Healing

Healing
33. Menunggu



Jam sudah menunjukkan angka 8, namun hujan masih saja turun dengan deras, aku yang merasa sudah terlalu lama di rumah Bian meminta pamit pada Bian karena takut akan di marahi mama dan papa jika pulang terlalu malam.


" Bagaimana jika pulang bersamaku saja?, bukankah arah rumah raya searah dengan rumahku Bi?, kemarin kamu mengirimkan alamat Raya sepertinya kelewatan jika hendak menuju rumahku".


Bian mengangguk membenarkan bahwa rumahku kelewatan jika mau ke rumah Yoga.


Dasar Yoga seperti aktor profesional, dari kalimat nya seolah dia belum pernah datang ke rumahku, padahal dulu hampir setiap hari dia datang ke rumah.


" Nggak usah, aku pulang sama Bian saja, nggak enak malah jadi ngrepotin", jawabku yang menolak ajakan Yoga.


Mau apa dia mengajakku pulang bareng, tidak sudi aku semobil lagi bersama Yoga, cukup sekali, dan itu juga karena tadi siang dipaksa olehnya.


" Nggak ngerepotin kok Ra, Bian kan sahabat aku, sudah aku anggap saudara, dan calon istrinya juga bukan orang lain bagiku".


" Sama seperti Bian yang bersikap baik pada Utari setiap kali mereka ketemu, begitu juga denganku yang ingin bersikap baik kepadamu, tidak perlu sungkan, iya kan Bi?", tanya Yoga masih berusaha membujuk Bian agar menyetujui permintaan nya mengantarku.


" Iya memang benar, tapi benar kata Raya, biar aku saja yang mengantarnya pulang. Aku yang pamit sama orang tuanya untuk membawa Raya kesini, jadi nggak enak kalau pulangnya sendiri, nggak aku anterin".


Aku langsung tersenyum lebar mendengar alasan Bian, alasan yang sangat gentleman dan so sweet. Yoga pun tidak bisa ngeyel lagi, dan hanya mengangguk membenarkan alasan Bian.


" Kamu disini saja dulu Steve, biar aku anter Raya pulang ke rumahnya, nggak jauh kok, paling bolak balik sepuluh menit saja".


Namun Yoga menggeleng, dia mengatakan akan pulang juga karena ada urusan lain yang harus dilakukan.


Bian pun tidak bisa memaksa, dan kami bertiga keluar dari rumah Bian, Bian masuk kedalam garasi untuk mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Yoga sengaja berdiri di sampingku yang sedang berdiri di teras rumah Bian. " Aku sengaja kesini karena lihat status Bian yang meng-upload foto kalian berdua sambil memegang mangkok seblak, aku cuma mau mastiin kalian berdua nggak melakukan apapun yang aku nggak suka, karena Bian tinggal sendirian di rumah ini, dan sepertinya kalian belum melakukan apapun karena rambutmu yang masih kering setelah mandi. Baguslah, aku tidak rela tubuhmu yang sudah aku jamah itu di jamah oleh laki-laki lain".


" Sampai kapanpun aku tidak rela kamu bersama laki-laki lain, karena kamu cuma milikku Raya, ingat, kamu cuma milikku, dan aku akan mencari cara untuk memilikimu lagi seutuhnya".


Kalimat yang Yoga ucapkan sambil berbisik tepat di sampingku membuat aku semakin membencinya. Namun sayangnya belum sempat aku menjawab perkataannya, Bian sudah keluar lagi dari garasi.


" Ra, ternyata ban mobilnya bocor, kalau naik motor gimana, kamu nggak papa kita hujan-hujanan?".


Ternyata Bian begitu lama di garasi karena ban depan mobil yang sebelah kiri bocor, karena terlalu sering memakai motor saat berangkat dan pulang dari restoran, Bian jadi jarang mengecek kondisi mobilnya


Aku langsung mengangguk mengatakan tidak apa-apa, karena bukan masalah untuk berbasah-basahan yang penting bersama Bian. Aku sudah sangat muak melihat wajah Yoga yang terus mengatakan hal-hal sekehendak hatinya, tanpa berfikir terlebih dahulu. Mungkin otaknya sudah konslet.


Apa tadi yang dia katakan?, aku cuma miliknya?, sejak kapan aku setuju menjadi miliknya?, dasar pecundang, beraninya menggertak ku, tapi di depan Bian gayanya sok baik.


" Atau begini saja Bi..., Raya ikut di mobilku sampai rumahnya, kamu bawa motor di depan kami, biar Raya nggak terlalu basah sampai di rumahnya?, kamu juga bisa nganter dan ketemu orang tua Raya".


Lagi-lagi Yoga nimbrung saat aku dan Bian sedang bicara.


" Benar juga, gimana Ra, kalau kamu naik mobil Steve, sampai gang yang menuju rumah kamu, dan aku bawa motorku ke sana, soalnya ban mobilku bocor, kalau kamu ikut motor nanti kamu ikutan basah".


Aku mendekat ke Bian,


" Nggak papa Bi, aku bonceng kamu saja, basah juga nggak papa, kan nanti bisa ganti baju di rumah". Aku masih tetap kekeh dan menolak untuk semobil dengan Yoga.


" Ya sudah kalau begitu, kita balik sekarang naik motorku saja, kita jalan duluan ya Steve, sampai ketemu lagi".


Aku tahu Yoga nampak kecewa karena tidak berhasil membuatku pulang bersamanya, emang gue pikirin. Siapa yang nyuruh dia datang ke rumah Bian.


Lagian ucapannya itu sangat merendahkan dan menyakiti hatiku, dia pikir aku akan melakukan hubungan terlarang dengan Bian seperti dulu saat bersama dirinya. Apa dia pikir aku wanita murahan yang melakukan dosa besar seperti itu dengan semua laki-laki. Hanya saat bersamanya aku melakukan dosa besar itu, tapi seolah dia menuduhku melakukannya juga bersama Bian. Dasar laki-laki menyebalkan.


Yoga terus menatap kepergian ku dan Bian, bisa ku lihat dari spion motor Bian, dia nampak menahan kekesalan karena tidak berhasil mengajak aku pulang bersamanya.


Hanya 5 menit perjalanan aku sudah sampai di rumah. Saat Bian menemui mama dan papaku aku masuk ke kamar untuk berganti pakaian.


" Maafkan Bian, ma, pa, kalau kemalaman nganter Rayanya, hujannya makin malam makin deras, dan tadi pas mau nganter bawa mobil ternyata ban mobilnya bocor, lama nggak di cek karena jarang dipakai".


Papa menengok jam dinding, " Belum malam banget kok, baru jam 8 lebih, nggak papa, kalian kan sudah bertunangan, jadi papa nggak terlalu khawatir jika Raya pergi sama kamu, yang penting kalian berdua bisa jaga kepercayaan papa dan mama, juga orang tuamu Bi".


Bian mengangguk saat Papa berbicara.


" Oh iya Pa, Bian tadi ngobrol sama Raya pas di rumah Bian, karena kami berdua sudah sama-sama dewasa, dan sangat cukup umur, bolehkan Bian meminta ijin untuk mempercepat tanggal pernikahan kami?, Bian rasa tidak ada yang perlu di tunggu, dan bukankah lebih cepat akan lebih baik Pa?".


Aku keluar kamar menggunakan piyama panjang, karena malam ini hujan terus turun, rasanya tubuhku jadi kedinginan karena tadi baru saja hujan-hujanan. Ku dengar Bian sedang menyampaikan tentang rencana kami untuk mempercepat tanggal pernikahan kami. Ku tatap ekspresi papa yang terlihat mengerutkan keningnya.


" Kalian tidak habis melakukan sesuatu hal yang di larang kan?".


Aku dan Bian menggelengkan kepala bersamaan.


" Pa, Bian mengatakan hal itu bukan karena kami sudah ngapa-ngapain, justru karena kami ingin menghindar dari hal-hal yang tidak diperbolehkan. Boleh kan pa, kami menikah secepatnya?, nggak perlu pesta mewah, yang paling penting dari sebuah pernikahan bukankah akad nikahnya Pa?. Kami bisa akad di kantor KUA saja yang gratis".


Aku berusaha membantu Bian untuk menjelaskan pada papa, mama yang duduk di samping papa juga terlihat bingung, menurutku mereka belum mengiyakan karena mereka berdua saat ini benar-benar tidak punya tabungan sedikitpun, karena untuk acara pertunangan kemarin, semua makanan dan cemilan saja aku yang belanja sendiri.


Mama sekarang tidak bekerja, papa ngojek juga sekarang sepi karena banyak orang yang sudah mengkredit motor sendiri. Hasil ngojek paling untuk makan sehari-hari, pantas saja jika mama dan papa bingung saat aku dan Bian mengatakan ingin mempercepat tanggal pernikahan.


" Raya ada tabungan lima juta untuk mengurus keperluan pernikahan Ma, Pa, biar besok raya ambil dari ATM. Bukankah tidak baik menunda-nunda pernikahan, kami berdua sudah sama-sama cukup umur", ucapku meyakinkan papa dan mama.


Papa dan mama nampak saling menatap.


" Mama terserah kalian saja, tapi kalau bisa nunggu sebulan atau dua bulan lagi, karena adikmu kan baru bisa pulang bulan depan saat masa training selesai, dan resmi jadi karyawan kontrak".


" Pasti Juna juga ingin menyaksikan kakak satu-satunya menikah".


Aku mengangguk, " baiklah kalau begitu, sekitar satu atau dua bulan lagi, nggak papa kan Bi ?".


Bian mengangguk, " Sebenarnya Bian baru mau menyampaikan pada ayah dan ibu sepulang dari sini, karena Bian menunggu keputusan papa dan mama terlebih dahulu kira-kira berapa bulan waktu yang diberikan Mama dan Papa untuk Bian menunggu".


Papa mengangguk,


" Yang penting kalian berdua harus sabar, sebentar, nunggu waktu dua bulan itu tidaklah lama, nak Bian boleh sering main kesini, boleh juga ajak Raya pergi-pergi, yang penting di jaga jangan sampai melewati batasan".


Papa selalu menghawatirkan hal yang sama, tapi juga tidak bisa menikahkan kami secepatnya. Rasanya hidupku sangat lucu. Keluarga ku benar-benar kepentok modal.


Dua bulan memang tidak lama, tapi kami setiap hari bertemu, semoga saja kami berdua bisa terus dalam keadaan sadar, kadang aku juga takut jika hanya berduaan dan melakukan ke khilafan. Kami sama-sama saling mencintai, bukan hal yang aneh jika kami melakukan sesuatu yang lebih jauh dari sekedar berpegangan tangan.


Harapanku hanya satu, tidak ada masalah baru kedepannya, apalagi jika teringat Yoga yang selalu saja menakuti ku dan mengatakan bahwa aku miliknya, sepertinya kata-kata nya serius. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya pada Bian?, tapi aku khawatir merusak persahabatan mereka.