
Kami berdua berboncengan motor ke tempat perkemahan Shaka, aku sengaja duduk di ujung jok motor, dan berpegangan pada besi yang ada di belakang jok agar tidak bersentuhan dengan Yoga, bukan aku sok suci, aku hanya berusaha menjadi calon istri yang baik untuk Bian.
Meski dulu Yoga lah yang sudah merenggut kesucian ku, tapi bukan berarti sekarang aku masih tetap bebas untuk bersentuhan dan berhubungan fisik dengannya. Aku tetap berusaha menjadi calon istri yang baik untuk Bian.
" Jauh banget duduknya, kayak orang pacaran lagi marahan, ceweknya duduk di ujung motor, majuan dikit dong Ra, aku khawatir kamu jatuh kalau ada polisi tidur atau lobang di jalan".
Yoga berusaha membuatku duduk mendekat, tapi aku tak bergeming sedikitpun dari posisiku. Tetap duduk di ujung motor dan berpegangan pada besi belakang jok.
" Sudah tinggal bawa motor dan perhatikan jalan saja, nggak usah banyak ngomong dan berkomentar, atau kita batalkan saja ke perkemahannya", ucapku ketus.
Kulihat punggung Yoga yang bergetar karena terkekeh mendengar ucapanku.
" Kamu sekarang benar-benar jadi gadis yang galak banget Ra...., tapi galaknya cuman sama aku, kalau sama yang lain sih sikapnya sama seperti Raya yang aku kenal dulu. Kenapa kalau sama aku ngomongnya ketus banget, galak dan songol, seperti ngajak perang".
Ucapan Yoga memang benar, entah mengapa tiap kali aku bicara dengannya rasanya ingin marah, dan jadi emosi. Entah mengapa melihat wajahnya membuat darahku langsung naik, dan ingin marah-marah. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, bukan entah mengapa, tapi memang banyak penyebabnya, yang membuat aku langsung emosi tiap kali melihatnya. Kesalahannya padaku terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.
" Kamu serius mau tahu kenapa aku ketus sama kamu?, aku pikir tidak perlu aku jelaskan, kamu sudah mengerti sendiri jawabannya", ucapku dengan nada tinggi.
" Maafkan aku ya Ra... kamu memang benar, nggak perlu kamu sebutin apa penyebabnya, aku sudah tahu, dan paham alasan kamu bersikap seperti itu terhadapku karena apa".
Suasana di atas motor akhirnya menjadi sepi setelah itu, Yoga diam dan begitupun denganku. Hanya suara motor dan hembusan angin malam yang menjadi musik alami yang mengalun mengiringi perjalanan malam ini.
Kami pun sampai di tempat perkemahan. Saat motor sudah dimatikan dan kami berdua memasuki lokasi tenda, suasana di tengah lapang sedang sangat ramai dengan siswa siswi yang duduk memutari kayu bakar yang sedang disusun oleh siswa-siswi kelas 8 dan 9.
Aku masih tetap memakai masker dan jaketku, begitu juga dengan Yoga yang masih melakukan hal yang sama, kami seperti orang berpacaran yang di larang oleh orang tua kami, tapi diam-diam kami berdua tetap pergi kencan, dan penyamaran seperti inilah yang kami lakukan, agar tidak dikenali oleh orang lain.
Putraku Shaka berdiri di tengah-tengah semua orang, berjarak beberapa langkah dari tumpukan kayu yang akan di nyalakan menjadi api unggun.
Setelah di siram dengan minyak tanah, api unggun pun di nyalakan, dan putraku Shaka bernyanyi dengan memainkan gitarnya, di ikuti oleh yang lain menyanyikan lagu yang sedang dinyanyikan Shaka.
Aku sungguh bahagia karena putraku tampil di depan sana dengan wajah bahagia dan mata berbinar, tatapan yang sangat terang seperti api unggun yang sedang menyala saat ini.
...🎶 Disini senang, di sana senang...
...Di mana-mana hatiku senang...
...Semenjak aku jadi Pramuka...
...Hatiku selalu gembira...
...La la la la la la la........
...La la la la la la la........
...La la la la la la la........
...La la la la.....🎶...
Lagu terakhir yang di nyanyikan Shaka bersama dengan yang lain dengan petikan gitar yang sedang Shaka mainkan.
Sejak tadi aku masih berada di samping Yoga, karena terpukau dengan penampilan Shaka dan penampilan teman-temannya. Aku bahkan tidak sadar kalau sejak tadi Yoga bukan memperhatikan penampilan anak-anak di depan, melainkan menatap terus ke arahku.
Mama dan Papa juga entah berada di mana, terlalu banyak pengunjung yang datang di lapangan dan ikut melihat api unggun. Sejak tadi aku berusaha menghubungi mereka, tapi tak berhasil, karena signal di tempat ini yang tida bagus.
" Apa mama dan papa kamu belum kelihatan?", tanya Yoga yang sejak tadi memperhatikan aku yang sedang berusaha menghubungi nomor mama dan papa.
Aku mengangguk dan kembali berusaha menghubungi mama dan papa, tapi sepertinya nomor mereka berdua tidak aktif. Akhirnya ku kirimkan pesan singkat, mengabari mereka jika aku sedang berada di lapangan tempat acara api unggun di laksanakan.
Tapi pesan tidak juga dibaca, bahkan masih tetap centang 1. Entah karena signal yang buruk, atau ponsel mama dan papa yang mati.
Akhirnya aku simpan kembali ponselku kedalam saku celana, aku berusaha melewati kerumunan banyak orang yang juga sedang menonton pertunjukan di sekitar api unggun. Berusaha mendekat ke arah dimana Shaka bergabung dengan teman-teman dari regunya. Berharap mama dan papa ada di sekitaran regu Shaka.
" Kita berpisah disini, aku mau nemuin Shaka, dan tolong jangan ikuti aku".
Aku pergi berjalan, tidak memperhatikan ke belakang, hanya meninggalkan Yoga di tempat tadi begitu saja. Karena aku sengaja ingin memisahkan diri darinya.
" Shaka !", seruku saat aku sudah dekat dengan regu Shaka.
Shaka dan beberapa temannya menengok ke belakang menuju ke arahku.
" Kak Raya kesini lagi?, katanya hari ini kerja, apa pulang kerja kakak ke sini?", tanya Shaka yang menghampiri aku ke belakang.
" Iya, kakak ke sini karena pengen lihat kamu tampil lagi, kakak denger dari mama, kalau kamu akan tampil".
" Ternyata adik kakak yang sering nyebelin ini, diam-diam punya bakat yang perlu di acungi jempol. Kakak bangga banget sama kamu Ka".
Shaka tersenyum. " Kakak baru lihat seperti itu saja sudah bangga, masih banyak kejutan yang lain yang akan membuat kakak lebih bangga lagi", ucap Shaka dengan percaya dirinya yang tinggi, begitu mirip dengan ayahnya, seandainya Yoga mendengar ucapan Shaka pasti dia seperti sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu.
"Itu apa Kak?, apa buat Shaka?", tanya Shaka menunjuk ke bungkusan berisi 3 box martabak manis yang ada di tanganku.
Aku mengangguk, " Tadi pas lewat sengaja beli buat kamu dan teman-temanmu, nih", ucapku sambil menyerahkan kantong plastik berisi martabak manis itu.
" Mama dan Papa di mana Ka?, sejak tadi kakak malah pusing sendiri nyari keberadaan mereka, saking banyaknya yang berkunjung dan menonton pertunjukan disini, aku nggak bisa melihat dengan benar di kegelapan", ucapku jujur.
Shaka nampak melongok mencari-cari keberadaan mama dan papa, " Tadi papa bilang mau cepet-cepet pulang, karena mama sepertinya masuk angin, saat belum mulai kembang api tadi, mama sempat muntah-muntah, mungkin karena di sini dingin, jadi mama masuk angin".
" Mungkin mama dan papa sudah pulang kak Raya, kakak sendiri ke sini sama siapa?, kok kak Bian nggak kelihatan?", Shaka melongok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Bian.
" Kakak ke sini sendiri, sengaja mau jenguk kamu dan gabung sama mama dan papa nonton api unggun, sayangnya nggak sampai ketemu mereka", jawabku sedikit berbohong, dan dengan ekspresi wajah kecewa.
Seandainya boleh jujur, sebenarnya ayah kamu yang maksa ibu untuk datang kesini Ka, tapi tidak mungkin hal itu akan aku katakan jujur padamu, karena itu adalah rahasia.
Jika mama dan papa sudah pulang lebih dulu, itu berarti aku harus naik motor sendirian melewati jalan yang cukup sepi dan jauh dari desa. Semoga saja perjalanan pulang nanti lancar, karena aku pulang sendirian.
Akhirnya setelah mengobrol dengan Shaka aku pamit pulang, takut mama dan papa jadi khawatir kalau aku tidak pulang-pulang sudah larut malam.