Healing

Healing
72. Daerah Pesisir



Tubuhku menggeliat karena sentuhan Yoga semakin menjalar kemana-mana. Aku dibuat terbuai dengan permainan tangannya. Benarkah dia hanya melakukannya denganku?, tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di pikiranku.


" Siapa lagi yang kau perlakukan seperti ini Ga?, benarkah selama ini hanya aku?, atau kau sudah melakukannya dengan wanita lain?", entah mengapa itu kalimat yang meluncur dari mulut ku.


Aku bisa melihat dengan jelas ujung bibir Yoga yang terangkat, dia tersenyum mendengar pertanyaan ku. Apa ada yang salah dengan pertanyaan yang aku katakan tadi?.


" Hanya kamu Ra, tidak pernah ada yang lain. Bahkan jika kamu menyuruhku untuk meninggalkan Utari saat ini, akan aku lakukan".


" Tapi jika kamu membiarkan aku menikah dengannya dan kamu memintaku untuk tidak menjalankan kewajiban ku sebagai suami saat nanti aku sudah menikah dengan Utari, yaitu untuk tidak melakukan hubungan suami-istri, aku bisa saja melakukannya, tidak akan pernah aku menyentuh Utari, asal kamu bersedia bersama denganku lagi".


Aku yang sejak tadi masih terus menikmati sentuhan tangan Yoga seketika tersadar saat Yoga menyebut nama Utari. Gadis baik itu, pasti akan sangat kecewa jika tahu apa yang sedang kami lakukan. Ku tatap tubuhku yang saat ini sudah tak berpakaian lagi. Entah sejak kapan Yoga berhasil melepaskan satu persatu pakaiannya.


Langsung aku dorong tubuh Yoga yang saat ini berada sangat dekat dengan tubuhku, bahkan tanpa pembatas lagi, kulit tubuh kami saling menempel. Meski aku menikmati sentuhannya, meski aku ingin merasakan lagi kenikmatan yang sama dengan yang ku rasakan dulu bersama Yoga, tapi aku kini sadar, kami sedang mengulang kesalahan yang sama. Hidupku yang dulu sudah hancur, tidak boleh semakin hancur karena mengulang kembali kesalahan yang sama.


Yoga yang tadi nampak bahagia karena aku tidak lagi menolaknya, saat ini berubah seperti singa yang di bangunkan dari tidurnya. Ekspresi wajah nya yang sejak tadi sangat bahagia menikmati setiap sentuhan yang dilakukannya pada ku. Dia yang aku tahu sudah sangat menginginkan kami kembali bersatu, aku bahkan tahu dan merasakan 'miliknya' sudah berubah wujud, karena aku bisa merasakan tonjolan keras di bawah sana. Kini Yoga terlihat sangat marah dan emosi. Hasratnya yang sudah menggebu, dan ingin segera disalurkan, gagal dan tak bisa disalurkannya karena aku menyudahi adegan panas yang sedang kami lakukan sebelum kami menuntaskannya.


Tidak.... ini tidak benar, aku bukan lagi Raya gadis kecil yang begitu mudah di rayu, tapi entah mengapa saat ini aku sangat ingin melakukannya. Seperti ada dorongan dari dalam diri yang membuat aku begitu menginginkan penyatuan, dan sama-sama mencapai kenikmatan dan pelepasan sebagai tanda kami sama-sama mencapai *******.


" Kenapa kamu menolak ku lagi Ra?, aku tahu tubuhmu menerima setiap sentuhan yang aku lakukan sejak tadi, kenapa sekarang kamu berubah pikiran?, aku tahu kamu menginginkannya juga kan Ra?, aku bisa merasakan kalau kamu menikmati sentuhan yang aku lakukan sejak tadi".


Yoga kembali menindih perutku yang masih polos. Dia justru kini bukan hanya menyentuh tubuhku, tapi bibirnya mengecup, menjilat dan sesekali menggigit bagian dadaku, hingga aku merasakan kenikmatan sekaligus kesakitan di waktu yang sama.


" Cukup Ga, kita nggak bisa mengulang kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya, lepaskan aku Ga!, aku tidak mau mengecewakan lebih banyak orang lagi, jika dulu kita melakukannya hanya orang tua kita yang kecewa, tapi jika saat ini kita melakukan nya lagi, bukan hanya keluarga kita yang kecewa, tapi Bian, Utari, mereka akan sangat kecewa juga sakit hati. Hentikan Ga, kamu menyakitiku".


Aku mulai merasa Yoga sudah lepas kendali, dia pasti sudah tidak bisa menahan keinginannya yang terpendam, selama ini dia sudah berusaha untuk menahan dan malam ini, hanya ada aku dan Yoga di kamar ini, kamar dengan banyak terdapat lukisan gambar diriku.


Uuuuuhhhhhh....


Suara rintihan kesakitan lolos dari mulutku. Aku yang tak bisa lagi menahan rasa perih akibat gigitan Yoga di beberapa bagian dadaku, masih terus berusaha melepaskan diri dan mendorong kepala Yoga yang menempel di dadaku.


" Aku mohon Ga, setidaknya kasihanilah aku, aku tidak mau mengkhianati Bian, Bian terlalu baik untukku sakiti". Aku terus berusaha melepaskan diri dari Yoga. Dan dengan terpaksa aku gigit bahu Yoga agar dia melepaskan aku.


Ternyata usahaku berhasil, Yoga merasa sangat kesakitan dan sedikit mundur karena luka gigitan ku yang membuat bahunya sampai berdarah. Kesempatan ini memberiku celah untuk meloloskan diri. Langsung ku punguti baju dan pakaian dalam ku yang tercecer di kasur, dan aku berlari menuju ke pintu keluar masih tanpa pakaian. Tak lupa ku ambil kunci pintu yang masih terpasang di pintu.


Aku keluar begitu saja dari kamar itu, dan menutup pintu kamar dan menahannya dari luar, langsung ku kunci pintu itu dari luar, agar Yoga tak bisa mengejarku.


Setelah berhasil mengunci Yoga di dalam kamar, aku pun memakai bajuku dengan cepat, untung saja tidak ada orang lain di rumah ini, dan ternyata rumah ini sangatlah besar. Dan sekarang aku berada di lantai 2, kamar yang tadi aku tempati berada di lantai 2, bagaimana bisa aku tidak merasakan apa-apa saat Yoga menggendongku ke atas, menaiki tiap anak tangga.


Atau jangan-jangan Yoga sengaja memberi obat tidur atau semacamnya di makanan dan minuman yang diberikan padaku tadi?. Dugaan demi dugaan kini bermunculan di pikiranku. Entahlah apa yang sebenarnya di lakukan Yoga, yang terpenting sekarang aku harus pergi dari rumah ini. Dan segera mencari tahu dimana lokasi rumah ini, agar bisa segera pulang ke rumah.


Setelah sedikit merapikan pakaianku yang sudah sedikit lusuh, aku berlari menuruni anak tangga menuju ke bawah.


" Kenapa Nona lari-lari seperti itu?", suara seorang perempuan paruh baya membuatku menengok ke asal suara.


" Ibu siapa?", tanyaku sambil sesekali menatap ke atas khawatir Yoga berhasil membuka pintu dan keluar mengejar ku.


" Saya ART di rumah ini, juga yang menempati rumah ini bersama suami saya yang bekerja sebagai tukang kebun, karena Tuan Steve hanya pulang beberapa hari sekali ke sini, beliau masih sering pulang ke rumah orangtuanya".


" Jadi Nona ini wanita yang ada di lukisan, yang selalu di tatap wajahnya tiap kali Tuan Steve datang ke rumah ini. Beliau sepertinya begitu tulus mencintai Nona",.


Ucapan ART dirumah Yoga membuat hatiku lagi-lagi luluh, sebenarnya apa mau Yoga, dia itu sungguh-sungguh mencintaiku, tapi justru perlakuannya itu seringkali menyakitiku.


" Kalau boleh tahu rumah ini di daerah mana ya Bu?, saya harus pulang kerumah saat ini juga, apa ada kendaraan yang bisa nganter saya sekarang?", tanyaku penuh harap.


ART di rumah Yoga menatapku dengan aneh. " Mana ada kendaraan jam segini Non, ini di daerah pinggiran, jadi kalau mau pergi jam segini harus bawa kendaraan sendiri".


Daerah pinggiran?, memangnya di mana rumah ini di bangun?.


Aku berlari mendekat ke jendela dan melihat ke sekeliling rumah, namun yang nampak hanya taman yang mengelilingi rumah, juga ada tembok keliling yang cukup tinggi, hingga tak kelihatan keadaan di luar sana.


" Ini di daerah pesisir, Tuan Steve membangun rumah dekat pantai, kalau Nona keluar, nona hanya perlu berjalan sekitar 5 menit hingga sampai di bibir pantai, karena depan rumah adalah jalan dan sebrang rumah sudah pasir dan hanya ada pohon kelapa saja".


Aku tidak menyangka, Yoga membawaku sampai ke daerah pesisir. Bagaimana bisa aku tidak merasakan apa-apa saat di mobilnya, aku semakin yakin, Yoga memberi obat tidur di makanan yang diberikan pada ku.


Ku dengar Yoga menggedor pintu kamar, memanggil ART yang bekerja di rumahnya.


" Loh, Tuan kenapa Non?, kok malah teriak-teriak begitu", ART itu berlari tergopoh-gopoh, menaiki anak tangga menuju kamar dimana Yoga berteriak karena terkunci di dalamnya.


Sekarang aku punya kesempatan untuk pergi dari rumah ini, tapi aku akan pergi kemana?, rasanya aku seperti telur yang berada di ujung tanduk. Aku tidak punya pilihan, keluar aku tak tahu ada di mana, apa lagi ini tengah malam. Namun tetap berada disini juga tidak baik untukku.


Yoga sudah berhasil keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga menuju ke arahku. Aku masih bingung dan belum berhasil mengambil keputusan, antara pergi, atau tetap tinggal, karena keduanya sama-sama beresiko untuk ku.


Tapi aku tidak mau Yoga kembali menyakiti aku. Aku lebih baik keluar dan mencari jalan pulang ke rumah sendiri. Aku langsung membalikkan badan dan berjalan mencari dimana pintu keluar rumah ini.


" Tetap di situ Ra.... aku tidak akan menyakitimu lagi, aku janji. Kamu berhenti dan dengarkan aku. Kamu nggak bakalan bisa menemukan orang di luar sana tengah malam begini".


Yoga berhasil meraih tanganku, karena dia berlari dengan lebih cepat dibandingkan dengan langkahku yang sedang mencari pintu untuk keluar.


Aku mengibaskan tangannya agar tidak lagi menyentuhku. Meski kami baru saja bergumul diatas kasur, tapi aku tidak ingin lagi Yoga menyentuhku.


" Oke aku nggak akan maksa kamu dengan menahan kamu di sini, tapi aku nggak bohong, jam segini nggak ada orang di luar sana. Karena jarak rumah di daerah sini itu berjauhan".


" Aku akan mengantarmu pulang besok pagi-pagi sekali, aku janji Ra, dan aku tidak akan menyakiti kamu lagi. Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku lagi tapi tinggal lah di rumah ini malam ini saja". Yoga nampak serius dengan ucapannya.


Aku yang memang tak punya pilihan, memilih untuk tetap tinggal, dari pada keluar dari rumah ini tengah malam dan tak bisa pulang ke rumahku karena tersesat.