Healing

Healing
127. Tinggal Kenangan



Setelah mengalami segala kesulitan dalam hidup, kini bisa dikatakan aku seperti perempuan yang sangat beruntung, kehidupanku berubah 180° dari sebelumnya.


Siapa lah aku di masa lalu, hanya seorang wanita biasa, anak tukang ojek yang hanya lulusan SMP, dan bekerja sebagai pelayan di restoran.


Belum lagi jika melihat masa laluku yang kelam, orang yang mengetahui kisahku memandangku hanya dengan sebelah mata. Tidak ada tetangga yang memperbolehkan putrinya bergaul denganku, karena khawatir putri mereka akan menjadi wanita yang mempermalukan keluarganya seperti aku.


Tapi lihatlah sekarang, aku tinggal di rumah yang begitu besar bak istana, suamiku memperlakukan aku seperti seorang ratu yang tidak boleh melakukan pekerjaan rumah tangga. Uang bulanan selalu masuk ke rekening pribadiku dengan jumlah yang semakin lama semakin besar.


Padahal uang belanja kebutuhan sehari-hari dan pembayaran berbagai macam tagihan sudah langsung diberikan pada ART, aku bahkan tidak pernah tahu berapa ratus ribu untuk satu bulan rumah sebesar ini membayar tagihan air, listrik, dan gas. Selama ini aku tidak tahu menahu akan hal itu. Tapi jelas akan sangat banyak, karena penggunaannya yang juga banyak.


Mau belanja tinggal berangkat, minta supir mengantar dan bisa memilih belanjaan sesuka hati. Mau belanja apa saja tidak khawatir tidak mampu bayar.


Yang lebih amazing lagi, jika bosan dengan perhiasan yang dipakai bisa langsung tuker dengan model terbaru, karena yang punya toko perhiasan di daerah sini adalah suamiku, bahkan sudah mempunyai beberapa cabang, tinggal pilih mau yang mana.


Jika ditanya, apa pernah aku membayangkan akan hidup enak seperti ini?. Jawabannya tentu saja tidak pernah sekalipun, selama hidupku aku tidak berani membayangkan hal-hal tentang hidup bahagia, apalagi bergelimang harta. Aku takut jika semua itu hanya akan membuatku merasa kecewa jika tidak menjadi kenyataan.


Lebih baik seperti sekarang, tidak pernah membayangkan tapi tercapai hidup bahagia bersama keluarga kecilku.


Semua kesedihan, hidup susah dan serba kekurangan, semoga hanya tinggal kenangan. Jangan sampai merasakan lagi kehidupan seperti dulu.


Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat, saat ini usia Syifa putriku sudah 3 tahun, dan putraku Shaka 3 hari lagi usianya 17 tahun. Shaka kini sudah menjadi anak SMA kelas 11 yang sangat mirip dengan ayahnya, berparas tampan, cerdas, dan juga berprestasi.


Aku sangat bersyukur karena sudah beberapa kali menghadiri undangan dari sekolah Shaka sebagai orang tua murid yang berprestasi. Bahkan Yoga kini menjadi ketua komite di SMA tempat Shaka sekolah.


Putra putriku tumbuh dengan baik, tentu saja dibawah pengawasanku langsung, Aku tidak memakai jasa baby sitter karena setiap hari mama masih terus datang ke rumahku membantu merawat Syifa setiap hari.


" Sabtu besok Om Juna bilang dia bisa pulang, karena itu kita akan healing bersama-sama, sekalian untuk pertama kalinya mengajak Syifa untuk rekreasi di luar rumah yang agak jauhan".


Yoga begitu bersemangat merencanakan piknik keluarga yang sekaligus perayaan ulang tahun Shaka ke 17 tahun. Yoga ingin sekali mengajak kami berlibur ke suatu tempat yang nyaman dan bagus.


" Sebenarnya awalnya ayah merencanakan pergi ke kebun binatang, adikmu pasti akan senang dan nyaman disana, karena tempatnya sejuk banyak pepohonan, dan juga banyak hewan-hewan yang juga sebagai wahana untuk belajar mengenal alam. Tapi sayangnya ibumu tidak setuju pergi ke kebun binatang katanya ramai jika akhir pekan, mungkin Syifa kurang nyaman jika banyak pengunjung lain , jadi ayah mencari tujuan lainnya", ucap Yoga pada Shaka.


" Dan ayah teringat fila almarhumah nenekmu yang ada di puncak, sudah sangat lama ayah tidak pergi ke sana semenjak nenekmu tiada, mungkin hampir 4 tahunan ayah tidak kesana".


" Apa kamu setuju kalau kita pergi ke Fila nenek yang ada di puncak?", tanya Yoga pada Shaka.


Shaka langsung mengangguk dengan cepat. Memang aku yang memberi saran pada Yoga untuk meminta pendapat Shaka terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan tujuan rekreasi mau kemana. Bagaimanapun tempat yang paling nyaman kita datangi adalah yang sesuai dengan keinginan hati kita.


Seindah apapun tempat itu, tapi jika itu bukan tempat yang ingin kita datangi tetap saja akan terasa kurang nyaman. Dan lagi Syifa kecil pasti akan sangat suka dengan udara di puncak yang sejuk, belum lagi di Fila tidak semua orang bisa masuk, itu berarti tidak akan ada banyak orang yang membuat Syifa merasa tidak nyaman.


Putri kecilku Syifa tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik, wajahnya mirip orang Korea karena matanya yang sipit sepertiku. Rambutnya agak ikal dan sekarang sering aku ikat karena sudah sepanjang bahu.


Juna memang jadi sering pulang semenjak Syifa lahir, hampir tiap bulan Juna mudik hanya untuk melihat dan bermain bersama keponakannya. Tiap pulang Juna akan membawa baju baru dan mainan baru untuk Syifa. Mungkin sebagai balas Budi, karena dulu aku yang membiayai Juna sampai dia lulus SMK, dan kini saat dirinya sudah mendapatkan pekerjaan Juna tidak segan-segan memberi hadiah tiap mudik untuk si kecil.


Dan mudik kali ini Juna bahkan membawa oleh-oleh juga untuk Shaka.


" Kita kan selalu berebut tiap kali kak Raya pulang bawa satu box martabak".


Juna mengeluarkan martabak yang masih hangat, mungkin dia membeli saat di jalan tadi. Juna memang baru sampai rumah tepat saat adzan Isa berkumandang.


" Apa sekarang kamu sudah bosen makan martabak ya Ka?, pasti tinggal pesen di aplikasi online kalau lagi pengen, nggak perlu capek keluar dan nggak perlu antri di tempat penjualnya".


Shaka langsung mendekat dan mengambil tisu untuk mencomot martabak dengan isian keju, kacang dan coklat yang dibawa Juna.


" Siapa bilang Shaka bosen, mau sampai kapanpun nggak bakalan bosen makan martabak . Apalagi ini gratis, rasanya dijamin lebih enak", canda Shaka.


" Shaka memang tidak ada bosannya makan martabak, jadi jangan berkecil hati Jun, tidak perlu khawatir kalau martabak yang kamu bawa nggak dimakan, pasti langsung habis sama Shaka. Apa kamu tadi langsung kesini Jun?", tanyaku pada Juna yang juga mengikuti Shaka mencomot martabak yang masih panas itu.


" Iya kak, langsung kesini, nggak kerumah mama dulu, sudah kangen banget sama Syifa, eh malah Syifanya sudah bobo", jawab Juna dengan nada kecewa.


" Iya, tadi siang nggak bobo siang, makanya malamnya bobo lebih awal. Sebaiknya sekarang kita makan malam bersama saja, sebelum Shaka kekenyangan karena nggak bisa berhenti sebelum habis, kalau sudah makan martabak", ujarku mengajak semuanya untuk makan malam bersama.


Usai makan malam, Juna tidak langsung pulang ke rumah mama, justru dia mengajakku bicara berdua di taman samping rumah.


" Mau ngomong apa?", tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi panjang berjejer dengan Juna.


" Sekarang usiaku sudah 22 tahun, dan.... "


" Dan kamu sudah punya pacar?, terus pengen nikah?, begitu?", tebakku memotong kalimat Juna sambil cengengesan.


Tapi Juna menggeleng, " Bukan begitu kak, Kak Raya ini, sok tahu, dengerin dulu".


Aku tersenyum kuda karena tadi sengaja menggoda Juna, aku tahu selama ini Juna belum punya pacar, dan tidak pernah pacaran. Aku sendiri tidak tahu apa alasannya, tapi setahuku dia belum pernah pacaran.


Bahkan saat Mala, gadis yang bekerja padaku, teman Juna yang jelas-jelas sudah memberi signal jika dirinya menyukai Juna, sampai sekarang mereka tetap hanya berteman. Juna tidak pernah memberitahukan perasaannya pada siapapun. Dan selama ini dia juga menyimpan dengan sangat baik perasaannya.


Juna melanjutkan kalimatnya, " Dan... uang tabunganku sudah cukup banyak untuk modal buka usaha kak, aku ingin memulai usaha sendiri, seperti bang Rasid, aku mau buka bengkel disini, biar tiap hari bisa pulang dan ketemu sama mama, papa, juga keluarga lainnya, terutama bisa ketemu Syifa setiap hari, rasanya kangen banget kalau cuma sebulan sekali bisa liat dan main sama Syifa nya".


Aku paham maksud Juna, dia sebagai paman Syifa benar-benar perhatian dan juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang aku dan Yoga rasakan.


" Jadi mau buka bengkel..., motor atau mobil?", tanyaku pada Juna.


" Bengkel motor dulu kak, kalau bengkel mobil, belum berani, butuh modal besar soalnya, sparepart nya mahal-mahal".


" Mau kakak pinjami modal?, biar kamu bisa buka bengkel motor dan mobil sekaligus dalam satu tempat. Kakak juga akan ikut promosikan bengkel kami sama kenalan-kenalan kakak, gimana?. Banyak orang tua teman-teman Shaka yang punya mobil, jadi kakak bisa promosikan bengkel kamu pada mereka", ucapku menyemangati Juna.


Aku senang Juna berpikir jauh kedepan, tidak terus di zona nyaman bekerja merantau di pabrik menjadi karyawan. Dia berpikir bagaimana caranya agar bisa berada dekat dengan keluarganya. Itu perwujudan sikap perhatian dan kasih sayang pada keluarga menurutku.


Meski jabatan Juna sekarang sudah menjadi seorang quality control, hanya mengecek hasil pekerjaan teman-temannya yang lain. Tapi aku lebih suka Juna mulai belajar membuka usaha sendiri, jadi tidak terus-terusan jadi suruhan orang. Karena sekecil apapun usahamu, kamulah bos nya.