
Juna berangkat ke tempat kerja, aku sempat melihatnya berkumpul dengan teman-teman yang memakai seragam berwarna hijau, seragam sebagai ciri khas dan tanda pengenal pabrik tempat Juna bekerja. Namun Juna sendiri belum memakai seragam hijau seperti yang lain, karena Juna masih memakai kemeja putih dan bawahan hitam, baju khas anak-anak yang sedang magang.
Bisa kulihat ada beberapa teman Juna yang juga masih memakai pakaian hitam putih, mungkin sama seperti Juna, masih magang.
Mereka naik ke dalam bus besar berpintu dua dengan tulisan besar nama pabrik tempat mereka bekerja. Dan dari kejauhan aku bisa melihat Juna yang mengobrol dan sesekali bercanda dengan rekan kerjanya. Syukurlah jika Juna betah dan punya banyak teman disini.
" Lagi liatin apa ?, baru pernah liat Juna mau berangkat kerja ya?".
Aku menengok ke asal suara, ternyata yang bertanya adalah Rasid, tetangga kontrakan Juna. Dia habis membeli nasi bungkus di warung yang sama dengan tempatku dan Juna sarapan.
" Iya, soalnya baru sampai disini kemarin, ini pagi pertamaku disini", jawabku seperlunya. Ku lihat Rasid masih memakai pakaian santai dengan atasan kaos putih dan bawahan celana kolor selutut.
Sebenarnya aku penasaran kerja apa tetangga Juna itu, yang lain pagi-pagi sibuk mempersiapkan diri berangkat kerja, tapi dia masih santai, jam segini baru mencari sarapan, dan bahkan belum mandi. Apa dia tidak takut terlambat dan dimarahi atasannya?. Atau justru dia tidak bekerja di pabrik?, bisa jadi seperti itu.
Aku memilih kembali ke kontrakan dan meninggalkan Rasid yang sedang membayar makanannya pada pemilik warung. Aku bisa mendengar langkah kaki Rasid yang dipercepat agar berjalan di sampingku.
" Nih buat ngemil di kontrakan, tahu goreng, bakwan, dan singkong goreng", ucap Rasid sambil menyerahkan satu kantong plastik yang ada di tangan kanannya.
Awalnya aku hendak menolak, tapi Rasid menggenggamkan kantong plastik itu di tangan kananku. " Sudah diterima saja, rejeki itu tidak boleh ditolak".
Terpaksa aku menerima pemberian Rasid, karena sudah berada di tanganku, tidak enak juga dilihat orang lain saling mendorong kantong plastik.
" Makasih", ucapku singkat.
Rasid mengangguk, " Oh iya, kalau boleh tahu, kenapa kamu ikut kesini?, bukankah kamu baru menikah?, maksudku pengantin baru?, apa suaminya merantau juga?".
Pertanyaan Rasid membuatku menatapnya lekat, dari mana dia tahu jika seharusnya saat ini aku adalah pengantin baru. Apa Juna sering menceritakan tentang aku pada tetangganya yang satu ini.
" Apa aku salah ngomong?, kenapa kamu menatapku seperti itu, baru pernah ada seorang perempuan yang dengan beraninya menatap padaku seperti itu, tenang saja, meski kamu itu tipe perempuan yang sesuai dengan kriteria aku banget, tapi aku nggak suka sama apapun yang sudah jadi milik orang lain ".
Aku tidak habis pikir kenapa ada laki-laki yang begitu banyak bicara seperti Rasid, padahal kami baru kenal semalam, tapi dia sudah terlalu banyak bicara, seolah sudah saling mengenal sejak lama.
" Pernikahanmu batal ya?, makanya kabur kesini?", lagi-lagi Rasid bicara benar, apa Juna juga sudah menceritakan perihal kegagalan pernikahanku pada tetangganya itu, sedekat apakah Juna dengan Rasid?.
Aku tak menjawab pertanyaan Rasid, dan lebih memilih masuk kontrakan dan menutup pintu. Seharian aku tidak keluar dari kontrakan. Karena siang aku tidak merasa lapar, dan tidak keluar mencari makan. Lagian ada gorengan pemberian Rasid, bisa aku makan jika aku tiba-tiba merasa lapar.
Sampai jam 5 sore, Juna pulang kerja, aku masih sibuk mencatat beberapa menu masakan dan kue dari ponselku, yang rencananya akan aku buat besok.
" Sudah makan siang Kak?", tanya Juna setelah mengucap salam dan masuk ke dalam rumah.
" Sudah", jawabku singkat, karena memang aku sudah makan tadi pagi, tiduran seharian di kamar membuat perut tidak merasa lapar. Bahkan gorengan dari Rasid masih utuh.
Juna mengangguk, percaya begitu saja dengan jawabanku. Apalagi dia melihat kantong plastik berisi gorengan yang tergeletak di lantai ruang tamu.
" Nanti kita pergi belanjanya habis maghrib saja ya Kak, kalau berangkat sekarang nanti nanggung maghrib", ujar Juna.
Aku mengangguk setuju, karena aku melihat Juna sepertinya kelelahan, dia pasti butuh istirahat setelah bekerja seharian.
Saat Juna sedang mandi, ku dengar ada yang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, saat aku lihat dari jendela ada seorang gadis muda berdiri di depan pintu kontrakan. Ku buka pintu dan ku tatap gadis itu dengan seksama.
" Wa'alaikum salam...., maaf cari siapa?", tanyaku pada gadis muda yang berdiri di hadapanku sambil membawa kantong plastik yang dari baunya sepertinya berisi martabak.
" Juna nya sudah sampai rumah?, maaf apa mba ini kakaknya Juna?".
Gadis itu mencari Juna dan tidak malu-malu menanyakan siapa aku.
" Iya saya kakaknya, Juna lagi mandi, kalau ada perlu di tunggu saja, nanti sebentar lagi juga selesai", jawabku mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam. Tapi gadis itu menolak.
" Saya mau pamit saja, ini tadi Juna pesan martabak, saya cuma di suruh bapak buat anterin martabak ke sini, karena di lapak tadi sedang rame dan yang beli martabak antri, dan Juna bilang mau pulang dulu, jadi saya anterin", terang gadis muda itu.
Juna mengambil kantong plastik dari tangan gadis bernama Mala itu. Dari sikap mereka berdua sepertinya mereka nampak akrab.
" Kenalin ini kakak aku Mal, kak Raya namanya".
" Kak Raya, ini Mala, anak penjual martabak yang mangkal di jalan depan sana, dia sekaligus teman kerja aku di pabrik, kami sama-sama lulusan tahun kemarin, dan masuk pabrik di hari yang sama, juga ditempatkan di bagian yang sama", ujar Juna menjelaskan tanpa aku minta. Mungkin Juna sadar kalau aku ingin mendengar penjelasan darinya tentang gadis yang akrab dengannya itu.
Aku dan Mala saling berjabat tangan, Mala memberikan senyum yang sangat lebar saat bersalaman dengan ku.
" Kalau begitu aku pamit dulu ya Jun, masih mau membantu bapak di lapak", ucap Mala pergi sambil berdada-dada pelan pada Juna. Senyumnya terus mengembang sepanjang ia berjalan.
" Apa dia gadis yang tadi pagi juga bercanda sama kamu pas lagi nunggu bus jemputan?", tanyaku pada Juna.
Juna menatapku heran, " Apa kakak mengikuti ku tadi pagi?", tanya Juna sambil membuka box martabak, mengambil potongan pertama dan diserahkannya padaku.
Aku menerima martabak manis yang masih hangat itu dan mencium aromanya yang nikmat. Pantas saja pembelinya antri, dari aromanya saja sudah sangat menggoda.
" Kakak cuma pengen lihat seperti apa kehidupan yang kamu jalani disini, makanya kakak lihatin kamu sampai kamu naik bus jemputan tadi pagi".
" Sebenarnya tadi niatnya kakak mau keliling-keliling lihat situasi dan kondisi di sini, tapi tetangga kamu itu si Rasid, tiba-tiba muncul dan terus nyerocos, tanya ini dan itu, terus anehnya di jawab sendiri, nggak jelas banget itu tetangga kamu. Kerja apaan sih dia?, kok yang lain pagi-pagi sudah rapi, dia malah masih pakai kolor sama kaos oblong ?", tanyaku yang memang sebenarnya ingin tahu.
" Bang Rasid punya bengkel kak, dulu dia kerja di pabrik perakitan motor, bareng dengan Mas Miko sahabatnya, orang yang sekarang jadi manager di pabrik tempatku kerja, tapi keduanya resign, katanya sih dengar-dengar gosip, cinta segitiga. Yang akhirnya cewek yang diperebutkan malah menikah dengan cowok lain. Nggak ada yang dapet keduanya", terang Juna.
Ternyata memang benar, selama 3 bulan Juna tinggal disini, dia cukup akrab dengan tetangganya, dan tahu banyak cerita tentang masa lalu tetangganya itu. Tapi apa iya Juna juga menceritakan kegagalan pernikahanku pada Rasid, bukankah itu aib dan memalukan.
" Jun, kamu dekat ya sama tetangga kamu itu?".
Juna mengernyitkan keningnya, " Tetangga itu, maksudnya bang Rasid?", tanya Juna.
Aku mengangguk, memang siapa lagi tetangga Juna yang aku kenal selain dia, baru satu orang yang Juna kenalkan padaku, dan seharian ini aku mengurung diri di kamar, dan tidak keluar kontrakan, jadi belum kenalan dengan siapapun.
" Lumayan, tapi nggak dekat-dekat banget. Kenapa memangnya?", tanya Juna di sela mengunyah martabak.
" Kamu cerita sama dia kalau kamu pulang untuk menghadiri pernikahan kakak, dan pernikahan kakak gagal?", tanyaku to the points.
Juna menggelengkan kepalanya, " Aku memang cerita saat mau pulang, pas kebetulan kakak mau menikah, jadi nggak perlu minta ijin cuti, tapi aku nggak pernah cerita tentang gagalnya pernikahan kakak pada siapapun", ucap Juna dengan nada meyakinkan.
" Apa bang Rasid menyinggung tentang pernikahan kakak?", tanya Juna penasaran.
Aku mengangguk, " Aku kira kamu yang kasih tahu padanya, tapi sepertinya dia cuma menebak-nebak saja. Soalnya mana ada pengantin baru yang langsung pergi ke lain kota mengikuti adiknya, bukan suaminya", ujarku sambil terkekeh menertawakan diriku sendiri.
" Bang Rasid memang seringkali tebakannya benar, seolah dia bisa baca pikiran orang lain. Padahal kita tidak pernah cerita apapun, dia seolah tahu semuanya. Biar nanti Juna tegur bang Rasid biar nggak ganggu kakak lagi", ujar Juna.
" Nggak usah Jun, mungkin kakak yang berlebihan menanggapi nya, sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa", ucapku menghentikan Juna yang hendak menemui Rasid.
" Benar kakak nggak kenapa-kenapa?", tanya Juna meyakinkan.
Aku mengangguk." Ya sudah kita maghrib dulu, habis ini kita langsung berangkat belanja. Mau belanja banyak, takutnya lama dan sampai malam banget", ujarku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 77 🇲🇨 semoga Indonesia semakin maju dan berjaya
Indonesia 🇲🇨
Pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat