
" Terserah kamu, tapi kuberi tahu, sekedar informasi jika tidurku tidak bisa tenang, jadi jangan mengeluh kalau seandainya saat tidur tak sengaja kamu ku tendang", ucapku menakut-nakuti Yoga, agar berpikir lagi untuk tidur denganku atau memilih pergi ke hotel.
" Kalau begitu maka akan ku buat kau tidak tidur semalaman, agar kau tak perlu menendang ku", ucap Yoga dengan senyum berkembang.
" Kalau kau berniat membuat ku tak bisa tidur malam ini, akan ku pastikan kau tidak akan pernah bisa masuk ke dalam rumah ini !", ucapku kesal.
Aku mengambil makanan dan membawa ke kontrakan sebelah, aku memang belum makan malam karena biasanya makan malam bersama Juna. Biasanya Juna akan datang kemari untuk makan malam bersama. Tapi karena ada Yoga disini, Juna tak datang-datang. Aku lah yang harus menghampirinya, kasihan dia belum makan malam, dan sayang makanan masih cukup untuk tiga orang, jika tidak dimakan bisa mubadzir.
" Jun buka pintunya, kakak mau masuk", seruku dari depan kontrakan Rasid.
Juna membuka pintu, melihatku membawa makanan, Juna membantuku membawakannya masuk. Dan kami pun makan malam bersama tanpa banyak bicara. Aku tahu Juna sudah sangat lapar karena biasanya usai maghrib kami langsung makan malam bersama, sedangkan sekarang sudah hampir Isa, tentu saja perutnya sudah terasa sangat lapar.
" Apa dia serius mau tidur di kontrakan kakak?", tanya Juna setelah kami selesai makan.
Aku mengangguk, " Sepertinya begitu, kamu nggak usah khawatir, kakak bukan gadis kecil yang polos seperti dulu. Kakak bisa menjaga diri kakak dengan baik", ucapku mencoba menenangkan Juna.
Juna manyun, " Memangnya apa yang kakak pikirkan?, aku tahu betul kakak bisa menjaga diri dengan baik. Justru yang aku khawatirkan kakak yang akan mengajaknya terlebih dahulu. Lihatlah bentuk tubuhnya yang semakin padat berisi, apa kakak yakin tidak ingin memegang otot perutnya yang kencang itu?"
" Pria kaya yang sudah sukses di usia muda, punya perusahaan sendiri, bisnisnya maju, ditambah usaha barunya sebagai pemilik kontrakan, berwajah tampan, dan bentuk tubuh yang sixpack. Dan ternyata dia adalah suamimu Kak. Apa kau yakin tidak menginginkannya?".
" Meski kesal jika mengingat masa lalu kalian. Tapi tak ku pungkiri, suami kakak itu mempunyai banyak nilai plus, pasti begitu banyak perempuan di luaran sana yang mencoba menarik perhatiannya. Jadi aku sarankan jangan terlalu mencintainya, atau kau akan sering cemburu dan sakit hati menjadi istrinya".
" Sudah benar sikap kakak sekarang yang tetap mengacuhkannya, karena sekali dia mendapatkan kakak lagi, dia sudah tidak akan penasaran dan mungkin kakak akan di campakkan lagi olehnya".
Juna sengaja menakut-nakuti ku. Dia pikir aku akan semudah itu jatuh cinta lagi.
" Adik macam apa kamu ini, bukannya mendoakan yang baik-baik, mintakan kebahagiaan untuk hidup kakak, malah ngomongnya begitu", ucapku kesal.
Juna hanya cengengesan saat melihatku merasa kesal.
" Aku hanya bercanda Kak, kakak ingat apa yang dikatakan Kak Yoga tadi padaku?, dia menyuruhku untuk menatap matanya. Memang benar yang dia katakan, dari matanya saja bisa ku lihat, jika cinta nya hanya untuk kakak seorang. Jadi jangan khawatir Kak Yoga tidak akan ninggalin kakak lagi seperti dulu".
" Lagian dulu dia ninggalin kakak juga bukan karena tertarik pada wanita lain, tapi terpaksa karena orang tuanya. Aku tahu itu, hanya saja kadang saat melihatnya dan mengingat kesengsaraan hidup kakak dulu, entah mengapa rasa benci dalam hatiku tidak bisa hilang begitu saja".
" Aku akan berusaha untuk menghilangkan kebencian ku pada Kak Yoga, apalagi sekarang dia benar-benar menjadi kakak ipar ku. Dan dia juga bersikap baik pada ku, meski aku jutek padanya".
Juna ternyata bisa berpikir jernih dan tidak menyimpan dendam seperti yang aku takutkan.
Usai makan dan ngobrol dengan Juna sebentar, aku kembali ke kontrakan, ku lihat Yoga sedang duduk di bangku yang ada di warung.
" Kenapa duduk di luar?, di dalam sempit y?, susah bernafas?. Aku kan sudah bilang tadi, kalau merasa tidak nyaman kamu bisa tidur di hotel", ucapku sambil mencuci piring bekas makan di warung dan menaruh di rak piring yang ada di warung.
" Aku keluar karena tadi Haidar ke sini dan pamit mau tidur di hotel, sekalian ijin mau bawa mobilku bersamanya".
Ternyata begitu, aku kira dia tidak nyaman tinggal di kontrakan sempit, ternyata malah Haidar yang pamitan untuk ke hotel.
" Owh begitu, apa kamu nggak laper lagi?, masih ada makanan di dalam", ucapku sambil menunjuk ke dalam rumah.
Yoga menggelengkan kepalanya, " aku mau ke masjid dulu, sudah adzan, kamu mau ikut ke masjid atau sholat di rumah?".
" Di rumah saja", jawabku singkat.
" Ternyata ada lagi nilai plus dari Yoga yang belum disebutkan oleh Juna tadi, dia sekarang juga rajin beribadah, benar-benar sosok pria idaman", batinku.
Apa yang barusan aku pikirkan?, aku tidak boleh begini, jangan terlalu mudah luluh Ra.. kamu belum tahu seperti apa Yoga yang sesungguhnya. Kamu jangan sampai tertipu lagi.
Aku sengaja memilih sholat di rumah, karena aku belum mandi sejak sore tadi, aku mau mandi terlebih dahulu. Masa iya ke masjid belum mandi, pasti tubuhku sudah bau asem.
Yoga pergi sendiri ke masjid, aku bergegas untuk mandi sebelum aku sholat. Rasanya tubuh sudah sangat lengket dan bau, setelah mandi air hangat dan sholat, dibawa tidur pasti sangatlah nyaman.
Ku bawa baju ganti piyama panjang ke dalam kamar mandi, agar saat selesai mandi, aku sudah berpakaian bersih, dan menghindari kemungkinan tiba-tiba Yoga masuk ke kamar saat aku tengah berganti pakaian.
Ku gunakan air dari termos yang masih penuh, dan ku rebus air untuk mengganti isi termos yang ku gunakan untuk mandi.
Mandi selesai aku langsung sholat, karena air yang ku rebus belum mendidih, dan selesai sholat ternyata rebusan air sudah mendidih.
Ku tuang air mendidih ke dalam termos, namun entah dari mana asalnya tiba-tiba ada kecoa terbang dan mendarat di lenganku. Karena kaget tak sengaja ku lepas pegangan tempat rebusan air dan air mendidih tumpah dan menyiram baju serta celanaku.
Rasa panas langsung menjalar ke seluruh tubuh, rasanya kulitku melepuh, aku langsung masuk ke kamar mandi dengan merayap seperti suster ngesot, dan mengguyur tubuhku dengan air dingin untuk mengurangi rasa panas di kulitku.
Uh....rasanya benar-benar panas, aku sampai tak tahan ingin menangis, dan akhirnya aku menangis karena rasa perih dan panas mulai menjalar ke seluruh bagian kulit yang tersiram.
Yoga datang saat aku tengah mengguyur tubuhku dengan air dingin di kamar mandi.
" Kamu kenapa Ra...?",
Yoga nampak panik melihatku menangis sembari mengguyur tubuhku terus menerus.
" Tidak papa, awas lantai licin, kamu bisa kepleset", ucapku memperingatkan Yoga jika lantai basah karena air panas tumpah ke lantai.
" Bisa tolong ambilkan handuk, di kamar", ucapku pada Yoga.
Yoga langsung lari ke kamar dan mencari handukku, setelah ketemu Yoga menyerahkan padaku. Ku tutup pintu kamar mandi dan kubuka piyama yang basah kuyup tadi.
Ternyata kulit bagian perut dan paha sudah merah karena terkena air mendidih tadi. Aku keluar hanya menggenakan handuk yang melilit di tubuhku dengan langkah tertatih karena kulitku benar-benar terasa panas dan pedih.
" Kamu nggak papa?, apa air panas ini menyiram tubuhmu?", Yoga nampak panik ketika mengetahui jika air di lantai adalah air panas, dan melihat termos yang terguling dan terbuka tanpa tutup.
Aku hanya bisa mengangguk karena kulitku terasa begitu pedih. Yoga langsung menggendongku, mengangkat tubuhku dan merebahkan ku di kasur. Jantungku langsung berdegup dengan begitu cepatnya saat tangan Yoga menyentuh kaki dan punggungku.
" Apa kamu punya salep untuk luka bakar?", Yoga masih nampak panik.
Aku mengangguk sambil menunjuk kotak yang ada di atas lemari baju.
Yoga langsung mengambilnya dan mendekat ke arahku.
" Aku bisa melakukannya sendiri, kamu tunggu di luar saja", pintaku pada Yoga saat Yoga hendak menyingkap ujung handuk yang menutupi pahaku. Aku menahan tangannya.
Yoga mengangguk, antara cemas dan khawatir dengan keadaanku, Yoga nampak berat hati meninggalkan aku sendiri dikamar. Yoga menutup pintu kamar dan menunggu di depan pintu. " Panggil aku kalau kamu butuh bantuan" seru Yoga.
Aku mengangguk, tapi pasti Yoga tak melihatnya, kubuka handuk yang menutupi tubuhku, kulit bagian perut dan paha sudah berubah semakin merah, ku oleskan salep untuk luka bakar, aku memang selalu sedia karena tukang masak sepertiku akan lebih beresiko terkena api, minyak, atau air panas seperti ini.
Selesai ku olesi dengan salep, aku mengambil daster ku yang longgar, tentu saja tanpa menggunakan baju dan celana dalaman, akan sangat pedih jika terkena karet celana, karena itulah aku tidak memakainya.
" Apa kamu serius nggak papa Ra?, kamu beneran nggak papa kan?, mau ku antar ke rumah sakit?, biar ku telepon Haidar supaya bawa mobilku ke sini".
Yoga masih terus saja bertanya dari luar.
" Nggak perlu ke rumah sakit, aku nggak papa, kasih salep juga bakalan sembuh, cuma masih terasa pedih", jawabku dari dalam.
" Aku masuk ke dalam ya?, aku khawatir dengan keadaanmu Ra...", seru Yoga.
" Masuklah, aku sudah selesai mengoleskan salep", ujarku dari dalam kamar.
Yoga masuk dan melihat keadaanku yang masih kesakitan.
" Kamu yakin nggak papa, kalau lukanya terasa panas dan pedih, sebaiknya kita ke rumah sakit saja".
Aku menggelengkan kepalaku. " Luka bakarnya di perut dan paha, aku malu untuk berobat, lagian sudah biasa tukang masak sepertiku terkena air panas atau minyak panas, setelah pakai salep ini, besok juga sudah sembuh. Ini salep cina yang kubeli di pasar, dan sangat ampuh", ucapku, agar Yoga merasa lebih tenang.
" Biarkan aku cek parah atau tidak, kalau parah kamu harus tetap ke rumah sakit, tapi kalau tidak terlalu parah, cukup dengan salep yang kamu pakai tadi".
Apa maksud Yoga mau ngecek, itu berarti dia ingin melihat perut dan pahaku, di saat aku memakai daster tanpa memakai dalaman, itu sama saja membuka bajuku dan telanjang di depannya.
" Tidak-tidak, kamu tidak perlu ngecek, ini sudah tidak terlalu panas dan pedih", ucapku melarang Yoga mengecek luka ku.
" Aku mau tidur dan istirahat biar nggak terasa sakit, kamu....", aku bahkan bingung mau menyuruh Yoga tidur dimana.
" Aku duduk disini saja, tidak apa, aku tidak ngantuk, aku ingin menjagamu malam ini, memastikan kamu nggak kesakitan karena luka bakar di tubuhmu".
Tatapan sayu Yoga membuatku merasa begitu dicintai dan diperhatikan, benar kata Juna, mungkin aku akan dengan mudahnya jatuh cinta lagi pada Yoga, jika sikapnya terus menunjukkan perhatian seperti ini padaku.
Yoga harus segera kembali ke kampung, jika dia tinggal lama disini, aku khawatir pertahanan ku akan runtuh.