
Waktu berlalu terasa begitu lamban, semakin hari perutku semakin membesar, dan kini semua aktivitas yang ku lakukan sangat terbatas. Tidur pun sudah tidak bisa nyenyak, karena gerakan bayi dalam perutku semakin aktif. Mau terlentang susah, miring pun susah, rasanya membawa perut ini seperti membawa beban kemana-mana.
Aku mulai merasa bosan setiap hari berada di dalam rumah. Rasanya sangat rindu ingin keliling jalanan sambil menaiki motor mencari udara segar. Namun aku takut ada orang lain yang melihatku.
Tubuhku sudah semakin gendut, apalagi perutku sudah sangat besar. Kehamilanku sudah memasuki bulan ke 9, itu berarti tinggal menunggu siang atau malam saja untuk aku melahirkan.
Mama dan Papaku masih tetap berangkat kerja. Di tempat kerja mamaku memang hanya diberi ijin cuti melahirkan selama 3 bulan, dan mama sudah mengajukan ijin itu, hanya saja belum mendapat konfirmasi dari bagian kantor.
Tidak apa, karena kurasa aku belum mau melahirkan sekarang-sekarang, mungkin beberapa hari lagi, karena aku masih sangat jarang merasakan kontraksi. Kata Bu Ara, jika.sudah dekat hari melahirkan, ibu hamil akan sering merasakan kontraksi rahim. Namun sampai saat ini hanya sesekali dalam sehari aku merasakan kontraksi itu.
Tiap beberapa jam sekali papa mengirim pesan untuk menanyakan keadaanku, kurasa sebenarnya papa khawatir karena kehamilanku yang sudah mendekati masa persalinan.
Tapi jika tidak berangkat narik ojek, Papa pasti akan bingung harus memberi makan aku dan keluarga bagaimana. Karena gaji yang di dapat mama masih digunakan untuk mengangsur cicilan motor, sedang sisanya ditabung untuk biaya persalinanku nanti.
Sampai detik ini aku masih saja menyusahkan kedua orang tuaku, membuatku bertekad akan bekerja keras usai aku melahirkan, aku pasti akan memastikan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan si kecil dan kebutuhan keluargaku bagaimana pun caranya.
Seminggu kemudian Mama sudah mendapatkan ijin cutinya, dan Juna sedang mengikuti ujian akhir semester. Karena memang sekarang sedang masanya tes kenaikan kelas.
Teman-teman seangkatan ku sudah selesai mengikuti ujian kelulusan, tinggal menunggu hasil dari perjuangan mereka, antara lulus atau tidak, dan pengumuman kelulusan adalah besok. Untung saja mereka sudah tidak lagi datang ke rumahku, sehingga mereka tidak melihat keadaanku yang berperut buncit ini.
" Apa kamu belum merasakan kencang-kencang di perutmu Ra?, perkiraan kamu melahirkan 3 hari lagi, seharusnya kamu sudah mulai mengalami kontraksi palsu".
Mama berulang kali bertanya tentang keadaanku, tapi aku memang belum merasakan apapun sampai saat ini.
" Apa kita perlu ke rumah Bu Ara lagi ma?", karena justru mendekati hari persalinan gerakan dari dalam perutku ku rasakan semakin jarang kurasakan.
" Ya sudah, nanti malam saja, nunggu keadaan sepi, soalnya kalau siang-siang begini pasti banyak orang di jalan. Takut ada yang melihat kamu". Itulah yang dikatakan mama.
Selepas ashar mama pergi bersama tetangga untuk menghadiri acara pernikahan saudara tetangga yang berada di kota sebelah, mereka rombongan ke acara itu dengan naik odong-odong.
Namun sebelum malam tiba, tepatnya saat menjelang Maghrib, kurasakan perutku yang tiba-tiba merasa melilit seperti diremas-remas dan terasa tegang, juga kram.
Saat itu papa baru pulang setelah narik ojek, papa bertanya karena melihat ekspresi wajahku yang kesakitan sambil mengusap perut besarku.
" Apa terasa sakit Ra?, sepertinya mau melahirkan Ra!. Mama kamu dimana?".
Suara papa langsung terdengar panik. Saat ini mama belum pulang dari kondangan bersama rombongan, namun papa sudah terlihat sangat panik melihat wajahku yang pucat pasi.
" Apa kamu bisa pegangan ke papa Ra...?, kita ke rumah bidan Ara sekarang?". Papa nampak semakin bingung harus berbuat apa.
Setelah memapah ku untuk naik ke motor, Papa langsung membawaku ke rumah bidan Ara, tanpa memakaikan jaket atau perlengkapan lain yang biasa dipakaikan mama padaku untuk menutupi perut besarku ini.
Saat motor keluar dari gang, kami berpapasan dengan odong-odong yang dipakai rombongan mama dan ibu-ibu tetangga rumah yang habis kondangan.
Tentu saja semua mata tertuju padaku dan Papa, tapi karena sedang panik, papa tidak memperdulikan keadaan sekitar, Papa terus melajukan motornya agar aku segera mendapatkan penanganan oleh Bu bidan.
" Loh itu Raya kenapa Win?, dia pucet banget, di bawa sama Tono ke mana itu?".
Aku masih sempat mendengar beberapa ibu-ibu yang bertanya pada mamaku saat kami berpapasan. Tapi tak banyak yang kudengar karena papa terus melajukan motornya.
Tak lama setelah aku sampai di rumah Bu Ara, mama dan Juna ikut menyusul kami. Mama membawa perlengkapan melahirkan yang sudah di siapkan nya beberapa waktu lalu.
" Baru pembukaan satu , masih sangat lama sampai pembukaan penuh, ini mau nunggu disini, apa mau pulang ke rumah dulu?, kelahiran pertama biasanya pembukaannya pelan".
Bu Ara mencoba menjelaskan.
" Kami nunggu disini saja Bu, boleh kan?, kalau balik kerumah, mungkin akan lebih banyak orang yang melihat keadaan Raya... tadi saja teman-teman yang kondangan bareng sudah melihat perut Raya yang buncit. Sampai saya bingung harus menjawab apa".
Ternyata Mama terlihat marah karena para ibu-ibu tetangga rumah tadi melihat keadaanku. Benar saja mama marah, karena rahasia yang di tutup rapat selama ini terbongkar begitu saja dalam waktu singkat. Semua karena aku kesakitan dan papa menjadi panik.
Seketika banyak orang yang sengaja lewat depan rumah Bu bidan Ara dan melongok ke dalam. Untung saja Bu Ara paham hal itu dan menutup pintu rumahnya.
Mungkin mereka ingin melihat dan memastikan keadaanku yang beneran hamil atau tidak. Aku masih beberapa menit sekali mengalami kontraksi. Mungkin karena ini pertama, makanya aku kira tadi sudah mau melahirkan. Ternyata kata Bu Ara masih lama, baru pembukaan dua, dan masih harus menunggu beberapa jam lagi.
Aku mulai merasa kelelahan karena berulang kali perut seperti mengejan dengan sendirinya. Padahal aku tidak berusaha mengejan, tapi tubuhku bereaksi sendiri.
" Jangan mengejan dulu ya mba Raya... tenaganya disimpan untuk mengejan nanti kalau sudah waktunya", pesan Bu Bidan.
Semalaman papa dan mamaku tidak tidur, termasuk Bu bidan yang beberapa menit sekali melihat keadaanku.
" Bagaimana Bu Ara?, apa sudah pembukaan penuh?".
Ku dengar mama kembali bertanya saat Bu Bidan memeriksa jalan lahiran ku, saat ini pukul 3 pagi, dan aku sudah terbaring di kasur ini semalaman. Kenapa lama sekali anakku tidak keluar-keluar, padahal aku sudah merasakan sakit yang amat sangat sejak kemarin sore. Apa memang seperti ini rasanya orang melahirkan?.
Ku elus-elus perutku perlahan, sambil dalam hati berkata, " Anakku sayang, segeralah keluar, jangan biarkan mama kesakitan terlalu lama, mama mohon segeralah keluar".
Aku sampai menangis menahan rasa sakit di bagian perut dan jalan lahiran ku. Mama yang tadi nampak marah masih berbaik hati memberikan dukungan agar aku kuat dan sabar.
Hingga Kokok ayam terdengar bersahutan, Bu Ara kembali melihat jalan lahiran ku.
" Sudah waktunya, sekarang Mba Raya boleh ikut mengejan kalau perutnya terasa ingin mengejan, itu berarti adik kecil lagi mendorong untuk keluar, mba Raya bantu bayinya dengan mengejan juga".
Aku mengangguk lemah, karena seolah tenagaku hampir habis. Untung saja Bu Ara memasang selang infus agar aku mendapat asupan nutrisi.
Bu Ara memberi instruksi agar aku menarik nafas panjang dan mengeluarkan lewat mulut. Dan saat rasa ingin mengejan itu datang, aku langsung mengejan sekuat tenaga agar anakku segera lahir. Entah mengapa tiba-tiba saja aku melihat sekelebat bayangan wajah Yoga terlintas saat aku berusaha mengejan sekuat tenaga.
Mungkinkah dia sedang memikirkan aku, sehingga wajahnya terlintas saat aku memejamkan mata.
Ku dengar suara tangisan bayi setelah beberapa kali aku mengejan. Ya... putraku akhirnya keluar setelah perjuangan menahan sakit semalaman yang ku rasakan. Waktu saat ini menunjukkan pukul 6 lebih 10 menit. Akhirnya anakku terlahir juga. Terimakasih ya Rabb, atas kemurahan Mu.
Bu Ara langsung membungkus bayiku dengan kain setelah membersihkan sisa darah yang menempel di tubuhnya. Lalu menyerahkan putraku pada Mamaku.
Mama Wina menerima sambil menangis, entah apa yang membuatnya menangis, mungkin bahagia, mungkin juga bersedih.
Setelah menyerahkan bayiku pada Mama, Bu Ara kembali memeriksa jalan lahirku, dan merogoh ke dalamnya, membersihkan sisa-sisa kotoran dari tubuhku, setelah meletakkan ari-ari di wadah yang sudah disediakan.
" Mba Raya agak ditahan sebentar ya, ini jalan lahirnya sobek, jadi harus di jahit biar kembali semula".
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Bu Ara, yang kini membawa peralatan untuk menjahit jalan lahirkan ku yang katanya sobek cukup lebar.
Kembali kurasakan sakit dan perih amat sangat, karena ternyata Bu Ara sedang kehabisan bius, dan beliau menjahit jalan lahiran ku, tanpa membiusnya terlebih dahulu. Sungguh rasa yang sangat 'nikmat', dan tak akan pernah aku lupakan.