
Raya POV
Shaka pergi camping hari ini, dia terlihat begitu senang dan bersemangat saat berpamitan, tapi justru Yoga yang terlihat tidak senang, hingga Shaka pergi dengan wajah penuh tanya, mungkin Shaka mengira jika ayahnya terpaksa memberi ijin dia ikut camping karena bujukan ku. Padahal sebenarnya sejak awal Yoga setuju dan tidak masalah sama sekali jika Shaka mengikuti kegiatan camping dari sekolahnya.
Karena yang membuat wajah Yoga murung sebenarnya karena sedang ada masalah pada pekerjaannya. Tentang pembebasan lahan, masih ada kendala karena beberapa orang belum setuju dengan harga yang Yoga tawarkan.
Lahan yang rencananya akan di bangun hotel di daerah pinggiran kota, tempat yang dekat dengan salah satu lokasi pariwisata, belum ada hotel yang berdiri disana, hanya ada beberapa motel dan penginapan, seharusnya sangat bagus membangun hotel disana, namun ternyata ada sedikit kendala.
" Bagaimana jika sekarang kita ke lokasi yang rencananya akan kamu bangun hotel, mumpung Syifa sedang diajak ke rumah neneknya. Aku siap-siap dulu sebentar", ucapku seraya berjalan masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tas.
Yoga memang seperti enggan mengajakku ke lokasi yang hendak dijadikan hotel, mungkin karena selama ini aku memang tidak pernah ikut campur untuk urusan pekerjaan Yoga. Karena selama ini Yoga selalu mampu menyelesaikan masalah pekerjaannya sendiri. Berbeda dengan saat ini dia merasa begitu kesulitan dan butuh seseorang untuk membantunya.
Aku tidak bisa membantunya, tapi aku berusaha mengurangi beban pikirannya, dan berharap Yoga tidak terus-terusan berwajah muram.
Namun belum sempat aku dan Yoga keluar dari rumah, ponselku yang ku simpan di dalam tas, berdering berulang kali. Saat ku periksa ternyata yang melakukan panggilan adalah dari nomor Shaka. Anak ini kenapa, padahal baru saja dia berpamitan untuk pergi camping, tapi kenapa sekarang sudah meneleponku?. Sebaiknya aku angkat untuk mengetahui apa yang ingin Shaka sampaikan.
" Halo, selamat siang ibu, kami dari rumah sakit Medika, benar ini ibunya Shaka?".
Saat mendengar ucapan penelfon yang ternyata bukan Shaka, dan justru dari salah satu karyawan rumah sakit. Jantungku langsung berdegup dengan begitu cepatnya. Entah mengapa firasat buruk langsung memenuhi kepalaku.
" Benar saya Raya, ibunya Shaka, maaf kenapa bukan Shaka yang menelepon?", dengan suara gemetar karena merasa khawatir dan takut akan terjadi apa-apa pada Shaka, aku masih berusaha untuk bersikap tenang, namun gagal.
Aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku, ekspresi sedih dan takut membayangkan seperti apa keadaan Shaka saat ini membuat Yoga yang sejak tadi menungguku di ruang tamu memilih mendekat ke arahku yang tengah berdiri di ruang tengah dengan tangan gemetar memegang ponsel.
" Kamu kenapa Ra?", suara terakhir yang berhasil tertangkap telingaku, karena setelah itu, mendadak semuanya menjadi gelap, dan semua suara menghilang begitu saja.
Saat sadar ternyata aku sudah berada di rumah sakit, rumah sakit Medika, rumah sakit yang sama dengan tempat dimana Shaka di rawat saat ini.
Ku buka mata, dan ku lihat ada Yoga dan Shaka yang sedang duduk di sofa yang berada di samping ranjang tempat tidurku.
" Ibu sudah siuman?, ibu nggak papa kan?".
Shaka langsung berdiri di sebelah ranjang saat mengetahui jika aku sudah siuman dari pingsan ku.
" Kamu nggak kenapa-kenapa ?", ku tatap keadaan Shaka dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memang ada beberapa lecet di tangan Shaka, tapi sepertinya sudah diobati.
" Shaka nggak kenapa-kenapa Bu, ibu itu terlalu panik saat mendapat kabar kalau Shaka disini, padahal Shaka cuma lecet-lecet sedikit. Karena yang lumayan parah teman Shaka Bu. Eh malah ibu yang pingsan seharian", ucap Shaka.
Aku lihat ke arah jendela kaca, memang benar hari sudah gelap, jadi sudah berapa lama aku pingsan ?, bahkan aku sampai dirawat di rumah sakit.
" Sudah kamu istirahat saja, biar ayah panggilkan dokter untuk memeriksa ibumu, kamu kan habis minum obat, butuh istirahat, pulanglah ke rumah, temani adikmu, dia pasti bingung karena rumah sepi. Nenek juga akan menginap di rumah kita malam ini", ucap Yoga pada Shaka.
" Tunggu dulu, ibu mau tahu sebenarnya apa yang terjadi?, bukankah belum lama sejak kamu pamit untuk berangkat, kemudian ada telepon dari rumah sakit ini jika kamu kecelakaan?", tanyaku yang sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Shaka pun menceritakan tentang apa yang terjadi tadi pagi.
" Mobil milik pak guru nggak muat di naiki semua peserta camping, makanya aku bonceng teman yang bawa motor. Eh ternyata motornya nggak kuat buat di naiki dua orang di jalan yang nanjak. Makanya motornya mati mendadak, membuat aku dan temanku kerepotan menahan motor itu, dan motor berjalan mundur ke belakang. Aku sempat loncat dari motor, makanya cuma tergores sedikit. Tapi temanku kebawa motor, dan ikut guling ke bawah, makanya lukanya cukup parah. Dia di rawat disini juga, dua jari tangannya retak", ujar Shaka menjelaskan.
Mendengar penjelasan Shaka aku bisa bernafas lega, setidaknya Shaka hanya lecet-lecet sedikit, tidak parah seperti temannya.
Pintu ada yang mengetuk dari luar, Yoga pun membukakan pintu kamar dimana aku dirawat.
" Maaf mengganggu istirahat Tante, bolehkah kami masuk?", seorang gadis cantik dan dua temannya berdiri di depan pintu kamar.
Aku mengangguk memberi kode pada Yoga untuk mengijinkan mereka masuk.
Sebelum teman-teman Shaka masuk, Shaka sempat berbisik padaku, " Bu, yang cewek itu yang namanya Adel, teman sekelas Shaka yang kemarin Shaka ceritakan".
Ku tatap gadis yang masuk bersama dua temannya. Memang cantik dan terlihat sopan.
" Selamat malam, Om dan tante. Saya Adel, dan ini Galih dan Sinta, kami teman Shaka, tadi habis dari kamar Anas, terus di kasih tahu Anas kalau Tante di rawat disini..."
Adel terus bicara memperkenalkan dirinya, dia juga membawa kue sebagai buah tangan. Untuk anak seumuran Shaka, sikap mereka tergolong anak yang sopan.
Jadi anak ini yang membuat Shaka kekeh ingin ikut kegiatan camping, namun rencana untuk camping jadi gagal, gara-gara Shaka dan Anas mengalami kecelakaan saat hendak berangkat ke bumi perkemahan.
Harusnya acara tetap berjalan seperti biasa jika yang kecelakaan hanyalah anggota baru seperti Shaka, namun Anas, teman yang membawa motor itu adalah ketua pecinta alam, dia yang menjadi penggerak semua kegiatan, tanpanya mungkin acara akan berantakan.
Karena dari cerita Adel, sebenarnya Anas meminta teman-temannya untuk tetap melanjutkan kegiatan camping, namun semua peserta kompak mengambil keputusan untuk memundurkan jadwal kegiatan camping.
Karena itulah malam ini mereka berada disini, menemani Anas yang terbaring di ruang rawat. Anas memang seorang yatim, dan ibunya bekerja di Arab Saudi. Merasa perduli dengan keadaan Anas, teman-temannya bergiliran untuk menemani Anas di rumah sakit. Memang bagus jiwa kebersamaan mereka, namun yang aku sayangkan, Adel dan Sinta itu perempuan, harusnya orang tua mereka melarang mereka menginap untuk menjaga teman laki-laki.
Atau mungkin orang tua mereka tidak tahu jika mereka berada disini?, bukankah orang tua yang berkarir cemerlang biasanya akan sibuk mengurus pekerjaannya saja, dan kurang memperhatikan anak-anaknya.
Tapi mereka menginap di tempat terbuka dengan banyak teman laki-laki pun orang tua mereka tidak mempermasalahkan. Mungkin saja orang tua mereka tipe orang masa kini, yang tidak mengkhawatirkan pergaulan anaknya, yang penting mereka bisa menjaga kehormatan diri dan keluarga.
" Senang bertemu dengan teman-teman Shaka, tapi kalau boleh Tante bertanya, apa orang tua kalian tahu kalian berada disini, malam-malam begin", tanyaku lirih.
" Tentu saja tahu, kami memberi tahu apa yang terjadi, dan orang tua kami memberi ijin kami untuk menemani Anas malam ini. Mungkin besok giliran teman-teman yang lain yang bertugas menjaga Anas, kami bergantian Tante", ujar Galih
" Kalau boleh saya tanya, Tante pakai perawatan apa?, Shaka kan seumuran saya, tapi Tante masih seperti ABG, begitu juga dengan Om, kayak bukan ayah dan ibunya, tapi seperti kakaknya Shaka", tutur Galih dengan jujurnya.
" Soalnya ayah dan ibuku di rumah sudah terlihat tua, padahal mungkin sepantaran dengan kalian".
Aku terdiam karena membayangkan orang tua Galih yang sudah tua, disamakan umurnya dengan aku dan Yoga yang memang masih muda, belum terlalu tua.
" Nggak ada perawatan apa-apa, ibuku jarang ke salon, jarang pakai makeup juga, cuma perawatan alami pakai masker timun, tomat, atau bengkuang", justru Shaka yang menjawab.
" Sudah-sudah kalian ke kamar Anas saja, ibuku mau istirahat, jangan di ganggu", ujar Shaka mengusir teman-temannya agar pergi dari kamarku.
Aku senang teman-teman Shaka begitu care, bahkan sampai menjenguk ku segala. Padahal aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.
" Oh iya, maaf sudah ganggu istirahat Tante, kami permisi dulu, silahkan dilanjutkan istirahatnya Nte", pamit Adel dan teman-temannya.
Ku anggukkan kepala tanda mempersilahkan mereka keluar, dan kembali ke kamar Anas untuk menemaninya.