
Ku dorong dada Bian yang bidang agar sedikit mundur, aku benar-benar hampir kehabisan nafas karena Bian yang tak mau melepas pelukan sekaligus ciumannya yang begitu bersemangat.
Ku tarik nafas dalam-dalam karena aku butuh banyak oksigen saat ini, deru nafas kami berdua sudah sama-sama begitu cepat. Aku sangat paham dengan keadaan ini, wajah Bian yang penuh dengan nafsu, aku tidak bisa membiarkan dia melanjutkan keinginannya. Kami berdua akan sama-sama rugi, jika tidak bisa menahan keinginan kami.
" Kamu sedang dalam keadaan menginginkan 'hal itu' Bi... tak baik jika kita meneruskan apa yang sedang kita lakukan. Aku keluar dulu, yang lain sudah mulai bersih-bersih, aku harus segera bergabung dengan mereka. Maaf kan aku Bi..., aku mencintaimu", ucapku, sambil mengecup bibir Bian cepat dan keluar dari ruangan Bian dan menutup pintu ruang itu kembali.
Biarlah Bian mencari cara sendiri untuk meredam keinginannya yang sedang ingin bercinta denganku. Aku tidak mau mengulang kesalahan di masa lalu.
Saat aku mendorong Bian tadi aku bisa melihat ekspresi wajah Bian yang menahan amarah. Aku tahu dia kecewa, tapi aku harus melakukannya, hanya ini yang bisa aku lakukan agar kami berdua tidak melakukan kesalahan. Pasti kedua orang tua kami akan sangat kecewa jika kepercayaan mereka kami langgar.
" Heh Ra... pagi-pagi sudah bengong, yang bakalan jadi ibu bos pemilik restoran, bukannya seneng dan sumringah, ini malah pagi-pagi sudah ngelamun. Mikirin apa sih Ra?, apa nggak bisa tidur nyenyak semalam?, sudah mikirin malam pertama ya?".
Rita yang baru datang dan menyambar kemoceng di sampingku langsung ngeledek, karena melihat aku yang tadi sedang bengong.
" Rit, kamu punya banyak tabungan nggak?, aku butuh banyak duit nih buat ngurusin pesta pernikahan. Kayaknya aku dan Bian nggak bisa nunggu lama-lama. Aku pinjem tabungan kamu dong Rit", gumamku.
Rita langsung tertawa lepas mendengar aku yang pagi-pagi sudah minta ijin mau ngutang.
" Kamu ini makanya jangan kebanyakan bengong Ra... calon ibu bos kok pagi-pagi mau ngutang sama karyawan biasa kayak aku ini. Nggak ada sejarah nya bos ngutang sama karyawan".
" Tinggal bilang sama mas bos, pasti sama mas bos bakalan langsung dikasih duit segepok, percaya saja sama ucapanku Ra... Mas Bos itu duitnya banyak banget, dia juga ngebet banget pengen buru-buru nikah sama kamu. Nggak bakalan dia nggak ngasih itu duit kalau kamu minta".
Apa yang dikatakan Rita itu memang benar, tapi masa iya aku minta duit sama Bian, dia kan belum jadi suamiku, mana boleh minta uang buat resepsi pernikahan kami. Karena seharusnya pihak perempuanlah yang menyiapkan pesta. Sebab pihak laki-laki sudah mengeluarkan banyak pengeluaran untuk seserahan yang lumayan banyak.
Untung saja hari ini pekerjaan lumayan banyak, delivery order juga ada sampai 8 tempat, jadi aku bisa menghindari Bian dengan alasan pekerjaan. Aku dan Rita harus bagi tugas mengantar masing-masing 4 tempat dalam sehari. Karena aku tidak membawa motor sendiri, aku meminjam motor matik yang ada di restoran.
Ku baca daftar kemana saja aku harus mengantar, ada 4 tempat yang harus ku datangi, aku menata pesanan mulai dari yang terjauh, agar yang terdekat berada di tumpukan paling atas dan mudah aku ambil.
Semua tujuan pengiriman adalah ke kantor-kantor yang biasanya karyawannya malas keluar hanya sekedar untuk makan.
Setelah mengantar 3 pesanan sebelumnya, aku masuk ke sebuah gedung bertingkat yang lumayan luas. Biasanya aku hanya akan menitipkan di resepsionis, namun saat aku sampai di tempat resepsionis disana semua petugas tidak terlihat, aku sampai bertanya pada petugas kebersihan, ternyata para resepsionis sedang istirahat dan pergi ke kantin.
Kantor macam apa tidak ada resepsionis yang jaga.
" Mas, bisa tolong antarkan makanan ini ke yang pesan?, pemesannya atas nama Ibu Siska Gina, tolong mintakan pembayarannya juga, nanti saya tunggu disini buat menerima pembayaran dari Mas".
Cleaning servis langsung menggeleng dan menolak permintaan ku.
" Maaf mba, pekerjaan saya masih banyak, mending mba sendiri yang antar, ruangannya di lantai 4, nanti kalau mba keluar dari lift, lurus saja, ruangannya di ujung lorong, Bu Siska itu sekpri nya Pak Bos", ucap cleaning servis sambil pergi mendorong troli berisi beberapa kantong sampah kertas.
Tidak apa aku naik ke atas, toh sudah diberi tahu di lantai 4 lurus, ruang di ujung lorong, jadi tidak membingungkan.
Ku ikuti instruksi mas-mas cleaning servis, dan benar, setelah sampai di lantai 4 hanya ada satu pintu yang ada di ujung lorong. Ku ketuk pintu ruangan itu dan kudengar suara seorang perempuan mempersilahkan aku masuk.
" Maaf saya dari restoran ABC, mengantarkan pesanan atas nama ibu Siska".
" Ya, saya Siska. Taruh makanannya di meja sini, dan ini pembayarannya", ucap Bu Siska sambil menyerahkan uang pembayaran padaku.
Ku terima uang itu, tak lupa memberikan kembalian, namun Bu Siska menolak.
" Sudah kembaliannya buat kamu saja".
Aku mengangguk dan berterimakasih. Ku lihat Bu Siska langsung kembali sibuk dengan pekerjaannya, aku pun berbalik badan dan hendak kembali ke restoran, namun ada tubuh laki-laki kekar dan tinggi berada di belakangku persis, entah sejak kapan orang itu berdiri di belakangku. Aku sampai kaget terlonjak dan reflek meminta maaf.
" Selamat siang pak, apa ada yang urgent, sampai bapak keluar dari ruangan bapak menuju kesini?".
Wah... Yoga sudah sukses tanpa mengikuti jejak ayah maupun ibunya, tidak menjadi TNI, tak juga menjadi tenaga medis, dia memilih jalan hidupnya sendiri.
" Saya sudah lapar dan makan siang saya kenapa tidak diantar-antar?".
Jadi makanan yang ku antar tadi adalah pesanan Yoga, apa Yoga sengaja memesan di restoran Bian, agar bertemu denganku?, tapi sepertinya aku terlalu berfikir berlebihan, karena karyawan di restoran lumayan banyak, belum tentu juga aku yang akan mengantarkan pesanannya. Mungkin ini hanya kebetulan.
Aku sengaja menunduk dan melewati Yoga, untuk keluar tanpa mengatakan maaf. Namun suara Bu Siska menahan langkahku.
" Maaf mba, seharusnya mba meminta maaf karena sudah menabrak bos saya, kenapa ngeloyor pergi begitu saja?".
Aku langsung membalikkan badan dan meminta maaf pada Yoga, tanpa menatap kearahnya. Saat ku lirik wajahnya, bisa kulihat bibir Yoga yang sedikit tertarik, dia tersenyum mendengar aku meminta maaf padanya.
" Tidak masalah, tapi tolong bawakan makan siangku ke dalam, tanganku capek habis menandatangani banyak surat dan berkas", ujar Yoga.
" Baik pak", jawab Bu Siska.
" Bukan kamu, tapi pengantar makanan ini yang membawakan makan siangku ke dalam".
Aku langsung menatap ke arah Yoga sebal, dan bisa ku lihat ekspresi Bu Siska yang menyuruhku untuk menuruti perintah bos-nya.
Ku ambil paperbag yang tadi ku letakkan di meja sekertaris dan kubawa masuk kedalam ruangan Yoga. Ruangan yang lumayan luas, dengan isi perabotan serba mahal.
" Taruh di meja itu ", ucap Yoga masih menyuruhku. Aku langsung menuju meja yang ada di depan sofa panjang.
Namun dengan cepat Yoga mengunci pintu ruangannya. Membuatku yang masih berada di dalam tidak bisa keluar karena Yoga sengaja memasukkan kunci pintunya di saku celananya.
" Apa sebenarnya mau kamu?, kamu sengaja memesan makanan di restoran Bian karena tahu aku yang akan mengantarkan nya?", tanyaku tanpa basa-basi.
Yoga meraih tanganku dan melihat jari manis tanganku yang sudah memakai cincin pertunanganku dengan Bian.
" Jadi benar... Raya yang Bian maksud itu adalah kamu, tak ku sangka ternyata kamu gadis yang sangat dicintai Bian. Sudah beberapa hari aku sengaja memesan makan siang di restoran Bian, tapi baru hari ini kamu yang mengantarkannya".
" Ini sungguh kebetulan, karena sekarang posisi kita sama-sama terikat dengan calon pasangan kita", ucap Yoga sambil menunjukkan cicin pertunangannya dengan Utari padaku.
" Biarkan aku kembali bekerja, aku sedang sibuk, begitu juga dengan kamu, kita sudah memiliki jalan hidup masing-masing, jadi jangan lagi mencampuri urusan satu sama lain, karena kita sudah lama tidak ada hubungan, tolong buka pintunya". Aku masih bisa bicara baik-baik dengan Yoga, meski Yoga sudah menahan ku di ruangannya.
" Aku nggak setuju kamu sama Bian, karena harusnya akulah yang menjadi suami kamu Ra... Aku yang sudah merenggut kesucian kamu, aku yang pertama melakukannya bersama kamu, jadi aku akan bertanggung jawab untuk hal itu Ra"
" Belum lagi kita sudah punya anak, meski aku tidak tahu dimana kamu sembunyikan anakku, karena saat aku ke panti asuhan yang kamu katakan, tidak ada anak yang dititipkan disana tahun itu. Kamu sengaja membohongiku kan Ra?, dimana anak kita Ra?".
Bian mulai mendekat dan mencengkeram kedua lenganku erat.
" Sudah aku bilang, anggap dia sudah mati, kamu dulu juga setuju kan saat ibu mu menyuruhku menggugurkan kandungan ku?, ada apa denganmu sekarang?. Kamu sebentar lagi akan menikah dengan Utari, buatlah anak sebanyak-banyaknya dengannya, dan jangan pernah lagi kamu tanyakan tentang anak yang tidak pernah kamu harapkan kehadirannya itu".
Ku dorong tubuh kekar Yoga, dan sengaja ku gedor-gedor pintu ruangan Yoga, agar Bu Siska mendengar, dan memberiku jalan keluar.
Bu Siska terlihat curiga menatapku yang keluar dari ruangan Yoga dengan wajah kusut dan kesal. Tapi tak ku hiraukan dirinya. aku langsung berjalan cepat menuju lift dan pergi dari sana.
Aku sempat mendengar pertanyaan Bu Siska saat menanyakan apa yang terjadi. Namun tak ku jawab. Biarlah Yoga yang menjawabnya, toh dia yang membuat gara-gara lebih dulu.
Tidak akan pernah lagi aku mau mengirimkan makanan ke kantor ini. Seandainya aku tahu itu kantor milik Yoga, pasti tadi sudah kut tukar tugas ku dengan Rita.