Healing

Healing
135. Salah Kira



Usai makan kami semua berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati manisan mangga buatan Puput kemarin, rasanya sangat pas makan yang segar-segar disiang hari yang panas ini. Karena Puput menyimpannya di kulkas, membuat manisan ini makin terasa segar saat disantap.


Namun mama dan papa pamit untuk tidur siang karena mereka merasa lelah dan mengantuk. Maklum mereka semakin tua. Tanpa aku sadari mama dan papa sudah berusia 50 tahun lebih. Aku senang mereka berumur panjang, bisa melihat aku menikah dan berkeluarga. Dan aku harap semoga saja mereka bisa menyaksikan juga pernikahan Juna dan bisa menyaksikan Juna menjadi orang sukses nantinya.


" Bagaimana rencanamu untuk membuka bengkel Jun?. Sepertinya kamu termotivasi oleh tetangga kontrakanmu si Rasid yang sangat perhatian padamu itu ?", Yoga yang duduk bersebelahan dengan Juna sengaja menanyakan rencana Juna kedepannya.


Tapi tunggu dulu, aku kan belum cerita apa-apa tentang rencana Juna yang akan membuka bengkel pada Yoga, lalu dia tahu itu dari siapa?, apa mungkin Juna juga meminta pendapat padanya ?.


" Tidak juga, hanya berpikir usaha yang sesuai dengan kemampuanku. Mau buka toko roti, atau restoran sepertinya aku tidak punya keahlian di bidang kuliner".


" Selama ini kan aku sudah menjadi karyawan di perusahaan perakitan motor, dan sudah cukup banyak tahu tentang ilmu permesinan, karena itulah aku pikir membuka bengkel adalah usaha yang paling sesuai dengan kemampuan, keinginan, dan juga minatku. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan bang Rasid", terang Juna.


Jadi ternyata Juna juga menyampaikan rencananya terhadap Yoga, baguslah kalau begitu


Tapi sebenarnya apa maksud Yoga sampai membawa-bawa nama Rasid disini, toh yang kenal orang itu cuma dia, aku, dan Juna. Tidak seharusnya dia membuat penilaian terhada Juna sesimpel itu. Karena aku yang sudah sangat paham bagaimana sifat Juna, karena kami tumbuh bersama sejak kecil.


" Besok setelah kita selesai liburan, kakak akan ajak Shaka untuk mencari tempat yang strategis untuk dijadikan bengkel, yang luas dan mudah di jangkau dan sering dilewati kendaraan. Kamu mau kan temenin ibu nyari sewaan tempat yang akan dijadikan bengkel?".


Shaka mengangguk setuju.


" Siang ya Bu, kalau bukan weekend nggak bisa pergi pagi".


" Tentu saja siang, pagi kan kamu sekolah".


" Oh iya Yah... Rencananya ibu juga mau ajak Puput untuk tinggal dirumah kita, boleh kan Yah ?", tanyaku pada Yoga yang ekspresinya seperti terkejut dengan pertanyaan ku.


" Puput sudah aku kasih tanggung jawab menjaga dan membersihkan rumah ini, kenapa kamu mau mengajaknya ikut tinggal bersama kita?, aku tidak setuju. Di rumah kan sudah ada banyak pembantu, semua pekerjaan sudah ada yang bertugas masing-masing, jika Puput ikut, memangnya kamu berniat mau menjadikannya sebagai apa?", tanya Yoga padaku.


Memang benar yang dikatakan Yoga, di rumah sudah ada banyak ART, dan sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Lalu jika Puput ikut, aku akan memberinya tugas apa?, mama jelas akan sakit hati jika tahu aku berniat menjadikan Puput baby sitter untuk Syifa.


Karena mama yang paling kenceng untuk merawat dan membesarkan Syifa sendiri tanpa bantuan baby sitter.


" Bisa apa saja, kan Puput multi talent, dia bisa melakukan semua hal", jawabku absurd, tak ada kejelasan.


" Ibu.... yang diucapkan ayah sudah sangat benar, mba Puput yang kata ibu multi talent itu lebih tepat berada di sini, dia bisa mengeluarkan semua kemampuannya dia bisa bebas berekspresi disini, karena cuma dia sendiri yang bekerja disini. Tidak akan ada ART lain yang akan cemburu karena sikap ibu yang terlihat sangat menyukainya".


Ternyata Shaka menyadari jika aku menyukai Puput, apa terlalu nampak jelas caraku bersikap, sampai Shaka mengatakan hal itu?.


" Memangnya mba Puput nya mau di ajak kerja di rumah kami?. Aku lihat mba Puput sudah merasa nyaman bekerja di Fila ini", Shaka langsung menanyakan keputusan Puput menengahi aku dan Yoga yang berbeda pendapat.


" Saya.... nyaman bekerja disini Nyonya, Tuan, tapi kalau Nyonya atau Tuan menyuruh saya untuk ikut bekerja di kediaman keluarga, saya harus menuruti keinginan majikan saya, jawab Puput sambil menunduk, karena hanya dia satu-satunya orang yang berada disini dan bukan anggota keluarga kami.


" Tuh kan... Puput nya saja tidak mau", Yoga tersenyum lebar merasa dirinya yang benar.


Esok harinya keputusan mengajak Puput ke rumah harus aku lupakan, karena semalam di kamar Yoga dan aku kembali membahas mengenai hal ini, dan Yoga tetap tidak setuju Puput berkerja di rumah.


Dia memberi tahukan alasannya yang masuk akal dan bisa aku terima. Karena Puput bukan hanya sekedar pembantu biasa. Dia juga turut menjaga Fila ini, dan Puput memiliki sikap tegas dan pemberani. Akan cukup sulit mencari pengganti Puput sebagai ART di sini, jika Puput jadi ikut dengan kami ke kota.


" Mba Puput lagi bikin apa sih?", Syifa yang sejak tadi mengekori Puput kemanapun dia pergi akhirnya bertanya apa yang sedang dilakukan Puput.


" Mba lagi bikin bumbu buat ikan hasil pancingan Kakek, Ayah, Om Juna, dan Kak Shaka. Itu ikannya lagi dibersihkan sama Om Juna dan Kak Shaka. Syifa disini saja nemenin Mba Puput, soalnya disana bau amis".


Syifa mengangguk setuju, sambil meihat ke arah Shaka dan Juna sebentar, kemudian kembali fokus pada Puput, bahkan Syifa terus bertanya pada Puput bumbu apa saja yang sedang Puput ulek di cobek.


" Itu ketumbar.... Apa Syifa mau cium baunya?".


Syifa langsung menggeleng cepat saat Puput menawarkan padanya untuk mencium bumbu-bumbu.


" Baunya nggak enak, Syifa nggak suka bau bumbu-bumbu ikan. Syifa sukanya bau ikan goleng sama ikan bakal, heeem... yummy...", ujar Syifa dengan lidah melet keluar, seolah tengah membayangkan ikan goreng dan Ikan bakar. Betapa lugunya putriku, dia sangat menggemaskan.


" Kalau begitu... sekarang Syifa mainnya sama kak Shaka atau sama ibu dulu, soalnya mba Puput mau kasih ikan itu bumbu dulu, nanti baunya nggak enak", ucap Puput menyuruh Syifa menjauh darinya.


Sebenarnya aku juga hendak mengajaknya menjauh dari Puput, Syifa tidak boleh terlalu dekat dengan Puput bukan karena bau amis atau bau bumbu ulek yang tidak Syifa sukai, tapi karena Puput tidak bisa ikut bersama kami ke rumah. Mereka berdua harus dibuatkan jarak, tidak boleh terlalu dekat.


Syifa akan susah untuk berpisah dengan seseorang yang disukainya. Buktinya setiap kali Juna hendak kembali ke kontrakan karena masa libur sudah usai. Syifa selalu saja nangis kejer tiap mau ditinggal. Karena tahu hal itu, Juna jadi tidak pernah lagi berpamitan jika hendak kembali ke kontrakan. Dia akan pergi diam-diam agar Syifa tidak menangis.


" Syifa sayang..., kita jalan-jalan keluar dulu yuk, temani ibu sebentar", pintaku pada Syifa.


Syifa yang memang benar-benar tidak menyukai bau bumbu ikan langsung berlari ke arahku dan meninggalkan Puput yang kini tengah melumuri ikan hasil pancingan dengan bumbu.


" Ibu memangnya mau kemana?", tanya Syifa menanyakan kemana tujuanku. Padahal tujuanku yang sebenarnya hanya ingin membuat Syifa tidak terlalu lengket dan terus menempel dengan Puput.


Aku langsung mengajak Syifa keluar dari rumah, Syifa terus membuntuti kamanapun aku pergi.


" Ibu mau beli es krim, biasanya jam segini ada yang lewat, kan sebentar lagi siang, biasanya banyak penjual yang lewat karena mau mangkal di depan taman bunga", ujarku menjelaskan.


" Waaah... Syifa mau es klim juga, yang lasa stobeli ya Bu?", pinta Syifa dengan rengekan khas anak kecil yang sangat menggemaskan.


" Oke, nanti kita tanya sama penjualnya ada es krim rasa stroberi atau tidak".


Belum lama sejak kami keluar dari rumah, si penjual es krim benar-benar lewat.


" Ye... Syifa mau es klim stobeli !", seru Syifa kegirangan melihat tukang es krim lewat.


Tukang es krim langsung berhenti ketika melihat aku melambaikan tangan ke arahnya.


" Es krim yang rasa strawberry satu, yang coklat tabur kacang satu ya Pak", ucapku memesan. Namun saat aku hendak membayarnya, aku baru ingat jika aku tidak membawa uang, bahkan pakaian yang sedang aku pakai tidak ada sakunya, berarti aku tidak membawa uang sepeserpun.


" Tunggu disini ya pak, saya lupa nggak bawa uang", Aku langsung balik kanan untuk mengambil uang untuk membayar es krim, namun betapa kagetnya aku saat kulihat Bian.berdiri tepat dibelakang ku, entah sejak kapan dia berada di sana, sejak tadi aku tak mendengar langkahnya. Bian kemudian mengeluarkan dompet dari saku celana, dan mengambil uang dari dompetnya untuk membayarkan es krim yang ku beli.


" Ini Pak, buat bayar dua es krim itu, ambil kembaliannya", ucap Bian sambil tersenyum ramah pada penjual eskrim.


" Oh, iya makasih banyak Tuan, semoga putrinya jadi anak yang cerdas dan berbudi pekerti luhur seperti ayah dan ibunya, langgeng-langgeng sama istrinya Tuan", ucap si penjual es krim sambil melirik ke arah Bian dan ke arahku bergantian.


" Saya bukan istrinya", ucapku menjelaskan pada penjual es krim karena dia sudah salah paham.


" Maaf Nyonya, saya kira kalian satu keluarga, soalnya cocok banget yang cowok ganteng, yang cewek cantik, terus putrinya juga cantik banget. Sekali lagi mohon maaf Nyonya, sebagai permohonan maaf, ini saya beri dua es krim dengan rasa coklat dan bertabur kacang, sama seperti yang sedang Nyonya pegang", ujar si penjual es krim.


" Tidak usah Pak, satu saja cukup", ucapku, pasti penjual es krim itu berbaik hati karena uang kembalian dari es krim ini masih sangat banyak, tapi Bian tidak minta kembalian. Untung besar penjual es krim ini. Rejeki nomplok.


" Kalau begitu ini buat Tuan saja, tolong di pegang, dan saya pamit mohon diri, sekali lagi saya minta maaf pada Nyonya", penjual es krim pergi meninggalkan kami menuju ke arah taman bunga.


" Makasih Om, telnyata Om baik juga, Syifa minta maaf kalena kemalin udah tablak Om ", ucap Syifa dengan mulut belepotan penuh dengan es krim berwarna putih dan pink.


" Memang Om itu sebenarnya baik sama semua orang, hanya saja orang-orang itu tidak tahu dan tidak secerdas Syifa", ujar Bian sambil menatap Syifa yang sengaja memeletkan lidahnya untuk menjilati es krim di bibirnya.