Healing

Healing
124. Kontraksi



Aku langsung masuk ke kamar dan meminta bi Tati ikut bersamaku.


" Bi, tolong ambil koper besar itu dan masukkan baju-baju bayi, kain bedong, selimut, dan semuanya ini kedalamnya".


Bi Tati menatapku curiga, " Apa Nyonya sudah mau melahirkan?", tanya bi Tati sambil melakukan apa yang aku pinta tadi. Memasukkan semua barang-barang keperluan melahirkan dengan rapi kedalam koper.


" Sepertinya begitu Bi, tapi diam saja, nggak usah kasih tau Yoga, maksudku Steve, dia tadi melihatku mengelus perut sambil menahan sakit saja langsung panik, makanya sekarang aku suruh dia pergi ke minimarket depan untuk membelikanku minuman isotonik".


" Tadinya Steve sudah mau nyuruh Pak Surya, tapi aku bilang aku maunya dia yang belikan. Makanya dia pergi sendiri", ujarku.


" Tapi kalau nanti mulesnya tambah cepet, terus nggak tahan gimana Nyonya?, bukankah sebaiknya menunggu di rumah sakit saja?", Bi Tati juga ternyata sama saja seperti Yoga, panikan.


" Nanti saja ke rumah sakit kalau jarak kontraksinya sudah makin dekat. Biar nggak nunggu lama di rumah sakit, nanti malah jenuh di sana kelamaan, belum lagi Yoga yang panikan jika tahu saya mau lahiran, bisa-bisa malah dia duluan yang dirawat sebelum aku melahirkan. Lagian masih jarang banget kontraksi dan kenceng-kencengnya".


" Kopernya taruh di pojokan sana saja Bi, sudah masuk semuanya ya, aku mau tiduran lagi", ucapku sambil merebahkan diri di kasur.


" Maaf Nyonya.... kalau setahu bibi, saat dulu bibi mau melahirkan itu disuruh ngepel lantai, nyapu rumah, nyapu halaman, dan disuruh melakukan pekerjaan rumah lainnya biar bayinya cepet keluar. Tapi karena nyonya dilarang melakukan pekerjaan rumah tangga sama Tuan, pakai cara lain, Nyonya jalan-jalan saja, terus jongkok dan berdiri beberapa kali, naik turun tangga, katanya si biar nggak kelamaan kontraksinya. Biar bayinya cepet keluarnya juga".


" Dan satu lagi cara yang ampuh, minta bantuan suami, melakukan hubungan suami istri itu katanya bantu buka jalan lahiran", ucap bi Tati sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan karena merasa malu mengatakan hal se-fulgar itu padaku.


Obrolan dengan bi Tati lumayan mempengaruhi pikiranku. Selama ini aku memang tidak pernah ikut kelas ibu hamil, bahkan saat hamil pertama tidak melakukan apapun yang dilakukan ibu hamil pada umumnya. Dulu harus hidup bersembunyi di dalam rumah selama 5 bulan agar tetangga tidak melihat perut buncit ku membuatku jarang bersosialisasi dengan lingkungan.


Hal itu terjadi lagi sekarang, mungkin karena sejak saat itu terbiasa berada di rumah, dan jarang sekali keluyuran, sampai sekarang aku malas untuk keluar rumah. Apalagi kalau aku kecapekan Yoga akan memarahi semua ART, bukan memarahiku, membuatku merasa tidak enak pada semua ART, dan memilih tetap dirumah bersama mereka.


Aku hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar, bahkan saat Yoga pulang dari minimarket dan memberikan minuman isotonik padaku, aku kembali duduk untuk meminum minuman isotonik itu, dan kembali rebahan di kasur.


Sejenak terlintas saran bi Tati tadi, berhubungan badan dengan suami bisa membantu mempercepat proses persalinan. Haruskah aku mengajak Yoga terlebih dahulu untuk melakukannya sekarang. Tapi Yoga terlihat capek setelah berbelanja lama denganku tadi.


Sebaiknya tidur siang saja, kontraksi palsu masih tetap tiba-tiba muncul, biarkan saja, toh aku tidak merasa kesakitan yang amat sangat.


Malam hari aku mempraktekan saran bi Tati, aku mengajak Yoga melakukan pergumulan panas di kamar. Meski perutku dalam keadaan yang sangat besar, Yoga tetap mengatakan jika dia menikmati pergumulan ini, dan aku bisa memuaskannya. Mungkin penyatuan ini yang terakhir sebelum aku melahirkan.


Meski perut sesekali terasa kencang, aku masih bisa melakukan aktivitas panas di ranjang, dan usai berhubungan dengan Yoga, kontraksi makin sering terasa.


Jam 1 dini hari, aku mulai bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, dan aku kaget saat melihat ada tetesan darah segar di depan pintu kamar mandi, saat itu entah ke berapa kalinya aku ke kamar mandi malam ini. Perutku terasa mulas dan seperti ingin buang air besar.


Yoga tidur dengan nyenyak usai pergumulan tadi, tidurnya bahkan tidak terganggu meski aku berisik karena bolak-balik ke kamar mandi. Seperti itulah efek usai berhubungan badan, tidur akan lebih pulas dan nyenyak.


Haruskah aku bangunkan Yoga, atau aku bangunkan pak Surya saja, minta di antar ke rumah sakit, aku khawatir jika membangunkan Yoga justru dia panik.


Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamar dengan langkah pelan, ku ketuk kamar sambil memanggil Pak Surya yang memang tinggal di kamar belakang, namun tidak ada jawaban.


Justru Shaka yang hendak mengambil air minum ke dapur melihatku yang sedang berdiri di depan pintu kamar pak Surya sambil menahan sakit.


" Ayahmu sedang tidur pulas, aku tidak mau membangunkannya, apalagi.dia akan panik kalau tahu aku mau melahirkan, bisa minta tolong antarkan ke rumah sakit sekarang?, bukankah sekarang kamu sudah bisa naik motor?", pintaku pada Shaka yang langsung mengangguk, bisa kulihat dari ekspresi wajahnya, dia merasa kasihan melihatku yang kesakitan.


" Ambilkan koper di kamar dulu, tinggal ambil dan bawa saja, tapi pelan-pelan, jangan ganggu tidur ayahmu", ucapku sambil berjalan menuju ke depan rumah.


Aku berdiri sambil bersandar di pilar besar yang ada di teras rumah, Shaka keluar dari garasi mebawa motor matic dan sudah ada koperku di depan jok.


" Apa masih bisa naik motor?, maaf Shaka belum bisa bawa mobil", ujar Shaka merasa kecewa pada dirinya sendiri.


" Iya masih bisa, rumah sakit juga tidak terlalu jauh dari sini, jadi nggak papa naik motor", jawabku sedikit berbohong, padahal perutku sudah terasa tidak karu-karuan, bahkan keringat dingin mulai keluar dari tubuhku.


" Kakak pegangan yang kuat biar nggak jatuh", pinta Shaka, sambil menyerahkan helm padaku.


Ku lingkarkan tanganku ke pinggang Shaka untuk berpegangan. Shaka membawa motor dengan sangat hati-hati, untung saja malam ini cuaca terang, bulan sabit bersinar dengan indahnya. Tapi aku bisa merasakan tetesan air jatuh di tanganku. Air apa ini?, apa Shaka sedang menangis?, tapi kenapa dia menangis?.


Apa dia melihat ekspresi wajahku yang sedang menahan sakit, dan sesekali mengeratkan pegangan jika tiba-tiba terasa kontraksinya.


Hanya 10 menit perjalanan dari rumah ke rumah sakit terdekat. Aku meminta Shaka mengantarku langsung berhenti di depan IGD.


" Raya, kamu mau melahirkan?, kemana Steve? dan kenapa malah kesini sendiri?, apa bawa motor?", Adrian yang sedang tugas jaga malam ini. Dia menyuruh perawat membantuku naik ke atas brangkar, dan membawaku masuk ke ruang bersalin. Perawat yang memberi tahu pada Adrian jika aku datang dengan naik motor.


" Saya penanggung jawab proses persalinan malam ini, yang akan membantu persalinan tetap bidan, kalau ada sesuatu yang tidak terduga terjadi baru mereka akan bertanya keputusan yang harus diambil padaku", Adrian mengatakan tugasnya padaku. Aku tidak terlalu mendengarkannya, karena keadaanku yang semakin sering mulas kontraksi.


Bidan yang memeriksa jalan lahir mengatakan sudah bukaan lima, masih harus menunggu beberapa saat lagi.


Adrian keluar, dan kudengar dia menyapa Shaka, berarti Shaka sudah berada di depan ruang bersalin saat ini.


" Tolong bantu Kak Raya melahirkan Dok", ku dengar suara Shaka gemetar. Mungkin karena ini pertama kalinya dia menemani orang untuk bersalin.


" Itu sudah jadi tugas saya, tapi kemana Steve?, kenapa malah kamu yang antar Raya?".


" Ayah sedang dalam perjalanan kesini", jawab Shaka.


Itu berarti Shaka sudah menghubungi Yoga, dan Yoga sedang menuju kemari, semoga saja perjalanannya lancar sampai ke sini, aku tahu dia akan langsung panik mengetahui aku hendak melahirkan anaknya. Seorang pebisnis muda sukses yang terbiasa tampil di depan orang banyak dengan begitu percaya diri, akan langsung panik saat mengetahui istrinya mau melahirkan.


Meski dulu aku begitu ingin ditemani suamiku saat melahirkan, tapi keinginan itu menghilang begitu saja saat aku tahu Yoga panik mengetahui aku kontraksi. Mungkin lebih baik lahiran sendiri, dibantu para medis.


Namun ternyata Tuhan baik padaku, Yoga sampai sebelum aku melahirkan. Dia memang terlihat sangat panik, tapi dia tetap berusaha untuk berada di sampingku. Aku bisa melihat dia berusaha kuat melihat ku yang merasa kesakitan.


Aneh sekali, padahal saat melahirkan Shaka dulu, aku masih sangat kecil, tapi seingatku tidak sesakit ini, kenapa sekarang aku sudah dewasa justru melahirkan rasanya jadi begitu sakit?.