
Itulah sekilas tentang masa laluku yang tak pantas untuk di ceritakan kepada siapapun, bahkan pada putraku yang kemarin baru saja merayakan kelulusan bersama teman-temannya di sekolah.
Saat ini usia putraku Shaka sudah 12 tahun, papaku yang memberikan nama padanya, karena sejak lahir putraku menjadi putra mama dan papaku, dalam kartu keluarga Shaka menjadi adikku, karena itulah papa memberinya nama Arshaka Saputra, adik dari Arjuna Saputra dan Diva Soraya Saputri.
Meski ada beberapa tetangga yang tahu jika sebenarnya Shaka adalah putraku, tapi mereka tidak pernah memberi tahu Shaka yang sebenarnya. Mereka mungkin merasa kasihan pada ku atau ibuku yang sudah memohon-mohon kepada mereka untuk merahasiakan kebenaran ini.
Benar sekali, dulu... setelah Shaka lahir, beberapa tetangga memang datang kerumah untuk menengok. Tapi ada beberapa dari mereka yang sengaja berkata dengan nada menyindir. Mama jelas tahu apa maksud sindirannya. Mama pun mengakui jika Shaka sebenarnya adalah cucunya.
Tapi mama mengatakan jika laki-laki yang menghamili ku kabur dari rumahnya. Karena itulah demi kejelasan status Shaka, mama menjadikan cucunya sebagai putranya. Sebenarnya semua itu adalah saran dari Bu Bidan Ara. Dan mamaku setuju dengan ide itu.
Mamaku bahkan sampai memohon pada tetangga yang tahu untuk tidak mengatakan yang sesungguhnya pada Shaka, dan menjadikan kebenaran itu sebagai rahasia bersama. Meski sejak saat itu akhirnya mereka memandangku dengan tatapan yang menyedihkan.
Mereka menilai ku sebagai gadis yang gagal mempertahankan kesucian, dan mereka yang mempunyai anak laki-laki seusiaku selalu mewanti-wanti agar tidak dekat-dekat denganku.
Masa mudaku yang seharusnya indah, justru harus bersusah payah, mengurus Shaka sendiri, hanya sesekali dibantu mama dan papa saat mereka di rumah. Karena setelah cuti mama 3 bulan, mama kembali berangkat bekerja seperti biasanya. Begitu juga dengan papa yang bahkan setiap hari harus menarik ojek untuk memberi makan kami semua.
Penghasilan papa yang pas-pasan tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup kami yang semakin banyak, apalagi sejak ada si kecil Shaka, kebutuhan hidup semakin banyak, belum lagi untuk membeli susu tambahan untuk Shaka karena ASI yang ku keluarkan hanya sedikit.
Karena itulah mama kembali bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Aku merawat Shaka sendiri, sebagai ibu muda tentu saja aku sangat kesulitan dan kewalahan.
Di saat mama masih menemaniku di rumah, aku masih bisa bersantai dan melakukan semua hal dengan nyaman, makan dengan santai, buang air dengan santai, bahkan bisa tidur siang.
Namun semenjak mama mulai kembali bekerja, dan Shaka sudah mulai bisa merangkak, untuk makan dan buang air saja aku harus membawanya. Kemana-mana aku mengajaknya. Pernah sekali aku mencoba meninggalkannya sendiri di kamar, saat itu ku kira Shaka sudah tidur, tapi saat baru saja aku nongkrong diatas kloset, ku dengar tangisan Shaka yang ternyata sudah jatuh di lantai. Dan acara nongkrong di WC pun harus tertunda karena harus menenangkan Shaka yang menangis histeris karena dahinya terbentur lantai.
Kadang aku merasa sangat lelah dan kurang istirahat, namun aku tidak berani mengeluh pada kedua orang tuaku, mereka juga lelah seharian bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami. Jika malam tiba, aku berusaha untuk membuat Shaka anteng, agar mama dan papaku bisa istirahat dengan nyaman setelah lelah sehabis bekerja seharian.
Setelah punya anak aku baru tahu jika menjadi seorang ibu itu harus memiliki kekuatan super dan tahan banting dalam situasi dan kondisi seperti apapun.
Sesekali di siang hari kadang aku mengajak Shaka bermain keluar, tapi sayangnya para tetangga justru seolah menjauhi kami, aku seperti sampah yang baunya busuk, jika aku mendekat seolah membuat mereka ingin menghindar saking baunya.
Karena itulah aku lebih sering berada di rumah, dan jarang keluar. Sepertinya keberadaan ku dan putraku adalah sebuah kesalahan.
Jika sudah seperti itu kadang aku menangis dan nelangsa sendiri, entah sampai kapan sikap para tetangga akan terus seperti itu pada kami.
Ingin sekali aku meminta pindah rumah. Agar bisa hidup dengan layak seperti orang lain, tidak terus di jauhi oleh tetangga. Namun mau kemana?, rumah saja ini adalah peninggalan almarhum nenek.
Mau pindah kemana, dan dapat uang dari mana untuk membeli rumah. Sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat alhamdulilah.
Dan setelah perjuangan mengurus Shaka kecil sampai dia berusia 3 tahun, aku memutuskan menyelesaikan sekolahku yang sempat terhenti, aku ikut paket B, dan meninggalkan Shaka yang baru berusia 3 tahun bersama Juna yang saat itu sudah 12 tahun dan bisa mengajak main Shaka.
Bisa dibilang mungkin aku sudah benar-benar melupakan ayahnya Shaka, selama ini dia tidak pernah lagi muncul dan memperlihatkan batang hidungnya. Aku rasa itu lebih baik, dari pada melihat wajahnya lagi, hanya membuat kekecewaan yang sudah berhasil dipendam dalam-dalam kembali tumbuh.
Aku mengikuti paket B selama satu tahun mengulang kelas 3, akhirnya aku memperoleh ijasah SMP di usiaku yang ke 17 tahun.
Dan setelah itu aku mulai mencoba mencari pekerjaan yang bisa aku bawa pulang, kadang cuci setrika, kadang kala aku membuat kue dan ku titipkan ke warung-warung. Yang jelas apa saja yang bisa menghasilkan uang halal akan aku kerjakan.
Hingga pada saat Shaka berusia 5 tahun, aku mendaftarkan Shaka di PAUD ( pendidikan anak usia dini) selama satu tahun, lanjut ke TK ( Taman Kanak-kanak) juga selama satu tahun.
Shaka sering di ikut sertakan dalam perlombaan- perlombaan sejak masih di PAUD, karena menurut sang pembimbing, Shaka termasuk anak yang cerdas dan cepat tanggap.
Shaka sering mendapatkan uang pembinaan setiap kali menang dan menjadi juara. Dan Shaka selalu memberikannya pada mama.
Sebagai anak yang berbakti, Shaka memang sangat menuruti perintah mama dan papa yang sebenarnya adalah kakek dan neneknya.
Tapi aku senang dan bangga terhadap putraku, karena bagaimanapun dia tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas, pemberani, dan berbakti kepada orang tua.
Aku mulai mencari pekerjaan di pabrik saat Shaka SD kelas 2. Biaya hidup kami semakin banyak, karena Juna sudah lulus SMP, dan hendak mendaftar ke SMA. Butuh biaya banyak untuk mendaftar ke SMA. Dan aku ingin membantu mama dan papaku membiayai Juna.
Sayangnya sudah mendaftar di beberapa pabrik, aku belum juga mendapat panggilan. Mungkin karena aku hanya lulusan SMP dan belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya.
Akhirnya aku mencoba mendaftar di rumah makan, dan aku diterima awalnya sebagai tukang cuci piring dan kebersihan.
Aku sangat bersyukur karena itu pekerjaan pertamaku, aku mendapatkan gaji pokok 1 juta setiap bulannya, dan mendapatkan uang makan dan uang transport . Lumayan untuk bantu-bantu mama dan papa membiayai Juna sekolah.
Selama 3 tahun aku tetap bekerja di rumah makan yang sama, namun pekerjaanku mengalami kenaikan pangkat, dari tukang cuci piring dan kebersihan menjadi pramusaji, dan gajiku juga ada kenaikan meski tidak banyak.
Setelah Juna lulus SMA, aku mulai bisa menabung sedikit-sedikit guna membiayai Shaka nanti mendaftar ke SMP. Memang masih 2 tahun lagi.
Selama ini aku berjuang bersama keluargaku tak pernah merasa lelah meski pekerjaan kami sebenarnya sangat melelahkan.
Juna pergi bekerja di kota besar karena surat lamaran yang dikirimkan di salah satu pabrik elektronik menerima panggilan.
Kami sudah sangat bersyukur, karena baru beberapa bulan Juna lulus, dia sudah mendapatkan pekerjaan di pabrik besar dengan UMK kota itu yang ku dengar mencapai 3 juta, belum dengan tambahan gaji lemburan.
Tinggal fokus membiayai Shaka, namun sayangnya mamaku harus berhenti bekerja, karena usianya yang semakin tua dan kurang produktif. Mama di berhentikan dari pabrik dengan pesangon sebatas UMK saja, karena selama ini mamaku hanyalah karyawan kontrak.
Masih untung mama berhenti bekerja setelah Juna selesai sekolah. Setidaknya penghasilan papa narik ojek dan sebagian penghasilanku bisa buat makan keluarga.
Beberapa minggu yang lalu saat aku tak sengaja bertemu dengan teman lamaku, dia yang tahu aku bekerja di rumah makan dan menawariku menjadi pramusaji di restoran yang akan dibukanya.
Restoran bergaya kekinian yang cukup luas dan berada di tengah kota, aku pun tergiur dengan iming-iming gaji yang lebih besar. Dan aku mengundurkan diri dari rumah makan, berpindah bekerja di restoran milik teman lama jaman aku SMP dulu.
Dan disinilah aku bekerja sekarang, restoran milik temanku yang baru buka selama satu tahun. Tapi dengan omset pendapat yang luar biasa.
Teman lamaku bernama Bian, dia dulu sekelas denganku di kelas 7 & 8, tapi di kelas 9 dia pindah sekolah karena mengikuti orang tuanya yang pindah, karena itulah Bian tidak tahu tentang aku yang dulu berhenti sekolah tiba-tiba.
Dulu kami sempat menjadi teman dekat, karena Bian teman yang asyik diajak bicara, dan juga tidak pilih-pilih teman, meski Bian anak orang kaya, tapi dia mau bermain dengan siapa saja, termasuk denganku anak seorang tukang ojek.
" Ra... apa kamu sudah mau balik?, aku antar pulang ya?, sekalian saja, kan searah, biar kamu hemat ongkos juga".
Bian memang sering menawarkan tumpangan untukku. Dan itu sudah bukan hal yang aneh bagi karyawan lain. Karena mereka semua tahu, aku dan Bian berteman sudah lama.
Tentu saja aku akan setuju jika Bian mengajak pulang bareng, benar sekali bisa menghemat ongkos. Dan kami pun hampir setiap hari pulang bareng, kecuali hari Jum'at, hari dimana aku mendapatkan jatah libur.
Restoran tempatku kerja memang setiap hari buka, namun karyawannya akan mendapat jatah libur sehari tiap minggunya. Dan jatah liburku hari Jum'at.
Bian juga sudah beberapa kali mampir ke rumahku, karena mama dan papaku sudah mengenal Bian sejak dulu, Bian juga sudah bertemu dengan Shaka, hanya saja Bian tidak tahu kalau Shaka sebenarnya adalah putraku, karena yang Bian tahu, Shaka adalah adik bungsuku.