
" Tunggu disini sebentar, aku akan masuk ke dalam dan mengambil uang, untuk ganti uang kamu yang buat bayar es krim tadi", ucapku sambil membalikkan badan dan mengajak Syifa untuk masuk kedalam rumah.
" Tidak usah diganti, hanya beberapa ribu saja, anggap aku membelikan es krim untuk keponakanku yang cantik ini", ucap Yoga sambil mengusap kepala Syifa dengan pelan.
Syifa tersenyum manis karena Bian memujinya dengan mengatakan dirinya keponakan yang cantik. Sepertinya Syifa gampang sekali akrab, dan menyukai orang yang baru dikenalnya, jika orang itu bersikap baik padanya.
Aku tak tahu sejak kapan Bian mengikuti kami dan berada di belakang kami. Tapi yang jelas aku tidak mau hutang uang, apalagi hutang budi, aku harus segera mengembalikan uang nya tadi dan tidak seharusnya aku berlama-lama bersama dengannya. Jika sampai Yoga melihat aku bertemu dengan Bian tanpa sepengetahuannya, pasti Yoga akan langsung marah.
" Syifa nggak mau masuk, mau disini makan es klim", rengek Syifa yang menarik tangannya dari genggamanku. Entah mengapa semakin bertambah usianya, Syifa semakin susah diatur, dia sudah bisa menyerukan kemauannya sendiri.
" Ya sudah Syifa tetap disini tunggu ibu sebentar, ibu cuma ambil uang ke dalam sebentar, Syifa nggak boleh pergi kemana-mana".
Terpaksa ku tinggalkan Syifa dengan Bian, tidak mungkin Bian melakukan hal-hal aneh di tempat umum kan?, aku hanya masuk untuk mengambil uang.
Aku sengaja berlari menuju kamar untuk mengambil dompetku, dan langsung keluar agar tidak meninggalkan Syifa terlalu lama, tapi tiba-tiba Shaka memanggilku.
" Ibu...!".
Aku menengok ke arah Shaka, " Kenapa Ka?".
" Ibu mau kemana buru-buru?, Itu mba puput lagi bakar ikan di belakang, apa ibu mau bantu biar cepat selesai, lumayan banyak ikan hasil tangkapan kami, kalau ibu bantuin Mba Puput kan jadi lebih cepat, ikan bakar buatan ibu yang paling enak, Shaka rindu ikan bakar buatan ibu", ujar Shaka, mengingat dulu pernah aku membakarkan hasil mancing Shaka dengan teman-temannya di sungai, dan semua mengatakan jika ikan bakar buatanku sangat enak, padahal hanya kutaburi garam dan kecap.
" Ibu mau sih, tapi ini ibu mau balikin duit, tadi Syifa minta es krim tapi ibu belum bawa uang, jadi dibayarin sama orang, sekarang ibu mau balikin duitnya, Syifa juga masih di depan", ucapku sengaja tak menyebut nama Bian, khawatir tiba-tiba Yoga muncul dan mendengar ucapanku, bisa bahaya dan sudah pasti Yoga akan murka.
" Ya sudah, biar Shaka saja yang balikin duitnya, orang yang bayarin masih di luar kan Bu?".
Aku mengangguk, tapi bagaimana mungkin aku memberikan uang itu pada Shaka, dan membiarkan dia yang mengembalikan uang ini, nanti dia jadi tahu kalau yang bayarin es krim itu adalah Bian.
" Biar ibu saja yang balikin uangnya, nanti habis balikin uang ibu langsung pulang", ujarku pada Shaka. Dan aku berjalan dengan cepat agar segera sampai di luar, bisa kulihat Syifa sedang berdiri membiarkan Bian berjongkok di depannya untuk membersihkan sekitar bibir dan tangannya yang belepotan terkena es krim.
" Terima kasih Om, apa Om teman Ayah?, tapi kenapa Syifa nggak pelnah lihat Om main ke lumah?, sepelti om Haidal?", aku bisa mendengar Syifa bertanya pada Bian, entah mengapa aku ingin mendengarkan jawaban Bian atas pertanyaan yang Syifa ajukan. Dan otakku menyuruhku berhenti sekedar untuk mendengarkan jawaban Bian.
" Om dengan ayah dan om Haidar memang bersahabat sejak masih sekolah, ada satu lagi sahabat kami, yaitu om Riko. Dulu kami sering bermain bersama-sama, tapi karena sekarang semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, kami ber empat jadi jarang sekali berkumpul bersama", jawab Bian. Syifa mengangguk-angguk seolah mengerti.
" Apa om juga ajak anak om kesini buat libulan?, Syifa mau dong jadi teman anak om, bial bisa sahabatan kaya om dan ayah", ucap Syifa dengan polosnya.
Bian tak menjawab pertanyaan Syifa, justru dia memeluk Syifa dengan erat sambil mengusap punggung Syifa.
" Om belum punya anak, apa boleh Om menganggap Syifa sebagai anak Om?, kan Syifa putri sahabat Om, jadi Om juga sangat menyayangi Syifa seperti ayah Syifa".
Meski sangat lirih, tapi aku masih bisa mendengar suara Bian. Jadi sudah hampir 5 tahun mereka menikah, tapi Bian dan Utari belum di karuniai anak. Apa itu sebabnya mereka pernah menjadi pasiennya dokter Dwi?.
Sebenarnya apa alasan mereka belum punya momongan?, apa salah satu dari mereka tidak subur?, atau ada alasan lainnya?, entahlah...
Aduh... kenapa Shaka malah nyusul kesini, dia jadi tahu kalau yang meminjamkan uang adalah Bian. Aku jadi salah tingkah karena Shaka menatap ke arahku dan Bian dengan tatapan menyelidik.
" Eh, iya, anu....", aku sampai bingung harus menjelaskan apa. Sekarang apa alasan yang harus aku sampaikan pada Shaka.
" Apa Kak Bian orang yang sudah ibu pinjami uang tadi?", tanya Shaka sambil meninggalkan aku yang tengah gelagapan mencari alasan yang tepat, Shaka berjalan mendekati Bian dan Syifa.
" Kak Bian tidak meminjami uang, sudah kubilang tidak usah dikembalikan, karena aku ikhlas membelikan es krim untuk Syifa, karena Syifa sudah ku anggap keponakanku", justru Bian yang menjelaskan.
" Kenapa berubah-ubah Kak?, bukankah tadi kak Bian mengatakan pada Syifa jika Kak Bian menganggap Syifa seperti anak Kak Bian sendiri", ucap Shaka.
Shaka mendengarkan ucapan Bian yang seperti itu, jadi sejak kapan Shaka berada di belakangku?, apa dia juga mendengar ucapan Bian jika Bian dan Utari belum punya anak sampai sekarang?.
" Ayo Syifa, kita masuk ke dalam rumah, sebelum Ayah marah melihat ibu bertemu dengan mantan calon suaminya, tanpa sepengetahuan ayah", Shaka menggendong tubuh mung Syifa dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Namun sebelum masuk, Shaka membalikkan badan dan berseru pada Bian, " Seandainya boleh memutar waktu kembali ke masa lalu, aku akan tetap melakukan hal yang sama, dengan mendekatkan Kakak perempuanku dengan laki-laki baik seperti kak Bian. Sayangnya sekarang aku sudah tidak punya kakak perempuan, dan aku tidak suka ada laki-laki yang sudah beristri mendekati ibu kandungku, karena ayahku masih hidup, dan ayah ibuku masih berstatus suami-istri", ucap Shaka dengan nada penuh penekanan.
Aku langsung ikut masuk kedalam rumah, mengikuti Shaka yang melangkah dengan cepat. Shaka menurunkan Syifa di ruang tamu karena Syifa yang memberontak minta diturunkan, Syifa berlari masuk ke dalam rumah, sedangkan Shaka menatapku dengan tajam.
" Shaka tidak membencinya, sama sekali tidak membencinya, karena kak Bian adalah orang baik, seperti yang ayah selalu katakan dulu, tidak bisa bersatu lagi bersama ibu bukan masalah, asal ibu bertemu dengan lelaki baik seperti Kak Bian. Dulu ayah merelakan ibu menikah dengan Kak Bian demi kebahagiaan ibu, karena level tertinggi seseorang tulus mencintai adalah saat dia rela mengikhlaskan seseorang yang dia cintai bersama orang lain, demi kebahagiaan orang itu".
" Ayah dulu sudah mengikhlaskan ibu untuk menikah dengan Kak Bian, tapi kak Bian tidak bisa menepati janjinya untuk membahagiakan ibu, dia lebih condong ke keluarganya, membatalkan pernikahan, dan bahkan menikahi wanita lain pilihan orang tuanya. Saat itulah ayah tidak bisa menerima kesalahan yang Kak Bian lakukan, ayah sudah pernah memberinya kesempatan untuk membahagiakan ibu, tapi kak Bian melewatkan kesempatan itu".
" Shaka harap ibu tidak mengulang kejadian seperti tadi, masih beruntung Shaka yang melihatnya, kalau ayah sampai tahu apa yang ibu lakukan. Ayah pasti akan sangat marah".
Shaka benar-benar memperingati ku untuk tidak membuat kecewa Yoga. Karena Shaka tahu betapa Yoga sangat mencintaiku.
" Memangnya apa yang sudah ibumu lakukan Ka?".
Aku dan Shaka langsung menengok ke asal suara, ternyata Yoga mendengar percakapan kami.
Shaka menatapku lekat, " Tanya saja sama ibu, apa yang habis dia lakukan", jawab Shaka masih dengan suara ketus.
Apa iya Shaka benar-benar menyuruhku untuk mengatakan jika aku habis bertemu dengan Bian?, tapi kan tadi benar-benar tidak sengaja, aku tidak janjian dengannya. Tiba-tiba saja Bian muncul di belakangku.
" Aku tadi...",
" Tadi ibu beliin Syifa es krim di jalan, tapi cuma Syifa yang dibeliin, yang lain enggak, ibu cuma sayang sama Syifa kan ?, makanya Shaka nggak dibelikan", ucap Shaka dengan memberi kode padaku.
" Bukan... bukan begitu, tadi ibu nggak bawa uang banyak, jadi cuma beli buat Syifa", ucapku mengikuti alur yang sedang Shaka buat.
" Sudah... cuma karena es krim masa kalian jadi ngambekan begitu, besok saat kembali ke rumah, ayah borongin es krim buat kamu Ka..., sekarang kita ke belakang saja, ikan bakarnya sudah matang semua. Baunya enak banget loh, sepertinya Syifa juga sudah makan duluan, lagi di suapi sama Puput, kita gabung dengan yang lain sekarang yuk", ajak Yoga tanpa merasa curiga sedikit pun, dia percaya begitu saja jika yang kami ributkan adalah masalah es krim.