
Pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan seragam kerja, sudah ku jemur cucian baju, sudah sarapan, dan sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang biasa ku lakukan tiap pagi
Tidak ada Shaka di rumah, sehingga cucian baju tidak terlalu banyak, karena biasanya baju kotor milik Shaka lah yang paling banyak diantara penghuni rumah lainnya.
Aku sengaja membantu mama masak pagi ini, membuat sup, ayam goreng, bakwan jagung, dan sambel. Sengaja masak enak, bukan karena mumpung sedang tinggal bertiga saja dirumah, justru mama membuat masakan yang tidak biasanya karena mau mengunjungi Shaka ke perkemahan sore nanti.
Mama sengaja belanja dan masak agak banyak, mama juga membawakan aku dua bekal makan siang, untukku dan untuk Bian.
" Aku pergi dulu ya Ma, Pa", ucapku berpamitan pada mama dan papa.
Hari ini aku sengaja berangkat lebih awal. Seperti yang aku bahas dengan mama tadi pagi sambil masak. Pagi ini aku akan ke rumah Bian, karena sikap Bian yang sedikit aneh semalam. Aku penasaran apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Pernikahan kami tinggal menunggu hari. Aku tidak mau sampai hari pernikahan nanti Bian masih bersikap aneh terhadapku.
Ku lajukan motor matik hasil kredit mamaku, yang dulu biasa aku pakai untuk pergi bekerja. Sudah lumayan lama tidak aku pakai motor ini, dan rasanya kangen juga mengendarai motor sendiri.
Hanya 5 menit berkendara, aku sudah sampai di depan rumah Bian, pintu gerbang di rumahnya masih tertutup rapat, tapi sudah tidak di gembok, aku hanya perlu mengulurkan tanganku dan membuka kuncinya, dan ku dorong pintu gerbang setinggi dadaku itu agar bisa untuk lewat motorku masuk.
Setelah masuk dan sampai di depan garasi, ku matikan mesin motor. Aku langsung masuk ke dalam rumah Bian, mencoba membuka pintu rumahnya yang ternyata memang tidak terkunci. Tak lupa ku ucap salam, tapi tak ada jawaban dari dalam rumah.
Ku buka pintu kamar Bian yang berada di samping ruang tamu, tidak terkunci, dan aku melongok ke dalam kamar, tapi sepi, mungkin Bian sedang di belakang. Aku pun masih terus masuk ke dalam melewati ruang tengah yang kosong, menuju ke dapur, siapa tahu Bian sedang masak untuk sarapan.
Semuanya kosong, lalu dimana Bian?, masih jam setengah 7 pagi, biasanya Bian masih di rumah, lalu kenapa dia tidak ada dimana- mana, aku jadi merasa khawatir. Dan sejak tadi malam ponselku justru ku matikan, gara-gara menghindari telepon dari Yoga.
Ku nyalakan ponselku dan ku telepon nomor Bian, ponselnya nyambung, tapi tidak terdengar bunyi dering telepon di rumahnya.
" Halo assalamualaikum Bi".
Bian menjawab salamku dengan cepat, entah dimana dia sekarang, tapi terdengar suara orang lain sedang bersamanya, Bian terdengar entah bicara dengan siapa, namun dia mengatakan agar orang itu menunggunya sebentar, terdengar langkah kaki Bian menjauh dari orang itu.
" Maaf Ra, aku mau ngasih tahu kamu, hari ini aku nggak ke restoran, karena semalam ayah menelepon agar aku datang ke rumahnya, jadi hari ini kamu berangkat ke restoran sendiri ya?, aku sudah bilang pada Riko kalau hari ini aku tidak datang ke restoran", suara Bian terdengar lelah.
" Kenapa kamu disuruh ke rumah orang tuamu, apa ada yang terjadi?, ayah dan ibu sehat kan Bi?", tanyaku khawatir, karena tidak biasanya Bian pergi begitu saja ke rumah orang tuanya tanpa memberi kabar padaku.
" Ibuku lagi di suruh istirahat, semalam pingsan karena kecapekan mempersiapkan pernikahan kita, sudah aku bilang agar jangan terlalu capek, tapi kamu tahu sendiri kan kalau Ibu terlalu berantusias ingin acara kita berjalan lancar dan sukses", terang Bian.
" Kenapa kamu baru ngabarin aku Bi?, ibu di rawat dimana?, biar aku ke situ sekarang", ucapku sambil berjalan keluar dari rumah Bian, menutup semua pintu yang tadi kubuka, dan keluar dari rumah Bian dengan langkah cepat.
" Kamu nggak perlu ke sini, ibu cuma disuruh istirahat saja di rumah, nanti kalau kamu kesini, ibu malah nggak jadi istirahat, dia akan menyiapkan ini dan itu saking bahagianya kamu datang kesini. Aku mengatakan jika aku tidak memberi tahumu tentang keadaan ibu. Biar ibu istirahat dulu, aku tidak mau ibu sakit sementara hari pernikahan kita tinggal sebentar lagi".
Aku mengerti yang Bian katakan, semoga saja ibu segera sehat dan fit lagi seperti semula.
" Apa karena ini, semalam kamu langsung mengantarkan aku pulang ke rumah Bi?, sebenarnya sekarang aku lagi dirumah kamu. Aku merasa semalam sikap kamu berubah dan jadi aneh, makanya pagi-pagi aku datang kesini, sudah bawa sarapan juga buat kamu, dan saat masuk ke rumah, kamu malah nggak ada, sebenarnya tadi aku sangat cemas karena rumah kamu kosong", ujarku jujur.
Ku dengar suara Bian terkekeh, " Iya, karena semalam ayah mengirim pesan jika Ibu pingsan, makanya aku harus buru-buru ke rumah ayah, tapi aku tahu kamu capek dan butuh istirahat, jadi aku memilih mengantarkan kamu pulang dulu, baru aku pergi ke rumah ayah".
" Kok rumah kamu nggak di kunci Bi?, tadi aku masuk gemboknya sudah kebuka, apa memang nggak pernah di kunci?", tanyaku.
" Enggak kok, biasanya di kunci gembok pintu gerbangnya, cuman semalam Steve mampir ke rumah, makanya aku kasih tahu satpam komplek yang aku titipin kunci gembok biar di kasihkan ke Steve. Palingan Steve lagi keluar nyari sarapan, makanya pintunya nggak dikunci, biasanya nyari sarapan nya pergi ke tukang nasi uduk di ujung jalan".
Jadi Yoga yang sedang disini, sebaiknya aku buru-buru pergi, adu...h kenapa aku apes banget, sengaja mematikan ponsel biar dia tidak bisa menghubungiku, ini malah akunya nyusulin ke sini, kalau saja tahu kalau Yoga disini, nggak bakalan aku sepagi ini sampai disini.
" Ya sudah Bi, aku tutup dulu teleponnya, ini mau langsung ke restoran saja kalau begitu, assalamualaikum".
Ku tutup telepon setelah mendengar jawaban salam dari Bian. Aku pun buru-buru menyimpan ponsel kedalam tas, dan memutar motorku menghadap keluar, namun saat aku menyalakan mesin motorku, Yoga masuk sambil menutup pintu gerbang yang sebenarnya tadi masih terbuka.
" Wah sepagi ini sudah ada calon nyonya rumah, ada apa nih kesini?, sengaja pengen ketemu sama aku ya Ra?", tanya Yoga dengan cengengesan.
" Ayo masuk dulu, jangan buru-buru pergi begitu, aku cuma beli sarapan buat kita, tadi aku lihat kamu pas lagi menuju kesini. Apa Bian nggak bilang sama kamu kalau dia nggak pulang kerumah semalam?, ayo masuk ke dalam, kita sarapan bersama, masih pagi ini, belum juga jam 7, restoran kan buka jam 9", gumam Yoga mematikan mesin motorku dan mencabut kontak dari tempatnya.
" Aku nggak suka maksa, jadi kamu ikuti aku saja masuk, daripada masuk kedalamnya aku gendong kan nggak enak kalau ada orang lewat yang lihat", ucap Yoga sambil menatapku dengan wajah sedikit mengancam.
Aku tetap duduk di jok motor tak bergeming, " Balikin kunci motorku, aku mau berangkat kerja, jadi kamu jangan memaksa, atau aku teriak dan panggil keamanan kalau kamu maksa", ucapku dengan nafas memburu karena merasa emosi.
" Panggil saja sana, sekedar informasi, tadi satpam jaga lagi pada bahagia banget karena habis ada pemuda tampan dan baik hati yang memberikan nasi uduk untuk sarapan mereka ", ujar Yoga dengan melenggang masuk ke dalam rumah Bian, sambil memasukkan kunci motorku kedalam saku celananya.
Pandai sekali dia, pagi-pagi sudah menyogok satpam komplek dengan nasi uduk. Mana kunci motor ku di bawa masuk juga, bagaimana aku bisa pergi ke restoran kalau aku tidak bisa menyalakan motorku.
Aku berfikir sejenak, dan saat aku sedang berfikir, ada anak SMP yang berdiri di seberang jalan, sedang menerima helm dari driver ojek online. Aku langsung tersenyum sumringah karena mendapatkan solusi.
Tak habis akal, aku membuka aplikasi ojek online, sengaja aku memesan ojek online dari rumah Bian, terserah Yoga mau berbuat apa, akan ku tinggal motorku di rumah Bian, dan aku pergi kerja naik ojek online. Aku cerdas kan?.
Aku standarkan motor ku dan meninggalkannya di depan garasi rumah Bian, aku tersenyum tipis setelah ada driver ojek online yang menerima permintaanku. Saatnya untuk kabur, sebentar lagi pasti tukang ojek itu akan sampai, dan bye bye Yoga, kamu mau bermain licik, aku juga bisa.
" Buruan masuk Ra... mumpung nasi uduknya masih hangat, sudah aku buatin teh manis juga, ayo dong temenin aku sarapan, habis sarapan kunci motor kamu aku balikin deh, aku janji!", seru Yoga dari pintu rumah Bian.
Aku tidak menggubris seruannya, namun berjalan keluar dari rumah Bian saat melihat driver ojek online sudah sampai di depan rumah.
Sudah saatnya untuk pergi, jangan sampai langkah Yoga lebih cepat dariku dan mencegah kepergian ku.
" Nikmati saja sarapanmu sendiri, dan perlu kamu tahu, aku kesini bukan untuk bertemu sama kamu, tapi aku nyari yang punya rumah ini, yaitu Bian calon suamiku", ucapku ketus sambil mendorong pintu gerbang dan menutupnya kembali. Tak lupa aku menengok ke belakang, melihat Yoga yang berusaha mengejar ku tapi tak sampai, karena aku langsung menyuruh driver ojek untuk melajukan motornya.
Biarlah motorku tetap di rumah Bian, pasti aman, akan aku ambil nanti sore sepulang kerja. Semoga saja Bian sudah balik ke rumahnya nanti sore, kalaupun belum, setidaknya Yoga sudah tidak di rumah Bian lagi.
Ku lambaikan tanganku berdada-dada sambil tersenyum saat melihat Yoga berkacak pinggang dengan wajah kesal karena tidak berhasil meraihku.
" Nikmati saja nasi uduknya, punyaku buat kamu saja, aku sudah kenyang!", seruku sambil menjulurkan lidah mengejeknya.