Healing

Healing
96. Selamat Tinggal Masa Lalu



Setelah berdiskusi dengan keluargaku, kemudian mama dan Papa mendengarkan penjelasan Juna. Akhirnya mama dan papa setuju dengan rencana ku untuk memulai lembaran baru di tempat baru. Yaitu di kota besar tempat dimana Juna mengontrak.


" Memangnya kamu mau buka usaha apa disana?, sudah lama kamu tidak masak, sudah lama juga tidak membuat kue dan jajan pasar. Apa kamu tetap tinggal di rumah dulu untuk beberapa hari, mencoba praktek membuat masakan dan berbagai macam kue ?", tanya Mama.


Benar kata mama, aku sudah lama sekali tidak membuat semua makanan itu. Tapi melihat chef memasak setiap hari di restoran Bian, mungkin aku bisa melakukan hal yang sama seperti chef itu.


" Membuka warung nasi kecil-kecilan, untuk awal hidup di tempat baru tidak ada salahnya. Aku akan mulai membuat masakan disana saja Ma, Juna kan harus berangkat besok, dan aku mau berangkat bareng sama Juna", ujarku.


" Kalau itu Juna setuju, kan Juna jadi nggak perlu keluar buat cari makan tiap hari, sudah ada kak Raya yang masak, dan nanti, Juna bakalan promosikan warung nasi kakak sama teman-teman Juna. Di sana kan banyak sekali kontrakan dan kos-kosannya, jadi Juna pikir jualan nasi punya prospek yang bagus".


Setelah makan malam dan berdiskusi sampai malam bersama keluarga, akupun kembali ke kamar. Mungkin cuma aku wanita yang tidak ambil pusing karena pernikahannya dibatalkan. Karena aku sudah mempersiapkan hatiku sejak awal, dengan kemungkinan paling buruk, lebih buruk dari ini malah.


Sedih sudah pasti, tapi aku tidak mau larut dalam kesedihanku, memang sejak awal aku sudah tidak ingin menikah. Tapi bertemu Bian membuat bayangan masa depanku sempat berubah, tapi itu hanya sebentar saja. Sekarang pola pikirku sudah berubah lagi, tidak seperti dulu, tidak juga seperti kemarin. Tidak ada pernikahan dan fokus untuk membahagiakan diri sendiri, jika dulu fokus ku bekerja untuk menghidupi Shaka dan keluarga, tapi mulai sekarang sudah ada Juna yang membantu mama dan papa, aku hanya tinggal melanjutkan hidup mencari kebahagiaanku sendiri.


_


_


Pagi hari aku meminta Juna untuk mengembalikan gaun pengantin dan kebaya ke butik, sayang sekali sudah bayar mahal tapi tidak jadi dipakai. Dan uang sewanya tidak bisa diminta balik, karena gaun dan kebaya sudah dibawa pulang beberapa hari.


Aku sengaja tidak ikut ke butik, khawatir akan bertemu Utari, atau mungkin ketemu dengan Bian. Karena itulah Juna berangkat sendiri membawa koper besar dengan motor matic ku.


Pulang dari butik, Juna terlebih dahulu mampir ke stasiun untuk memesan tiket kereta api. Besok adalah hari dimana aku akan berangkat bersama Juna ke kota, kami akan tinggal di kontrakan Juna. Semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan harapan. Memulai kehidupan baru di tempat yang baru.


" Kenapa kamu nggak ikut Juna ke butik Ra?, mumpung masih di sini, apa kamu tidak ingin jalan-jalan dulu, supaya nantinya kenangan di sekitar sini tetap kamu ingat saat disana".


Aku menggelengkan kepalaku. " Mungkin hanya rumah ini yang masih ingin aku ingat agar aku tetap ingat untuk pulang menjenguk mama dan papa. Tempat lain, aku tidak ingin mengingat apapun ma. Karena tujuanku pergi dari sini adalah untuk melupakan semua kenangan buruk yang telah terjadi disini".


Mama mengangguk paham. " Seharusnya 11 tahun yang lalu, mama menuruti keinginan kamu saat kamu minta pada mama untuk pindah dari rumah ini. Memulai lembaran baru di tempat lain. Tapi saat itu keadaan ekonomi kita sedang tidak baik. Mama takut jika kita pindah dan menjual rumah ini, justru di tempat lain kita bisa jadi gelandangan karena hidup di kota besar apa-apa serba mahal".


" Mama harap kamu akan betah tinggal di kontrakan Juna, dan usahamu bisa berkembang pesat, dan kamu bisa sukses disana. Mama nggak akan nyuruh-nyuruh kamu buat menikah lagi, sekarang mama menyerahkan semua keputusan mengenai hidupmu pada kamu Ra... karena sedih dan bahagia kamu sendiri yang merasakan, dan kamu yang tahu caranya menciptakan kebahagiaan dalam hidupmu", ujar Mama.


Malam ini malam minggu, Rita datang ke rumahku setelah mendengar kabar dari Juna jika besok aku akan pergi dan tinggal bersama Juna di kontrakannya.


Rita sengaja menginap di rumahku, tentu saja kami terus ngobrol dan tidur sampai larut malam. Besok hari minggu, jatah Rita libur di restoran. Dan Rita tahu keadaanku yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Rita datang untuk melipur lara di hatiku. Tapi semalaman aku sengaja tidak membahas tentang Bian, atau tentang batalnya pernikahanku. Rita memakluminya hal itu. Dia juga terus membahas hal lain tentang keseruan yang sudah kami berdua lakukan bersama.


Hanya perlu mengingat kenangan yang indah saja, tidak perlu mengingat hal-hal yang menyedihkan.


Pagi harinya Rita menemaniku belanja keperluan sehari-hari seperti sabun mandi, pasta gigi, shampo, dan lain sebagainnya. Aku sengaja beli di sini, agar sampai kota nanti tidak perlu buru-buru ke supermarket dan belanja, karena kata Juna, jika berangkat sore, sampai di kota sudah malam. Langsung tidur dan esok harinya Juna langsung mulai berangkat kerja.


Karena itulah harus mempersiapkan semuanya dari rumah, lagian membawa kebutuhan sehari-hari tidaklah berat.


Juna berjanji setelah sampai di sana besok akan menemaniku belanja di malam hari sepulang dia kerja, kata Juna di sana pasar buka sampai malam hari. Aku memang harus belanja perabotan rumah tangga, untuk memulai usaha warung makan.


Kontrakan Juna terdiri dari 3 petak ruang, yang Juna gunakan sebagai ruang tamu, kamar dan kamar mandi.


Jika aku tinggal di sana, Juna akan tidur di ruang tamu, dan aku yang tidur di kamarnya, yang bisa sekaligus di gunakan untuk dapur dan ruang santai, semuanya dilakukan di satu tempat.


Kedepannya aku sudah punya rencana untuk mengontrak di rumah yang lebih besar, bukan hanya petakan seperti yang Juna tempati sekarang. Juna juga setuju dengan rencanaku. Apalagi aku akan membuat warung nasi, butuh tempat yang luas, agar pembeli bisa makan di tempat, tidak hanya di bungkus.


Rencana demi rencana sudah aku pikirkan dengan matang, meski rencana ini sangat mendadak, tapi aku sudah bertekad, sehingga semuanya bisa terpikir dengan cepat.


Sore harinya aku dan Juna pamit pada mama dan papa, kami berdua memilih memesan mobil online sampai ke stasiun karena ada lumayan banyak barang yang kami bawa. Hampir semua bajuku juga aku bawa. Karena aku tidak berkeniatan untuk pulang dalam waktu dekat.


Tas ransel yang dibelikan Bian saat hendak naik gunung lumayan berguna juga, aku jadi bisa memasukkan banyak bajuku ke dalamnya karena aku tidak punya koper.


Ini adalah perjalanan pertamaku pergi jauh dari rumah, untuk memulai kehidupan baru. Jika sebelumnya aku pernah pergi jauh dengan Bian dan teman-temannya untuk pendakian, dan menikmati alam, kali ini berbeda. Aku pergi bukan untuk menikmati alam dan bersenang-senang. Aku pergi untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.


Mama menangis melepas kepergian ku dan Juna. Begitu juga dengan Rita yang sejak kemarin masih terus bersamaku. mungkin selama ini hanya dia satu-satunya teman yang benar-benar bersikap baik dan tulus padaku.


" Sering-sering kasih kabar ya Ra..., siapa tahu suatu hari nanti aku bisa main ke kota, dan bisa mampir ke kontrakan kalian. Kalau kamu ganti nomer ponsel, tolong segera hubungi aku, aku mau kita tetep berhubungan baik meski kamu berada di tempat yang jauh".


Aku hanya mengangguk, karena jujur saat ini aku juga sangat ingin menangis, tempat yang menjadi saksi hidupku sejak aku lahir hingga saat ini. Hari ini aku memilih pergi dari tempat ini. Aku menyerah mencoba untuk tetap bertahan sampai akhir. Karena mungkin kebahagiaanku tidak berada disini. Aku harus mencari kebahagiaan ku sendiri yang mungkin berada di tempat lain.


" Tolong sampaikan permintaan maaf ku pada semua teman-teman di restoran, dan serahkan ini pada Riko atau Bian, aku mengundurkan diri dari pekerjaan ku, jika Riko memberikan sisa gajiku bulan ini tolong kamu berikan pada mamaku ya Rit", ucapku lirih, tenggorokan ini rasanya seperti tercekat, susah sekali untuk bicara, sesekali aku menengadah ke atas, untuk menahan air mata yang sejak tadi sudah memenuhi kelopak mata ku.


Rita mengangguk sambil menerima amplop berisi surat pengunduran diri ku.


" Apa yang harus aku katakan jika Bian atau Riko menanyakan kemana kamu pergi?", tanya Rita.


" Jawab saja apa adanya", jawabku singkat.


Lagi-lagi Rita mengangguk paham.


Tadi pagi aku juga sempat mengirim pesan pada Yoga, ku katakan jika aku mengijinkan Shaka tinggal bersamanya, ku titipkan Shaka padanya, untuk di jaga dan di sekolahkan hingga Shaka sukses. Hanya itu yang aku katakan, aku tidak memberi tahunya jika aku hendak pergi jauh.


Justru yang Yoga tahu aku mengatakan hal itu karena dia mengira aku sudah menikah dengan Bian, dan akan memulai lembaran baru bersama Bian, pergi dari rumah mama, untuk tinggal bersama Bian. Karen dari pesan yang dia kirim, dia mengatakan selamat menempuh hidup baru padaku, dan mendoakan agar aku bahagia dengan kehidupan baru ku. Aku hanya membalasnya dengan mengatakan "Aamiin".


Tapi syukurlah jika itu yang Yoga tahu, dia tidak perlu tahu jika pernikahanku batal, karena jika dia tahu, aku yakin dia akan kembali menemui ku lagi.


Selamat tinggal rumah penuh kenangan, selamat tinggal mama dan papa yang paling aku sayang, selamat tinggal semua masa lalu yang kelam. Maafkan aku yang menyerah bertahan disini, aku pergi untuk mencari kebahagiaan ku.


Dan selamat datang kehidupan baru, selamat datang kebahagiaan, aku pergi untuk meraihmu di tempat baru....