
Tamu masih terus berdatangan, suasana restoran masih ramai hingga sore hari. Bahkan saat pergantian shift aku masih harus membantu karyawan lain yang baru datang untuk menggantikan kami yang bekerja di shift pagi, karena tamu yang datang makin sore makin banyak.
Begitulah kalau hari minggu, banyak orang makan di restoran, apalagi sore hari seperti saat ini.
Tapi jam kerjaku sudah habis, bahkan aku sudah bekerja lebih dari waktu yang di tentukan, sebenarnya tak masalah karena hanya lebih sekitar 10 menitan. Hanya saja rengekan dan panggilan dari Bian yang berulangkali memanggil-manggil namaku membuat aku jadi merasa tak enak hati dengan karyawan yang lain.
Bian memang sudah berada di parkiran motor sejak 5 menit yang lalu. Dia tadi memintaku segera berkemas karena sudah pergantian shift, Bian akan mengantarku pulang menggunakan motornya, rupanya dia ingin mewujudkan keinginan terpendamnya mulai sekarang.
Tapi karena tamu yang masih ramai di restoran, dan aku merasa tidak tega melihat teman-teman pramusaji lainnya keteteran, aku berfikir membantu mereka sebentar tidak masalah, namun justru Bian terus memanggilku dan menyuruhku untuk segera pulang. Padahal.... aku masih bekerja juga untuk kepentingan dan kemajuan restoran miliknya.
Tentu saja teman-teman yang lain segera menyuruhku pulang, karena sang bos lah yang terus memanggil-manggil namaku dari luar, bisa-bisa karena bantuan ku yang sebentar justru akan membuat mereka semua kena semprot dari si bos.
Aku memang sudah setuju dan akan meninggalkan motorku di restoran, sedangkan aku pulang berboncengan dengan Bian, sedangkan nanti akan ada orang suruhan Bian yang mengantarkan motorku pulang, agar besoknya aku bisa berangkat sendiri ke restoran.
Sikap Bian memang sedikit berubah setelah kami berpacaran, dia tidak seperti dulu yang sangat menghormati waktu untuk bekerja. Seolah aku merasa hubunganku yang semakin dekat dengan Bian justru membuat Bian jadi kurang bersemangat dalam bekerja.
Memang bahkan sebelum kami resmi jadian Bian selalu mengajakku pulang bareng, dan setelah jadian seringkali Bian mengajak aku berduaan... entah di ruang meeting atau di ruangannya. Tiap hari Bian juga selalu mengantar jemput ku pulang.
Meski tidak memberi pengumuman pada teman yang lain, tapi tentu saja semua sudah tahu sendiri jika aku dan Bian sudah jadian.
Hari ini pun kami pulang bersama, namun ada yang berbeda, karena kami pulang dengan menaiki motor hijau milik Bian. Hari ini keinginan Bian yang sudah lama terpendam akhirnya menjadi sebuah kenyataan.
Aku sengaja memeluk tubuh Bian dengan erat saat Bian melajukan motornya. Aku bisa lihat dari spion motor, Bian tersenyum dengan sangat lebar.
Bian sengaja melajukan motornya dengan pelan dan santai, mengambil rute memutar dengan mencari jalur yang sengaja melewati alun-alun kota, agar perjalanan kami menjadi cukup lama untuk sampai di rumahku.
" Bi... nanti beneran kamu minta tolong sama karyawan kamu, buat nganter motor mamaku yang ada di restoran?", seruku karena kami sedang berada di atas motor dengan suara yang kalah keras oleh suara kendaraan lain di sekitar kami.
" Iya Ra... nanti pas kita sampai rumah, motor kamu aku jamin sudah sampai di rumah terlebih dahulu", ucap Bian dengan sangat yakin.
Dan benar, saat aku sampai di rumah aku sudah melihat motor mama terparkir di depan rumahku. Karena aku sampai di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang.
Mama sempat bertemu dengan Bian dan menawarinya mampir, tapi Bian langsung pulang karena merasa tidak enak maghrib-maghrib bertamu.
_
_
Senin pagi adalah saat semua mulai bekerja, hari Senin adalah hari yang lumayan santai di pagi hari, karena biasanya jarang ada pengunjung datang.
Bian mengajakku untuk bertemu dengan salah satu WO yang akan bekerja sama dengan restoran kami untuk sebuah acara pernikahan besar-besaran yang akan diadakan di ballroom hotel yang ada di kota kami.
Awalnya aku enggan, karena jujur selama aku bekerja sebagai pramusaji di restoran, sekalipun aku tidak pernah ikut pergi meeting, namun hari ini Bian mengajakku dengan sedikit memaksa. Aku pun ikut dengannya dan juga Riko, kami semobil bertiga. Riko duduk di belakang sedangkan aku di bangku depan bersama Bian yang terus menggenggam tanganku sepanjang perjalanan menuju hotel.
Aku sempat mendengar bocoran dari Rita jika yang akan menikah adalah teman lama Bian dan Riko, calon pengantin berasal dari keluarga terhormat dan dari keluarga orang berpangkat. Karena itulah aku awalnya hendak menolak ajakan Bian, aku takut hanya akan membuat malu dirinya, karena Bian mengatakan akan memperkenalkan aku dengan teman dan calon istri temannya yang seorang dokter itu.
Siapakah aku ini, hanya seorang pramusaji dan lulusan SMP, aku sadar diri dan langsung minder di awal. Namun Bian tetap kekeh berniat memperkenalkan aku pada teman-temannya. Aku bisa apa jika Bian saja tidak memperdulikan latar belakangku. Bian memang tidak pernah mempermasalahkan soal siapa aku dan darimana asal ku, itu kenapa aku bisa membuka hatiku untuknya. Bian laki-laki yang sangat baik.
" Nggak segitunya juga kali Bi... kamu sengaja terus menggenggam tangan Raya biar aku tahu kalau kalian berdua sudah jadian?".
" Sayangnya semua yang bekerja di restoran sudah tahu kalau kalian sudah jadian, meski tidak kalian umumkan, habis ngeliat Bian yang bolak-balik ngintilin kamu Ra..., risih banget aku melihatnya. Coba bersikap biasa saja seperti Raya, biar orang-orang nggak ilfil lihat tingkah laku kamu".
Aku lihat Bian hanya manyun tak menggubris sedikitpun perkataan dari Riko.
" Bilang saja kamu ilfil karena kamu belum menemukan belahan jiwa kamu, seperti aku yang sudah menemukan Raya, iya kan?, makanya buruan cari cewek yang baik dan cantik, biar kamu nggak ngurusin hubungan orang lain".
Aku hanya menggelengkan kepalaku karena keras kepala dan percaya diri Bian yang begitu besar.
" Begitu itu si Bian, kalau lagi di kasih tahu bener-bener malah jawabnya begitu itu Ra... ngeselin tahu nggak", Riko memang nampak kesal, tapi aku tahu jika dirinya hanya kesal sesaat saja. Sudah jadi kebiasaan kedua laki-laki yang bersamaku selalu bercanda begitu.
" Kita sudah sampai, kita turun sekarang. Pasti kita sudah ditunggu yang lain".
Lihatlah, baru saja mereka tadi berdebat, sekarang sudah baikan lagi, karena mereka harus bertemu dengan klien dan membahas urusan pekerjaan.
" Aku tunggu di luar saja saat kalian meeting, nanti pas kamu ketemu sama teman kamu, baru aku ikut gabung", ucapku yang masih tetap merasa tidak nyaman pergi ke hotel bersama mereka berdua.
" Ya sudah kalau begitu duduklah di sana, aku dan Riko tidak lama kok meeting nya, nanti kalau sudah selesai aku hampiri kamu kesana".
Aku mengangguk mendengar ucapan Bian, kulihat Bian berjalan menuju lift untuk menuju ballroom hotel. Sedangkan aku memilih membeli minuman segar yang dijual di mesin minuman yang ada tak jauh dari resepsionis.
Aku duduk di sofa yang ada di loby hotel, memainkan ponselku sekedar melihat-lihat status teman-teman. Lumayan lama aku berselancar di dunia maya, tapi Riko dan Bian belum juga kembali. Cukup lama juga meeting yang merek lakukan.
Akhirnya aku memilih untuk bermain game di ponselku, rasanya mulai membosankan menunggu tanpa kepastian kapan meeting akan selesai. Jika tahu akan lama begini, aku ngeyel ogah untuk ikut ke hotel. Mending di restoran bisa santai sambil ngerumpi dengan Rita dan yang lainnya, nggak seperti saat ini, sendirian kaya orang hilang.
" Raya...., ngapain kamu disini?", Saat aku sedang asyik bermain game, seorang laki-laki menyapaku, aku bisa melihat dari bagian bawah tubuhnya, laki-laki yang cukup jangkung, karena saat aku ingin menatap wajahnya aku harus terlebih dahulu menengadahkan kepalaku.
" Yoga!", aku langsung berdiri dan hendak pergi dari tempat dimana aku berdiri saat ini. Satu-satunya hal yang langsung terlintas dalam pikiranku sekarang adalah pergi dari hotel ini, jika nantinya Bian bertanya kenapa aku pergi, alasannya biar aku pikirkan nanti lagi.
Aku langsung berjalan menjauh dari Yoga, berjalan menuju ke pintu keluar. Namun lari ku masih kalah dengan kecepatan lari Yoga yang jelas akan lebih cepat karena kakinya yang lebih panjang.
Yoga menangkap tanganku dan menggenggam dengan sangat erat. Aku berusaha melepaskan, tapi sayang aku tidak lebih kuat dari Yoga. Kami berdua saling menarik tangan dan tarikan tangan Yoga yang kuat membuat aku jatuh ke dalam pelukannya.
Wajahku sempat mengena dada bidangnya yang kekar dan berotot. Bahkan degup jantung ku entah mengapa jadi begitu cepat dan tak bisa ku kendalikan.