
Raya pov
Semenjak Shaka kuliah dan ngekos di Jogja suasana rumah menjadi sangat sepi. Apalagi di minggu-minggu pertama, sungguh terasa perbedaannya. Canda gurau yang biasanya terdengar antara Shaka dan Syifa kini tak lagi terdengar.
Akhir pekan pertama Syifa tiada hentinya meminta untuk pergi ke Jogja, ke kos-kosan kakaknya, Shaka, aku dan Yoga pun menuruti keinginan Syifa, dan datang ke kos-kosan Shaka dengan diantarkan oleh Juna.
Kos-kosan Shaka tidak terlalu kecil, tapi juga tidak terlalu besar, standar kalau menurutku, cukup untuk tinggal seorang bujangan yang hanya tidur sendirian, perabot yang ada di kamar juga sangat sedikit, sesuai kebutuhan sehari-hari Shaka.
Tapi yang ku lihat suasana di lingkungan kos-kosan Shaka sangat sepi, mungkin saja karena akhir pekan sehingga tetangga kamar Shaka sedang mudik pulang ke rumahnya, atau justru sedang jalan-jalan keluar, karena saat disana aku tidak bertemu dengan penghuni kos yang lain. Tapi saat aku tanyakan pada Shaka dia menjawab jika suasana seperti itu sudah biasa, dan sepertinya Shaka tidak ambil pusing dengan lingkungan yang sepi seperti itu.
Karena itulah aku tidak bertanya lagi, kupikir Shaka betah tinggal disana. Itulah kesan awal ku. Karena setelah beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar dari Shaka jika dia akhirnya pindah kos-kosan. Aku menyerahkan semua keputusan pada Shaka, karena dia yang menjalaninya. Jadi mau pindah kos pun tidak masalah.
Semenjak kepergian Shaka, hari-hari aku habiskan untuk mengurusi Syifa. Itupun setiap harinya berlalu penuh dengan drama, dari yang Syifa minta nyusul Shaka tiap weekend, atau minta aku menelepon Shaka dan menyuruhnya untuk pulang. Kadang aku turuti kemauan Syifa, tapi lebih sering menolaknya. Karena pekerjaan Yoga yang sangat banyak dan tidak bisa ditinggal semaunya.
Hingga pada puncaknya suatu hari saat aku dan Syifa pulang dari tempat bimbingan belajar, Syifa meminta padaku adik bayi, karena melihat salah satu wali murid lainnya yang menunggu anaknya belajar sambil membawa anak keduanya yang baru berusia 7 bulan.
" Bu, kan Syifa kesepian sendirian dirumah, coba kalo Syifa punya adik bayi kaya Reihan, kan Syifa jadi punya temen main di rumah", rengek Syifa.
Sepanjang jalan pulang hingga mobil sampai di rumah, Syifa terus saja merengek minta adik bayi yang lucu. Padahal aku sudah berniat untuk tidak dulu hamil lagi, sebelum Syifa berusia 6 tahun, karena aku sengaja memasang KB, agar aku bisa mencurahkan perhatian ku sepenuhnya untuk Syifa. Namun lucunya justru Syifa yang sekarang minta adik bayi.
Yoga yang melihat sikap Syifa yang seolah protes karena merasa kesepian memang pernah memintaku melepaskan KB agar aku hamil lagi, tapi aku tolak.
" Kita turuti saja kemauan Syifa, siapa tahu setelah punya adik bayi dia jadi nurut lagi, pemikirannya akan jadi lebih dewasa sayang...".
" Tidak bisa seperti itu sayang..., karena punya bayi akan hamil dulu selama 9 bulan, dan perhatianku pasti akan terfokus pada si bayi, dan Syifa akan terabaikan. Bukannya menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah dan nambah repot", tolak ku, saat Yoga berusaha membujukku menuruti keinginan Syifa.
Setelah mendengarkan penjelasanku Yoga tidak lagi meminta aku menuruti kemauan Syifa, mungkin dia jadi terbuka pikirannya, hamil dan melahirkan itu sesuatu yang berdampingan, dan butuh perjuangan untuk keduanya.
Namun di akhir pekan bulan ke 4 setelah kepergian Shaka, aku dan Yoga terpaksa harus menuruti satu keinginan Syifa yang dulu sempat kami tolak. Yakni membawa Puput, ART yang bekerja di Fila milik almarhum Bu Herni untuk ikut dan tinggal bersama di rumah kami .
Saat itu aku, Yoga dan Syifa pergi ke puncak untuk menghadiri undangan dari Pak Abas yang hendak menikahkan putrinya. Karena itulah kami menginap di puncak satu malam.
Di fila Syifa benar-benar terlihat bahagia karena ada Puput yang menjadi teman mainnya selama seharian. Syifa tidak lagi merengek dan minta ini itu. Selama 4 bulan terakhir baru hari itu tidak ada drama yang terjadi. Namun drama kembali terjadi saat kami hendak pulang ke rumah. Syifa tidak mau berpisah dari Puput, dan kali ini tidak bisa di alihkan seperti dulu. Syifa bersikukuh untuk mengajak Puput pulang.
Setelah ku pikir-pikir akhirnya aku dan Yoga menyetujui permintaan Syifa, mungkin dengan membawa Puput ke rumah, Syifa tidak akan lagi merasa kesepian, tidak akan lagi meminta adik bayi, dan tidak akan lagi terjadi drama setiap harinya.
Dan benar saja, semenjak Puput tinggal di rumah kami, Syifa terlihat sangat bahagia. Tidak ada lagi drama-drama yang terjadi setiap harinya, Syifa seolah menemukan pengganti Shaka di rumah. Tidak lagi meminta padaku untuk menelepon Shaka dan melakukan video call, tidak lagi minta pergi ke Jogja tiap akhir pekan. Aku sangat tertolong dengan keberadaan Puput.
Selain itu aku jadi bisa pergi dan melakukan aktifitas diluar tanpa mengajak Syifa, seperti pergi menemani Yoga menghadiri pertemuan sesama pengusaha, kadang diundang acara penting di balai kota, dan acara-acara resmi lainnya yang mengharuskan Yoga datang bersamaku.
Puput benar-benar bisa diandalkan untuk di titipi Syifa, dia seolah tau apa yang Syifa mau, dia juga sangat cepat sekali berbaur dengan ART yang lain yang bekerja di rumahku. Bahkan dengan adikku Juna, dia juga cepat sekali akrab, bisa ku lihat mereka sekarang lumayan akrab, apalagi setelah mereka berdua pernah ku suruh menjemput Syifa di tempat bimbingan belajar, karena waktu itu aku harus pergi ke acara penting bersama Yoga. Mereka berdua jadi semakin dekat dan akrab.
Aku tahu itu karena melihat interaksi antara mereka berdua yang terlihat santai dan akrab.
Puput sangat mudah beradaptasi dan bergaul dengan semua tingkatan usia. Namun anehnya saat Shaka pulang ke rumah di liburan semester, dia nampak tidak suka dengan keberadaan Puput di rumah kami, apalagi dengan sikap Puput yang menurut Shaka sok akrab dengan penghuni rumah lainnya. Padahal menurutku Puput tidak pernah berlebihan dalam bersikap.
Hanya Shaka seorang yang sepertinya tidak suka dengan keberadaan Puput di rumah kami.
Mungkin saja Shaka merasa cemburu pada Puput, karena Syifa tidak lagi lengket padanya, dunia Syifa seperti sudah beralih bersama dengan Puput.
Waktu itu Puput keluar dari pintu belakang yang ada di dapur, dan Shaka memanggil namanya dengan sedikit kasar. Mungkin lebih tepatnya bukan percakapan, tapi lebih seperti Shaka yang sedang mengancam Puput.
Aku mendengar apa yang Shaka katakan, meski tidak jelas, tapi aku masih bisa menangkap apa yang dikatakan pada Puput.
" Kenapa kamu tetap tinggal disini?, bukankah waktu itu aku sudah bilang tidak setuju kamu tinggal di rumah ini?. Jangan macam-macam pada keluargaku, jika sampai terjadi apa-apa dengan orang-orang yang aku sayangi, jangan salahkan aku jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada kamu seperti yang pernah aku katakan padamu dulu....!".
Puput nampak menunduk, tapi setelah Shaka selesai bicara panjang lebar, Puput mendongak dan menatap Shaka dengan tatapan yang belum pernah aku lihat selama ini.
" Tuan Muda tenang saja, saya tidak akan menyakiti Nyonya Raya ataupun anggota keluarga yang lain. Kalian orang-orang baik, aku akan berusaha membuat keluarga Tuan selalu bahagia, dan jika terjadi sesuatu yang seperti Tuan khawatirkan, saya akan bertanggung jawab penuh dengan semua yang terjadi, jika memang hal itu terjadi karena kesalahan yang saya buat".
Itulah jawaban yang Puput berikan, tapi seolah mengunci mulut Shaka, membuat Shaka tidak lagi berkata-kata, dan Puput pun pergi meninggalkan Shaka yang masih termangu di samping dapur.
Aku yang waktu itu pergi ke dapur hendak mengambil air minum untuk kubawa ke kamar harus buru-buru masuk dan berpura-pura tidak mendengarkan apa-apa, aku sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi, tapi aku tidak mau ada orang lain yang tahu, dan aku ingin menyelidikinya sendiri secara diam-diam.
Hingga dalam kurun waktu satu tahun Puput tinggal di rumah kami, aku baru bisa mendapatkan jawabannya.
Semuanya berhubungan dengan masa lalu keluarga Yoga, Puput adalah putri dari perempuan yang dihamili oleh Om Kenan adik dari almarhum Bu Herni, ibunya Yoga.
Entah dari mana Shaka bisa mengetahui siapa Puput sebenarnya, padahal Yoga bahkan belum tahu hal itu.
Atau mungkin karena mereka berdua senasib, sama-sama terlahir dari janin yang hendak di gugurkan, dan sama-sama hasil dari hubungan terlarang. Aku sebenarnya sangat penasaran dari mana Shaka mengetahui informasi tentang Puput dalam waktu yang singkat.
Aku mencoba menanyakan kebenaran yang sesungguhnya pada Puput, bertanya secara langsung bagiku adalah jalan yang paling tepat agar semua rasa penasaran dan kemungkinan-kemungkinan yang muncul bisa terjawab secepatnya.
Puput menjawab semua pertanyaan dengan kalimat yang tertata dan ekspresi yang sangat tenang, seolah dia sudah mempersiapkan diri untuk menjawab jika sewaktu-waktu aku menanyakan semua hal tentangnya seperti saat ini.
" Seandainya saja ibuku dulu sedikit lebih berani seperti Nyonya, mungkin sekarang aku menjadi anak yang sangat beruntung seperti Tuan Muda Shaka, hanya saja tekad ibuku tidak sebesar Nyonya Raya, ibu memilih mengakhiri hidupnya setelah melahirkan aku, karena tidak ada keluarga yang memberikan dukungan ibuku, ibuku sudah bersalah sejak awal mengenal ayah, dan hanya kesalahan dan kesalahan saja yang terus di lakukannya, sehingga kakek dan nenek sulit untuk memaafkan ibu".
" Sejak kecil aku berusaha mencari tahu siapa sebenarnya ayah kandungku, setelah aku mengetahui kisah masa lalu ibuku dari bibi yang merawatku sejak aku bayi, aku pun hanya hidup dengan satu tujuan. Untuk bisa bertemu dengan ayah kandungku entah bagaimana caranya".
" Tapi nyatanya sampai sekarang aku belum berhasil bertemu dengannya, sudah hampir 19 tahun usiaku, tapi aku belum berhasil mencapai tujuan hidupku".
Aku prihatin mendengar kisah singkat tentang kehidupan Puput. Karena ternyata ada orang lain yang merasa hidupnya lebih menderita dari hidupku di masa lalu. Sampai dia lebih memilih mengakhiri hidupnya, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi betapa kejamnya dunia ini mempermainkan nasibnya.
Mungkin saja ibunya Puput memilih mengakhiri hidupnya karena merasa sudah gagal menjadi seorang putri yang baik, karena dia sudah mencoreng nama baik keluarganya. Apalagi Puput mengatakan jika tidak ada dukungan dari nenek dan kakeknya.
Seorang gadis muda yang hamil tanpa suami dan tanpa adanya pernikahan, sedangkan kedua orang tuanya juga tidak bisa menerima keadaannya. Pasti ibunya Puput merasa sendiri, dan tidak ada gunanya lagi dia hidup. Hanya berusaha bertahan sampai Puput lahir, dia sendiri memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Sebenarnya sama seperti yang aku rasakan dulu saat mengetahui jika aku hamil, sempat terlintas dari pada aku hanya menggugurkan janin yang ada di dalam perutku, lebih baik aku sekalian mengakhiri hidupku juga. Namun saat itu papa dan mama memberikan maaf dan kesempatan padaku untuk menebus dosa besar yang telah aku perbuat. Mereka memberiku dukungan moral dan kepercayaan yang membuatku seolah mendapatkan kekuatan baru untuk bertahan hidup dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku.
Aku harus merubah kesalahanku di masa lalu menjadi sebuah keberhasilan, tentunya dengan terus hidup dan merawat serta mendidik putraku, agar Shaka menjadi orang yang berguna untuk sesama di masa mendatang.
Memang rasanya sangat berat perjalanan hidup yang harus di lalui setelah mendapatkan cap sebagai wanita kotor, wanita murahan, gadis yang tidak bisa mempertahankan kesucian dirinya. Tapi bagiku akan menambah lebih banyak dosa lagi jika gadis murahan yang kotor itu mengakhiri hidupnya, tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Semua itu memang pilihan hidup masing-masing orang. Dan hanya orang itu sendiri yang bisa merubah nasib dirinya sendiri.
Sekarang aku sudah memperoleh kehidupanku yang lebih baik, semua kesedihan dan kesakitan yang aku rasakan akan aku jadikan pelajaran dalam hidup, dan ku simpan sebagai kenangan masa lalu yang tidak akan pernah bisa ku lupakan.