Healing

Healing
62. Tamu Pengganggu



Aku dan Bian pulang ke rumah Bian yang katanya tadi pagi sudah masak banyak, dan semuanya adalah makanan kesukaanku. Entah mengapa seleraku selera masakan kampung, mungkin karena sudah terbiasa sejak kecil dimasakin sama mama menu masakan kampung, sehingga lidah terbiasa dengan cita rasa masakan kampung yang bagiku sangatlah nikmat.


Sambel terasi, sayur asem dan ikan asin, bukanlah makanan mewah, tapi kalau makan dengan lauk itu, aku bisa nambah berkali-kali. Bukankah seleraku selera lidah orang kampung?.


Tapi bukan berarti aku tidak suka dengan burger, pizza, hot dog, spaghetti, pasta, dan sejenisnya, karena makanan itu pun bisa aku makan, semuanya bisa masuk, tapi jika disuruh memilih saat posisi lapar seperti saat ini, tentu saja aku akan lebih memilih nasi dengan lauk sayur asem, sambel terasi, dan ikan asinnya yang menggugah selera.


Kami berdua sampai di rumah Bian jam 11 lewat, langsung makan siang berdua dan juga mencuci piring dan gelas kotor bekas kami pakai bersama-sama. Ralat, tidak bersama... lebih tepatnya aku yang mencuci, dan Bian hanya memelukku dari belakang, justru sedikit mengganggu pekerjaanku, namun aku biarkan saja dia bertindak sesuka hatinya, aku juga merasa nyaman tiap kali diperlakukan seperti itu oleh calon suamiku. Seolah merasa begitu dicintai dan di inginkan.


Hanya sebentar mencuci piring dan gelas, karena kami hanya makan berdua, kami pun berpindah ke ruang tengah untuk duduk-duduk dan bersantai di sofa panjang yang menghadap ke televisi. Bian masih terus saja memelukku dari belakang dan mengikuti langkahku, meski aku berusaha melepaskannya karena membuatku susah untuk berjalan. Bian baru mau melepas pelukannya saat aku duduk di sofa panjang dan menyalakan televisi untuk tontonan kami berdua.


" Tinggal nunggu beberapa hari lagi sampai kita berdua bebas melakukan semua yang ingin aku lakukan terhadapmu. Rasanya sudah tidak sabar menantikan hari itu, apa kamu juga merasakan hal yang sama Ra...?", tanya Bian sambil menidurkan kepalanya di pangkuanku. Bian selonjoran ke samping dan kakinya yang menjulang melebihi panjang sofa harus ditekuk dan menyentuh lantai.


Aku yang sedang duduk santai di sofa panjang yang menghadap ke televisi membiarkan Bian untuk bersandar di pangkuanku.


" Biasa saja", jawabku singkat, sengaja menggoda Bian.


" Tukang bohong, dari wajahnya saja sudah kelihatan banget kalau kamu juga sudah pengen kita cepet-cepet menikah. Iya kan?", tebak Bian sambil memainkan ujung rambutku yang tergerai kedepan dengan jari jemarinya.


" Nggak usah ditanya juga pasti sama yang kita rasakan. Kan kita menikah atas dasar kemauan sendiri, bukan karena di jodohkan, jadi pasti yang dirasakan juga sama Bi...".


" Oh iya Bi... nanti habis menikah, nggak papa ya kalau aku sering main ke rumah mama?, kan aku harus memantau Shaka terus. Biar tahu perkembangannya, aku mau Shaka tumbuh menjadi pemuda yang berakhlak baik", ucapku sambil memainkan jariku di wajah Bian yang tepat menghadap ke wajahku, ya... kami sedang saling menatap.


Televisi hanya dinyalakan tanpa ada yang menonton. News anchor yang sedang membawakan berita di cuekin oleh kami berdua.


" Nggak boleh!, kamu nggak boleh sering-sering main kesana sendiri, tapi boleh kalau ke rumah mamanya bareng sama aku", ucap Bian masih dengan netra yang menatap ke wajahku.


Aku langsung tersenyum, ucapan Bian membuatku merasa dia bukan hanya menyayangiku, tapi juga menyayangi keluargaku.


" Oh iya, nanti kita ke tempat Shaka berkemah ya Bi... aku pengen tengokin dia di perkemahan bagaimana", pintaku pada Bian.


" Tentu saja, dengan senang hati. Malah jadi teringat saat dulu kita berkemah juga, awal masuk di SMP, kita masih sangat lugu, kamu sering tampil di depan yang lain untuk bernyanyi mewakili kelas, pertama dengar kamu nyanyi aku langsung tertarik sama kamu loh Ra...., nggak nyangka bakalan jadi suami kamu". Bian lagi-lagi mengenang masa kami SMP. Dimana saat itu aku benar-benar belum ada rasa suka kepadanya, karena aku hanya menganggapnya sebagai teman.


Namun ternyata Bian sudah tertarik padaku dari awal kami masuk SMP. Sungguh lucu karena aku tidak pernah mengerti hal itu.


" Kamu itu dulu pendiam, dan jarang ngobrol dengan yang lain karena kamu nggak punya teman dari SD yang sama, karena itulah aku menyapamu terlebih dahulu, kamu itu tampan, dan juga pandai, tapi pemalu", ucapku turut mengenang masa lalu.


" Tapi sekarang sudah nggak pemalu lagi, malah malu-maluin", ujarku.


Bian bangkit dari tidurannya dan duduk bersila menghadap ku. "Cuma kamu yang mengatakan aku malu-maluin, memangnya apa yang aku lakukan yang menurutmu malu-maluin?".


" Apa karena aku melakukan ini, atau seperti ini?", tanya Bian sambil mengecup bibir dan keningku tanpa aba-aba.


" Iya, tuh kan, nggak lihat tempat, tiba-tiba nyosor begitu saja, bikin aku malu tahu Bi... kalau tiba-tiba ada orang yang lihat kan aku nggak enak".


" Siapa yang melihat, kita kan cuma berdua di rumah ini, jadi apapun yang kita lakukan nggak ada yang tahu", ucap Bian sambil tersenyum jahil dan merengkuhku kedalam pelukannya.


Dengan lembut mengecup kening, pipi, dan juga bibirku. Seperti sebelumnya ciuman yang lembut dan rileks, Bian terus merengkuh tubuhku, berpindah mengecup ceruk leherku, membuat sekujur tubuhku meremang seketika.


Perlahan Bian membuka kancing bajuku, namun baru terbuka satu kancing, terdengar suara salam dari depan rumah.


" Assalamualaikum...".


Ku dorong pelan tubuh Bian, " Bi ada tamu, hentikan, kamu membuatku geli".


Bian menghembuskan nafas kasar, " Tamu siapa sih, nggak tepat waktu, ganggu orang lagi enak saja !", gerutu Bian sambil berjalan keluar untuk menemui tamu. Sedangkan aku tetap di ruang tengah merapikan bajuku yang sedikit berantakan karena ulah Bian.


" Ngapain siang-siang begini ke rumahku?, kamu lagi nggak berangkat kerja apa?".


Bian berjalan masuk setelah membukakan pintu untuk tamu itu. Ternyata Haidar yang datang seorang diri, dia terlihat membawa tas kerja dan juga masih berpakaian kantor.


" Eh ada Raya disini, pantesan Bian lama buka pintunya, nggak lagi nanggung kan?, sori ya kalau aku ganggu kalian, tadi habis meeting deket sini, karena kalau balik ke kantor lama, aku mampir deh, mau pinjem baju, buat sholat Jum'at di masjid deket sini saja", ujar Haidar sambil melepas jas yang dipakainya, dan meletakkan di sandaran kursi tamu.


Bian melemparkan bokongnya ke kursi, dan melipat tangannya di depan dada. " Iya kamu kesini ganggu banget, karena lagi nanggung tadi, nggak tepat waktu banget kamu datangnya. Kencan di restoran ada Riko yang suka usil, di rumah malah kamu yang jadi pengganggu. Kapan berhasilnya ?", ujar Bian dengan geram.


Aku melotot ke arah Bian yang sedang bicara begitu blak-blakan dengan Haidar.


" Nggak begitu kok Dar... Bian itu kadang berlebihan banget, dia tadi mau mandi buat sholat Jumat juga, dimana baju buat sholat Bi...?", tanyaku sambil menepuk lengan Bian supaya tidak bicara terlalu blak-blakan pada Haidar.


" Ada di gantungan tempat sholat kok, Haidar juga sudah tahu tempatnya. Biasa ngambil sendiri dia. Ya sudah aku mandi dulu, nanti kamu di rumah sendirian nggak papa kan Ra?, aku ke masjid buat sholat Jumat dulu bareng Haidar", Bian bertanya sambil berdiri menuju kamarnya untuk mandi.


" Iya nggak papa, habis sholat Jumat main ke rumahku dulu ya Bi, baru kita ke perkemahan Sahaka sore harinya. Kalau siang panas, males", ucapku dari ruang tamu.


" Oke tuan putri, supir mu ini pasti akan mengantarkan kamu kemana pun keinginan tuan putri", seru Bian dari dalam kamarnya.


Haidar terkekeh, " Bian sudah punya profesi baru sekarang, jadi supir pribadi. Lumayan tuh buat penghasilan tambahan. Tapi bayarannya nunggu sah ijab qobul, biar nggak dosa", ujar Haidar.


" Aku kebelakang dulu ngambil baju di tempat sholat ya Ra", Haidar berdiri dan berjalan masuk.


Haidar dan sahabat Bian yang lain memang sudah seperti di rumah sendiri jika berada di rumah Bian, selain karena Bian tinggal seorang diri di rumah, dan rumah Bian sering di jadikan tempat ngumpul bersama.


" Nggak mandi juga Dar?, kamar mandi belakang kan kosong", ujarku memberi tahu.


" Sudah mandi tadi pagi, lagian nggak kotor, masih wangi badanku, cuman mau sholat Jum'at pakai jas dan celana kayak kurang afdhol, kecuali benar-tidaknya terpaksa nggak ada baju ganti, tetep pakai seadanya", ujar Haidar yang sudah berganti dengan sarung dan baju muslim.


Sejak tadi aku tetap duduk di ruang tamu karena di belakang Haidar berganti baju, dan di kamar Bian juga sedang berpakaian.


" Kita tinggal dulu ya Ra..., kalau takut sendirian di dalam, duduk di teras saja, kan banyak orang lewat. Jadi nggak serem", canda Haidar yang keluar lebih dulu.


Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang menakut-nakuti ku. " Jangan dengerin omongan Haidar, dia itu jahil dan tukang tipu, rumah ini aman dan nggak serem sama sekali. Aku tinggal ke masjid dulu ya Ra", Bian hanya melambaikan tangan, aku pun membalasnya sambil mengangguk dan tersenyum.


Rasanya seperti sudah menikah beneran, siang-siang mengantarkan suami mau pergi jum'atan, aku jadi tersenyum sendiri karena merasa lucu.