Healing

Healing
142. Kesungguhan



Shaka nampak kecewa dengan jawaban yang Yoga berikan. Karena dia sangat berharap kami memberi izin agar dia diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan camping itu.


" Fokus belajar saja, kamu sudah kelas 12 sebentar lagi harus menghadapi berbagai macam ujian, entah itu tertulis maupun praktek, untuk kelulusan mu, jadi nggak usah ikut-ikutan kegiatan nggak penting, yang bisa membuat kamu kecapekan dan nilai pelajaranmu anjlok".


Yoga berdiri dari tempat duduknya setelah memberi jawaban yang membuat sang anak sangat kecewa.


Dengan langkah panjang, Yoga sengaja meninggalkan kami berdua yang masih tertegun dan tidak percaya dengan keputusannya.


" Bu tolong kasih tahu ayah, bujuk ayah untuk mengijinkan Shaka ikut camping... Shaka ijin nginep itu mengikuti kegiatan sekolah, bukan main atau nginep di rumah teman dan keluyuran, masa sama ayah nggak boleh...", rengek Shaka meminta dukungan padaku.


" Iya, nanti ibu akan bujuk ayah biar kasih ijin kamu buat ikut camping. Tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu se-semangat itu untuk ikut kegiatan camping?, kasih tau ibu apa alasannya?", tanyaku dengan menatap Shaka penuh selidik.


Shaka nampak menunduk tak berani membalas tatapan mataku. Tapi setelah beberapa saat sama-sama diam, akhirnya Shaka mau memberi tahuku alasan yang sebenarnya. Dan aku sedikit terkejut dengan alasan yang dia sampaikan.


" Sebenarnya kemarin ada teman Shaka yang ngatain kalau Shaka penakut, karena selama ini Shaka nggak pernah ikutan nongkrong dan keluar malam bersama teman-teman yang lain. Shaka pengen buktiin sama anak itu kalau Shaka bukan penakut. Shaka cuma malas saja keluyuran malam-malam nggak jelas. Apalagi teman-teman Shaka sekarang nongkrong di kafe bisa nyampe jam 11 malam, kan males banget begadang buat hal-hal yang nggak jelas".


" Kalau camping ini kan di bumi perkemahan, ada pak guru sebagai pembimbingnya yang ikut tidur di tenda. Dan kebetulan teman yang kemarin ngatain Shaka penakut juga ikut camping Bu, jadi mau Shaka buktikan kalau Shaka berani. Boleh ya Bu...", suara Shaka dibuat memelas agar aku kasihan padanya.


" Anak jaman sekarang ada-ada saja, memang teman kamu yang mana yang berani ngatain kamu begitu?, masa seorang ketua OSIS, atlet renang, dikatain penakut. Ibu jadi penasaran sama yang berani ngatain putra ibu seperti itu?. Apa boleh ibu tahu siapa namanya?".


Shaka langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau memberi tahu padaku siapa teman yang berani mengatainya.


" Kasih tahu saja, lagian ibu cuma tanya namanya, nggak bakalan ngapa-ngapain anak itu. Nanti ibu bantu bujuk ayah biar kamu dikasih ijin".


Shaka nampak berpikir. " Namanya Adel Bu, dia teman sekelas Shaka, menjabat sebagai wakil ketua di ekskul pecinta alam, dia juga masuk jajaran kepengurusan di OSIS sebagai seksi bidang demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik dan lingkungan hidup. Makanya anaknya agak vokal".


" Ayahnya seorang pengacara, dan ibunya ASN yang bekerja di dinas sosial, makanya dia seperti itu, mungkin menuruni karakter orang tuanya".


Shaka menjelaskan sedikit tentang teman yang berani mengatai jika dirinya penakut.


" Adel itu cowok apa cewek?, kalau di dengar-dengar seperti nama cewek...", gumam ku, tapi sengaja agak keras, agar Shaka mendengar.


" Adel cewek Bu, tapi kami tidak pernah akur meski sama-sama sebagai perwakilan OSIS dari kelas kami. Lagian kepengurusan OSIS juga sebentar lagi diganti, Shaka sudah naik kelas 12, jadi akan di adakan pemilihan ketua OSIS yang baru dari siswa kelas 11".


Aku mengangguk paham.


" Ibu tepatin janji ibu lho... bakalan bujuk ayah biar kasih ijin Shaka ikut camping, kan Shaka udah kasih tahu alasan Shaka ikut. Tapi ibu jangan bilang ayah alasan sebenarnya Shaka ikut camping, bilang saja kalau Shaka pengen mengenal alam lebih dekat, please....", ucap Shaka sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Shaka mengangguk sambil masuk ke dalam rumah, namun baru beberapa langkah dia kembali menengok ke arahku. " Jangan lupa ya Bu, bujuk ayah...", bisik Shaka kemudian berlalu pergi ke kamarnya.


Aku pun pergi ke kamarku, saat aku masuk kamar kulihat Yoga sedang berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.


" Sudah selesai mandi Ga?", tanyaku saat aku masuk kamar dan melihat Yoga bertelanjang dada, hanya berbelit handuk di pinggangnya.


" Siapa yang mandi, aku dari tadi nungguin kamu buat mandi bareng, kata kamu tadi pas joging mau mandi bareng, di tungguin malah lama banget nggak masuk-masuk. Hampir saja aku susul kamu ke teras, ngapain sih lama banget di teras?", gerutu Yoga sambil menutup pintu kamar kami dan menguncinya.


Jika dia sudah mengunci pintu kamar seperti itu, ini pertanda akan cukup lama acara mandinya, soalnya sebelum mandi sudah bisa dipastikan Yoga akan membuatku dan membuat tubuhnya kembali berkeringat. Apalagi kalau bukan minta jatah bermain kuda-kudaan di kasur dan di bak mandi.


Dulu awal aku tinggal disini sebenarnya sudah sangat penasaran, kenapa bathtub di kamar mandi yang ada di kamar kami berukuran sangat besar, bisa dimasuki oleh dua orang sekaligus. Dan sekarang aku sudah tahu sendiri jawabannya. Karena ternyata Yoga suka sekali bermain kuda-kudaan di kamar mandi.


Kebetulan sekali, mendengar ucapan Yoga membuatku berfikir, jika aku bisa manfaatkan momen ini, untuk membujuk agar Yoga memberikan ijin pada Shaka untuk ikut camping.


" Ini juga gara-gara kamu tadi, nggak kasih ijin sama Shaka buat ikut camping. Kan jadi sedih itu anaknya, ya aku hibur biar nggak terus-terusan bersedih. Memangnya kenapa sih kamu ngelarang Shaka ikut acara camping itu?, bukannya bagus kalau Shaka ikut kegiatan sekolah di alam bebas?, biar dia makin banyak pengalaman, jadi makin dekat dengan alam juga".


" Kamu kaya nggak ngaca sama diri kamu sendiri, itu Shaka mau ikut kegiatan seperti itu pasti karena menuruni darahmu itu, yang suka berpetualang naik turun gunung".


Yoga terkekeh, " Biarin saja, aku sebenarnya nggak ngelarang Shaka, hanya mau tahu kesungguhan Shaka, sejauh apa Shaka menginginkan untuk ikut camping itu. Bilang saja padanya, aku akan kasih ijin, asal nilainya tidak turun, dan dia bisa mempertahankan posisinya sebagai juara kelas", ucap Yoga sambil menarik tubuhku agar mendekat ke arahnya. Yoga langsung memeluk tubuhku sambil mencium bibirku cepat.


" Dari tadi ngomong terus kapan eksekusinya?, kan kita mau mandi bareng", bisik Yoga tepat di daun telingaku, tentu saja bisikan Yoga mengalirkan desiran hangat,, hingga bulu kuduk ku merinding. Meski sudah berulang kali melakukannya, tetap saja aku merinding.


" Dan benar sekali, aku memang suka sekali naik turun gunung, apalagi gunung kembar milik kamu yang satu ini, aku ingin sekali bisa mendakinya sekarang", bisik Yoga sambil menelusupkan tangannya ke dalam kaos yang aku pakai, dan tujuannya adalah menggapai dua gunung kembar milikku yang sudah menjadi tempat favoritnya.


Akupun menanggalkan semua pakaian yang ku kenakan dari atas sampai bawah, untuk memudahkan Yoga mendaki gunung, lewati lembah.


Dan pada akhirnya kami berdua melakukan 'olahraga pagi' di atas kasur, yang membuatku dan yoga kembali berkucuran keringat.


Setelah sama-sama mencapai puncak, Yoga mengangkat tubuhku ala bridal style dan membawaku ke dalam kamar mandi. Ternyata Yoga sudah mengisi bak mandi dengan air hangat hingga penuh, dan saat kami berdua masuk kedalamnya, luapan air dari bak mandi membasahi lantai keramik dengan motif bebatuan.


" Bagaimana apa masih lelah?, aku ingin mendakinya sekali lagi", bisik Yoga.


Jujur aku masih sangat lelah setelah pergulatan tadi di atas kasur. Tapi bukan Yoga namanya kalau tidak memaksakan kehendaknya. Belum sempat aku menjawab, Yoga sudah kembali membuat seluruh tubuhku meremang, entah dimana dia belajar, tapi aku akui, Yoga begitu pandai membuatku tak bisa menolak pesonanya. Meski lelah, aku tetap merasakan kenikmatan berulang kali mengikuti permainannya.