Healing

Healing
150. Saatnya Pergi



Pagi ini kami sekeluarga bangun untuk subuh berjamaah, hal baru yang belum pernah kami lakukan selama ini. Biasanya kami sholat sendiri-sendiri, dan si kecil Syifa juga yang paling susah di bangunkan biasanya tidak ikut subuh.


Aku masih memberinya kebebasan karena umuran Syifa masih sangat kecil untuk di disiplinkan untuk beribadah. Tapi aku sering mencoba mengajaknya dan memberi pengetahuan sedikit-sedikit, meski pada akhirnya Syifa hanya bangun sebentar kemudian tidur lagi.


Entah mengapa ada rasa bahagia yang amat sangat saat melihat pemandangan yang sangat langka sekaligus mengharukan ini.


Pemandangan saling memeluk dan sungkem pada yang lebih tua, aku beruntung karena anak-anakku bisa melakukan hal positif yang bahkan selama ini belum pernah aku ajarkan.


Kepergian Shaka ke Jogja hari ini seolah membuat hati kami semua saling terkait satu sama lain, seperti ada benang merah yang mengikat hati kami untuk lebih saling menyayangi.


Pasti aku dan Yoga akan sangat rindu pada Shaka. Dialah salah satu alasan terbesar yang membuat aku dan Yoga kembali bersatu. Karena Shaka lah, yang menjadi salah satu pertimbangan ku untuk menerima Yoga kembali meski dalam keadaan terpaksa.


Shaka adalah sumber kekuatan yang aku miliki saat aku dalam masa keterpurukan dulu, dia yang membuatku tidak pernah takut merasakan lelah, dan dialah yang menjadi harapan terbesarku sejak dulu hingga sekarang.


" Ayah, ibu... Shaka nanti sudah harus berangkat ke Jogja, bukan Shaka tidak setuju ayah dan ibu mengantar Shaka sampai di sana, tapi nanti Shaka berangkat dan langsung menuju ke kampus setelah menaruh barang-barang Shaka di kos-kosan "


" Apalagi ayah harus bekerja karena ini bukan akhir pekan, jadi kalau ayah dan ibu ingin mengetahui dimana aku nge kos, dan bagaimana tempatnya, ayah dan ibu datang saja di akhir pekan ini, atau kapan pun ayah punya banyak waktu, nanti akan Shaka kirim alamat kos-kosan Shaka".


" Atau kalau tidak biar Kak Juna yang mengantarkan kalian ke kos-kosan Shaka, karena kata ibu nanti Kak Juna yang akan mengantar Shaka ke Jogja".


Ternyata putraku memang berfikiran sangat dewasa, bahkan dia sudah mencari tempat kos terlebih dahulu sebelum sampai disana. Memang teknologi jaman sekarang begitu memudahkan manusia untuk melakukan ini dan itu dari jarak jauh.


Daerah Pogung, tempat Shaka ngekos, kata Shaka yang dekat dengan kampusnya, dan tidak perlu berkendara pulang perginya, karena jalan kaki saja akan sampai kampus dalam waktu 10 menit .


" Baiklah kalau itu mau mu, akhir pekan ini ibu dan ayah akan mengunjungi kamu dan melihat dimana kamu ngekos. Tapi ingat pesan ayah dan ibu, jaga diri kamu di sana, meski jauh dari ayah dan ibu, kamu bisa telepon ayah jika kamu mengalami kesulitan. Kita bisa cari solusi bersama", ucap Yoga.


Ucapan yang simpel, tapi bermakna sangat dalam. Entah mengapa aku merasa kepergian Shaka untuk kuliah di kota lain justru mempererat ikatan batin kami.


Kehidupan baru putraku akan dimulai usai kami sarapan bersama pagi ini. Begitu juga dengan rutinitas baru yang akan aku dan Syifa jalani.


Aku berniat untuk mencari tempat bimbingan belajar untuk anak usia dini seperti Syifa. Bukan karena apa, aku hanya mencari cara agar Syifa tidak begitu merasa kehilangan kakaknya setelah Shaka pergi nanti, karena Shaka biasanya setiap hari selalu bermain bersamanya sepulang sekolah.


Karena itulah aku harus membuat Syifa sibuk dengan rutinitas barunya. Dengan memasukkan nya ke bimbingan belajar Syifa akan punya kesibukan baru dan kenalan-kenalan baru yang akan mengalihkan perhatiannya agar tidak terus merindukan kakaknya.


Saat kami sarapan, Juna datang bersama mama dan papa, aku mengajak mereka sarapan bersama. Mereka memang sengaja datang untuk mengantar kepergian Shaka.


Juna yang kuberi kepercayaan untuk mengantarkan Shaka ke Jogja, karena Yoga memang sedang sibuk dengan pekerjaannya, tapi aku tidak bisa membiarkan Shaka pergi di antar oleh supir keluarga. Karena itulah aku meminta Juna yang mengantarkannya. Setidaknya nanti aku bisa bertanya pada Juna bagaimana suasana dan lingkungan tempat Shaka ngekos.


Belum lagi pasti Shaka butuh bantuan seseorang untuk menata barang-barang di kamar barunya, karena itulah, Juna adalah orang yang paling tepat aku mintai tolong untuk mengantarkan Shaka.


" Sudah masuk semua, memang tidak banyak barang yang kubawa , hanya kebutuhan dasar sehari-hari, karena yang lain-lain bisa aku beli sendiri di sana nanti Kak", belum aku menjawab, Shaka sudah lebih dahulu menjawab pertanyaan Juna.


Juna mengangguk paham.


" Bawa mobilnya hati-hati, tidak usah ngebut, utamakan keselamatan kalian, pelan-pelan yang penting sampai ke tempat tujuan", ucap mama yang sejak tadi kelopak matanya sudah dipenuhi dengan air.


" Sesibuk apapun kegiatan kamu nanti saat kuliah di sana, kamu harus tetap ingat sholat dan makan, jaga diri dan kesehatan kamu sendiri saat disana, keluargamu berada jauh disini, tidak bisa merawat kamu jika kamu kenapa-kenapa. Jadi mulai hari ini, kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Jangan membuat khawatir orang di rumah. Anak laki-laki harus bisa mandiri", Papa tidak mau kalah dengan mama, bahkan pesan yang diberikan lebih panjang.


Sedangkan aku, sejak tadi hanya bisa mengangguk anggukan kepala saja saat mama dan papa menyampaikan pesannya pada Shaka. Tenggorokan ku rasanya seperti tercekat. Sarapan saja tadi hanya beberapa suap, padahal lauk sayur sup yang berkuah, harusnya tinggal neken tanpa ngunyah, tapi entah mengapa untuk menelan rasanya begitu sulit.


Sedih... sudah tentunya, tapi aku tidak boleh menunjukkan kesedihan ku, Shaka pergi untuk berjuang dan belajar menjadi lebih baik lagi. Jadi aku harus mendukungnya, dan menunjukkan sikap bahwa aku ikhlas dan mendukungnya.


Saat hendak pergi, Shaka menyalami semua orang, bahkan dia memelukku cukup lama. Masih bisa ku paksakan bibir ini untuk mengulas senyum, meski mungkin ekspresi ku terlihat sangat aneh, seperti Joker, senyum dipaksakan.


Mobil melaju membawa Shaka dan Juna pergi menjauh dari rumah ini. Lambaian tangan kami mengantar kepergian Shaka, dalam hati kami masing-masing menyerukan doa yang terbaik dan juga keselamatan untuk putraku Shaka.


Air mata sudah tidak bisa lagi tertahan. Mama merangkul ku untuk masuk ke dalam rumah, seolah menguatkan aku yang merasa sedih ditinggalkan pergi oleh putraku. Padahal dirinya sendiri juga butuh dikuatkan, karena aku sangat tahu bagaimana kedekatan mama dan Shaka selama ini.


Shaka tidak pernah merubah pandangannya terhadap mama, dia tetap menganggap mama menjadi mamanya, bukan neneknya, karena Shaka masih tetap ingin merasakan kasih sayang yang sama seperti dulu. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena bagaimana pun mama ku memang sudah menjadi mamanya Shaka selama 14 tahun.


Jika ada pertanyaan untukku yang menanyakan seandainya waktu bisa berputar kembali ke masa dulu, dan aku diberi kesempatan untuk mengulang untuk menentukan pilihan, aku akan menjawab aku akan mengubah pilihanku dengan menolak ajakan Yoga melakukan hal terlarang itu, karena memang aku menyesal melakukan kesalahan yang fatal sekaligus kebodohan di masa mudaku.


Tapi jika ada yang bertanya menyesal atau tidak mempertahankan hidup putraku Shaka, aku akan menjawab dengan sangat lantang, jika aku sama sekali tidak menyesal sedikitpun. Meski dulu harus hidup dengan penuh perjuangan, di lingkungan yang menuntut hidup dengan bekerja keras untuk bisa melanjutkan hidup. Aku tetap akan mempertahankan putraku Shaka.


Kini semua kesulitan dan kesusahan yang dulu aku dan keluargaku alami sudah berakhir. Aku berharap untuk seterusnya kami akan hidup bahagia hingga akhir hayat kami. Meski orang hidup tentu saja harus merasakan kesulitan, tapi aku berharap aku dan keluargaku akan dengan mudah melewati semua jenis kesulitan yang kami alami.


...Tamat...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Terimakasih pada semua pembaca yang sudah setia mengikuti bagaimana lika liku kisah cinta Raya di novel Healing ini. Semoga menjadi penghibur dan pengisi waktu luang yang positif dikala senggang.


Kita tiru hal-hal yang positif sebagai bahan pembelajaran untuk kita semua. Hidup di dunia ini memang sudah semestinya kita akan selalu dihadapkan pada masalah dan pilihan, kita harus bertanggung jawab terhadap pilihan yang sudah kita ambil. Dan harus optimis dan berpikir positif jika kita bisa melewati setiap masalah yang terjadi dalam hidup kita.


Lakukanlah hal-hal yang baik, maka kita bisa berharap akan menuai hasilnya yang baik juga.


Salam sukses selalu untuk kita semua 🤗🤗, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih 🙏😊