
Di meja makan semua makan dengan lahap menikmati ikan bakar buatan Puput. Ternyata rasanya benar-benar enak. Ada rasa manis, asin, pedas, dan gurih. Bagaimana gadis semuda Puput memiliki kemampuan masak yang sangat jago seperti ini?. Tangannya sangat berbakat mengolah makanan.
Khusus untuk Syifa, Puput membuatkan yang rasanya manis dan asin saja, karena Syifa belum bisa makan makanan yang pedas.
" Jam 2 nanti kita sudah harus pulang ke rumah, karena perjalanan pulang yang memakan waktu sekitar 4 jam, kira-kira pas maghrib kita sudah sampai rumah. Semoga saja tidak macet lagi seperti saat perjalanan kesini kemarin"
" Kalau mama dan Raya mau bawa pulang sayuran untuk oleh-oleh, nanti bisa ku suruh pekerja di kebun untuk mengantarkan beberapa jenis sayuran untuk dibawa pulang", ujar Yoga setelah dia menghabiskan makanan di piringnya.
" Apa boleh mama sama Raya pergi ke kebun sebentar sebelum pulang?, Mama pengen pilih sendiri sayur yang mau dibawa pulang", ujar mama memohon pada Yoga.
Tapi aku malas sekali pergi ke kebun lagi, belum lagi pakaian ku, Syifa dan Yoga yang belum aku masukkan ke koper. Kalau pergi ke kebun dulu, waktu pulang yang sudah di jadwalkan jam 2 bisa molor nantinya".
" Ma, nanti juga sama pekerja kebun bakalan di pilihkan sayuran yang terbaik untuk kita bawa pulang. Ngapain ke kebun siang-siang begini, belum lagi nanti Syifa minta ikut malah jadi repot", ucapku merasa malas untuk ke kebun siang-siang begini.
" Syifa biarkan bermain dengan Puput sebentar, kita ke kebun bawa motor saja biar cepat. Mama pengen pilih sendiri sayurannya", ucap mama masih kekeh ingin ke kebun sayur.
" Baiklah kalau begitu, tapi nggak lama kan ma?, Raya harus beres-beres baju, belum Raya masukkan ke koper bajunya. Cuma 10 menit di kebun, nggak boleh lebih", Ujarku
Mama mengangguk . Dan usai makan selesai mama dan aku keluar rumah mengendarai sepeda motor menuju ke kebun sayuran.
Saat dijalan, ponselku berdering, ada panggilan masuk dari nomor baru, aku acuhkan panggilan itu, hingga aku dan mama sampai di kebun, nomor itu kembali menelepon lagi.
" Mama masuk saja dulu dan pilih sayurannya, Raya mau angkat telepon sebentar, nanti Raya nyusul mama ke dalam kalau sudah selesai teleponnya".
Mama menurut dengan langsung masuk ke perkebunan, barulah ku angkat panggilan dari nomor baru yang sejak tadi meneleponku terus.
" Halo Raya ini aku Utari", itu kalimat yang kudengar usai kami saling berbalas salam.
" Kenapa menelepon?, aku sedang sibuk, jadi langsung ke intinya saja Ri", pintaku.
" Apa kamu masih di Fila Ra?, aku ingin bertemu dan bicara dengan kamu secepatnya".
Apa yang ingin Utari bicarakan sampai dia meminta agar bicara denganku secepatnya.
" Jam 2 aku dan keluargaku akan pulang ke rumah. Maaf aku sedang sibuk persiapan untuk pulang, jadi aku belum bisa menemuimu sekarang. Kalau memang harus dibicarakan secepatnya, maka bicarakanlah melalui telepon sekarang, aku beri waktu kamu 10 menit",ucapku.
Dan Utari benar-benar langsung menceritakan tentang kehidupan pribadinya dengan Bian padaku, aku tak menyangka jika Utari akan seterbuka itu padaku. Aku sendiri tidak menyangka jika selama ini Utari begitu tersiksa batinnya menikah dengan Bian. Karena setahuku kehidupan mereka baik-baik saja, dan berbahagia.
" Menurut kamu gimana Ra?, apa aku harus menuruti keinginan Bian untuk menceraikannya?. Jujur aku sudah mencintai Bian. Usai gagalnya pernikahanku dengan Steve, dan masuklah Bian dalam hidupku sebagai suamiku. Aku mulai membuka hatiku. Dan dengan mudah Bian bisa membuat aku jatuh cinta padanya hanya dalam waktu satu bulan".
" Mungkin karena sikap Bian yang lebih sopan, dan menghargai keberadaanku, tidak seperti sikap Steve dulu, yang dingin dan selalu acuh padaku. Aku jadi lebih mudah untuk mencintai Bian".
Utari terus mengungkapkan isi hatinya padaku, tapi waktuku tidak banyak dan sebentar lagi mama pasti selesai memilih sayuran yang hendak kami bawa pulang.
" Ri, maaf kalo aku memotong kalimat. Tapi aku lagi nemenin mama nyari sayur, dan ini sudah mau selesai. Gimana kalau ngobrolnya di lanjut besok-besok, pas kita sama-sama sudah dirumah?".
" Maaf banget ya nggak bisa ngobrol lama, kalau saran aku sih kamu turuti kata hati kamu saja. Kalau hatimu memintamu untuk terus, maka teruskan saja hubungan kalian. Tapi kalau rasanya tidak mungkin untuk mempertahankan hubungan kalian, sebaiknya sudahi secepatnya, biar rasa sakitnya tidak terlalu dalam. Semakin lama bersama, mungkin rasa sakit karena perpisahannya juga lebih lama sembuhnya, apalagi kamu bilang kalau kamu sudah jatuh cinta sama Bian, mungkin bakalan sakit banget sih kalau sampai berpisah".
" Aku tutup dulu teleponnya ya Ri... besok-besok kalau ada waktu luang aku hubungi kamu lagi", ucapku.
Percakapan melalui telepon yang ku kira sangat singkat, ternyata sampai lebih dari 15 menit. Buktinya sekarang mama sedang berdiri di sampingku sambil menatapku kesal.
" Kamu ini telponan sama siapa sih Ra... kamu ngasih mama waktu 10 menit untuk pilih sayuran, tapi mama tungguin sejak tadi kamu nggak masuk-masuk ke perkebunan, tahunya malah kamu lagi asyik ngobrol lewat telpon. Ini mama sudah selesai pilih sayurannya, buat dibawa kamu sama dibawa mama pulang. Kita balik ke Fila sekarang".
Aku melirik ke arah karung yang baru saja diletakkan oleh pekerja kebun dengan hati-hati.
" Banyak banget ma, mau buat apa bawa sayuran sebanyak ini, apa karena ini mama jadi maunya datang ke sini sendiri dan pilih sayur sendiri?, ternyata mau bawa sayuran sampai sekarung, mama mau jualan sayur di rumah apa gimana?", cibirku.
" Bukan lah... mama mau kasih sama tetangga-tetangga rumah, ibu-ibu tetangga rumah pasti bakalan seneng kalau dibawain oleh-oleh sama mama. Mereka kan tahu kalau mama mau ke puncak".
Aku mengernyitkan dahi, " Mama pamer sama tetangga rumah kalau mama mau liburan ke puncak?, ih mama mah bikin malu, norak tau ma".
Mama kembali sewot karena aku mengatainya norak.
" Kamu itu jadi anak perempuan nggak ada hormat-hormatnya sama mama, ngatain mama pamer dan norak, padahal kan mama cuma pengen kasih tau itu para tetangga yang dari dulu suka nyinyirin kamu, kalau sekarang kamu itu sudah hidup enak, jadi nyonya besar".
" Mama itu dari dulu memang sebel sama tetangga-tetangga rumah mama, dari dulu mereka selalu saja ngomongin tentang kamu yang nggak enak di dengar. Bahkan sampai sekarang, kamu sudah menikah secara sah sama Yoga saja, ada yang ngatain kamu cuma jadi istri sirinya".
" Sebenarnya mama pengen banget itu kasih jus cabe ke mulut mereka, biar kepanasan, nggak bisa ngomong buruk tentang kamu lagi, sayangnya di perkebunan suami kamu lagi nggak nanam cabe, makanya nggak jadi mama buat jus cabenya".
Mama benar-benar emosi, ini tidak bagus jika terus dibahas. Bakal makan waktu lebih lama lagi. Harus segera ganti topik dan ajak mama pulang ke Fila secepatnya.
" Ya sudah raya minta maaf, bukan maksud Raya ngatain mama kok. Aduh sudah 20 menit kita disini, ayo ma kita balik ke Fila, kalau Syifa nyariin kita gimana?", ucapku seraya melihat jam di ponsel.
" Sekarang kita balik ke fila ya Ma.... Yang lain
pasti sudah lagi nunggu", ucapku pada mama.
" Mas, tolong anterin sayuran itu ke Fila ya... soalnya banyak banget aku nggak bisa bawa pakai motor", pintaku pada pekerja perkebunan yang tadi mengangkat kan sayuran dari dalam sampai kesini.
Sedangkan aku pulang lebih dulu berboncengan motor bersama mama. Untung tidak ada yang komentar karena waktu ke kebun yang seharusnya hanya 15 menit ternyata molor sampai setengah jam.
" Raya mau langsung ke kamar buat kemas-kemas baju dulu ma. Mama coba ajak Syifa main, jangan biarkan Syifa terus sama Puput, takutnya nggak mau pisah nanti pas mau pulang".
Mama mengangguk karena mengerti dari maksud ucapanku.
" Mba Puput, tolong buatin saya es teh manis ya, soalnya tadi di kebun dan di jalan panas banget, rasanya jadi pengen minum es teh, pasti seger", ucap Mama, dia sengaja mencari alasan untuk menyuruh Puput melakukan sesuatu, sehingga dengan mudah bisa mengajak Syifa bersamanya.
" Kalau sudah jadi tolong dibawa ke teras samping ya mba", seru mama sambil mengajak Syifa ke teras samping.
" Aku juga mau dong mba, tapi jangan es teh, buatin jus mangga, mangga yang metik di belakang masih kan di kulkas?", pinta Shaka ikut-ikutan.
Puput hanya mengangguk menerima semua perintah dari keluarga majikannya.
Shaka mengekor dibelakang mama menuju teras samping.