
Dua hari setelah aku dan Bian mengurus persyaratan pernikahan, Bian mengajakku untuk pergi ke salah satu butik terkenal di kotaku. Bian mengajak untuk fitting baju pengantin kami. Karena waktu menuju hari H sudah semakin dekat.
Ku kira awalnya kami hanya akan menyewa baju saja, karena sewa baju di butik itu juga lumayan mahal, tapi ternyata Bian hendak membelikan sebuah kebaya pengantin untukku, bagiku itu sangat berlebihan, apalagi saat aku mengetahui berapa harganya. Itu sama saja dengan gaji aku bekerja selama setengah tahun.
Aku menarik Bian untuk keluar terlebih dahulu dari butik itu. Dan mengatakan kalau aku keberatan dengan rencananya ingin membelikan aku kebaya pengantin yang baru.
" Aku kira kita cuma mau menyewa saja baju pengantin nya untuk sehari, lagian buat apa beli kebaya seperti itu, hanya akan di pakai sekali saja seumur hidup kita, dengan uang sebanyak itu, akan jadi mubadzir, kurang bermanfaat".
" Bukannya aku menolak pemberian kamu, aku tahu kamu yang akan bayar semuanya, tapi masih banyak kebutuhan lain yang harus kita pikirkan setelah menikah".
Bian nampak kurang sependapat denganku kali ini, biasanya dia langsung membatalkan jika aku tidak sependapat dengannya, namun kali ini Bian nampak masih tetap ingin membelikan kebaya berwarna putih itu untukku.
Saat kami masih berdiskusi dengan cukup alot di depan butik, kulihat mobil Alphard warna putih memasuki pelataran butik, mirip sekali dengan mobil Yoga. Dan saat pemilik mobil itu keluar ternyata memang benar, itu Yoga dan Utari.
Mereka berdua juga datang ke butik ini, tentu saja... kan mereka juga akan segera melangsungkan pernikahan. Orang-orang kaya seperti mereka sudah sangat wajar datang dan memesan baju pengantin di butik terkenal seperti disini.
" Loh, Raya, Bian, kalian juga disini?, wah seneng banget bisa ketemu sama kalian secara tidak sengaja seperti ini. Kalian juga lagi fitting baju pengantin ya?, aku jadi pengen lihat baju pengantin kamu seperti apa Ra... ayo kita masuk, nanti kita tukeran saling lihat baju pengantin kita", ucap Utari sambil mendekat ke arahku dan Bian.
Aku tidak menyangka akan bertemu mereka berdua disini, sepertinya aku salah pilih waktu, entah mimpi apa aku semalam sampai harus bertemu dengan dua orang yang paling tidak ingin kutemui itu.
" Ayo Ra, kita masuk, akan aku tunjukkan baju pengantin yang sudah aku pesan dua bulan yang lalu di butik ini sama kamu, tadi dapat pesan dari pemilik butik, katanya bajunya sudah jadi. Aku memesan 3 baju untuk ganti, kamu pesan berapa baju?", tanya Utari sambil menarik tangan ku agar masuk mengikutinya.
" Cuma pesan 1 Ri, itu saja Raya lagi nggak setuju, katanya hambur-hamburin duit, mintanya nyewa saja sehari. Padahal kan bagiku pernikahan ini sangat penting, karena cuma sekali seumur hidup, jadi harus pakai pakaian yang spesial, dan aku juga nggak masalah membelikannya", Bian nampak curhat dan mencari dukungan pada Utari.
" Bukan begitu Bi... maksudku baju itu kan cuma dipakai sekali saja, jadi kalau beli nanti nggak di pakai lagi dan cuma jadi penunggu lemari, kan sayang banget", aku masih tetap kekeh dengan pendirian ku.
" Tapi bener kata Bian Ra, nikah itu cuma sekali seumur hidup, jadi harus serba spesial semuanya", Utari nampak membela Bian.
Kami sampai di dalam dan pemilik butik langsung menyambut Utari dengan sangat ramah.
" Nona Utari, selamat datang, padahal baru saya kabari setengah jam yang lalu, ternyata sudah sampai disini, mari ke sebelah sini, baju pesanan Anda sudah kami simpan di tempat yang paling aman. Mari kalau mau mencobanya sekalian sama Tuan Steve, setelan jasnya juga sudah jadi. Pasti akan terlihat sangat bagus jika yang memakai Tuan Steve yang bentuk tubuhnya sangat proporsional", ucap pemilik butik.
Manis sekali kata-kata pemilik butik, pintar sekali merayu pelanggan, terus saja memuji-muji pelanggannya, padahal hanya hasutan belaka, mulut manis seorang pedagang.
" Ayo Ra, kamu ikut aku masuk, aku mau coba baju pengantinku, nanti kamu yang kasih penilaian ya Ra, bagus apa enggak baju yang aku pakai".
Aku hanya mengangguk mengikuti Utari masuk kedalam kamar untuk ganti. Bian masih berada di depan kamar ganti bersama Yoga. Mereka berdua duduk di sofa panjang berwarna hitam yang menghadap ke kamar ganti.
Utari mulai memakai baju pertama, kebaya berwarna coklat susu, sangat pas di badannya, dengan bentuk kerah yang agak turun membuat belahan dada bagian atasnya terlihat dan sedikit menyembul keluar.
Yoga pasti akan sangat menikmati pemandangan indah ini, dia kan pria mesum yang mudah tergoda. Apalagi jika diberi pemandangan seindah ini.
" Gimana Ra... bagus nggak?", Utari berputar ke kanan dan ke kiri, seperti anak kecil yang mencoba baju barunya.
" Bagus, dan sangat pas di tubuh kamu, kamu terlihat sangat cantik", ucapku memuji. Memang Utari cantik memakai baju apa saja.
" Apa mau berjalan keluar, biar Tuan Steve melihatnya Nona?, kan beliau calon suami Non Utari, biarkan dia yang akan menilai", tanya pemilik butik.
Utari langsung mengangguk. Dan berjalan keluar. Ku bukakan pintu kamar dan Utari berjalan dengan cepat mendekat ke arah Yoga dan Bian.
" Gimana Steve ?, bagus nggak?", tanya Utari sambil berdiri di samping Yoga , meletakkan tangannya di pinggang sambil lenggok kanan dan lenggok kiri.
Ku lihat Yoga melihat kearah Utari sekilas, aku kira dia akan menatap Utari lama, terpesona dan matanya akan tertuju pada bagian dada Utari yang begitu indah. Namun ternyata dugaan ku salah, Yoga hanya melihat sekilas ke arah Utari.
" Ya, sudah bagus", hanya itu yang dikatakan Yoga.
Jadi Yoga sedang dalam mode pria dingin dan cuek seperti biasanya saat bersama Utari, dasar pria berkepribadian ganda.
" Nggak, pasti muat dan pas, kan jahitnya pakai ukuran tubuhku, dan berat badanku masih sama, tidak ada yang berubah", ujar Yoga dengan percaya dirinya.
Bian kembali menatap kebaya yang dipakai Utari, " Kalau dilihat, mirip sama kebaya yang tadi hendak di pesan untuk Raya, cuman beda di bagian kerah bajunya, lebih tinggi punya Raya, dan juga beda warna, punya Raya warna putih, tapi memang modelnya mirip sih", gumam Bian melihat ke arah Utari sebentar.
" Oh ya?, aku mau lihat dong, Raya pakai kebayanya, nanti aku ganti baju dulu, habis ini gantian aku yang pengen lihat Raya pakai baju pengantin miliknya", ucap Utari sambil berjalan masuk lagi ke kamar dan berganti pakaian biasa.
" Tapi bukannya kamu mau coba dua baju lainnya, kamu coba semua punya kamu saja dulu Ri, baru nanti pindah lihat kebaya yang akan ku pakai", ucapku.
Namun Utari berubah pikiran, dia lebih tertarik melihat kebaya yang akan kupakai, ketimbang mencoba baju pesanannya yang lain. Sehingga Utari hanya mencoba satu bajunya saja.
Pemilik butik meninggalkan kami karena ada pelanggan lain yang datang.
Aku tetap di luar bersama Bian dan Yoga.
" Bi, aku masih belum setuju kalau kamu mau beli kebaya itu, aku mau kita sewa saja, ya..., atau kalau kamu masih nggak setuju, kita pindah tempat dan nyari kebaya yang biasa di pasar, baru aku setuju buat beli".
Kenapa di pasar? karena kemarin saat aku tanya-tanya harga kebaya di pasar, satu setel kebaya dan rok batik, hanya 300 ribu saja. Sangat jauh dari harga kebaya di butik ini yang mencapai belasan juta.
Sewa sehari saja di butik ini hampir satu juta untuk satu kebaya, rasanya sangat sayang untuk buang-buang uang sebanyak itu.
" Aku sebenarnya juga sependapat dengan Raya, seandainya saja Utari seperti Raya, aku pasti akan menuruti semua kemauannya, dia sangat pengertian dan efisien", ujar Yoga, tiba-tiba ikut berpendapat.
What?, Yoga mendukung ku, dia justru setuju dengan pendapat ku. Dan Bian terlihat kurang suka dengan pembelaan yang Yoga berikan padaku.
" Jadi semua baju Utari itu siapa yang bayar?, apa dia bayar semua bajunya sendiri?", tanya Bian sedikit sinis.
Yoga menggeleng, " Ya enggak lah... Aku yang bayar, memangnya kamu pikir aku laki-laki macam apa yang membiarkan calon istri bayar sendiri baju pengantinnya".
Kami berhenti berdebat saat Utari keluar dari kamar ganti.
" Maaf.. lama ya lepasnya, habis kancing kebayanya banyak banget, harus dilepas satu-satu, jadi lama", ujar Utari. " Sekarang kita menuju kebaya yang mau kamu pakai yuk Ra", ajak Utari berantusias.
Kami berempat pindah ruangan, di mana ada ruangan lain yang berisi deretan kebaya di patung manekin yang ada di dalam lemari kaca.
" Yang ini yang tadi aku tertarik, tapi belum sepakat mau dibeli, karena aku rencananya cuma mau nyewa saja", ucapku jujur.
" Kenapa cuma nyewa?, kan Bian banyak duit Ra... , kamu perhitungan banget sih sama calon istri, jangan gitu dong Bi...", protes Utari.
" Bian maunya beli, aku yang menolak dan minta nyewa saja. Cuma dipakai sekali, nanti malah menuh-menuhin isi lemari", jawabku beralasan.
Utari hanya nyengir kuda mendengar jawabanku. " Oh begitu, kalau gitu ayo dong di coba bajunya Ra", ujar Utari.
" Gimana Bi, aku mau nyoba kalau keputusannya kita sewa. Kalau kamu kekeh mau beliin, aku mau ajak kamu ketempat lain", ucapku sedikit keras kepala.
" Ya sudah kamu coba saja, Utari pengen lihat kamu pakai kebaya, dan aku juga", gumam Bian.
Aku pun setuju mencoba kebaya putih yang tadi, salah satu pegawai butik mengeluarkan baju itu dari lemari kaca. Dan membawa kebaya itu masuk. 10 menit aku mengganti bajuku dengan kebaya, dan keluar menunjukkan pada Bian dan Utari. Namun ternyata bukan hanya mereka berdua yang tertegun. Yoga juga menatap ke arah ku tanpa berkedip.
" Kan, pas banget dipakai sama kamu Ra, kamu sangat cantik, padahal belum pakai make up", Bian langsung memujiku berulang kali.
" Iya, kamu cantik banget pakai kebaya ini, sudah seperti pengantin beneran", ujar Utari.
Aku tahu Yoga masih menatap ke arahku tanpa berkedip, tapi dia tidak mengeluarkan komentar apa-apa. Mungkin dia berkomentar di dalam hatinya.
" Ya sudah, aku ganti baju lagi. Aku mau pakai ini, kalau kita sewa saja Bi, ingat itu", ucapku sebelum masuk kamar dan berganti pakaian biasa.