
Jum'at siang, Bian datang ke rumahku dan mengajakku untuk pergi ke mall. Kami masuk ke sebuah toko perlengkapan untuk pendakian, Bian membelikan aku sepatu, baju, jaket, dan juga tas ransel besar. Semuanya pilihan Bian, dan Bian juga yang membayar.
Awalnya aku merasa tidak enak tapi mau bagaimana lagi Aku pun tidak mampu untuk membayarnya sendiri, bisa habis uang tabunganku jika aku membayar sendiri semua belanjaan itu. Toh ini semua juga kemauan Bian agar aku ikut mendaki dengannya, aku cuma mengikuti keinginannya saja.
Kami berdua mampir makan siang di salah satu tempat makan di mall itu juga, aneh bukan, pemilik restoran justru mengajakku makan di restoran lain. Tapi memang saat itu sudah siang dan Bian sudah sangat lapar, jadi aku ngikut saja makan ditempat yang direkomendasikan oleh nya.
Saat berada di restoran, sambil menunggu makanan disajikan, Bian terlebih dahulu ke toilet umum, aku sengaja melihat struk belanjaan yang tadi di masukkan ke dalam kantong belanja. Dan betapa kagetnya aku, bahkan sangat sangat kaget saat membaca struk pembayaran barang belanjaan ku tadi. Total semuanya hampir 4 juta. Baru pernah aku berbelanja sebanyak ini seumur hidupku.
Ada rasa menyesal karena menghabiskan uang sebanyak itu dalam sekejap, hanya untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu aku butuhkan. Tapi mau bagaimana lagi, sudah dibeli, dan tidak boleh di kembalikan. Uang 4 juta itu seperti gajiku 2 bulan bekerja di restoran.
Aku langsung memasukkan kembali nota belanjaan dan meletakkan kantong belanjaan di tempat semula saat melihat Bian selesai dari kamar mandi.
Saat itu juga pramusaji mengantarkan pesanan makan siang kami. Bian langsung duduk dan mengajakku makan, terlihat dia sudah sangat lapar, karena makan dengan lahapnya.
Selesai makan siang, aku dan Bian tidak langsung keluar dari restoran itu, Bian memesan es teller sebagai hidangan penutup. Sesuai dengan cuaca siang ini yang panas, sajian penutup es teller adalah menu yang paling pas di siang hari yang panas ini.
" Besok kan kita berangkat pagi ke bandaranya, jadi kalau bisa berkemas- kemasnya nanti malam ya Ra..., aku jemput kamu jam 7 pagi. Kita naik kereta api ke bandara, dan ketemuan sama yang lainnya di bandara".
Aku mengangguk tanda mengerti, bersama Bian aku akan merasakan banyak pengalaman baru, termasuk pertama kali naik pesawat. Karena sebelumnya aku belum pernah naik pesawat. Jangankan naik pesawat, ke bandara saja baru kali ini akan aku lakukan. Kalau ke stasiun aku pernah dulu saat masih kecil, itu juga sudah sangat lama. Tapi naik kereta api juga ini kali pertama.
Semoga saja besok aku tidak kelihatan kampungan banget, karena jujur aku belum pernah pergi ke tempat jauh. Besok adalah pengalaman pertamaku bepergian jauh.
" Bi...kalau boleh tahu, apa saja yang perlu aku bawa selain barang-barang yang baru kita beli ini untuk ikut pendakian besok?, aku tidak tahu apa saja yang harus disiapkan", bukankah lebih baik bertanya terlebih dahulu seperti ini, dari pada besok ada yang tidak aku bawa karena tidak tahu harus bawa apa saja
Bian memberi tahu dari A sampai Z, apa saja yang harus aku bawa besok, dari barang-barang besar, hingga yang kecil. Pantas saja bawa tas ranselnya besar banget, ternyata barang yang harus dibawa juga banyak.
Selesai menikmati es teller yang menyegarkan, aku dan Bian keluar dari restoran itu, aku bertemu dengan Utari, dia juga sengaja datang ke toko yang sama dengan yang aku datangi tadi bersama Bian, untuk membeli perlengkapan pendakian sama sepertiku.
Namun seperti sebelumnya, Utari tidak pergi bersama Yoga, melainkan dengan salah satu teman perempuannya. Mungkin teman kerja di rumah sakit, karena mereka masih memakai sepatu pantofel, seperti dari tempat kerja.
" Apa kalian kesini juga habis belanja buat pendakian besok?, wah... tahu begitu kemarin kita janjian, biar bisa nyari bareng-bareng", Utari nampak menatap beberapa tas belanjaan yang Bian bawa.
" Iya, soalnya Raya baru pertama kali mau ikut naik gunung, jadi banyak yang harus disiapkan. Ini semua belanjaan Raya, bukan punyaku, kalau aku sudah punya semuanya buat acara besok".
" Oh iya Bi... Steve bilang, kayaknya besok ngumpul di rumah kamu, nggak jadi ketemu di bandara, karena kita ke bandaranya berangkat bareng naik mobil. Nggak jadi naik kereta. Katanya biar bisa menikmati perjalanan kalau berangkat bareng-bareng".
Bian nampak mengernyitkan keningnya, " Kok aku baru tahu, atau Steve sudah mengabari ku, tapi aku tidak tahu?", Bian mengambil ponselnya. " Oh iya, dia sudah ngabari lewat pesan di grup. Aku yang dari tadi lupa nggak ngecek HP", ucap Bian sambil nyengir.
" Kalau kumpul di rumahku, berarti aku harus jemput Raya lebih pagi lagi, nggak mungkin dong Raya berangkat sendiri dari rumahnya", ucap Bian.
" Nggak papa sih aku dari rumah sendiri, biar papa yang anter aku kerumah kamu, biar kamu nya nggak bolak-balik, nanti malah capek duluan sebelum berangkat", ujarku sambil tersenyum.
" Wah... parah nih Raya... belum tahu kalau cowok yang suka naik gunung itu fisiknya nggak di ragukan lagi, jangankan cuma anter jemput rumah kamu yang dekat, gunung yang tinggi saja di daki".
Utari tiba-tiba mendekat dan berbisik di telingaku. " Makanya aku mau kasih tahu sama kamu Ra.... sebelum menikah sama cowok yang suka naik gunung, kita sebagai cewek harus mempersiapkan stamina yang kuat, biar bisa mengimbangi kekuatan mereka", bisik Utari, dekat telingaku, namun aku justru tertawa mendengar ucapannya yang begitu fulgar.
" Kalau begitu kita balik duluan ya Ri, sudah lama kami berdua di mall, capek dan pengen istirahat", ujarku, karena aku bukan tipe perempuan yang hobi jalan-jalan dan belanja. Karena itulah aku bilang capek, meski hanya memasuki satu toko dan satu restoran. Atau mungkin aku merasa capek karena tadi melihat struk belanjaan, yang jumlahnya fantastis.
Membuatku mendadak lemas, dan merasa capek. Aku jadi berfikir, apa kabarnya mereka para cewek-cewek yang hobi jalan-jalan di mall dan hampir semua toko dikunjungi, dan berbelanja berbagai macam barang, pasti pulang dari mall capek banget.
Aku dan Bian keluar dari mall, kami berpisah dengan Utari yang datang bersama kawannya. Tapi bukannya pulang ke rumahku, justru Bian mengajakku pulang ke rumahnya sepulang dari mall.
" Istirahat di rumahku saja ya Ra... yang adem dan santai, di rumah kamu ada mama kamu, nggak enak kalau mau manja-manjaan sama kamu, hehehehe", Bian terkekeh.
" Terserah kamu saja, mau bawa aku kemana, kalau sekarang balik ke rumah kamu, mending ini belanjaan di taruh di rumah kamu saja sekalian, biar nggak bolak-balik aku bawanya. Besok aku tinggal bawa yang kurangannya saja ke rumah kamu", ujarku.
Bian mengangguk setuju," ya sudah kalau menurutmu seperti itu lebih efisien. Jadi besok kamu tinggal bawa perlengkapan lainnya ke rumahku".
Kami sampai di rumah Bian, dan menurunkan barang belanjaan ku yang cukup banyak. Setelah selesai meletakkan di meja ruang tengah, aku duduk selonjoran di sofa panjang dan menyandarkan kepalaku di sandaran sofa.
Bian pun tiduran di sofa yang sama, dan menggunakan kakiku sebagai bantalan kepalanya.
" Sebulan lagi baru boleh menjelajah dan mendaki gunung kembar milikmu Ra....".
Ucapan Bian membuatku yang sedang mengantuk dan hampir memejamkan mata justru langsung hilang rasa kantuknya, berganti menjadi tegang dan salah tingkah.
Jantungku langsung berdetak begitu cepat saat Bian terus menatap wajahku dari posisi dirinya yang tiduran di pahaku. Perlahan Bian menarik tengkuk leherku dan mencium bibirku dengan lembut.
Pelan tetapi sangat menikmati, dan semakin lama semakin dalam dan Bian mulai menelusupkan lidahnya. Aku sampai teringat dengan ciuman pertamaku dulu, mirip seperti saat ini, pelan namun dalam dan menuntut.
Ya Tuhan... kenapa justru aku mengingat ciumanku dengan laki-laki lain saat aku sedang melakukan hal yang sama bersama calon suamiku. Otakku pasti sudah tidak beres.
Ku coba kembali fokus dengan apa yang sedang aku lakukan dengan Bian, mencoba menikmati sensasi yang luar biasa dibarengi dengan glenyeran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Mungkinkah Bian merasakan hal yang sama?.
Aku menarik diri dan mencoba mengambil nafas sebanyak-banyaknya, karena nafasku hampir habis karena Bian tidak melepas-lepas pagutannya.
" Bolehkah aku sekedar menengok gunung kembar yang sebulan lagi akan menjadi hak milikku?, sukur-sukur boleh mendakinya juga", tanya Bian sambil nyengir kuda.
Aku bisa melihat Bian yang sudah terbakar keinginan untuk melanjutkan aksinya. Karena aku juga merasakan hal yang sama, tubuhku terasa bergetar hanya dengan ciuman tadi.
" Belum boleh, aku rasa kamu tidak akan bisa berhenti jika saat ini aku memberimu ijin menengoknya, apalagi sampai mendakinya. Aku khawatir tidak bisa menyetop penjelajahan mu. Dan kita akan melakukan kesalahan".
" Tahanlah sebentar lagi, hanya tinggal satu bulan, kita pasti bisa. Boleh peluk dan cium, tapi tidak untuk yang lain. Kita hanya berdua saja di rumah ini, aku khawatir nomer tiganya datang dan membuat kita lupa diri, maaf ya Bi...".
Aku bisa melihat Bian kecewa, tapi kemudian Bian merubah posisinya, bangkit dan duduk di sampingku, kami saling berhadapan, dan dia kembali menciumiku, hanya kini lebih kasar dari sebelumnya. Mungkin dia agak marah karena tak ku turuti keinginannya.
Bian pun memelukku dengan sangat erat, " Katanya peluk dan cium boleh, ya sudah aku lakukan yang diperbolehkan saja", ucap Bian di sela pagutannya terhadapku.
Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah protesnya yang justru memelukku dengan sangat erat sambil terus menciumiku.