
Malam minggu yang terang benderang, sebagian besar pasangan kekasih akan pergi keluar untuk jalan-jalan atau sekedar makan di luar. Tapi tidak dengan aku dan Bian yang tadi sore baru saja jadian. Kami masih berada di rumah masing-masing meski malam ini begitu cerah, secerah hati kami.
Memang kami sudah bersama selama seharian ini, tapi entah mengapa setelah sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, baru beberapa jam berpisah, rasa kangen sudah kembali datang.
Rasanya sangat malu jika meminta padanya terlebih dahulu untuk datang ke rumah untuk ngapel, dan pastinya Bian juga sedang istirahat karena rasa capek setelah tadi bekerja seharian. Apalagi agenda di restoran hari ini cukup padat.
Aku tidak boleh egois memintanya datang kerumah hanya karena aku merindukannya.
Untuk mengobati rasa kangenku, ku putuskan untuk membuka ponsel ku, ku cari foto Bian di dalam galeri foto, hanya ada foto kami yang ramai-ramai, saat kami berfoto di depan restoran bersama karyawan lainnya usai peresmian restoran tahun lalu.
Baru ku sadari ternyata aku tidak memiliki foto Bian yang sedang sendiri. Ataupun foto kami yang sedang berdua saja. Memang hubungan kami baru saja meningkat ke yang lebih serius, kemarin-kemarin kami hanya sebatas teman, bahkan hanya sebatas bos dan karyawan, jadi pantas saja aku tak memiliki fotonya.
Sengaja ku lihat sosial media milik Bian, dan ternyata dia tipe laki-laki yang jarang meng upload foto pribadinya. Yang ada di Facebook dan Instagram nya kebanyakan foto restoran dan menu-menu restorannya, ada juga beberapa foto pemandangan indah di beberapa tempat. Foto matahari terbit di puncak gunung, dan juga matahari terbenam di lepas pantai.
Bian memang seorang pecinta alam sejati, waktunya sering dihabiskan untuk menjelajahi hutan, gunung dan juga pantai. Pasti menyenangkan menjadi dirinya yang menyukai kehidupan di alam bebas.
Aku masih menscrol layar ponsel, untuk melihat-lihat koleksi foto Bian di media sosial, siapa tahu aku bisa menemukan foto Bian yang sendirian, dan semakin kebawah, aku bisa melihat foto-foto Bian yang di uploadnya sudah lama, semakin kebawah adalah foto jaman dia masih kuliah, dan kebawah lagi masa dirinya masih SMA, kulihat foto seseorang yang tidak asing bagiku, bahkan aku sangat familiar dengan wajah itu. Wajah yang sangat mirip dengan Shaka, putraku.
Ya... foto Bian bersama tiga teman SMA nya saat naik gunung, ada Riko, seorang lagi baru pernah kulihat, dan satunya lagi adalah Yoga, ayah kandung Shaka, laki-laki pembohong yang sudah menghancurkan hidupku .
Bagaimana bisa Bian naik gunung bersama Yoga?, apa mereka satu sekolahan saat SMA ?, dan bagaimana bisa mereka saling mengenal?, Bian tak pernah sekalipun menceritakan tentang teman-teman masa sekolah maupun masa kuliahnya.
Selama bersama denganku Bian lebih sering membahas urusan pekerjaan, dan juga menu masakan. Karena itulah aku tidak terlalu banyak mengetahui siapa saja teman dekatnya, kecuali Riko yang bekerja bareng di restoran.
Aku yang sedang menatap foto mereka, terkejut ketika tiba-tiba ponsel yang sedang ku pegang bergetar, orang yang sedang aku rindukan tiba-tiba melakukan panggilan video. Apa mungkin Bian juga merasakan hal yang sama denganku , sehingga dia meneleponku malam-malam begini?.
Tak menunggu lama, langsung ku angkat panggilan video dari Bian. Pertama yang ku lihat di layar ponsel sepertinya Bian sedang berada di kamarnya. Senyuman merekah di wajah Bian saat mengucap salam, aku pun menjawab ucapan salam darinya.
" Lagi mainan HP ya?, cepet banget ngangkat nya", tanya Bian yang kini menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang masih dengan senyuman mengembang.
Aku mengangguk sambil meringis, apa iya aku begitu cepat mengangkat teleponnya, pasti terlihat banget kalau aku sedang merindukannya, dan menunggu telepon darinya , " Iya, pas kebenaran HP lagi dipegang, jadi cepet bukanya, kamu lagi ngapain?, di rumah?", aku balik bertanya.
Bian mengangguk, " Lagi mikirin kamu, dari tadi bayangan kamu ada di semua tempat, aku di ruang makan, ada kamu, aku pindah ke kamar, ada kamu juga, bahkan tadi waktu aku mau ke kamar mandi, kamu juga ngikutin aku, sampai aku harus memukul kepalaku sendiri supaya sadar, kalau semua itu halusinasi ku saja".
Aku sampai tertawa mendengar ucapannya, ternyata bukan hanya aku yang terus memikirkannya, ternyata justru Bian lebih parah, sampai berhalusinasi kalau aku ada bersamanya.
" Nggak tahu kenapa aku terus mikirin kamu Ra..., apa boleh aku main ke rumah kamu sekarang?, aku kangen banget", ujar Bian dengan nada memohon.
Aku langsung menganggukkan kepalaku, " Aku juga kangen sama kamu Bi..., tapi kan tadi kita habis ketemu, kalau ketemu lagi, apa kamu nggak jadi bosen ngeliat aku lagi?", tanyaku bergurau. Tentu saja aku setuju banget kalau Bian datang ke rumah, toh aku juga kangen banget sama dia. Apa ini yang disebut kasmaran?, entahlah...
" Ya enggak lah, bagaimana bisa aku bosen, ngeliat kamu tiap saat justru membuat aku makin cinta, ya sudah aku siap-siap buat ke rumah kamu sekarang, tunggu sebentar ya, aku bawa motor biar bisa parkir depan rumah kamu, jadi nggak kejauhan parkirnya".
Bian langsung menutup panggilan nya, dia mungkin langsung bersiap-siap untuk datang ke sini, dan aku... aku hanya memakai piyama katun pendek karena ku kira aku tidak akan pergi kemana dan tidak akan kedatangan tamu juga.
Karena malam minggu bukan malam liburan untukku yang dapat jatah liburnya hari jum'at. Rita lah yang libur di hari minggu, jatah hari libur kami karyawan restoran memang berbeda, karena semua karyawan di beri jatah libur di hari yang berbeda-beda, agar restoran bisa tetap buka setiap hari.
Semua karyawan restoran total ada 40 orang, di shift pagi 17 karyawan dengan berbagai pekerjaan, dari koki, kebersihan, pramusaji, kasir, tukang parkir dan keamanan, begitu juga di shift malam dengan jumlah karyawan yang sama. Setiap harinya akan ada 3 karyawan yang mendapatkan jatah libur, begitulah cara Bian dan Riko membagi jadwal untuk karyawannya.
Aku langsung bergegas berganti pakaian, tidak mungkin aku tetap memakai piyama disaat Bian akan datang bertamu kesini. Aku memilih pakaian yang santai, tapi sopan. Setelah memilih-milih akhirnya pilihanku jatuh di blus putih dengan motif kotak-kotak ungu, dan juga celana kulot hitam panjang.
Sebelum Bian sampai aku sengaja ke warung dekat rumah, membeli biskuit dan juga kopi untuk suguhan Bian nanti, di rumah memang tidak ada kopi, karena papaku jarang ngopi, papa lebih suka minum air putih sepertiku.
" Siapa yang mau datang?, kok kamu sibuk begitu, nyari kopi sama biskuit segala?", tanya mama saat aku kembali dari warung sambil membawa kantong belanjaan.
" Iya Ma, Bian katanya mau main ke sini, oh iya ma... cuma mau kasih tahu, aku sama Bian baru saja jadian", ucapku sambil tersenyum sumringah.
Aku bisa melihat ekspresi wajah mama yang langsung berubah, dia seperti nampak khawatir, namun tak lama kemudian berubah menjadi tersenyum lebar.
" Jadi kamu sudah memutuskan untuk memilih Bian?, mama setuju, dia laki-laki yang baik, tapi apa kamu juga sudah memberi tahu Bian tentang Shaka?", tanya Mama menatapku lekat.
Ku anggukkan kepalaku, " Raya sudah memberitahu Bian tentang Shaka, dan dia tidak merubah keputusannya, dia tetap mencintaiku, dan mau merahasiakan semuanya, dia juga mengatakan akan mengajak ayah dan ibunya kesini kalau mama mengijinkan".
Mama mengangguk, " Tentu saja mama mengijinkan, mama sudah menduga kalau Bian sangat menyukaimu, dia adalah laki-laki yang baik, sangat baik. Nanti mama bicarakan sama papa, sekarang papa belum kembali dari masjid ", ucap Mama. Papa memang pergi sholat isa berjamaah ke masjid bersama Shaka.
Aku dan mama menghentikan obrolan kami saat ku dengar suara motor berhenti di depan rumah. Jelas itu bukan motor papa, karena dari bunyinya saja sudah berbeda, apalagi papa tadi ke masjid berjalan kaki bersama Shaka. Itu pasti suara motor Bian.
Benar saja tak lama kemudian suara ketukan pintu dan suara laki-laki mengucapkan salam pun terdengar.
Aku bergegas meletakkan kopi dan biskuit yang ku beli tadi di dapur, dan keluar untuk membukakan pintu rumah. Ku ulaskan senyum terbaikku, agar aku terlihat cantik saat Bian menatapku.
" Wa'alaikum salam", jawabku sambil membuka pintu rumah.
Namun betapa terkejutnya aku, ketika yang datang bukanlah Bian, seketika lenyap sudah senyum yang terluas di wajah ku, berubah menjadi ekspresi terkejut dan kesal, karena tamu yang datang bukanlah Bian, melainkan laki-laki yang sangat aku benci, laki-laki yang tidak ingin aku lihat lagi wajahnya. Laki-laki yang sudah hampir 13 tahun tak pernah aku lihat wajahnya, namun sampai saat ini aku masih bisa mengenalinya, karena wajah itu masih tetap sama dengan 13 tahun yang lalu, bahkan semakin terlihat tampan dan terawat, dia tumbuh dengan pesat, karena dulu kami sama tingginya, sekarang saat berhadapan seperti ini, aku hanya setinggi dagunya. Tubuhnya kekar dan lebih berisi, tidak se kurus dulu.
" Siapa yang datang Ra...?, suruh masuk dong tamunya, kok malah berdiri terus di pintu", seru mama dari dalam rumah.
Pasti mama mengira yang datang adalah Bian, sama seperti yang ku kira tadi, namun ternyata dugaan kami salah.
" Kamu....", ucapku lirih.
Seandainya mama tahu siapa yang datang, aku yakin mama langsung mengusir tamu tak di undang ini.
Yoga....
Untuk apa dia datang ke rumahku setelah belasan tahun menghilang.