
" Steve, kalau boleh tahu, sudah ke berapa kali ini kamu mendaki di gunung Rinjani?". Utari mulai membuka percakapan dengan Yoga, karena sejak tadi Yoga tak sekalipun mengajaknya bicara.
" Empat ", jawab Yoga singkat.
Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Yoga, sungguh sangat irit bicara dan menyebalkan, bagaimana mereka berdua berumah tangga jika tidak pernah berkomunikasi?. Atau Yoga seperti itu karena ada aku?, mungkin Yoga akan bicara banyak dengan Utari jika mereka hanya sedang berdua.
Itu hanya sekedar pemikiran ku saja, karena bagaimana bisa Utari bertahan hingga sejauh ini jika dirinya tidak mendapatkan perlakuan baik dari Yoga.
" Steve memang baru yang ke empat ini, kalau aku, Riko dan Bian sudah yang ke lima ini, karena dulu waktu pertama mendaki di Rinjani Steve sedang sakit, dan nggak bisa ikut".
" Berarti yang pertama saat masih SMA kelas 11 kalau nggak salah, sehari setelah ulang tahun Steve yang ke 17, gara-gara apa sih dulu Steve sakit.... ?".
" Oh iya, waktu itu Steve balik ke kota ini katanya mau mengunjungi rumahnya, namun justru dia nggak tahu pergi kemana, dia nggak balik ke rumah, surprise party yang di siapkan ibunya saja kacau balau karena Steve nggak pulang sampai pagi. Kemana kamu waktu itu bro?, semalaman nggak pulang, eh pas pagi, pulang-pulang langsung ambruk, menggigil, tapi badannya panas banget, demam". Haidar masih mengingat kejadian hampir 10 tahun silam, saat Yoga tidak pulang ke rumah di hari ulang tahunnya yang ke 17 tahun.
Karena Haidar, Bian dan Riko harus ikut mencarinya menyusuri jalanan di kota, saat itu hujan turun, namun hasilnya nihil. Yoga tidak ada di semua tempat yang biasa menjadi tongkrongan mereka.
Dimanakah Yoga berada saat itu?.
Tak seorangpun tahu, karena sampai saat ini Yoga masih tetap tidak memberi jawaban pada siapapun.
" Jadi kalian masih penasaran dimana aku waktu itu?, sudah hampir 10 tahun, tapi akan ku beritahu. Waktu itu aku bersembunyi di kebun yang berada di depan rumah seseorang. Mencari tahu bagaimana keadaan orang itu, terus bersembunyi mengamati rumah itu, namun aku tak berani keluar, ataupun menampakkan diri, dan bertanya langsung bagaimana keadaannya".
" Karena semua penghuni rumah itu sangat membenciku, satu kesalahan besar yang sudah aku perbuat, dan membuat mereka semua sangat membenciku sampai saat ini".
" Apa kalian pernah berada di posisi sepertiku?, melakukan kesalahan dan tidak dimaafkan seumur hidup, bukankah hal itu membuatku merasa menjadi manusia yang paling tidak berguna selama hidupku".
Yoga bercerita sambil sesekali melirik ke arahku, aku baru tahu, jika dia pernah datang ke rumah dan mengamati kehidupan kami. Saat itu... 10 tahun yang lalu, aku belum berani keluar rumah, hari-hari hanya sibuk mengurus Shaka kecil dan jarang sekali keluar rumah.
Lagian ngapain Yoga datang ke rumah. Dia itu bodoh atau tidak paham, jika aku sangat-sangat membencinya saat itu.
" Memangnya kesalahan apa yang sudah kamu perbuat sampai mereka semua membencimu sebesar itu?", tanya Utari penasaran sambil menatap wajah Yoga dengan tatapan mata yang sendu.
" Steve itu sudah mengingkari janji dan membuat kecewa mereka", justru Haidar yang menjawab pertanyaan Utari. " Karena pengalaman itulah, selama ini Steve jarang mengobrol dan berhubungan dengan banyak orang, dia tidak mau banyak bicara, dan berjanji pada orang lain, tapi tidak bisa menepatinya, pasti akan membuat orang lain jadi kecewa lagi padanya.
" Apa karena itu juga kamu jarang bicara padaku Steve?", gumam Utari .
Aku bisa mendengar gumaman nya, tapi Yoga seolah tak mendengar dan tidak mau menanggapi.
" Kalau hanya mengingkari janji dan membuat kecewa, semua orang juga pernah melakukan kesalahan seperti itu, lantas kenapa mereka harus membenci Steve sebegitunya ?, mungkin saja kekecewaan yang sudah di perbuat oleh Steve sudah sangat menyakiti hati orang-orang itu".
Aku ikut bicara, karena Yoga ternyata masih tetap sama seperti dulu, laki-laki pengecut yang tidak berani mengatakan kesalahannya yang sebenarnya. Apa dia bilang?, mengingkari janji dan membuat kecewa itu sudah pasti, tapi apa kesalahan dia yang utama?, jika semua kawannya tahu, mereka semua akan kaget mendengarnya.
" Kesalahan apa yang tidak bisa dimaafkan?, Tuhan saja Maha Pengampun, kenapa kita sebagai ciptaannya harus memendam kemarahan dengan waktu yang begitu lama ?".
Ternyata Bian sudah bangun karena mendengar suaraku.
" Mungkin saja kesalahan yang sangat fatal, yang efeknya bukan hanya dirasakan saat itu saja, tapi berdampak pada kehidupan yang mereka lalui seumur hidup mereka", ucapku masih tidak bisa terima dengan pendapat Bian yang mengatakan Tuhan saja Maha Pengampun." Manusia tetaplah manusia, tidak bisa disamakan dengan Tuhan".
" Mana aku tahu, aku bukan Tuhan yang mengetahui kesalahan yang Steve lakukan pada mereka, orang-orang yang tidak bisa memaafkannya. Tanyakan saja pada Steve, apa yang sudah dilakukannya sampai-sampai ada orang yang tidak bisa memaafkan dirinya hingga waktu selama itu".
" Aku rasa memang kesalahan Steve sangat fatal, karena sejak tadi ditanya, dia terus diam dan tidak mau mengatakan jawaban yang sebenarnya", ucapku dengan menahan kesal yang mulai muncul.
" Itu hanya perasaanmu saja, Steve tidak sejahat itu, dengan membuat kesalahan fatal disaat usianya masih sangat muda, anak-anak memang kadang kala membuat kesalahan, dan seharusnya orang-orang itu memaafkannya",
Bian masih saja membela Yoga. Tidak tahu apa yang membuatnya begitu percaya pada Yoga si pecundang itu.
" Sudah...sudah... kenapa kalian berdua yang jadi ribut. Sebentar lagi kita sampai di bandara , Steve juga mempunyai hak untuk tidak menjawab pertanyaan orang lain mengenai masa lalu hidupnya", Riko membelokkan kemudi menuju ke arah bandara.
Aku pun diam dan tak lagi bersuara, mood ku sudah rusak dan kalau bicara pasti hanya akan keluar kalimat yang tak enak di dengar.
Kami sampai di bandara, aku turun dari mobil terlebih dahulu, dan mengambil ranselku yang ada di bagasi mobil, begitu juga dengan yang lain. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku, aku masih menahan emosi sejak tadi.
" Sini biar aku bawain ranselnya", Bian menawarkan untuk membawakan ranselku, tapi aku tolak, aku bisa membawa sendiri barang-barang yang ku bawa, tak butuh bantuan.
" Aku bisa bawa sendiri, kamu bawa punya kamu saja", ucapku sambil berjalan mengikuti Riko dan Haidar yang sudah berjalan terlebih dahulu masuk ke bandara. Ku lewati Yoga yang sejak tadi terus menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
" Apa dia marah karena obrolan di mobil tadi?".
Aku bisa mendengar Yoga bertanya pada Bian. Namun entah apa jawaban Bian karena aku keburu berjalan cepat dan menjauh dari dua laki-laki itu, lebih memilih bergabung dengan Riko, Haidar dan Utari.
Setelah mengurus semuanya di bandara, kami masuk ke kabin pesawat, jujur aku tidak mengerti bagaimana proses membeli tiket dan segala macam, aku hanya mengikuti yang lain, dan menunjukkan surat-surat yang mereka minta. Dan sekarang, aku sudah duduk di kabin pesawat bersebelahan dengan Bian.
" Maafkan aku, kamu marah karena apa?, aku tidak melakukan kesalahan kan sejak tadi?, atau kata-kataku dimobil menyinggung perasaanmu?", Bian mulai mendekatiku dan berusaha membujukku agar tidak terus bad mood.
" Sudahlah, jangan bahas lagi yang tadi, aku tidak suka membahas hal tidak penting berulang kali".
Sengaja ku keraskan suaraku agar Yoga yang duduk tepat di belakang Bian bisa mendengarnya. Sejak tadi Yoga masih tetap saja menatapku, membuatku merasa jengah karena seperti sedang di mata-matai.
Apa yang lain tidak sadar dengan kelakuannya yang sejak tadi terus melihat dan menatap ke arahku?, kalau sampai Utari sadar dan mengetahui kisah masa lalu kami, mungkin dia akan sangat sakit hati.
Pesawat take off, dan aku merasa sedikit grogi, namun sepertinya Bian menyadari sikapku yang terlihat nervous, dan Bian mengajakku ngobrol agar lebih rileks.
" Oke, kita bahas yang lain, sekarang kita bahas nanti saat sampai di sana, sekitar jam setengah 11 siang, kita langsung naik kendaraan umum menuju kaki gunung. Kita istirahat, makan dan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Baru setelah itu kita langsung melakukan pendakian".
" Kita cari rute yang paling mudah, agar bisa sampai di puncak Rinjani sebelum waktu maghrib". Bian dan yang lain memang sudah memperkirakan pendakian ke puncak dengan durasi terlama karena membawa dua perempuan yang baru pernah ikut mendaki gunung.
" Jadi kita harus sampai di puncak sebelum maghrib?, terus kita turun pas malam hari begitu?", tanyaku lirih, karena sebelumnya aku belum pernah mengikuti acara pendakian.
Pesawat sudah tidak bergetar sekeras tadi, sepertinya aku sudah terbang di atas awan, ku beranikan untuk melihat ke luar jendela pesawat, dan benar... aku sudah berada di atas. Bian berhasil mengalihkan perhatianku agar aku tidak merasa takut.
" Bukan begitu, setelah sampai puncak, kita buat tenda disana, kita bisa membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh, dan ngobrol-ngobrol sampai kita ngantuk, setelah itu kita istirahat di tenda malam ini, kamu bisa se tenda sama Utari. Dan paginya kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah di puncak Rinjani, saat matahari terbit. Setelah agak siangan, baru kita turun gunung".
Aku mengangguk paham dengan penjelasan Bian yang cukup mudah untuk dimengerti.