
" Lepaskan aku!", teriak ku pada Yoga, aku tahu saat ini banyak orang yang memperhatikan dan menatap ke arah kami. Mungkin karena aku berlari dan Yoga mengejar ku, mungkin ada yang berpikir jika aku seorang gadis yang sedang ditagih oleh temannya karena tak bisa bayar hutang. Karena sangat tidak mungkin pria tampan dan bertubuh tinggi kekar seperti Yoga akan mengejar-ngejar gadis biasa sepertiku.
" Kamu bisa tenang sedikit kan Ra..., sikap kamu membuat orang lain jadi melihat kearah kita".
Yoga langsung mencengkeram kedua lengan tanganku, dan memintaku untuk berhenti dan diam, tidak memberontak terus. Tapi aku tidak ingin bicara dengannya, aku bahkan tidak ingin melihatnya. Aku sangat membencinya, aku takut jika dia menanyakan tentang Shaka, aku tidak ingin dia mengenal atau bertemu dengan Shaka.
" Makanya lepaskan aku, aku tidak mau melihat wajahmu, aku tidak mau bertemu dengan kamu, dan aku tidak mau berurusan sama kamu lagi!".
Aku masih terus berteriak dan memberontak, namun justru itu membuat Yoga menarik ku keluar dari hotel menuju parkiran dan memasukkan aku ke mobil. Yoga langsung masuk dan mengunci pintu mobil. Saat ini hanya ada kami berdua di dalam mobil, mungkin ini mobil miliknya, sebuah mobil Alphard warna putih yang terlihat masih sangat baru.
" Kenapa kamu harus selalu menghindar setiap kali kita bertemu?, apa sebegitu bencinya kamu sama aku, gara-gara masa lalu kita yang tidak baik?".
Aku langsung membuang muka, dan enggan menatap Yoga yang sedang berbicara padaku. Rasanya aku ingin bisa mendobrak pintu mobil mahal ini, seandainya saja aku punya ilmu menembus pintu, atau menghilangkan diri, pasti sudah aku lakukan saat ini juga.
" Maaf...maaf...dan maaf.... sudah berulang kali aku ucapkan sama kamu Ra... kamu pikir aku mau ada di posisiku saat itu?, seandainya saja aku sudah menjadi sukses seperti sekarang ini, aku yakin 100%, aku akan menolak dengan tegas keinginan ibuku untuk mengugurkan kandungan dalam rahimmu".
" Aku juga saat itu terpaksa Ra... tapi sungguh aku masih sangat sangat mencintai kamu. Selama aku pindah, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan gadis manapun, aku terus teringat akan dirimu Ra..., juga terus kepikiran dengan anak kita. Aku bersungguh-sungguh, aku tidak bohong".
Yoga terus berbicara sendiri, aku sangat enggan mendengarkan apapun alasannya, aku sudah sangat muak hanya mendengar suaranya saja. Sudah cukup aku sengsara karena menanggung semua hasil perbuatannya padaku. Bagaimana bisa aku memaafkannya.
Tapi jika aku terus begini mungkin Yoga tidak akan melepaskan aku, dan terus mengunciku di mobil ini, karena itulah aku berpura-pura melunak, aku harus mengatakan jika aku sudah memaafkannya, agar aku bisa keluar dari mobil ini.
" Baiklah, aku maafkan kamu dan kesalahanmu di masa lalu, sekarang kamu sudah dengar kan jika aku sudah memaafkan kamu, sekarang tolong buka pintu mobil ini, karena aku ada janji akan bertemu dengan seseorang".
Sengaja ku pelankan nada suaraku agar Yoga percaya.
" Kamu serius dengan ucapanmu kan Ra?, aku pegang omongan kamu barusan, kalau kamu sudah memaafkan aku, apa sekarang kita kembali berteman sepeti dulu Ra?".
Mendengar pertanyaan Yoga membuatku tersenyum sinis, bisa dilihat kan?, dikasih hati minta jantung. Dibilang sudah diberi maaf, sekarang tinggal minta kembali berteman, mana mau aku berteman dengan orang yang aku benci.
" Sudah cukup aku maafin kesalahan kamu, sekarang kamu malah minta menjadi teman ku?, cari saja teman yang lain, aku tidak berminat berteman sama kamu, karena itu cepat lah buka pintu mobil ini, karena calon suamiku pasti sudah menunggu ku sejak tadi!".
Sengaja ku perjelas kata 'calon suamiku' agar Yoga tidak lagi mengganggu hidupku.
" Apa kamu bilang Ra?, calon suami?. Aku nggak salah dengar?, apa kamu berniat mau menikah dengan laki-laki lain yang tidak mengetahui masa lalu kamu?, apa dia tahu keadaanmu yang sebenarnya?".
Pertanyaan Yoga membuat aku yang sedang berusaha meredam emosi rasanya ingin berteriak-teriak lagi. Apa maksudnya bertanya seperti itu?, dia pikir aku ini menjadi seperti sekarang ini karena siapa?, karena dia. Tapi seolah dia merasa tidak bersalah.
" Ya... calon suamiku sedang menungguku di luar, tentu saja dia tahu semua kisah masa laluku, jadi sekarang buka pintunya sebelum calon suamiku tahu aku sedang berada di dalam mobil bersama laki-laki pengecut yang dulu kabur meninggalkan aku dan bayi dalam perutku!".
Suaraku kembali meninggi, saking emosinya, batas kesabaranmu sudah habis, rasanya seperti ingin menghajar laki-laki yang duduk di sebelahku ini dan menjambak rambutnya sampai rontok.
" Apa kamu tidak pernah ada keniatan untuk kembali bersama denganku lagi Ra?, kita ulang masa-masa indah saat kita bersama dulu. Apa kamu tidak ingin kembali bersatu denganku Ra?, kamu mau kan bersatu denganku lagi?".
Kurasa Yoga sudah sangat keterlaluan, dia mengatakan ingin mengulang masa-masa indah saat bersama, karena bagiku itu bukan masa yang indah, melainkan masa penuh dengan nafsu dan kesalahan. Masa dimana dirinya bisa menyalurkan semua keinginan seksualnya dengan bebas tanpa sebuah ikatan.
Kecuali orang itu benar-benar tobat dan memang sangat mencintai pasangan bercinta yang sebelumnya, mungkin aku akan percaya dengan kata-katanya. Tapi aku tidak yakin jika Yoga sebesar itu mencintaiku. Aku rasa hanya karena dia merasakan yang pertama bersamaku, dan dia masih ingin kembali merasakannya lagi karena ketagihan.
" Tidak, bahkan aku tidak pernah sekalipun membayangkan akan kembali bertemu dengan kamu, karena bagiku, kamu sudah mati, sudah aku kubur dalam-dalam bersama dengan kenangan dan luka yang pernah kau berikan kepadaku".
Dari dalam mobil Yoga aku bisa melihat Bian dan Riko keluar dari hotel, dan nampak sedang mencari-cari keberadaan ku.
" Sekarang bisa kan kamu turunkan aku dari sini, ku rasa aku sedang dicari-cari sejak tadi. Dan tolong jangan temui aku lagi, anggap saja kamu tidak mengenalku, dan jangan datang ke rumahku lagi".
Aku menarik handle pintu mobil karena Yoga sudah membukanya. Kurasa Yoga juga melihat Riko dan Bian yang terlihat mencari-cari seseorang. Mungkin Yoga ingin menemui mereka.
Berhasil keluar dari mobil Yoga, aku langsung menghampiri Riko dan Bian. Aku tahu Yoga masih terus memperhatikan kemana aku pergi, masa bodoh, kalaupun dia tahu laki-laki yang ku sebut calon suami adalah temannya sendiri. Tapi sebenarnya sedang apa Yoga di hotel ini?, laki-laki seperti dirinya mungkin sering keluar masuk hotel mewah seperti ini hanya sekedar untuk urusan pribadi. Mungkin dia sudah janjian dengan perempuan penjual jasa pemuas **** hanya sekedar untuk menyalurkan hasratnya di hotel ini.
Bagaimana bisa aku terus berpikiran buruk tentang Yoga?, karena memang seperti itulah dirinya, Setelah dulu melakukan hubungan terlarang satu kali denganku, setiap kali kami bertemu, tak pernah sekalipun dia tidak meminta jatah untuk melampiaskan keinginannya. Hanya saja kadang aku tolak, itupun Yoga masih terus membujukku dengan rayuannya. Yang mengatakan aku tidak mau melakukan lagi karena aku sudah tak mencintainya, pernah juga dia menuduhku punya gebetan lain, dan sudah mulai bosan berpacaran dengannya sehingga aku menolak untuk bercinta dengannya.
Selalu ada saja alasan dirinya yang membuat aku tidak bisa menolak keinginannya untuk bercinta. Sungguh itu karena bodohnya aku yang masih sangat polos saat itu.
" Dari mana Ra..., kita berdua nyariin, tapi kamu nggak di lobi". Bian menggandeng tanganku dan mengajakku kembali masuk ke lobi hotel.
" Maaf Bi... aku bosan banget nunggu kalian meeting lumayan lama, aku duduk sendirian di sini cukup lama, makanya aku keluar sebentar, jalan-jalan di depan", kilahku beralasan.
" Jadi mana teman kamu yang mau menikah?", tanyaku pada Bian.
Bian pun memperkenalkan ku dengan seorang gadis cantik yang tingginya sama sepertiku, kulit putih juga sama sepertiku, rambut lurus sama sepertiku, hanya bola matanya lebih besar dariku, awalnya aku berpikir kenapa gadis ini sekilas mirip denganku, hanya saja mataku lebih sipit karena aku mirip dengan papa yang masih keturunan orang Jepang.
Ku ulurkan tangan dan disambut dengan hangat oleh gadis itu. " Raya...", ucapku memperkenalkan diri".
" Utari, senang bertemu dengan mu, semoga kamu dan Bian juga segera meresmikan hubungan kalian ", senyum tulus terpancar dari wajah cantik Utari.
Gadis berpendidikan tinggi memang sangat terlihat dari sikap dan atiitudenya, dari gaya bicaranya terlihat orang yang cerdas, penuh percaya diri, sangat sopan dan berwibawa. Siapapun yang menikah dengannya sangatlah beruntung.
" Oh iya mana calon suaminya?, bukankah kalian bilang sahabat kalian itu yang cowoknya?", tanyaku pada Bian dan Riko yang sejak tadi terlihat mencari-cari keberadaan seseorang.
" Oh iya, Steve bilang ada meeting mendadak, jadi tadi hanya mengirimkan pesan padaku, dia minta maaf karena pulang duluan, padahal tadi sudah sampai disini, lihatlah, dia mengirim foto sudah sampai parkiran, tapi harus pergi lagi". Utari menunjukkan foto yang dikirim oleh calon suaminya.
Ku tatap foto yang diambil oleh calon suami Utari, foto itu terlihat diambil dari posisi mobil yang aku masuki tadi. Di sana terlihat Bian dan Riko saat sedang mencari-cari ku, atau jangan-jangan Steve calon suami Utari adalah Yoga?. Ya, aku tahu betul nama panjangnya, Steve Prayoga Setyawan.
Dasar laki-laki pecundang, mulut dan hati selalu saja berbeda, dia bilang masih sangat sangat mencintai ku, dia bilang ingin mengulang masa-masa indah seperti saat dulu bersamaku, dasar laki-laki brengsek, berani-beraninya dia mau menipuku lagu, tidak akan aku lupakan perkataan nya tadi, sekali tukang tipu tetap saja tukang tipu. Untung saja aku tidak termakan rayuan gombal nya.
Ku tatap Utari yang masih mencoba menjelaskan kesibukan sang calon suami. Tiba-tiba saja aku merasa kasihan pada gadis cantik dan berpendidikan yang berada di depanku saat ini. Dia mendapatkan calon suami seorang laki-laki penipu dan pecundang seperti Yoga.
Lihatlah betapa dia begitu percaya dengan kata-kata Yoga, kasihan sekali nasib gadis baik ini. Bahkan pernikahan nya tinggal menghitung hari. Semoga saja dia bisa mengetahui kebusukan hati Yoga dan keluarganya sebelum pernikahan mereka terjadi. Kasihan seharusnya gadis baik menikah dengan laki-laki yang baik juga.