
Shaka POV
" Sejak kapan Kak Juna dekat dengan gadis dengan nama kontak 'Bungaku'?, orang mana dan siapa nama sebenarnya?".
Aku sengaja menanyakan hal yang sudah membuatku cukup penasaran untuk waktu yang cukup lama. Karena sejak beberapa bulan yang lalu, saat Kak Juna masuk ke kamarku dan tidur bersamaku. Waktu itu kak Juna sedang sakit, tapi mama Wina dan papa Tono sedang menunaikan ibadah umroh, sehingga Kak Juna yang sedang tidak enak badan memilih tidur bersamaku, ketimbang tidur sendirian di rumah.
Hanya saja aku sengaja mengesampingkan rasa penasaranku itu dengan hal lain, karena memang akhir-akhir ini aku sibuk belajar dan terus belajar, agar aku mendapatkan nilai terbaik di hasil ujian kelulusan.
Semua usaha yang aku lakukan tidak sia-sia, karena aku berhasil tetap berada di peringkat pertama saat kelulusan kemarin. Aku sudah menjadi putra yang membanggakan ayah dan ibu kemarin. Memang itu tujuan utamaku.
Hari ini merupakan hari yang membuat aku sedih juga haru, karena aku harus berangkat ke Jogja dan berpisah dengan keluargaku. Ayah dan ibu belum bisa mengantarku karena ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, akhir pekan mereka berjanji untuk datang ke Jogja dan melihat bagaimana kos-kosan tempat tinggalku yang baru.
" Dari mana kamu tahu ada kontak dengan nama 'Bungaku' di ponselku, apa kau membuka buka ponselku saat aku tidur di kamarmu?".
Kak Juna tidak langsung menjawab, justru dia melempar pertanyaan untukku dengan nada sedikit menuduh. Sepertinya Kak Juna enggan memberitahukan siapa gadis dengan nama 'Bungaku' itu. Karena kalau tidak berusaha merahasiakan, tentu saja Kak Juna akan langsung menjawab dan bercerita panjang lebar tentang gadis yang disukainya. Karena begitulah yang terjadi sebelum-sebelumnya.
" Tidak pernah aku membuka ponsel kakak, lagian aku tidak tahu password nya, jadi bagaimana mungkin aku membuka ponselmu".
Kak Juna nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tatapannya masih fokus ke depan menatap jalanan yang sedang lumayan ramai karena sekarang saatnya orang-orang berangkat untuk melakukan aktifitas dan pekerjaan mereka.
" Lantas kenapa kamu tahu ada kontak dengan nama seperti itu di ponselku?".
Aku mencoba menata kalimat agar jawabanku tidak membuat Kak Juna marah.
" Tidak sengaja kulihat pesan masuk dari kontak dengan nama 'Bungaku', karena itulah aku menanyakannya. Karena aku pikir Kak Juna belum pernah bercerita tentang gadis bernama Bungaku, apa aku mengenalnya?, atau apa dia seorang penjual bunga?", tanyaku lagi.
Kak Juna kembali menggelengkan kepalanya, tapi tetap saja Kak Juna tidak berusaha menjelaskan siapa 'Bungaku'. Ya sudah kalau memang ingin di rahasiakan, toh sebentar lagi aku tinggal di Jogja, akan lama tidak bertemu dengan Kak Juna, jadi mungkin aku tidak usah lagi membahas tentang sesuatu hal yang tidak ingin Kak Juna bahas.
" Nanti jika sebelum sampai di Jogja kak Juna merasa capek nyetirnya bilang saja, biar aku gantikan menyetir", ucapku untuk merubah topik pembicaraan.
" Apa kamu sudah punya SIM ? kalau belum sebaiknya kita istirahat saja nanti jika aku merasa capek atau ngantuk, kau belum pernah membawa mobil sebelumnya, aku tidak mau disalahkan mama, papa, atau kak Raya jika terjadi sesuatu pada kita di perjalanan ini", ujar Kak Juna.
Aku langsung mengambil dompet di saku celanaku dan menunjukkan SIM A yang baru aku buat sekitar dua minggu yang lalu. Usai aku menyelesaikan ujian di hari terakhir. Aku memang pulang lebih awal dan sengaja langsung menuju kantor satlantas untuk membuat SIM A, selama ini aku memang diam-diam belajar menyetir mobil tanpa sepengetahuan siapapun.
Bahkan ayah dan ibu juga belum aku beri tahu perihal aku yang sudah mempunyai SIM A, sebenarnya aku hanya ingin berjaga-jaga jika sewaktu-waktu kepepet dan harus membawa mobil sendiri saat di Jogja nanti.
" Waaah.... kapan kau buat SIM itu?, apa ayah dan ibumu sudah tahu?".
Ku gelengkan kepalaku, " Belum ada yang tahu, lagian saat di rumah ibu belum mengijinkan aku membawa mobil sendiri, kemana-mana selalu diantarkan supir keluarga, makanya aku masih merahasiakan hal ini, agar ibu tetap tenang".
Obrolan demi obrolan ringan terus mengalir sepanjang jalan, sehingga membuatku dan Kak Juna tidak merasakan kantuk yang biasa di rasakan seorang pengendara dengan jarak jauh.
" Karena yang lain sudah menyampaikan pesan-pesan kepada mu, sekarang sebagai seorang kakak sekaligus paman, entah kau mau menganggap aku sebagai apa, yang jelas posisiku dan usiaku lebih tua darimu. Meski aku bukan orang berpendidikan, tapi aku sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan ketimbang kamu".
" Jadi aku hanya berpesan, jaga dirimu baik-baik, jaga kepercayaan yang kedua orang tuamu berikan. Aku tahu kamu paling paham bagaimana rasanya menjadi anak kecil dengan status seperti kamu di masa dulu, jadi jangan biarkan ada Shaka kecil versi lainnya yang kau ciptakan".
" Saat di Jogja nanti, mungkin kehidupan dan lingkungannya akan sangat jauh berbeda dengan di tempat kita. Sebagai laki-laki yang tampangnya lumayan, kamu harus lebih jual mahal, pasti akan banyak teman mahasiswi atau bahkan tetangga kos-kosan yang naksir kamu, dan mungkin akan dengan suka rela menyerahkan segalanya untukmu. Maka kamu harus terus ingat Tuhan, ingat keluarga di rumah, kamu punya ibu dan adik perempuan, jangan sakiti hati perempuan lain".
Pesan dari Kak Juna paling aneh ku dengar, namun mungkin karena dia yang paling mengerti bagaimana rasanya jadi pemuda yang hidup di perantauan dan jauh dari keluarga.
" Apa karena kak Juna juga mengalami hal seperti itu dulu saat masih bekerja di rantau?", tanyaku sambil menyerahkan koin melalui jendela mobil pada pengamen yang sedang mengamen di perempat. Saat ini lampu lalu lintas menyala merah, dan antrian mobil mengular begitu panjang karena lalu lintas mulai padat, sudah waktunya anak-anak sekolah pulang, karena itulah jalanan jadi lebih ramai.
Aku memang penasaran dan ingin tahu alasan Kak Juna memberiku pesan seperti itu.
Kak Juna mengangguk, " Tentu saja, kalau tidak karena aku mengingat seperti apa susahnya hidup ibumu dulu, mungkin aku sudah tidur dengan beberapa gadis yang dengan sengaja datang ke kontrakan ku dan menawarkan dirinya dengan suka rela".
Aku sedikit terperanjat dengan jawaban Kak Juna, apa separah itukah hidup di kota besar?.
" Apakah mungkin akan sama kehidupan di Jogja dan di kota tempat kak Juna merantau, jelas-jelas ini beda kota", aku hanya tidak menyangka kehidupan di kota se bebas itu.
" Jangankan di kota besar, ditempat kita saja ada orang-orang semacam itu, yang jelas di semua tempat ada. Hanya bagaimana cara kita menyikapinya".
Aku semakin menelan salivaku mendengar ucapan Kak Juna. Mungkin karena selama ini aku hidup di lingkungan yang aman, punya tetangga yang baik-baik, dan aku jarang sekali keluyuran dan nongkrong bersama teman-teman sekolah, lebih sering menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga, karena itulah belum pernah aku bertemu dengan perempuan yang menawarkan diri seperti yang di ceritakan kak Juna.
Namun setelah aku tinggal di Jogja untuk beberapa bulan, aku membenarkan semua yang di katakan oleh Kak Juna. Ada beberapa tetangga kos-kosan yang sering membawa teman perempuannya masuk ke kamar kos, dan hanya berduaan di dalam kamar dengan waktu yang lama.
Suara aneh dan menjijikan juga kerap kali aku dengar di kamar sebelahku. Aku memang tidak akrab dengan tetangga kamar sebelah kananku, hanya sekedar kenal, dan yang ku tahu dia kuliah di jurusan yang berbeda, dan lebih senior dariku, mungkin sebentar lagi akan wisuda. Yang aku tahu gadis yang dibawanya masuk kedalam kamar bukan gadis yang sama. Aku sendiri kadang dibuat merinding sendiri dengan suara-suara menjijikan yang terdengar dari kamar sebelah.
Bukannya aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, aku bukanlah anak kecil yang masih polos, usiaku sudah hampir 19 tahun.
Hanya saja aku malas sekali mencampuri urusan orang lain, toh mereka berdua tentunya melakukan hal terlarang itu karena suka sama suka, jadi aku tidak mau menjadi sok suci dan menceramahi orang yang jelas-jelas tidak ingin aku ikut campuri urusannya.
Mungkin bulan depan aku akan mencari kos-kosan baru, mencari tempat yang lebih tenang dan tidak harus mendengarkan suara-suara ******* dan lenguhan dari kamar sebelah. Aku sedang mencari-cari tempat yang nyaman dan tenang .
Sebenarnya aku hanya khawatir aku ikut terjerumus melakukan hal tidak baik jika aku tinggal di lingkungan yang tidak baik. Karena aku menyadari aku hanya manusia biasa yang sudah pasti kerap melakukan khilaf. Aku bukan orang suci yang tidak punya salah dan dosa, aku hanya ingin berjaga-jaga agar aku tidak mengecewakan kedua orang tuaku saja.
Selama beberapa bulan kuliah disini, memang sudah ada beberapa teman perempuan yang menyatakan perasaan sukanya secara terang-terangan padaku.
Tidak ku pungkiri bahwa ada yang menarik perhatianku, aku laki-laki normal, dan beberapa dari mereka yang menyatakan perasaannya terhadapku memang berparas cantik dan punya sifat yang baik, mungkin suatu hari nanti aku akan menerima salah satu dari mereka, saat aku sudah benar-benar siap untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis tentunya, tapi bukan sekarang. Aku masih harus belajar menjadi laki-laki yang bersikap dan berfikir lebih dewasa.