mencintai kamu, dan masih mencintai kamu meski dia tahu kamu tak mencintai nya, bahkan dia menerima semua kekurangan mu. Kamu akan sangat menyesal jika tidak menikahi gadis sebaik Utari, tidak akan lagi kamu menemukan gadis sebaik dia".
Aku selesai bicara, juga selesai membereskan daun, tinggal mengambil kain lap untuk membersihkannya. Tapi langit tak lagi bisa menahan awan mendung yang kini berubah menjadi titik-titik air hujan yang mulai turun membasahi bumi.
" Ra... apa nggak ada sedikitpun sisa cinta untukku di hati mu ?, aku tahu kamu sangat kecewa padaku atas semua kesalahan yang sudah ku perbuat, tapi aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu dengan menjadikan kamu istriku, kita akan tinggal di rumah kita, bersama anak kita Shaka!".
Padahal hujan sudah mulai turun, tapi Yoga masih saja mengajakku bicara.
Aku langsung menatap Yoga dengan tajam, " Sudah ku bilang berulang kali, aku tidak bisa, dan sekarang sudah tidak ada gunanya kamu bertanggung jawab. Aku sudah tidak butuh pertanggungjawaban dari kamu. Dan satu hal lagi aku tegaskan, Shaka itu putraku, meski kamu yang membuatku hamil, tapi kamu tidak berhak mengakui jika Shaka putramu, karena kamu menghilang begitu saja saat dulu aku memberi tahumu jika aku hamil, kamu tidak berhak mengaku menjadi ayahnya!".
" Sebaiknya kamu pulang Ga, aku mau masuk, jangan pernah lagi datang ke sini, dan jangan pernah lagi menemui ku!", ucapku sambil membawa tumpukan daun ke dalam rumah.
Setelah meletakkan daun di dapur, aku sengaja ke ruang tamu untuk melihat dari jendela, apa Yoga sudah pergi, atau masih berada di luar. Ternyata Yoga sudah tidak ada di luar. Baguslah kalau begitu, setidaknya keluargaku tidak ada yang tahu jika Yoga datang.
Aku masuk ke ruang tengah, tinggal ada Juna dan mama yang sedang sibuk membuat kue. Tak ada tetangga yang membantu, karena tetangga sebelah rumahku adalah sepasang suami istri yang sudah tua, anak-anaknya sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri. Sedangkan sebelah lagi kebun, dan sebelah lagi sungai. Karena itulah tidak ada tetangga yang membantu, apalagi mama jarang ikut bergabung dengan tetangga, kecuali saat belanja di tukang sayur.
Diluar hujan sudah turun dengan derasnya, sama seperti hari kemarin, bahkan hari ini hujan turun lebih awal. Mama sengaja belum menjemur cucian baju karena sejak pagi sudah mendung, dan benar dugaannya, hari ini hujan turun lagi.
" Shaka ke mana Ma, lagi hujan kok malah keluar rumah?", tanya ku, saat tak melihat keberadaan Shaka di dalam rumah.
" Loh, sepuluh menit yang lalu mama minta Shaka buat manggil kamu, suruh masuk rumah, soalnya gerimis, kenapa malah dia yang keluar?", ujar mama heran.
" Sepuluh menit yang lalu...?, tapi Shaka nggak manggil Raya ma..., Raya masuk karena kemauan sendiri".
Ku ingat kembali, sepuluh menit yang lalu bukankah saat itu aku tengah mengobrol dengan Yoga, tunggu...
Jangan-jangan Shaka mendengar percakapan ku dengan Yoga. Aku harus segera mencari Shaka dan menanyakan apa dia mendengar percakapanku dan Yoga atau tidak.
" Ma aku keluar sebentar buat nyari Shaka ya Ma, cuma sebentar", pamit ku pada mama, entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat khawatir.
Payung hitam menjadi pelindung tubuhku dari derasnya guyuran air hujan.
Jika benar sepuluh menit yang lalu Shaka keluar rumah dan mendengar percakapan ku, berarti dia dengar saat Yoga mengatakan dialah ayah Shaka, semoga saja Shaka tidak mendengar percakapan kami. Itu hal yang ku harapkan. Karena jika sampai Shaka dengar dan tahu semuanya karena percakapan kami, aku pasti akan merasa sangat bersalah.
Aku datang ke rumah teman-teman Shaka satu persatu, karena Shaka lumayan supel dan punya banyak teman di rumah, tapi Shaka tidak ada di sana. Ku coba mengecek ke lapangan, ke sungai dan ke tempat yang biasa Shaka datangi, tapi dimana-mana tidak ada. Kemana Shaka?.
Aku memilih pulang terlebih dahulu, siapa tahu Shaka sudah pulang ke rumah, tapi saat aku sampai di rumah Shaka juga belum pulang.
Mama dan Juna sudah selesai membuat 15 kue bolu untuk suguhan besok. " Kamu itu dari mana sih Ra?, bilang mau nyari Shaka, malah sampai siang baru balik, lha Shaka nya mana?, apa nggak ketemu?", tanya Mama yang sedang mencuci loyang bekas memanggang kue bolu.
" Memangnya ada apa si?, kamu kok kaya khawatir banget, nanti juga akan pulang sendiri, ngapain di cari-cari", ujar Mama masih bicara dengan santai.
" Shaka sepertinya mendengar percakapan Raya tadi, dia mungkin mendengar waktu Raya mengatakan dia putra Raya Ma....".
Mama langsung menghentikan pekerjaannya, dan menatapku, begitu juga dengan Juna yang sedang menyapu lantai langsung menghentikan pekerjaannya, dan berjalan mendekat ke arahku.
" Kak Raya memang sedang ngobrol sama siapa, sampai mengatakan jika Shaka itu putra kakak?, selama ini kita semua sengaja bungkam dan tidak menceritakan tentang siapa Shaka sebenarnya, bagaimana bisa rahasia yang sudah kita simpan selama ini kakak bongkar begitu saja", aku melihat ke khawatiran di wajah Juna dan juga mama.
" Kalau Shaka dengar dan tahu kebenarannya, dan dia merasa sedih karena selama ini kita membohonginya jangan-jangan...", mama mulai ikut panik seperti aku.
" Kalian berdua cepat cari Shaka sekarang juga, sampai ketemu. Jangan ada yang pulang kalau Shaka belum ketemu!".
Mama berteriak menyuruh aku dan Juna untuk mencari Shaka, aku tahu kasih sayang mama pada Shaka begitu besar, lebih besar dari kasih sayang mama padaku atau pada Juna. Mungkin karena mama merasa kasihan pada nasib Shaka, karena dia anak dari hubungan yang tidak sah, dan keinginan mama, Shaka jangan sampai tahu kebenarannya. Sebenarnya itu juga yang aku inginkan. Jangan sampai Shaka menjadi minder, atau sedih karena mengetahui kebenarannya.
Aku kembali keluar rumah, begitu juga dengan Juna, kami berdua berpencar agar lebih cepat menemuk Shaka.
Ya Tuhan, lindungi lah putraku di manapun dia berada, kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini. Aku sangat khawatir Shaka pergi tanpa pamit, dan tak kembali, karena dia kecewa dengan kenyataan hidupnya.
_
_
Setelah mencari Shaka seharian, sampai malam, kami tak menemukannya. Bahkan papa ikut serta mencari sampai agak jauh. Tapi hasilnya nihil, kami semua tidak berhasil menemukan Shaka.
Aku semakin merasa takut jika Shaka pergi jauh entah kemana, dia masih terlalu kecil untuk bisa bertahan hidup di luar sana. Semoga saja secepatnya dia pulang ke rumah.
Atau aku meminta bantuan pada Bian?, sempat terpikir hal itu, tapi pasti di tempat Bian sekarang sedang bersama ayah dan ibunya, juga berkumpul bersama kerabat, karena besok mereka akan datang ke sini. Kenapa masalah ini harus terjadi di waktu yang sangat tidak tepat.
Aku jadi menyesali keputusanku membiarkan Yoga bicara di sini, harusnya tadi aku mengikutinya untuk pergi dan bicara dengannya di tempat yang jauh dari rumah. Pasti ceritanya akan berbeda, Shaka tidak akan mendengar hal yang tidak seharusnya di dengarnya, dan dia tidak akan pergi dari rumah seperti sekarang.
Mungkin tidak seharusnya aku meminta bantuan Bian, aku harus bisa menyelesaikan sendiri masalah yang aku buat sendiri. Tapi jika hanya dengan kemampuanku dan keluargaku, mungkin sampai besok Shaka belum ketemu.
Akhirnya aku teringat pada Yoga, mungkin sebaiknya aku meminta bantuannya, dia punya banyak orang suruhan yang bisa membantu mencari keberadaan Shaka.
Ku ambil ponselku dan menelpon Yoga, tentu saja tanpa sepengetahuan yang lain.
" Ga, tolong bantu aku cari Shaka. Shaka pergi dari rumah, dia mendengar percakapan kita tadi pagi, dia tahu kalau akulah ibunya, dan dari pagi sampai sekarang Shaka belum pulang ke rumah", ucapku langsung bicara ke inti, tanpa basa-basi.
" Aku akan mencarinya, kamu tenang saja, Shaka pasti akan segera ditemukan, akan ku hubungi lagi nanti". Hanya itu yang Yoga ucapkan, dia langsung menutup telepon dariku.
Ku harap Yoga langsung ikut mencari Shaka, dan segera menemukannya. Aku sangat takut jika Shaka kenapa-kenapa. Hujan seharian tak kunjung reda, jika payung di rumah masih utuh, berarti Shaka keluar tanpa membawa payung, jika dia basah dan tidak pulang sampai malam, aku khawatir dia akan sakit dan demam.