Healing

Healing
121. Kompak



Hari ini Yoga tetap berangkat ke kantor, dan semua urusan acara selamatan di pasrahkan pada mama dan papa, semua orang sibuk di rumah mempersiapkan acara selamatan empat bulanan kehamilanku.


Hanya aku seorang diri yang tidak melakukan apa-apa, karena Yoga sudah mewanti-wanti semua orang untuk mengawasi aku dan melarang ku melakukan pekerjaan dalam bentuk apapun. Meski pekerjaan itu sangat ringan dan tidak membutuhkan tenaga.


Yoga membuatku menjadi ratu di rumah ini. Bukan hanya hari ini, semenjak pindah dan tinggal di sini aku sudah tidak pernah lagi melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku benar-benar di manja oleh suamiku.


Aku jadi tertawa sendiri saat teringat masa aku masih kecil dulu, mama selalu saja menyuruhku melakukan pekerjaan ini dan itu, segala macam pekerjaan dari mulai memasak, mencuci baju, mencuci piring, ngepel lantai dan berbagai macam pekerjaan lain dengan alih-alih mengatakan belajar melakukan pekerjaan rumah tangga biar kelak saat sudah menikah dan berumah tangga tidak kaget dan sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah ini.


Tapi justru lihatlah aku sekarang, bukannya aku sombong dan berbangga hati, tapi semua yang ibuku ajarkan dan terapkan padaku dulu justru tidak ada yang aku praktekkan sekarang. Suamiku sangat protektif terhadapku, semenjak tinggal bersama dan tahu aku hamil, boro-boro nyapu, megang sapu saja tidak pernah.


Aku ingat sekali waktu awal tinggal disini dan mau masak ke dapur pagi-pagi, sebagai istri aku ingin menyiapkan makanan untuk suamiku, karena kata mama cinta itu juga bisa datang dari perut. Maksudnya adalah kita membuatkan masakan yang enak untuk suami, dan suami akan semakin cinta pada kita. Tapi tidak untuk saat itu, Yoga justru memarahi bi Tuti dan Bi Tati karena membiarkan aku ke dapur untuk masak. Yoga memang tidak memarahiku secara langsung, tapi aku kasihan pada kedua ART yang tidak salah apa-apa malah kena semprot.


Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berusaha menyiapkan makanan untuk suamiku. Biarlah bi Tuti dan Bi Tati yang menyiapkannya. Dari pada mereka kena marah jika aku bersikukuh untuk masak.


Dan papaku, orang yang paling perhatian dan paling baik padaku, sekarang dia bisa bernafas lega, karena kekhawatirannya selama ini tidak ada yang terbukti. Papa berfikir jika pernikahanku dan Yoga terjadi karena kesalahannya. Papa takut jika aku tidak bahagia setelah menikah dengan Yoga. Tapi sepertinya papa keliru, karena justru Yoga menjadi sosok suami yang sangat baik dan sangat perhatian pada istrinya.


Sore pun tiba, semua keperluan acara selamatan sudah selesai dikerjakan. Dan acara baru akan dimulai jam 7 malam nanti. Jadi masih ada waktu untuk istirahat dan bersantai untuk yang lain yang sudah capek-capek mempersiapkan semuanya.


Yoga dan Shaka pulang bareng hari ini, karena ini hari kamis dan Shaka habis mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR di sekolahnya, Shaka memang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sehingga dia punya banyak teman di sekolahnya. Aku senang Shaka pandai bergaul.


Mereka berdua berjalan berdampingan sambil ngobrol asyik, entah apa yang mereka bicarakan, tapi terlihat begitu seru dan menarik.


Dan sekarang aku sudah tidak mengharapkan Shaka akan berubah panggilannya padaku dari 'kakak' dan berganti dengan sebutan 'ibu', terserah Shaka lebih nyaman memanggilku dengan apa. Yang penting dia nyaman.


" Gimana Ma apa masih ada yang kurang?", tanya Yoga pada mama yang sedang duduk di sampingku sambil memijat kakiku yang sedang selonjoran. Aku sudah melarang mama memijat kakiku, tapi mama memaksa, makanya aku biarkan.


" Sudah beres, tinggal nunggu acara di mulai nanti malam. Sana mandi dulu, kalau habis bepergian langsung mandi, atau kalau belum mandi setidaknya cuci tangan dan muka, biar kuman yang kalian bawa pulang tidak berpindah ke Raya".


Yoga dan Shaka langsung pergi ke kamar masing-masing setelah mendengar ceramah singkat dari mama. Mereka sepertinya langsung mandi dan berganti pakaian agar bisa bergabung dengan kami yang sedang bersantai.


" Sabtu besok bukankah jadwal kamu ketemu sama dokter kandunganmu Ra?", tanya Mama.


Aku mengangguk. " Kenapa ma?" .


" Mama pengen tahu apa jenis kelamin bayi dalam perutmu ini, kalau mama lihat dari wajah kamu yang tambah cantik dan bersinar, sepertinya anak kamu laki-laki lagi", ucap mama dengan suara yang begitu bersemangat.


" Laki-laki lagi?, bukankah kalau wajah ibunya jadi tambah cantik itu anaknya perempuan?, yang benar yang mana?", papa sempat protes dengan pemikiran ibu yang berbeda darinya.


Shaka yang sedang mendekat dan hendak bergabung bersama kami tentu saja bisa mendengar ucapan mama dan papa.


Yoga langsung tertawa keras mendengar komentar Shaka, " Hahahaha, putra ayah memang paling realistis, dan paling masuk akal pendapatnya. Kelak kalau kamu dewasa dan mencari istri, carilah yang seperti ibumu, pasti nggak bakalan ada, dan nggak bakalan nemu yang seperti ibumu", lagi-lagi Yoga tertawa ngakak karena merasa omongannya adalah sebuah lelucon.


" Ya memang nggak bakalan nemu, anak gadis jaman sekarang itu sangat mementingkan penampilan, dan gengsi, nggak ada yang seperti Kak Raya, yang sudah terbiasa hidup susah dan bekerja keras".


Shaka duduk di samping mama dan memeluk mama dengan erat, " Siapa dulu yang mendidik dan membesarkannya, mamaku", ujar Shaka bangga.


Aku bersyukur Shaka tetap menyayangi mama dan papa seperti biasanya meski sekarang dia sudah tahu siapa orang tua kandungnya, apalagi ayahnya kaya raya, dan sekarang Shaka sudah hidup enak, jauh dari kebiasaan hidup saat masih tinggal bersama mama dan papa yang semuanya serba terbatas.


Tapi kata mama, Shaka masih sering datang ke rumah dan mengunjungi mama dan papa sesekali saat tidak sedang banyak kegiatan. Syukurlah kalau begitu.


Aku tiba-tiba saja teringat saat Shaka dulu berjalan kaki sepulang sekolah, padahal jaraknya lumayan jauh, tapi karena uang untuk naik angkot digunakan untuk bayar fotocopy tugas, dia jadi jalan kaki pulangnya.


Sekarang uang saku sudah tidak jadi masalah, Shaka diberi ATM khusus untuknya sendiri, Yoga mentransfer 3 juta tiap bulan, Yoga membiarkan Shaka berlatih mengatur keuangannya sendiri selama ini. Uang sebanyak itu tentu saja Shaka sangat mudah mengaturnya. Apalagi berangkat sekolah selalu bareng ayahnya, dan pulangnya juga kadang-kadang bareng, meski lebih sering pulang sendiri kadang naik ojek, atau jalan kaki, karena jarak rumah dan sekolahnya tidak begitu jauh.


Bahkan aku tahu dari cerita mama, jika Shaka sesekali memberinya uang, dan selalu membawa buah tangan tiap main kerumah mama. Shaka tumbuh menjadi pria dengan kepribadian yang baik. Aku bersyukur untuk hal itu.


" Mama nggak melakukan apa-apa, kalian tumbuh menjadi pribadi yang dewasa karena keadaan yang menuntut kalian untuk seperti itu. Karena keterbatasan mama dan papa sebagai orang tua kalian", ucap mama nelangsa.


" Nggak boleh ngomong begitu ma, itu semua sudah jadi masa lalu untuk kami. Sekarang sudah tidak ada lagi yang boleh bersedih. Kita sudah kecukupan sekarang, bahkan sudah lebih dari cukup", ucapku.


Mama mengangguk sambil mengusap air mata di ujung kelopak matanya.


" Mama tidak menyesal memaksamu untuk menerima pinangan Yoga waktu itu. Bukan karena mama matre, hanya saja mama sebagai orang yang melahirkanmu merasa jika Yoga akan bisa membahagiakan kamu jika kalian menikah, meski saat itu jujur rasa benci mama pada Yoga belum benar-benar hilang ".


" Karena dia yang merusak kamu, makanya dia juga yang harus bisa memperbaikinya, itu yang saat itu ada di pikiran mama".


Mama lagi-lagi bercerita dengan menggebu-gebu.


" Makasih ya ma...., berkat dukungan mama, aku jadi bisa bersatu dengan Raya, dan aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia. Sudah terlalu panjang lembar kisah sedih yang di tulis dalam buku kisah hidup Raya, lembar selanjutnya hanya akan di isi dengan kisah bahagia hingga akhir", ucap Yoga.


Semoga saja yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran, dan dalam hati aku tulus mengamini ucapan Yoga barusan.


Kami mengobrol hingga adzan maghrib berkumandang, dan kembali berkumpul usai sholat. Shaka membantu Pak Surya mempersiapkan tempat dengan menggelar karpet permadani yang tebal dan lembut, oleh-oleh Yoga saat pergi ke Bandung sekitar sebulan yang lalu.


Usai sholat Isa tamu undangan mulai datang dan bersalaman dengan Yoga dan Shaka yang sengaja berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan para tamu. Mereka berdua memakai baju muslim yang sama, benar-benar terlihat kompak bapak dan anak satu ini. Wajah mereka yang mirip membuat mereka jadi benar-benar terlihat kompak.