
" Berarti tadi Raya yang salah dengar Ma, Pa", ujar ku, sengaja berbohong, agar mama dan papa tidak kepikiran terus.
Aku sengaja duduk di ruang tengah menyalakan televisi sekedar untuk mengecek mungkin ada siaran yang bagus. Mama masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu, kemudian diberikannya padaku.
" Ini dari Juna dan Shaka, siang tadi mereka berdua pergi ke kota, terus pulangnya sibuk membungkus ini, tapi malah dikasihkan ke mama biar di sampaikan ke kamu. Mereka berdua bilang, maaf cuma bisa kasih itu sama kamu, jangan di lihat dari harganya Ra..., tapi dari ketulusan hati mereka".
Sebuah kado berbentuk persegi panjang dengan bungkus bergambar bung mawar merah yang begitu banyak. Dan pita putih di bagian pinggir atas kado itu.
" Memangnya sejak kapan Raya menilai pemberian orang dari harganya ma..., Juna dan Shaka sudah pandai membuat kejutan. Coba Raya Buka, isinya apa".
Ku buka kado dari mereka, ternyata isinya potongan kertas kecil, dan di dalamnya ada bungkusan lagi yang lebih kecil, sebesar bungkus pasta gigi, dan benar, memang yang mereka gunakan untuk membungkus adalah limbah bungkus pasta gigi, aku sempat tersenyum dengan keisengan mereka. Dan ternyata diam-diam mereka berdua sedang mengintip ku dari kamar.
Saat ku buka bungkusan terkecil ternyata isinya sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk love dengan permata berwarna merah di tengahnya.
Aku terharu dengan ide mereka memberiku hadiah, " padahal tidak perlu repot-repot, ini pasti mahal, dari mana kalian berdua mendapatkan uang sebanyak ini sampai memberi kakak hadiah yang sangat mahal", ujarku sambil menitikkan air mata bahagia.
" Bagus banget... terimakasih adik-adik kakak yang ganteng!", aku melambaikan tangan agar mereka berdua keluar dari kamar.
Juna dan Shaka keluar dan memelukku dengan erat, aku langsung merasakan dada Shaka dan Juna yang naik turun dengan cepat. Mereka berdua ikut menangis sambil memelukku.
" Itu semua tidak sebanding dengan apa yang sudah kakak lakukan untuk kami".
" Terimakasih banyak Kak Raya, karena kakak lah, aku bisa melanjutkan sekolah hingga lulus SMA, maaf karena hadiah dari kami tak seberapa dibanding dengan semua yang sudah kakak perbuat untuk kami", ucap Juna tersendat sambil terisak.
Aku melepaskan pelukan mereka berdua. " Seharusnya kalian tabung saja uangnya, bukannya kakak nggak suka di kasih hadiah, hanya saja ini pasti sangat mahal, selama ini kakak belum pernah memakai kalung secantik ini", ujarku sambil mengusap air mata yang lolos dan jatuh di pipi.
" Sebenarnya itu hadiah dari kak Juna, Shaka cuma nemenin ke kota dan bantu pilih model kalungnya. Apa kak Raya suka?".
Aku langsung mengangguk cepat mendengar pertanyaan Shaka. " Kakak suka banget, kakak ucapkan terimakasih, kalian berdua sangat perhatian sama kakak, kakak merasa sangat beruntung mempunyai adik seperti kalian".
" Sekarang tolong pakaikan kalungnya, kakak nggak bisa pakai sendiri", pintaku pada Shaka.
Shaka langsung mengambil kalung dari tanganku dan memasangkan nya di leherku. Aku sengaja menatap pantulan diriku dari cermin yang ada di ruang tamu.
" Makasih adik-adik kakak yang ganteng, cantik banget kalungnya, kak Raya suka banget!", ucapku, membuat Juna dan Shaka tersenyum lebar.
Mama dan papa tersenyum bahagia karena kami bertiga kini sangat akur, beda dengan dulu, aku dan Shaka seperti kucing dan anjing yang tak pernah akur, dan Juna yang selalu menjadi penengah jika kami sedang berdebat atau bertengkar.
" Oh ya kalian bertiga tetap di rumah ya, mama dan papa ada perlu keluar sebentar", ujar Papa sambil mengambil jaket dari kamarnya. Begitu juga dengan mama yang juga memakai jaket nya.
Mama dan papa pamit untuk pergi ke toko tempat biasa orang belanja dengan jumlah besar, karena untuk acara Jum'at besok butuh banyak persediaan sembako dan juga bahan-bahan masakan.
" Sekarang mama dan Papa pergi ke toko dulu, kalian berdua tetap di rumah, dan jaga kakak kalian, ingat, jangan ada yang pergi, harus tetap di rumah sampai kami pulang", pesan mama.
Semakin mendekati hari pernikahan, mama memang lebih intens menjagaku, tidak boleh di rumah sendiri, atau pergi keluar sendiri, intinya kemana-mana harus ditemani.
Setelah mama dan papa pergi, aku bersama Juna dan Shaka duduk di ruang tengah bermain game di ponselku bersama-sama.
" Kakak maju enam langkah, satu, dua, tiga, empat, lima, enam", ku sentuh lagi layar ponsel agar menampilkan berapa dadu yang ku peroleh. " Yah, cuma satu", setelah ku lajukan pion ku, giliran Juna yang mengocok dadu.
Saat kami bertiga masih asyik bermain, terdengar ketukan pintu dari luar. Aku pun langsung berdiri dan membukakan pintu, terlihat Bian berdiri di depan pintu rumah dengan wajah babak belur, dan banyak luka, aku langsung panik melihat keadaannya, dan menutup pintu rumah agar tidak ada yang melihat keadaan Bian yang sangat kacau.
" Siapa Kak?, kok nggak di suruh masuk?, malah pintunya ditutup?", Shaka mengintip dari jendela, untung lampu teras tidak terlalu terang, jadi dari dalam wajah Bian tidak terlalu jelas terlihat.
Aku menarik tangan Bian untuk segera pergi dari rumahku, Shaka dan Juna keluar untuk memasukkan koper besar berisi gaun pengantin dan kebaya yang akan ku kenakan besok.
" Kita ngobrol di mobil kamu saja", ucapku sambil menarik tangan Bian menjauh dari rumah, menuju mobil.
Langsung ku bukakan pintu belakang, ku dorong Bian masuk ke dalam mobil, dan aku pun masuk melalui pintu yang sama. Ku ambil kotak P3K yang selalu tersedia di mobil.
Bian menghadap ke arahku tanpa mengatakan sepatah katapun, aku melihat wajahnya penuh dengan luka, dan bagian bibir bawahnya ada yang berdarah karena sobek. Pasti ini semua ulah Yoga.
Perlahan ku bersihkan darah di sekitar luka di wajah Bian, baru ku oleskan salep untuk luka, agar tidak terlalu perih. Bian membiarkan aku melakukan semua itu, berarti di tidak marah padaku, tapi aku tetap harus minta maaf karena tadi meninggalkan mereka dan pergi begitu saja.
" Bi.... maaf karena tadi aku pergi begitu saja tanpa memberi tahumu. Karena kulihat kamu sedang sibuk melampiaskan amarah yang sudah kamu tahan sejak di rumah kerabat Steve".
" Apa kamu kecewa pada ku karena aku tidak membela kamu Bi...?, sebenarnya sejak dulu aku takut jika ada orang berkelahi berada di dekat ku. Apalagi kalian berdua itu bersahabat, jika sampai kalian berkelahi, itu berarti kalian sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Dan aku pikir jika kalian sedang dalam suasana hati yang buruk, memberi nasehat atau melerai kalian itu adalah hal yang percuma....".
Belum selesai aku bicara, Bian langsung memeluk tubuhku hingga kotak P3K yang ada di antara kami jatuh ke bawah.
" Aku sayang sama kamu Ra, aku tidak mau pernikahan kita batal, hanya tinggal dua hari hingga kita resmi menjadi sepasang suami istri. Aku sudah memimpikan hal itu sangat lama".
" Jujur saat aku tak sengaja mendengar percakapan kamu dan Steve di ruang tamu tadi siang, aku sangat shock, karena ternyata laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidup mu adalah sahabatku sendiri. Orang yang sangat aku percayai dan sudah ku anggap seperti saudara".
Bian melepaskan pelukannya dan kembali menatapku lekat. " Setelah mengetahui kebenarannya, aku langsung menelepon Riko, karena aku teringat saat dulu kita turun dari gunung Rinjani, Riko sempat memberikan pesan agar aku lebih berhati-hati pada Steve, saat itu aku tidak tahu apa maksud ucapan Riko. Dan saat mendengar percakapan kalian, aku bertanya pada Riko, apa alasannya memperingatkan aku agar berhati-hati pada Steve".
" Riko mengatakan bahwa dia melihat Steve terus berusaha mendekatimu di setiap waktu. Dan aku baru sadar hal itu saat ini, sejak awal aku tidak pernah sedikitpun berfikir, atau berprasangka jika dia adalah ayah kandung Shaka. Pantas saja tiap kali aku menatap Shaka sepertinya matanya tidak asing. Matanya mirip dengan Steve".
Ku genggam tangan Bian, " Bi... maaf karena aku tidak berterus terang memberi tahu kamu jika ayah Shaka adalah Steve, dulu aku memanggilnya dengan nama Yoga, karena itulah nama panggilannya saat masih SMP".
" Aku sebenarnya ingin memberi tahu kamu yang sebenarnya, tapi melihat hubungan baik kamu dengan Yoga, aku merasa tidak berhak untuk merusak persahabatan kalian. Karena itulah aku lebih memilih diam".
" Tidak pernah ada niat untuk menutupi kebenaran tentang masa laluku dengan Steve, sungguh, aku minta maaf".
Bian masih menatapku lekat, " Siapapun ayah Shaka, aku sudah membuat keputusan untuk menghabiskan sisa hidup ku bersama kamu. Jadi tidak akan ada yang berubah di antara kita".
Bian merengkuh tubuhku dan mengecup bibirku perlahan dan cukup lama, lama kelamaan Bian mulai ******* bibirku perlahan. Aku tahu Bian masih sakit karena luka di bibirnya, karena itulah aku tidak membalas ciumannya, aku diam menikmati setiap perlakuan Bian padaku.
" Kenapa tidak di balas?", Bian bertanya karena aku tidak membalas ciumannya.
Aku tersenyum, " Jangan salah sangka, kamu sedang sakit, bibirmu terluka dan berdarah, aku khawatir kamu akan kesakitan jika aku membalas ciuman kamu".
" Kalau boleh tahu, siapa yang melerai perkelahian kalian?, apa Utari?".
Jujur aku penasaran, bagaimana Bian dan Yoga berhenti berkelahi, dan siapa yang melerai mereka berdua.
Bian menggeleng, " Utari berteriak-teriak sehingga security datang dan melerai kami yang sama-sama sudah babak belur seperti ini".
" Seandainya tidak ada security, entah seperti apa jadinya wajah kami, mungkin sudah babak belur karena banyak luka di wajah".
"Justru aku senang karena kamu pulang terlebih dahulu dan tidak melihat bagaimana kami berdua saling baku hantam. Kalau kamu lihat pasti kamu ngeri sendiri melihat wajah Steve dan wajahku yang penuh darah".
Bian mencoba menjelaskan dengan singkat padaku.