Healing

Healing
67. Adu Akting



Setelah melaju cukup jauh dari rumah Bian, driver ojek online tiba-tiba mengajakku bicara, " Lagi marahan sama suaminya ya Mba?, kok nggak mau sarapan, dan langsung pergi begitu saja. Suaminya kelihatan marah banget itu tadi. Saya jadi nggak enak Mba", ucap driver ojek online.


Aku mengernyitkan kening dan memanyunkan bibir ku. " Dia itu bukan suamiku, cuma tamu yang datang ke rumah calon suamiku, padahal yang punya rumah lagi nggak ada, nggak sopan banget kan bertamu saat tuan rumahnya pergi?", ucapku protes.


" Owh begitu ceritanya. Jadi saya salah duga ya, saya kira kalian sepasang pengantin baru, dan dia itu suami Mba, kalian lagi marahan karena hal sepele yang dibesar-besarkan. Habisnya tatapan mata Mas tadi itu dalam banget saat melihat ke si Mba, kayak cintaaaa banget, ternyata cuma teman calon suami. Bukan cinta segitiga kan Mba?".


Wah... ternyata driver ojek online ini lumayan banyak bicara juga, ku jawab sekali, dia terus saja bertanya dan banyak bicara. Untung saja kami sudah sampai di depan restoran, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan driver ojek online tadi.


Ku kembalikan helm milik driver ojek online. " Makasih bang, bayar lewat aplikasi ya", ucapku sambil masuk ke dalam restoran. Restoran memang masih sangat sepi, tapi pintu sudah terbuka, berarti Riko sudah sampai, sedangkan yang lain belum menampakkan batang hidungnya.


" Tumben datang paling awal, gara-gara Bian nggak masuk, kamu jadi bisa berangkat sendiri ya Ra?, nggak perlu nunggu-nunggu jemputan", gumam Riko yang keluar dari ruang kerjanya.


" Apa kamu sudah sarapan Ko?, nih.... mama bawain dua bekal buatku, aku nggak tahu kalau Bian nggak berangkat hari ini, kalau kamu belum sarapan, bisa kamu makan ini jatah Bian, dari pada nggak dimakan kan sayang ", ujarku, sambil mengulurkan satu bekal yang sebenarnya mau untuk Bian.


" Tentu saja aku mau Ra, wah... aromanya enak sekali, rejeki, jadi nggak perlu nyari sarapan. Makasih ya Ra, lumayan juga Bian nggak datang, jadi aku dapat jatah nih", Riko menerima bekal makanan dariku dan duduk di salah satu kursi yang terdekat. " Mau sarapan bareng?, apa kamu sudah sarapan?".


Aku menggeleng, " Aku sudah sarapan di rumah, kamu sarapan sendiri saja, tapi aku temenin duduk disini", ujarku sambil menarik kursi untuk aku duduki.


Beberapa karyawan lain mulai berdatangan, tapi mereka juga memilih sarapan terlebih dahulu, karena beberapa karyawan laki-laki kebanyakan tidak sempat sarapan di rumah dan memilih sarapan di restoran dengan membawa bekal, atau membeli sarapan di pinggir jalan.


" Apa Bian ngabarin kamu tidak berangkat nya tadi, atau ngabarin semalam?", tanyaku penasaran.


" Baru tadi pagi, kenapa?", tanya Riko disela makannya.


" Tadi aku kerumahnya karena semalam Bian bersikap sedikit aneh, tidak seperti biasanya, awalnya aku hendak bertanya apa yang terjadi, tapi ternyata Bian nggak di rumah, dan justru Yoga yang ada di sana", terang ku.


" Apa?!, jadi sepagi ini Steve sudah ada disana?, kalian.... maksud aku, dia nggak kurang ajar lagi sama kamu kan Ra?", Riko langsung bertanya, karena teringat apa yang dilihatnya saat di bukti berbintang, saat Yoga memaksa mencium ku dan aku menamparnya.


" Sebenarnya tadi dia ngajak sarapan bareng. Sedikit memaksa seperti biasa, dia ngambil kontak motorku agar aku menuruti nya masuk ke dalam rumah. Tapi aku nggak bodoh-bodoh amat lah, kalau aku masuk bisa-bisa dia bertindak sesuka hati lagi, aku tinggalkan motorku dirumah Bian, dan aku ke sini naik ojek online. Kunci motor ku masih di simpan Yoga".


" Coba nanti pulang kerja sudah di balikin apa belum kunci motornya, kalau di motor nggak ada, berarti aku harus minta tolong sama Bian buat mintain kunci motorku sama Yoga".


Riko sudah selesai makan dan mencuci tangannya, sementara tempat nasi dan sup masih kotor, dan dibawanya ke belakang untuk di cuci.


" Jangan bilang Bian, biar nanti kamu pulang sama aku saja Ra, aku anterin ke rumah Bian, sekalian aku mintakan kunci motor kamu sama Steve", ujar Riko setelah kembali ke kursi yang di dudukinya tadi sambil membawa sebotol air mineral yang masih utuh. Membuka tutup sealnnya dan meminum air itu hingga setengah botol.


" Aku sebenarnya nggak percaya sama Steve, dari cara dia natap kamu itu aku paham betul sebagai sesama laki-laki, dia itu pasti masih cinta banget sama kamu Ra, beda saja cara dia menatap kamu dan cara dia menatap Utari".


" Oke, Utari calon istrinya, tapi aku yakin di dalam hatinya hanya ada kamu, ribet banget hidupnya, sebenarnya apa sih yang kamu punya, tapi tidak dimiliki Utari?, aku lihat kalau dari fisik, kalian seimbang lah, sebagai cowok, aku mengakui kalian berdua sama-sama cantik. Dan untuk masalah pekerjaan kalian berdua sama-sama sudah bekerja, bahkan untuk pendidikan, Utari unggul jauh diatas kamu. Jadi sebagai cowok yang awam seperti aku, justru nilai plus itu ada pada Utari".


" Sori banget nih Ra, kalau yang aku katakan menyakiti atau menyinggung hati kamu, aku ngomong sebagai orang yang netral, nggak mihak kamu maupun Utari, kalian berdua sama-sama gadis yang baik hati, karena itulah aku nggak protes sama sekali saat Bian maupun Steve memperkenalkan kalian sebagai wanita yang akan menjadi pendamping hidup mereka".


Riko banyak bicara pagi ini, mungkin bukan hanya dia yang penasaran, pasti Haidar juga punya pemikiran yang sama dengan Riko, mengapa Yoga masih tetap mencintai aku sebegitu dalamnya, meski jelas-jelas dia sudah punya calon istri yang jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan ku. Aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Riko yang mengatakan aku tidak lebih baik dari Utari. Karena memang begitulah kenyataannya.


Mungkin karena keberadaan Shaka, hanya itu jawaban yang memungkinkan menurut pemikiran ku, tapi tidak mungkin juga aku mengatakan hal itu kepada mereka. Ini adalah aib, dan tidak perlu di beberkan ke orang lain, hanya akan mempermalukan diri sendiri saja.


" Seandainya aku tahu jawabannya, seandainya aku tahu alasan Yoga masih mencintaiku sampai saat ini, aku akan berusaha menghilangkan sisi itu dari diriku. Sayangnya aku juga tidak tahu apa alasan Yoga masih terlihat mencintaiku Ko".


Termasuk Rita dan Hani yang langsung bertanya padaku tentang apa yang aku dan Riko bahas sepagi ini. Karyawan yang lain justru mengira aku dan Riko sejak tadi membahas tentang Bian, karena hari ini mereka tidak melihat Bian bersamaku, dan justru saat masuk restoran yang mereka jumpai justru aku yang sedang ngobrol dengan Riko dengan wajah serius.


Padahal bukan Bian yang sedang kami bahas, melainkan Yoga.


" Bian nggak masuk, ibunya perlu di jaga, dari kemarin capek mengurus persiapan pernikahan kami, dan beliau jadi jatuh sakit karena kecapekan. Semalam ibu pingsan, dan Bian langsung kesana, hari ini masih harus menjaga beliau, karena kalau di tinggal, Bian khawatir ibunya kembali melakukan ini dan itu, segala macam persiapan pernikahan kami", ucapku coba menjelaskan .


" Wah kamu beruntung banget ya Ra, dapat calon suami kaya, tampan, baik, calon ibu mertuanya juga baik banget sama kamu, beliau begitu berantusias mempersiapkan pernikahan kalian. Benar-benar bikin iri kita ya Han", ujar Rita sambil mengelap meja yang ada di sebelahku.


" Alhamdulillah, kalau benar begitu, semoga saja kalian akan dapat suami dan ibu mertua yang baik juga sepertiku", hanya itu yang aku ucapkan.


Mungkin sudah saatnya aku harus bahagia, karena selama hidupku ini aku sudah sangat menderita. Sudah puas aku menelan pahit dan getirnya kehidupan. Dan aku harap kedepannya hanya manisnya saja yang tersisa.


Seharian bekerja tanpa ada Bian disini terasa aneh, tidak seperti biasanya, serasa ada sesuatu yang hilang, dan bukan hanya aku yang merasakan hal itu, yang lain juga, teman-teman mengatakan jika aku seperti kehilangan bayanganku, orang yang sebentar-sebentar tiba-tiba muncul di belakangku saat aku bekerja. Kadang-kadang tiba-tiba memelukku dari belakang, atau mencuri-curi kesempatan untuk menjahili ku.


Hari ini Bian tidak datang, apalagi ini hari Sabtu, biasanya Bian akan mengajakku muter-muter dulu sepulang kerja, katanya malam mingguan. Dan aku sudah sangat senang meski hanya di ajak berkeliling naik motor tanpa tujuan, karena bagiku yang terpenting adalah waktu bersama dengan Bian, dengan berdua saja kami bisa saling bercerita dan bertukar pikiran. Bukankah dalam suatu hubungan komunikasi yang baik itu adalah hal yang sangat penting?.


Pekerjaan hari ini jadi terasa lebih lama dari biasanya, untung saja tidak banyak delivery order, jadi tidak terlalu melelahkan harus keluar restoran dan panas-panasan di jalan.


Pulang kerja, seperti janjinya tadi pagi, Riko pulang bersamaku, memakai motor miliknya, tidak ada yang curiga atau beranggapan aneh pada kami, karena semua tahu Riko adalah sahabat sekaligus saudara sepupu Bian, semua mengira Bian lah yang menyuruh Riko mengantarkan aku. Padahal Bian tidak tahu sama sekali jika aku pulang di antar Riko.


Aku juga tidak berniat menceritakannya, karena kami hendak pulang ke rumah Bian, kalau memang nanti Bian sudah ada di rumahnya, berarti aku tinggal mencari alasan yang masuk akal mengapa tadi pagi aku naik ojek online. Tapi jika Bian belum di rumah, dan masih ada Yoga di sana, setidaknya ada Riko yang menemaniku, dan bisa membantuku memintakan kunci motorku pada Yoga.


Tiba di depan rumah Bian, aku turun dari boncengan motor Riko, lagi-lagi pintu gerbangnya tidak dikunci, meski tertutup rapat, tapi aku bisa membukanya dan kami bisa masuk ke dalam rumah Bian dengan begitu mudah.


Riko memarkir motornya di samping motorku yang masih berada di depan garasi rumah Bian.


" Motormu masih disini Ra, tapi kuncinya nggak ada di motor, coba kita masuk, mungkin di simpan di dalam rumah", ujar Riko, sambil masuk ke dalam rumah Bian yang tak terkunci. Riko mengucap salam dan aku bisa mendengar ada jawaban dari dalam, tapi jelas itu bukan suara Bian. Sesuai dugaan ku, Yoga sengaja datang kesini lagi. Untung aku mengajak Riko bersamaku.


" Sepertinya Yoga masih ada disini, berpura pura lah kalau aku tidak memberi tahumu tentang yang terjadi tadi pagi", bisikku lirih di telinga Riko.


" Iya beres, santai saja aku aktor yang hebat, kamu bisa mengandalkan aku untuk berakting seperti pemain FTV".


Jawaban Riko membuat aku merasa lega. Dan benar, ku lihat Yoga keluar dari dalam rumah Bian.


" Loh kamu disini Steve?, tahu begitu tadi aku nggak maksa buat nemenin Raya kesini, kalau tahu ada kamu disini. Raya bilang motornya di tinggal di rumah Bian, dan mau mampir buat ngambil motor, makanya aku temenin, karena aku tahu Bian lagi nggak dirumah".


Riko berjalan ke dapur dan mengambil air dingin dari kulkas. membawanya ke ruang tengah dan duduk di sofa panjang depan televisi sambil minum air dingin di tangannya.


Aku melihat Yoga mengambil kunci motorku dari saku celananya dan melempar ke meja yang ada di depan sofa.


" Tadi aku kesini lihat kunci masih di motor, jadi aku cabut, khawatir ada orang iseng dan motornya dibawa pergi".


Seperti biasa, Yoga pandai sekali berakting dan merangkai kata, hanya demi menutupi kelicikannya. Aku yakin kunci motorku dibawanya sejak pagi, pandai sekali dia berbohong. Aku hanya tersenyum karena tanpa di minta Yoga sudah memberikan kunci itu dengan sukarela.