Healing

Healing
83. Tak Ingin Usai



Aku dan Utari memulai makan tanpa menunggu Bian, entah sedang apa Bian di kamar mandi, lama banget, mungkin perutnya sembelit.


Sampai aku dan Utari selesai makan, Bian masih saja belum keluar dari kamar mandi. Aku jadi penasaran apa yang sedang di lakukannya.


" Kenapa Bian belum keluar juga ya?, sori aku mau ke kamar mandi juga, takutnya Bian butuh bantuan", ucapku, sambil berdiri dan menuju kamar mandi yang tadi Bian masuki.


Memang benar ada suara air mengalir dari kran di dalam, ku gedor pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban, " Bi, ini aku Raya, apa kamu masih lama?, aku juga mau masuk, kebelet!", seruku.


Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, aku mencoba membuka pintu dengan menarik engsel pintu kamar mandi, saat pintu terbuka tidak ada Bian di dalamnya. Air kran mengalir hingga meluber kemana-mana. Aku masuk dan mematikan kran terlebih dahulu, baru berjalan keluar dengan cepat menghampiri Utari dan Yoga.


" Bian nggak ada di dalam kamar mandi, tadi dia masuk kamar mandi yang di samping ruang tengah?, tapi pas aku buka pintunya, Bian nggak ada di dalamnya".


Utari menatap Yoga, sedangkan Yoga masih menatapku dengan lekat. " Apa mungkin dia ke ruang lainya?. Jadi sejak tadi kran itu menyala tapi tidak ada orang di dalam kamar mandi?", tanya Yoga padaku.


Aku mengangguk, Yoga langsung berdiri dan masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Bian, karena jangan sampai Bian masuk ke kamar yang ada banyak foto ku dipajang, bisa-bisa Bian akan tahu semuanya.


Yoga langsung menanyakan pada Bu Salmi, " Apa bibi lihat Bian keluar dari kamar mandi?".


Bu Salmi hanya menggelengkan kepalanya, " Sejak tadi bibi sedang di kamar buat sholat asar Tuan. Apa Tuan Bian tidak ada di kamar mandi?", tanya Bu Salmi.


" Nggak ada Bi, coba bibi bantu yang lain cari Bian, biar aku ke atas, memeriksa dari cctv".


Aku melihat Yoga nampak panik, apa iya dia takut jika Bian tahu tentang hubungan kami, dan tahu tentang masa lalu kami. Jika memang benar begitu, berarti aku tidak perlu berharap apa-apa lagi darinya. Yoga bukanlah laki-laki yang tepat untukku.


Mungkin kata-kata manis dan janji yang selama ini dia ucapkan padaku hanya sebuah kebohongan semata, semuanya masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah.


Kalau memang Yoga tidak mau hubungan ku dan dirinya diketahui oleh Bian dan Utari, untuk apa dia mengajak kami ke rumah ini?, harusnya dia mendukung usul ku tadi untuk langsung pulang saja. Tapi dia tetap bersikeras untuk mampir ke rumah ini.


Yoga yang masih panik langsung berlari menaiki anak tangga, dan di ujung tangga Yoga berhenti karena ada Bian yang sedang berdiri di atas sana.


Bisa ku lihat Bian menatap Yoga dengan ekspresi yang tidak bisa ku artikan, Yoga masih terlihat cemas, mereka berdua saling menatap tanpa ada yang bicara.


" Habis dari mana?, aku pikir kamu masih di kamar mandi, kenapa bisa ada di lantai atas?, bukankah kurang sopan jika yang punya rumah sedang tidak ada, tapi kita berkeliaran di rumahnya", ucap Yoga dengan nada yang dibuat se biasa mungkin, padahal dari ekspresi nya, jelas dia terlihat panik.


" Tidak dari mana-mana, hanya saja tadi orang tua Raya meneleponku, di bawah susah signal, jadi aku naik ke atas siapa tahu ada signal. Kami harus pulang sekarang juga, kalau kamu dan Utari masih mau tetap di sini silahkan saja, aku bisa memesan mobil online". Bian menjawab pertanyaan Yoga dengan suara yang berat, sambil menuruni tangga tanpa menatap wajah Yoga.


Yoga justru meneruskan berjalan menuju sebuah ruangan yang ada di lantai atas, tepatnya ruang di samping kamar yang terdapat banyak lukisan wajahku.


" Apa kamu lupa dengan kata-katamu barusan?, ' nggak sopan berkeliaran di rumah orang yang pemiliknya sedang tidak berada di rumahnya!', seperti nya kamu tipe orang yang mudah lupa dengan ucapanmu sendiri", ujar Bian sengaja menyindir Yoga yang tetap meneruskan masuk ke ruangan itu.


" Kita pulang sekarang Ra, bukankah sejak tadi kamu minta untuk segera pulang?", Bian menarik tanganku, sikapnya sedikit kasar, seperti jika dia sedang marah.


" Loh, kenapa buru-buru pergi, kita kan bisa pulang bareng, kita sudah selesai makan kok. Tunggu aku beresin meja dulu sebentar, kalian bisa masuk mobil dulu, nanti kami langsung nyusul", ucap Utari sambil cepat-cepat membereskan meja ruang tamu bekas kami makan tadi.


Aku merasa tidak enak pada Utari karena dia beres-beres meja sendiri, padahal kami makan berdua, tapi aku tidak berani bicara jika Bian sedang mode angker seperti sekarang. Lebih baik aku menuruti semua perintah Bian, dan tidak perlu banyak bertanya ataupun protes. Selama itu masih wajar dan tidak membahayakan.


" Aduh, si Yoga malah nggak keluar-keluar, biar ku panggil dia terlebih dahulu". Ucap Utari saat dirinya sudah selesai membereskan meja, dan membuang paperbag beserta tempat makan plastik ke tempat sampah.


Padahal tadi masih ada beberapa makanan yang belum dimakan, sengaja menyisakan untuk Bian, sayang sekali akhirnya tetap di buang.


Yoga terlihat keluar dari rumah dengan wajah yang juga tak bisa aku baca ekspresi nya. Sebenarnya apa yang terjadi?.


Saat ini Bian justru memilih duduk di belakang bersamaku, dan Utari duduk di depan bersama Yoga yang kembali menyetir mobil. Yoga diam, begitu juga dengan Bian, suasana jadi terasa canggung karena tidak ada satupun dari kami yang ngobrol. Hanya suara hujan dan hembusan angin yang terdengar.


Hujan memang masih turun, tapi sudah tidak selebat tadi. Saat ini sudah jam 4 sore, kemungkinan kami akan sampai di butik menjelang maghrib. Yoga menyalakan audio di mobil Utari untuk menghilangkan kesunyian.


Lagu ' Tak Ingin Usai', yang di populerkan oleh Keisya Levronka mengalun merdu mengiringi perjalanan kami.


...~~...


...🎶Berdiri...


...Ku memutar waktu...


...Teringat...


...Kamu yang dulu...


...Ada di sampingku setiap hari...


...Jadi sandaran ternyaman...


...Saat ku lemah saat ku lelah...


...Ho wo wo...


...Tersadar...


...Ku tinggal sendiri...


...Semua yang tak mungkin...


...Bisa ku putarkan kembali seperti dulu...


...Ku bahagia tapi semuanya hilang tanpa sebab...


...Kau hentikan semuanya...


...Ho oh oh...


...Terluka dan menangis tapi ku terima...


...Semua keputusan yang telah kau buat...


...Satu yang harus kau tahu...


...Ku menanti kau tuk kembali...


...Jujur ku tak ingin engkau pergi...


...Tinggalkan semua usai di sini...


...Tak tertahan air mata ini...


...Mengingat semua yang telah terjadi...


...Ku tahu kau pun sama seperti aku...


...Tak ingin cinta usai di sini...


...Tapi mungkin inilah jalannya...


...Harus berpisah ho oh ho...


...Ho ho wo oh...


...Tinggalkan semua usai di sini...


...Berharap suatu saat nanti...


...Kau dan aku kan bertemu lagi...


...Seperti yang kau ucapkan...


...Sebelum kau tinggalkan aku🎶...


...~~...


" Tadi mama dan papa ngobrol apa saja sama kamu?, apa mereka marahin kamu Bi?", aku sengaja duduk mendekat ke Bian dan menanyakan hal yang ingin kutanyakan padanya.


Kenapa Bian langsung ingin pulang padahal tadi dia yang setuju mampir ke rumah Yoga terlebih dahulu.


Bian hanya menggelengkan kepalanya. " Nggak ada yang marah, tapi memang sebaiknya kita buru-buru pulang, baik aku dan kamu, atau mereka berdua adalah calon pengantin yang akan menikah dalam waktu 2 hari lagi. Benar kata orang tua, sebaiknya jangan pergi terlalu jauh, atau akan ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Harusnya aku mendengarkan pesan mereka, dan tidak melanggar larangan mereka dengan entengnya".


" Kamu percaya dengan mitos semacam itu Bi?, kita kan hidup di jaman modern, bukan di jaman dulu, jadi buat apa percaya omongan yang hanya berlandaskan kata orang, tanpa adanya sebuah pembuktian", ujar Utari yang menghadap ke belakang agar lebih mudah ngobrol bersama aku dan Bian.


Bian menyeringai, " Sebuah pembuktian katamu?, kamu mau menjadi bukti dari mitos yang mereka katakan Ri?, jangan bicara seenaknya sendiri, takut kejadian buruk yang katanya hanya mitos itu terjadi pada kita, apa kamu mau tiba-tiba pernikahan kita batal tanpa sebab yang jelas?", Bian nampak menjawab dengan wajah menahan amarah.


" Semua akan baik-baik saja, jika kita tidak melakukan sesuatu yang melewati batasan", Yoga ikut berkomentar, namun tatapannya masih fokus ke depan.


" Bagaimana seseorang bisa tidak melewati batasan jika mendengar kata-kata yang seharusnya tidak perlu didengarnya?", Bian mulai meninggikan suaranya.


Entah apa maksud dari kalimatnya, dan sebenarnya apa yang sedang Bian dan Yoga bicarakan, jujur aku masih bingung.


" Aku mau tanya sama kamu Ri, misalnya... ini cuma semisal, tiba-tiba kamu dengar kabar jika ternyata Steve sudah punya anak dengan wanita lain, apa kamu masih tetap mau menikah dengannya?", tanya Bian pada Utari.


Sekarang aku sudah mulai tahu arah pembicaraan mereka berdua. Sepertinya Bian mendengar percakapanku dan Yoga saat di ruang tamu tadi. Saat Yoga mengatakan bahwa dia lah laki-laki yang dulu menghamili ku.


" Mana mungkin itu terjadi, aku tahu sejak dulu Steve tidak dekat dengan gadis manapun, Bu Herni juga mengatakan jika Steve tidak pernah dekat dengan perempuan lain, aku percaya pada beliau dan tidak mungkin Bu Herni membohongiku", Utari begitu percaya pada ibunya Yoga.


Aku tidak bisa berkomentar, aku tidak mau ikut ngobrol, takut justru ucapanku memperkeruh suasana. Aku tidak mau Bian jadi lebih marah lagi.


" Sekarang seandainya dibalik, saat kalian sudah hampir menikah, tapi tiba-tiba kamu mendengar jika Raya sudah punya anak hasil hubungannya dengan laki-laki lain di masa lalunya, apa kamu akan tetap menikahinya?", Yoga benar-benar gila, dia menanyakan hal yang bisa memancing emosi Bian.


" Tentu aku akan tetap menikahinya, kenapa harus dibatalkan?, jika laki-laki yang dulu berada di masa lalunya Raya masih sering datang dan terus mengganggu hubungan kami. Maka aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan laki-laki itu, tidak memandang siapa laki-laki itu, entah itu saudara, teman, atau bahkan sahabat sendiri, aku akan tetap membuat perhitungan, aku tak mau hubungan yang sudah ku jalin cukup lama dengan Raya selesai begitu saja", Bian berkata dengan keras dan penuh penekanan di beberapa kalimatnya.


" Kecuali... jika Raya lebih memilih laki-laki itu, dan lebih mencintai nya dari pada mencintai ku, maka aku akan merelakan Raya hidup bersama laki-laki dari masa lalunya. Dan aku akan ikut bahagia untuk kebahagiaan Raya".