
Raya POV
Sudah dua minggu semenjak Yoga mengundang keluarga pak Adam ke rumah. Dan baru hari ini aku tahu apa alasan sebenarnya.
Aku memang paham betul bagaimana sifat asli Yoga, dia tidak mungkin mengundang seseorang datang kerumah hanya karena ingin berterimakasih atas keberhasilan Pak Adam mengurusi pembebasan tanah yang saat ini sedang dibangun hotel. Karena dari dulu, Yoga sudah menang banyak tender, dan juga berhasil membangun banyak gedung untuk lebih membesarkan bisnisnya. Namun selama ini belum pernah Yoga mengundang seorangpun koleganya ke kediaman kami.
Jelas ada maksud lain jika benar Yoga mengundang koleganya, apalagi beserta keluarganya. Dan tebakanku tepat. Ternyata memang Yoga menyukai sikap dan sifat gadis yang bernama Adel itu. Teman sekelas Shaka, yang kata Shaka adalah rival nya yang paling berat.
Yoga ingin mengenal lebih jauh bagaimana Adel dan bagaimana orang tuanya. Begitu juga sebaliknya, sepertinya Pak Adam juga ingin mengetahui lebih jauh tentang Shaka, juga seluk beluk keluarga kami.
Sayangnya jika melihat ke Shaka pribadi, sebagai seorang ibu, aku merasa jika Shaka kurang respect terhadap Adel. Kesimpulan itu aku dapat dari jawaban Shaka atas pertanyaanku usai makan siang bersama waktu itu.
" Apa kamu senang, ayahmu mengundang Adel, teman sekelasmu beserta keluarganya ke rumah?"
Saat itu Shaka langsung menggelengkan kepalanya. " Shaka nggak suka Bu, selama ini sengaja Shaka tidak pernah mengajak satupun teman Shaka main ke rumah. Meski kadang ada beberapa yang memaksa ingin main, pasti selalu Shaka tolak. Bukan karena Shaka tidak suka berteman. Tapi Shaka lebih suka kehidupan pribadi keluarga kita hanya kita yang tahu".
" Dan tentang Adel, Shaka juga tidak suka ayah mengundang keluarganya kesini, apalagi Adel teman perempuan. Jika dia sampai bocor dan bercerita ke teman-teman yang lain jika dia sudah diundang kerumah kita untuk makan bersama dengan keluarganya juga. Mungkin teman-teman yang lain bisa salah sangka, dan membuat kesimpulan sendiri-sendiri".
Saat mendengar jawaban Shaka, aku sadar, dia hanya ingin menjaga nama baik keluarga. Shaka tidak mau punya teman yang terlalu dekat dengannya, karena khawatir kisah masa laluku dan Yoga yang tidak baik akan di ketahui oleh orang lain.
Dan hari ini, saat Yoga mengatakan ingin menghadiri pertemuan wali murid di sekolahan Shaka, aku langsung mendekatinya.
" Jangan berusaha mendekatkan Shaka dengan gadis manapun. Berilah kebebasan Shaka untuk menikmati masa remajanya tanpa konflik asmara. Shaka putramu, dia menuruni sifat kamu yang enggan untuk di jodoh-jodohkan".
" Aku tahu kamu menyukai sifat dan sikap Adel. Karena sebagai seorang gadis, Adel termasuk bibit yang unggul, berasal dari keluarga yang terpandang, cantik, dan juga cerdas. Tapi ingatlah pada dirimu sendiri di masa lalu. Kamu bersikukuh untuk kembali bersamaku meski orang tuamu sudah memilihkan Utari yang jauh lebih baik dariku".
" Seperti itulah putramu Shaka, dia tidak suka kamu dekatkan dia dengan gadis manapun, termasuk Adel".
Sebagai seorang ibu, memang itulah tugasku, menjadikan kebahagiaan anak-anak ku sebagai prioritas utama.
Yoga menatapku, " Apa kamu yakin jika Shaka tidak menyukai Adel?, Shaka kan belum pernah dekat dengan gadis manapun. Setahuku dia belum pernah pacaran selama ini. Jadi apa dia sudah punya incaran gadis seperti aku dulu yang sudah mengincarmu?".
Pertanyaan Yoga memang sempat membuatku bingung. Memang benar selama ini Shaka belum pernah ketahuan berpacaran, mungkin memang dia tidak ingin berpacaran. Padahal usianya sudah lebih dari 17 tahun. Justru mendengarkan perkataan Yoga aku jadi sedikit khawatir.
Hingga malam hari di akhir pekan. Aku sengaja mendatangi Shaka ke kamarnya. Saat itu sudah jam 9 malam, Syifa sudah tidur dengan pulas di kamarnya.
Aku masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak kunjung ada jawaban, dan ku dapati Shaka sedang duduk di balkon menghirup udara malam yang terasa sejuk, di malam yang panas seperti saat ini.
Entah apa yang sedang dipikirkan Shaka, yang ku tahu pasti, Shaka sedang memikirkan sesuatu dengan sangat fokus, karena suara pintu yang ku ketuk tidak mengusik tatapan matanya yang tengah menatap ke langit malam.
Tidak seperti anak laki-laki seusianya yang sedang badung-badungnya. Shaka memang tergolong anak yang disiplin, tanpa aku dan Yoga atur. Shaka tidak pernah merokok, meski sembunyi-sembunyi, tidak gonta-ganti pacar, bahkan sampai sekarang setahuku sepertinya Shaka belum pernah pacaran.
Bangun pagi setiap hari tanpa di bangunkan, belajar setiap malam tanpa di suruh. Aku termasuk ibu yang beruntung mempunyai putra yang disiplin seperti Shaka.
" Apa yang sedang kamu pikirkan?, serius banget sampai ibu ketuk pintu kamar berkali-kali kamu nggak denger, tadi ibu kira kamu sudah tidur", ucapku, sambil duduk di samping Shaka dan meluruskan kaki ku diatas karpet bulu yang ada di balkon.
" Eh, ibu.... Shaka lagi bingung mau melanjutkan kuliah di mana. Awalnya Shaka pengen ke Singapura, melanjutkan kuliah disana. Tapi setelah Shaka pikir-pikir lagi, nanti Shaka jadi jarang ketemu sama Syifa. Padahal Shaka pengen bisa melihat Syifa bertumbuh kembang menjadi seorang gadis yang cantik".
" Tapi kalau tetap disini, Shaka mungkin tidak belajar untuk hidup mandiri, apa-apa selalu dibantu ayah. Ada sedikit masalah, ayah langsung turun tangan. Shaka jadi terus merasa seperti anak kecil".
" Shaka mau latihan mandiri, menyelesaikan masalah sendiri, agar Shaka menjadi orang yang lebih bijaksana dan tidak selalu bergantung pada ayah".
Aku mengangguk, mengerti dengan apa yang di inginkan Shaka.
" Kalau begitu, apa ibu boleh berpendapat?", tanyaku hati-hati, aku tidak mau terkesan menyuruh Shaka, biarlah Shaka sendiri yang menentukan, aku hanya menyampaikan saranku sebagai seorang ibu yang sebenarnya merasa sangat khawatir dengan keadaan putranya yang punya keniatan untuk tinggal sendiri, jauh dari aku dan suamiku.
Shaka mengangguk dan menatapku lekat.
" Belajarlah di manapun kamu mau, hanya saja sebagai seorang ibu, tentu saja merasa khawatir dengan lingkungan baru yang akan kamu tempati. Jadi bagaimana kalau kamu kuliah tetap di Indonesia, terserah kamu mau di daerah mana, tapi setidaknya masih di Indonesia".
" Jadi kalau terjadi apa-apa sama ibu, atau sama kamu, bisa dengan mudah menghampiri".
" Ibu yakin kamu bisa diterima di kampus manapun, dengan nilai mu yang selalu juara umum. Tapi tolong jangan pergi terlalu jauh dari ibu. Kalau kamu tidak nyaman di jenguk ayah dan ibu, maka Ibu dan ayah tidak akan sering-sering menjengukmu meski nantinya kamu ngekos, atau ngontrak di tempat yang dekat", ucapku dengan nada memelas, seraya memohon.
" Kalau masih di kota ini, atau kota sebelah tentu saja sudah banyak yang mengenal Shaka, ibu ini ada-ada saja".
" Nanti coba Shaka pikirkan lagi, mau ke Bandung, Jakarta, Jogja, atau Surabaya, yang masih di pulau Jawa, biar tidak terlalu jauh dengan ibu".
Aku sedikit merasa lega mendengar Shaka. Dan aneh lagi, seminggu kemudian saat Shaka membuat keputusan akan kuliah di UGM, Jogja menjadi kampus tujuan Shaka.
Yoga tidak mempermasalahkan mau kuliah dimana Shaka, yang penting sesuai dengan apa yang di minati Shaka. Dan Shaka mendaftar di fakultas kedokteran sesuai dengan keinginannya dulu saat menemani aku melahirkan Syifa. Dia benar-benar berkeinginan untuk menjadi seorang dokter kandungan yang bisa membantu persalinan ibu hamil, dan menyelamatkan banyak nyawa.
Darah dari almarhumah neneknya yang seorang Bidan, ternyata menurun pada Shaka, cucu laki-lakinya. Semoga saja Shaka bisa menjadi dokter sesuai dengan yang di cita-citakannya.
\=\=\=
" Selamat kepada Arshaka Saputra, sebagai juara umum kelulusan tahun ini, dengan nilai ujian hampir sempurna dengan rata-rata nilai 99,50 ".
Suara pembawa acara menyerukan nama Shaka dengan begitu nyaring. Betapa merasa bangganya aku sebagai seorang ibu yang anaknya berprestasi seperti Shaka. Aku memang sengaja datang ke sekolahan Shaka sebagai walinya. Awalnya Yoga ingin hadir, namun ternyata ada meeting penting dengan klien dari Malaysia, sehingga Yoga tidak bisa hadir, dan akulah yang menggantikannya.
Bangga, sangat bangga aku mempunyai putra seperti Shaka. Siapalah aku ini, yang hanya lulusan SMP, itu pun lulus karena mengikuti kejar paket B. Tapi aku berhasil melahirkan dan membesarkan anak seperti Shaka. Aku mengalahkan ratusan ibu lain yang jauh lebih cerdas dariku, karena ibu-ibu lain lulusan SMA atau bahkan lulus sarjana. Jujur aku merasa bangga pada diriku sendiri.
Namun di sisi lain, aku juga merasakan takut dan sedih, karena setelah pengumuman kelulusan ini, berarti sebentar lagi Shaka akan meninggalkan aku, meninggalkan rumah kami, untuk berlatih hidup mandiri di Jogja.
Tempat tujuan Shaka untuk belajar mandiri, untung saja hanya di Jogja, masih bisa di jangkau, hanya butuh kurang lebih 7 jam perjalanan dari kota ini.
Karena Shaka bilang usai pengumuman kelulusan, dia akan langsung pergi ke Jogja, untuk menyerahkan ijazah dan surat-surat penting lainnya sebagai persyaratan mendaftar kuliah di sana.
Sebelumnya Shaka sudah mendaftar secara online, dan besok saat ke Jogja tinggal menyerahkan berkas-berkas aslinya. Aku selalu berharap Shaka akan bertemu orang-orang baik disana. Bisa menjaga diri dan mudah bergaul dan mendapatkan banyak teman, agar dia tidak merasa kesepian meski berada jauh dari orang tuanya.